Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 172 Kesehatan Mia Yang Menurun


__ADS_3

"Mak..., Mak...!"


Mia membuka matanya. Terpana mengetahui dirinya yang sudah terbaring lemah di atas ranjang besi rumah sakit.


Inayah, Rama dan Gaga tampak cemas menatap wajah Mia.


"Amelia! Bagaimana kondisinya?" pekiknya panik sendiri.


"Sudah lahiran, Mak. Kembar sepasang. Namanya, Adam dan Hawa. Hehehe... Cucu Emak sudah bertambah jadi tiga."


Rama tersenyum dengan air mata berlinang tak kuasa menahan emosi kesedihannya.


"Rama... segeralah menyusul! Emak ingin kenal perempuan yang sedang dekat denganmu, Nang!" kata Mia dengan suara bergetar dan jemari mengusap air mata Rama.


"Emak harus sehat. Emak harus sehat supaya bisa melihat Aku datang mengenalkan calon istri pada Mak!"


"Iya."


Inayah menangis sesegukan di dada Mia.


Gaga yang lebih memilukan lagi isakannya.


"Gaga mau jadi polisi, Mak! Tunggu Gaga ya, Mak!? Tunggu sampai Gaga benar-benar memakai seragam coklat kebanggaan aparat kepolisian. Ya, Mak?!"


Mia tersenyum. Ia mengusap lembut pipi Gaga yang rahangnya sudah terlihat seperti layaknya remaja dewasa.


"Jadilah anak baik ya, Sayang?! Emak doakan kamu bisa menggapai cita-citamu, jadi polisi, pengayom masyarakat sejati."


"Aamiin. Mak...! Hik hiks..."


Mia mengecup lembut dahi Inayah yang bersandar di bahu kirinya.


"Belajarlah dengan baik, Nduk. Jadilah perempuan bermartabat dengan menjunjung tinggi nama baik dirimu dan keluarga dimana pun berada. Emak percaya, kamu bisa dewasa pada waktunya."


Brakkk


"Makk!!! Mak ..."


Tia membuka pintu ruang inap Mia.


Tangisnya pecah. Air matanya tumpah ruah.


Tia menangis dalam pelukan Mia.


"Tiaa..., Mak masih hidup koq! Hehehe..."


"Maakk, bisa-bisanya Mak bikin Tia jantungan. Mak harus sehat. Mak harus terus semangat. Arif sedang menabung, Mak! Arif mau beli tanah kavling dan kita akan bangun rumah sendiri, Mak. Walaupun kecil, walau sederhana, tapi dibangun dengan keringat sendiri. Mak...! Mak bisa ikut kami nanti! Ya? Ya ya?!?"


Mia tersenyum.


"Alhamdulillah... Terima kasih, Arif. Kamu selalu bahagiakan putri Emak ini. Terima kasih..."


Arif yang sedari tadi diam dengan wajah kalut menatap raut Mia yang pucat, seketika mendekat.

__ADS_1


"Mak..., harus sehat. Mak sudah seperti Emak kandung Arif. Mak... hik hik hiks... Mak! Lekaslah sembuh, Mak!"


Mia tertawa. Menantunya yang satu itu memang perasa orangnya. Arif menangis sesegukan.


"Hei, hei... Kenapa kalian bersedih? Mak masih hidup koq! Harusnya kita bahagia. Akhirnya Mbak Yu' kalian dianugerahi sepasang anak kembar. Subhanallah, Maha Suci Allah Yang Maha Menciptakan. Akhirnya..., akhirnya! Amelia-ku tidak gabug. Amelia-ku rahimnya tidak bermasalah. Allah membuktikannya. Alhamdulillah..."


"Maakkk...!!!"


Semua terkejut menoleh ke arah pintu kamar inap Mia.


Amelia teriak setelah pintu dibuka. Ia duduk di atas kursi roda yang didorong Lukman, suaminya.


"Maakkk hik hiks hiks..."


"Amel..., kenapa kesini? Nanti Emak yang jenguk kamu. Kenapa,"


"Mak jahat! Mak jahat sama Amel! Hik hiks hiks... Maaakkk, kenapa Mak rahasiakan semuanya dari Aku? Kalian juga sama! Mas juga! Hik hiks hiks... Aku ini juga anak Emak! Anakmu, Maaakkk!!! Bagaimana mungkin Mak sakit, aku seorang saja yang tidak tahu. Huaaa huhuhu hik hiks hiks..."


Amelia menangis keras.


Lukman memeluknya dari belakang.


"Maaf Sayang, maaf! Mak tidak ingin kandungan kamu jadi terganggu karena kondisi Emak. Maaf..." kata Mia mencoba memberikan pengertian kepada putri sulungnya itu.


"Emak sangat bahagia. Akhirnya, Allah memberikan kamu keturunan. Emak bahagia sekali. Apa yang dahulu selalu orang tuduhkan kepadamu dipatahkan oleh Allah Ta'ala. Alhamdulillah..."


"Emaakkk... iya Mak! Mak yang paling tahu keadaanku. Mak yang selalu memberiku dukungan penuh. Mak segalanya bagiku. Hik hiks hiks... Makk, sehat ya Mak?! Harus sehat! Hik hiks hiks..."


"Iya, Sayang!"


Semua menangis. Termasuk Mia yang mulai lelah.


Pandangannya kabur. Fikirannya kacau.


Tubuhnya juga gemetar dan rasa ingin mualnya kembali timbul.


Hingga...


Mia pingsan lagi.


...............


"Dokter Ramon...!"


"Ibu Mia sudah sangat hebat dimata saya, Bu Amel! Tumor otak stadium akhir Ibu Mia sudah menyebar ke seluruh sel-sel syaraf organ vitalnya. Paru-paru beliau sudah rusak semua. Ginjal, juga limpanya. Bahkan dokter ahli tak berani ambil resiko untuk melakukan pembedahan. Ini adalah kasus langka dalam pengamatan kami. Ibu Mia bisa terus sehat bahkan dalam kondisi yang seperti ini."


Amelia, Lukman dan Rama yang mewakili keluarga Mia menemui dokter Ramon untuk minta penjelasan.


"Lalu? Bagaimana mungkin kami hanya berdiam diri, menunggu waktu Mak pergi dijemput malaikat Izrail?! Tolong berikan opsi lain, Dokter! Kami harus apa? Harus bagaimana?"


"Saya hanya bisa menyarankan, berikan kebebasan kepada beliau. Biarkanlah beliau yang menentukan pilihan. Untuk operasi, kemo dan radioterapi bisa saja dilakukan. Namun, saya sudah katakan sebelumnya. Semua itu tidak menjamin Ibu Mia akan sembuh, kecuali memang ada kemukzizatan Tuhan. Tubuh ibu Mia bisa semakin melemah dan hilang kesadaran selamanya ketika kami melakukan pembedahan."


Lemas tubuh Amelia.

__ADS_1


Emaknya sudah berada di fase kritis.


"Kami akan terus berusaha memberikan pengobatan terbaik, guna menahan laju sel kanker yang berjalan cukup cepat dan mematikan semua syarat bagian organ penting ibu Mia. Saya bahkan sampai berharap banyak. Karena sejujurnya, dalam kasus umum yang sudah beratus-ratus pasien cancer stadium akhir yang kami tangani, Ibu Mia lah yang terkuat fisik serta psikisnya."


Ketiganya keluar dari ruangan dokter Ramon.


Lesu dan lunglai mendengar penjelasan dokter Ramon.


Kesehatan Emak menurun. Dan mereka tidak inginkan itu terjadi. Mereka sangat khawatir. Tak ingin Mia secepatnya itu pergi tinggalkan mereka semua.


"Bagaimana ini!? Hik hiks hiks..."


"Jangan menangis terus, Amel...! Ingat, Sayang..., kamu sudah punya dua anak yang juga butuh kasih sayang. Kita justru harus lebih kuat. Harus buat Emak bahagia dan bangga. Jadi fikiran Emak senang dan penyakitnya berkurang."


Amelia memeluk tubuh suaminya.


Hanya bisa menangis meratapi nasib.


Mia di kamarnya di temani Gaga, Inayah, Tia dan Arif.


Penglihatan Mia mulai berkurang. Matanya tidak bisa melihat dengan jelas. Seperti rabun jauh, dan hanya samar-samar. Mia tak menceritakan kekalutannya. Ia tak ingin membuat putra-putrinya resah.


Hanya dirinya sajalah yang mengetahui kondisi tubuhnya yang semakin ringkih.


Dokter Ramon berjibaku dengan dokter-dokter spesialis neurologi dan syarat. Mereka menjadikan Mia bahan praktikum yang nyata.


Dalam kasus-kasus tertentu, pasien biasanya sudah dalam kondisi tak sadarkan diri, koma.


Tapi Mia ternyata memiliki kekebalan tubuh yang luar biasa.


Inayah sering chattingan dengan Arthur. Tentu saja bahasannya adalah perihal kesehatan Mia yang memburuk.


Arthur sering juga telponan dengan Mia, menanyakan keadaannya dan memintanya untuk terus semangat.


"Mas..."


...[Ya, Mak?]...


"Kapan pulang?"


[Satu bulan lagi, kerjaan Arthur selesai, Mak! Semangat ya? Kita akan kembali bertemu segera. Aku akan datang bersama Papi Mamiku, Mak! Mereka ingin bertemu Mak buat mengobrol.]


"Mak, sepertinya... tidak bisa menahan waktu, Nak!"


...[Mak...! Mak! Jangan bilang seperti itu...]...


"Maaf... Mak hanyalah manusia biasa. Mak..., bisakah kamu, pulang secepatnya menemui Mak?"


...[Mak..., Mak...]...


Malam itu juga, setelah Arthur menutup sambungan teleponnya dengan Mia, Ia bergegas menuju travel perjalanan yang letaknya di seberang hotel tempatnya menginap.


Arthur langsung memesan tiket pesawat pulang pergi Jakarta Bali dan ambil jam keberangkatan pukul lima pagi.

__ADS_1


Pukul enam tiga puluh menit, Arthur sudah menjejakkan kakinya di bandara internasional Soekarno Hatta. Lalu meluncur dengan kecepatan tinggi ke rumah sakit tempat Mia di rawat.


Bersambung


__ADS_2