
"Aaahhh!"
Samsiah berteriak keras. Menarik papilla-nya dari mulut Ojan yang sedang menggigit seperti bayi yang baru tumbuh gigi.
Samsiah menangis. Pucuk dadanya bahkan sampai mengucurkan darah. Sakit sekali rasanya seperti mau copot ujungnya.
Samsiah segera mengaitkan br+ dan mengancingkan kemejanya.
Ia segera turun dari ranjang. Namun sayangnya Ojan telah sigap menarik kaki Samsiah hingga istrinya itu tersungkur jatuh ke ubin kamar.
"Aduhh!!?" pekik Samsiah yang menjerit kesakitan.
Mulutnya terbentur lantai keramik hingga terluka dan mengeluarkan darah.
Samsiah dengan cepat beranjak pergi. Ojan berteriak keras memanggil nama istrinya.
"Saaaam!!! Kembaliii!!!"
Tapi Samsiah sudah kadung pergi meskipun tertatih-tatih.
Ia keluar dari rumah besar itu sambil berteriak minta tolong.
Namun tetangga kiri kanan tak berani menolong. Takut mendapatkan musibah jika ikut campur urusan keluarga Ojan dan Samsiah.
Perempuan paruh baya itu berlari cepat sambil terus berteriak minta tolong.
Sampai akhirnya ada seorang yang lewat menyuruhnya agar minta perlindungan dari pihak RW setempat.
Samsiah menurut. Ia pergi berlari ke rumah pak RW untuk mengadukan KDRT yang diterimanya oleh Ojan.
"Sejujurnya, saya tidak berani menjadi saksi atas pelaporan Ibu Samsiah pada Pak Ojan. Saya,..."
"Kenapa, Pak? Ini buktinya sudah jelas! Hik hiks... Dia itu sudah berubah jadi setan. Bahkan lebih jahat dari setan! Hik hik hiks..."
"Sekarang gini aja, Bu! Jika Ibu memang sudah bulat ingin melaporkan pak Ojan, ini... saya hanya bisa kasih uang untuk ongkos Ibu ke kantor kepolisian. Tapi saran saya, sebaiknya urungkan niat Bu Samsiah. Kondisi Pak Ojan juga tidak bisa dilaporkan karena dalam keadaan sakit juga, bukan? Dan Ibu adalah istrinya. Punya kewajiban mengurusnya."
"Gila! Orang gila koq dibela! Harusnya kalian berbondong-bondong mendukungku! Pria itu sudah tidak waras. Lama-lama Aku bisa mati di tangannya!"
Samsiah terisak menangis pilu. Ia tidak tahu kalau Ojan memiliki ilmu penutup hati nurani yang sudah dipakainya agar warga sekitar tidak peduli pada apapun yang Ia perbuat termasuk memukuli Samsiah.
Sejujur tubuh Samsiah sakit sekali. Hatinya pun remuk redam seiring perasaannya yang mati pada Ojan.
Akhirnya Ia memutuskan untuk ke ruko tempat putrinya tinggal.
Namun ternyata di sana juga tak ada yang bisa Ia mintai tolong karena Soleh serta Juriah sedang berada di rumah sakit.
"Kenapa anak itu sekarang sering sakit-sakitan? Kenapa ya ampuuun!" serunya kesal melihat keadaan sang putri yang sering sekali keluar masuk rumah sakit.
Samsiah akhirnya mengeruk habis semua uang di laci kasir toko dan bengkel untuk biaya pelariannya.
Ia ingin pergi ke Cikarang. Mencari cintanya yang menurutnya paling indah, yaitu Tito.
Wardi yang saat itu menjaga toko memohon mengiba agar Samsiah tidak berbuat culas seperti itu.
__ADS_1
"Tolonglah, Umi! Jangan ambil semuanya. Nanti saya bisa kena marah mas Soleh. Tolong, Umi! Kasihanilah saya!"
"Bilang saja sama dia, Aku yang datang dan bawa semuanya!" hardik Samsiah tak peduli ratapan anak buahnya.
"Tapi jangan diambil semua, Umi!"
Samsiah menepis tangan Wardi, lalu pergi tanpa basa-basi lagi. Uang senilai dua belas juta rupiah dibawanya pergi. Bahkan berikut recehannya untuk kembalian para pelanggan.
Dengan menyewa sebuah mobil di rental, Samsiah pergi dengan tujuan kota industri. Kota Cikarang tempat Tito kini mengasingkan diri.
Samsiah kira kota Cikarang sama dengan kota tempat tinggalnya yang hanya satu jalur kiri dan kanan.
Ia pikir, akan mudah mencari Tito sang pujaan hati dan hidup bahagia bersama dalam suka maupun duka.
Tidak.
Hampir seharian keliling Cikarang, mencari pabrik sampo dan menanyakan satu persatu karyawan yang bubaran kerja berharap kenal dengan pria 27 tahun bernama Tito.
Banyak memang pria yang bernama Tito yang Ia temui. Tapi, bukan lah Tito yang Ia cari.
Lelah Samsiah sampai tubuhnya berkeringat dingin.
Bodohnya Ia, setelah tiba di kota Cikarang langsung menyuruh supir mobil yang Ia sewa agar kembali ke kota asalnya.
Alasannya adalah ingin menghilangkan jejak dan berharap Ojan tidak dapat menemukannya kembali.
Samsiah sudah berumur 50 tahun. Dulu dia hidup menak dan jarang jalan kaki apalagi dibawah terik matahari.
Senja telah berganti malam, namun Tito yang ia cari belum diketemukan.
Samsiah menangis sesegukan di warung nasi tempatnya istirahat dan makan setelah seharian kesana-kemari mencari Tito.
"Jadi Ibu dari kampung cari Tito? Nama lengkapnya Tito Suryanto, umur 27 tahun? Katanya kerja di pabrik sampo?"
"Iya."
"Ibu, Cikarang ini luas. Ada Cikarang Selatan, Barat, Timur, Utara, Pusat, Bekasi, Jababeka. Pabrik shampoo juga banyak. Ada Loreal, Unilever, Lifebuoy, Rejoice. Banyak, Ibu. Tepatnya di Cikarang mananya? Alamat jelasnya?"
Samsiah menelan ludah. Menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepala.
Pemilik warung makan hanya bisa ikut merenung.
"Sebaiknya ibu kembali pulang ke kampung. Disini kalau tidak ada sanak saudara akan susah. Kecuali Ibu bawa uang banyak."
"Saya bawa uang! Saya rasa, ini akan cukup untuk modal saya mencari Tito bahkan sampai sebulan."
Seorang perempuan yang sedang duduk makan dipojokan ternyata diam-diam menyimak obrolan Samsiah dan pemilik warung itu.
Hingga setelah Sang pemilik warung kembali ke dalam warungnya karena ada pembeli.
"Ibu sedang cari seseorang?" tanya perempuan itu menghampiri Samsiah.
"Iya, De'! Apa Ade kenal pria ini?"
__ADS_1
"Samsiah menyodorkan ponselnya yang dilayarnya terlihat wajah manis Tito yang sedang tersenyum.
"Sepertinya..., saya kenal!"
"Benarkah?" pekik Samsiah kegirangan.
"Ibu bisa ikut saya. Nanti saya antarkan ke kostan Tito."
"Terima kasih, Ade cantik! Bersyukur sekali saya bertemu Ade!"
"Panggil saja saya Lolita, Bu!"
"Iya, terima kasih banyak De' Lolita!"
Samsiah membayar makanan pesanannya. Juga membayarkan makanan Lolita. Hingga terlihatlah isi dompetnya yang cukup tebal membuat perempuan yang baru dikenalnya itu tersenyum samar.
"Dimana, De'?"
"Di sana, Bu! Jalan saja terus. Nanti juga sampai!"
Mereka mengambil jalan yang sepi. Sudah pukul setengah tujuh malam. Suasana sekitar yang tadinya ramai lalu lalang para karyawan pabrik bubaran kerja kini tampak lengang.
Sebagian telah kembali pulang ke tempat tinggal masing-masing.
Tiba-tiba,
"Berhenti! Serahkan tasmu!!!"
Tiga orang pria bertubuh tinggi besar menghadang jalan Samsiah dan perempuan itu.
Sontak Samsiah memekik keras dan,
Grep.
Tiba-tiba perempuan yang tadinya seakan bagaikan pahlawan penunjuk jalan bagi Samsiah justru langsung mendekap mulut Samsiah dengan saputangan yang digugurkan obat bius.
Gubrak!!!
Samsiah jatuh pingsan dan tergeletak begitu saja di jalan.
Keempat orang yang ternyata adalah komplotan perampok itu tertawa cekikikan.
Mengoceh tentang betapa mudahnya Ia mengelabui wanita setengah tua yang sedang mencari cinta kesayangannya itu.
Samsiah ditinggalkan pergi begitu saja oleh Lolita dan komplotannya setelah mengambil tas dan juga mempreteli kalung emas, anting serta cincin dan jam tangan mewah yang dikenakan Samsiah.
Sementara di tas Samsiah, ada uang senilai sebelas juta lebih dan handphone iPhone seharga sepuluh jutaan.
Mereka benar-benar pesta besar.
Mangsanya kali ini benar-benar Sultini yang bawa banyak uang.
Sungguh hasil rampokan yang luar biasa bagi mereka tanpa harus kerja keras sepanjang hari sampai beberapa bulan.
__ADS_1
BERSAMBUNG