Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 23 Hati Juriah Yang Merindu Kasih Sayang


__ADS_3

Juriah pulang ke kampungnya bersama Soleh sang suami. Mereka pergi dengan naik motor milik Tito yang dipinjam Soleh.


Juriah bahagia sekali. Akhirnya berboncengan motor dengan pasangan halal menjadi kenyataan.


Ia memeluk pinggang Soleh dengan erat dari jok belakang.


Sementara Soleh tersipu dengan jantung berdebar kencang mendapati dekapan istri mudanya yang sesekali bersentuhan dengan dada Juriah jika motornya melintasi polisi tidur.


Dalam hati Ia berharap, semoga sepanjang perjalanan semakin banyak polisi tidur sehingga punggungnya bisa merasakan hangatnya sentuhan dada istri barunya yang membusung.


"Mas..."


Cekiiiit...


Juriah terdorong ke depan karena Soleh me-rem motornya secara mendadak. Lalu Ia menoleh kepada istrinya.


"Apa, Yang?"


Tentu saja merona seketika wajah Juriah. Jantungnya dag-dig-dug tak karuan. Apalagi setelah benturan keras tetapi mengasyikkan menggelenjar seluruh syaraf dalam tubuh serta fikirannya.


Begitu pula dengan Solehudin.


Kesempatan langka yang tidak ingin Ia sia-siakan untuk perlahan mendekati hati Juriah agar terbuka untuknya.


"Mmmh mau beli oleh-oleh ya?" tutur Juriah malu-malu kucing.


"Tentu boleh. Sebentar ya, kita cari tempat beli oleh-oleh yang nyaman!"


Juriah mengangguk. Soleh kembali menjalankan motor matic Tito, adik iparnya.


Sekitar beberapa ratus meter akhirnya Soleh menemukan toko oleh-oleh yang parkirannya luas dan tokonya terlihat nyaman dengan bale-bale untuk para pelanggan duduk istirahat sejenak menikmati indahnya pemandangan dan sajian penganan khas kota kecil nan indah itu.


Beberapa kilogram tape singkong khas kota, keripik pedas asam manis, manisan buah dan strawberry segar menjadi pilihan oleh-oleh untuk keluarganya di rumah.


"Sudah? Cukup?" tanya Soleh dengan suara lembut.


"Sudah, Mas! Ini uangnya!"

__ADS_1


"Pegang saja uangmu. Biar Mas yang bayar."


Juriah yang terlihat kikuk akhirnya menurut. Ia kembali menaruh uang kedalam tas kecilnya.


Soleh menerima uang kembalian dan juga paper bag dari di penjual makanan.


"Terima kasih, Mas!"


"Sama-sama, Mas!"


Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan yang tinggal separuh jalan.


Soleh sengaja menjahili Juriah dengan mencoba menarik tangan gadis itu agar merangkul pinggangnya lebih erat dan dadanya seketika menempel dipunggung Soleh.


Empuk dan kenyal.


Debaran jantung keduanya berpacu kian tak menentu.


Tetapi Juriah tidak melepaskan tangannya meskipun kini posisi mereka saling menempel satu sama lain.


Deru suara nafas Juriah yang begitu dekat dengan telinga bagian belakang Soleh kian membangkitkan adik kecilnya untuk berdiri tegak sempurna meskipun dalam posisi terjepit hingga sakit sekali rasanya.


Soleh kembali menepi dan menghentikan laju motornya.


"Kenapa?"


"Sebentar, si Otong kejepit. Rasanya sakit!" bisik Soleh tapi tidak membuat Juriah peka'.


Namun setelah Ia melihat satu tangan kanan Soleh merogoh bagian pinggang celana dan...


"Upss..." pekik Juriah pelan seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Soleh terkekeh meskipun wajahnya tampak merah padam karena malu.


Untungnya jalanan sepi dan hanya beberapa kendaraan yang lalu lalang. Soleh bisa sedikit menenangkan hati serta perasaannya yang berbunga-bunga sekaligus berdebar bak terkena angin kencang.


"Kamu sih!" godanya pada Juriah yang mesem-mesem sendiri di belakang.

__ADS_1


Juriah bukan gadis remaja. Usianya sudah 22 tahun dan hampir semua teman perempuannya telah menikah dan punya anak. Perempuan seumuran Juriah sudah seharusnya berstatus Ibu rumah tangga. Karena jika dua atau tiga tahun lagi Ia masih single dan belum double, mereka menjulukinya 'perawan tua'.


Begitulah jika tinggal di kampung. Semua serba diatur oleh tatanan adat istiadat dan budaya dari turun temurun.


"Sayang..., ayo pegangan lagi. Kita harus sampai di rumah Abi Umi sebelum Maghrib. Khawatir kemalaman dan kabut keburu menghalangi pandangan."


"Iya, Mas!"


Juriah senang mendengar Soleh terus terusan memanggilnya dengan panggilan 'Sayang'.


Meski diam, tetapi hati kecilnya melonjak gembira. Suaminya ternyata orang yang romantis juga. Terlihat cuek namun sikapnya begitu manis meski hanya lewat panggilan saja. Membuat Juriah nyaman merengkuh kembali pinggang Soleh dengan erat.


Secara naluriah, Juriah senang dan bangga karena telah melepaskan status gadisnya yang selalu dipertanyakan semua orang selama ini.


"Anak gadis, tapi pernah melahirkan! Anak gadis bolong itu namanya!"


"Ya mau gimana lagi to Yuk! Lha wong sudah mengeluarkan kepala bayi. Untungnya si anak haram itu meninggal setelah dilahirkan. Kalo anaknya urip ck ck ck kesian Mbak Yu'!"


Juriah teringat suara-suara sumbang dari rumah-rumah tetangga dibelakang Ia dan keluarganya. Jika di hadapan, semua terlihat manis dengan pura-pura memberi dukungan moril untuk menguatkan jiwa Juriah.


Sungguh manusia-manusia yang merugi. Begitu Juriah menamai mereka.


Untuk itu, ketika Amelia menelpon dan mengatakan akan menerima kehadiran Juriah menjadi istri muda bagi suaminya, Juriah tidak menyampaikan amanat Amelia yang tidak ingin pernikahan mereka dilangsungkan secara meriah. Hanya menceritakan kepada keluarga intinya saja pesan dari Amelia. Karena Juriah ingin sekali pernikahannya dilihat serta diketahui orang banyak.


Juriah ingin khalayak tahu, dirinya kini punya suami. Walaupun kenyataannya Ia harus berbagi suami dengan perempuan lain.


Miris memang. Dan tetap saja pernikahannya jadi gunjingan orang.


Namun Juriah lega. Karena akhirnya, Ia yang orang bilang 'kotor' padahal bukan karena perbuatan nista melainkan karena kejahatan seorang pria gila ada yang menyuntingnya.


Juriah selalu yakin, Allah akan memberinya kebahagiaan suatu hari nanti.


Mungkin saat ini adalah satu cara dirinya mendapatkan kebahagiaan dari Yang Maha Kuasa, walau harus seperti seorang pencuri. Pencuri hati.


Juriah memang telah lama merindukan kasih dan sayang dari seorang insan lawan jenis yang mencintai dirinya apa adanya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2