
"Lukman yang lahir sebagai seorang anak laki-laki berubah kepribadian menjadi lemah gemulai layaknya anak perempuan. Bahkan ketika masuk TK dulu, Lukman menangis ingin pakai rok menolak memakai celana. Hehehe..."
"Mama...! Mama sedang membuka aibku? Sengaja ingin mempermalukan Aku biar Amelia illfeel dan menolak diriku yang penuh kekurangan ini? Gimana anaknya bisa cepat menikah jika Mama dan Nenek terus melakukan hal seperti ini? Ayo Amel, kita pulang!"
Lukman berdiri di pintu kamar Mamanya dengan wajah merah padam.
"Mama melakukan ini justru ingin kamu mendapatkan yang terbaik. Jika Amelia benar-benar cinta kamu, dia akan tetap menerimamu apa adanya. Daripada nanti Ia mendengar cerita yang simpang siur dari orang lain!"
"Ayo Amel, katanya hanya bisa sebentar di rumah ini, bukan?"
"Aku mau dengar cerita Mama sampai selesai. Boleh ya Lukman?"
Sontak saja Fanny langsung menarik Amel dalam pelukannya.
"Putraku adalah pria gagah perkasa. Dia bisa karena kami juga sudah mengobatinya!"
"Mama!"
Lukman kian malu.
Ia menarik tangan Amelia agar segera keluar dari kamar sang Mama.
"Jangan begitu, Man! Ini hanyalah cerita."
"Tapi cerita yang memalukan!"
"Biarpun memalukan, Mama tetap harus cerita pada calon istrimu biar tidak merasa ditipu jika sampai kalian berjodoh!"
"Siapa yang menipu dan siapa yang tertipu! Mama sudahlah, Lukman ga akan pernah pulang lagi ke rumah ini! Kalian menginginkan aku segera menikah. Tapi justru mempermalukan dan menelanja++iku sampai seperti ini! Ayo Amel!"
Lukman murka pada Mamanya.
Ia menarik tangan Amelia tanpa kata-kata lagi hingga tubuh Amel terbawa sampai garasi.
"Ayo kita pulang! Sebentar lagi Maghrib! Tasya dan Boss Adam juga pasti sedang menunggu Mbak!"
Amelia terkejut. Sikap Lukman berubah 180 derajat. Dingin dan apatis.
Sepanjang perjalanan Lukman juga hanya diam. Tak ada kalimat yang panjang dan banyak seperti biasanya.
Tentu saja membuat Amelia bingung melihatnya perubahannya yang drastis.
Rumah kontrakan Amel telah sampai. Amelia turun dan Lukman membantunya membukakan helmet.
Lukman menurunkan barang belanjaan Amel yang sedari tadi tergantung di dashbor motornya.
__ADS_1
Meskipun sikapnya dingin, namun ternyata masih ada perhatian dan juga kelembutan yang Lukman tunjukkan dengan bantuan tulusnya pada Amel.
"Man..., terima kasih banyak."
"Sama-sama. Aku pamit pulang Mbak!"
"Ehh? Ga mau ngopi dulu?"
"Lain kali aja, terima kasih."
Lukman langsung tancap gas. Membuat Amel melongo menatapnya sampai hilang dari pandangan.
Adam keluar dari rumah kontrakan Tasya.
"Kenapa hapenya mati?" tanya Adam pada Amel.
"Hah? Mati? Apa iya? Mungkin baterenya lowbat, Mas?! Maaf ya, nunggu lama!"
Adam tersenyum tipis. Tadi Ia sempat khawatir dan panik. Bahkan sempat juga cemburu ketika motor Lukman berhenti tepat di depan teras dan Amelia turun dari sana.
Adam kesal, Lukman berbuat curang dengan menyabotase kebersamaannya dengan Amelia yang seharusnya pergi dengannya.
"Koq pulangnya bisa sama si Lukman?"
"Iya. Ternyata Lukman yang ambil belanjaan di toko lebih dulu. Alhamdulillah, masih rezekiku mas!"
"Ini, Sayang! Ini penggorengan Dea! Yuk masuk yuk, udah mau adzan Maghrib!"
Adam menghela nafas. Ia ikut melangkah mengekor Amelia dan Dea yang berjalan masuk rumah kontrakan Amel.
"Mbak baru pulang?" Tasya datang dan ikut bergabung bersama mereka. Semakin membuat Adam lesu karena sebenarnya ingin berduaan saja dengan Amel. Istilah kasarnya adalah kencan. Tapi selalu saja ada istri dan anaknya Diki diantara mereka.
Adam tidak menyukai kondisinya yang seperti ini. Dia kembali sebal mengingat Lukman yang berhasil membonceng Amelia dan mereka ada kesempatan berduaan saja.
"Hhh..." Adam menghela nafas panjang.
"Kenapa, Mas? Mas lelah? Sebaiknya istirahat saja. Pulang lebih baik."
Adam tertohok, Amelia seperti mengusirnya secara halus.
"Boleh Aku istirahat di sini? Numpang tidur beberapa jam?"
Sontak wajah Amel memerah.
Ia menggeleng kuat.
__ADS_1
"Nanti ditegur RT, digerebek hansip. Mas Adam pulang aja. Lagipula ranjang tidur Mas Adam pastinya jauh lebih empuk dibandingkan kasus tidur ku yang tipis. Hehehe..."
"Menikahlah denganku, Mel! Kita bisa tinggal bersama dalam satu atap. Bahkan satu kamar tanpa harus digerebek hansip."
Amelia menggigit bibir bawahnya.
Ingatannya kembali pada keluarga Lukman yang baik dengan cerita Mamanya yang masih gantung.
"Mas..., Aku cuma janda kampung yang tamatan SMP saja. Sepertinya, ruang perbedaan diantara kita terlalu jauh Mas! Seperti bumi dan langit, ibarat siang dan malam. Kita sepertinya tidak bisa bersatu."
Adam menatap Amelia tanpa berkedip.
Penolakan yang kedua kalinya Amelia lontarkan dengan dalih yang sama. Karena Amel minder dengan status Adam yang seorang duda pengusaha kaya.
"Bukankah semua perempuan inginkan jodoh yang terbaik? Setidaknya, harusnya kamu bangga karena telah Aku cintai sepenuh hati dan ingin menikahimu segera."
Kini Amel yang tertohok.
Bahkan Tasya pun ikut melirik Adam yang terkesan jumawa ucapannya.
"Benar, Mas! Tapi Aku bukan lagi perempuan single yang mencari jodoh layaknya anak perawan mencari cinta. Aku, seorang janda miskin yang,"
"Janda miskin, janda miskin! Selalu itu alasannya! Kenapa kamu harus seminder itu sedangkan sangatlah mudah membuat semua ini menjadi baik. Terima lamaranku! Kita menikah, stratamu juga secara sistematis naik ke atas merubah imagemu yang tadinya janda miskin menjadi istri pengusaha konveksi. Kenapa kamu gak bisa memutuskan untuk itu? Se-simple itu, Amel!"
Amelia menyadari, kalau ternyata sifat Adam sangatlah impulsif. Lebih mirip dengan tingkah anak-anak yang suka mengambil kesimpulan cepat tanpa pikir panjang.
Amel kaget. Secara Adam adalah seorang pengusaha konveksi pula. Seharusnya langkah yang diambil Adam adalah langkah seorang pengusaha yang penuh kehati-hatian dalam memutuskan suatu perkara.
Bukannya tidak sabaran dan ingin secepatnya ambil keputusan cepat tanpa harus mengamati dan menilai dirinya lebih dalam lagi.
Amelia tidak tahu, cinta dan cemburu bisa merubah seorang lelaki yang biasanya disiplin menjadi pria sembrono dan ingin secepatnya memiliki pujaan hati tanpa harus bersaing lagi dengan pria lain karena sudah jadi hak miliknya.
Sikap Adam membuat Amelia kurang respek pada akhirnya. Lalu menguap rasa simpati yang selama ini datang seiring dengan ketampanan dan kemapanan pribadi Adam.
Amelia lebih penasaran dengan Lukman.
Sikap Lukman tadi sempat membuatnya bingung karena Lukman murka pada Mamanya dihadapan Amel.
Tetapi Lukman masih bersikap baik dengan membantu Amel membukakan helm walaupun tanpa ucapan. Lukman juga menurunkan dulu belanjaan Amelia yang cukup berat dari dasbor motornya sampai teras rumah.
Itu menunjukkan attitude Lukman jauh lebih baik ketimbang Adam yang sebenarnya usianya jauh lebih tua dari Lukman.
Adam 35 tahun. Sedangkan Lukman 29 tahun.
Adam seusia Soleh, mantan suami Amelia.
__ADS_1
Satu hal lagi yang Amelia bisa simpulkan. Umur tidak selamanya mencerminkan kedewasaan seseorang. Ternyata tidak ada hubungannya antara umur dan kedewasaan.
BERSAMBUNG