
Benar-benar perjalanan yang menyenangkan.
Naik kapal pesiar mewah, makan makanan enak yang seumur-umur baru kali ini Amelia santap. Rasanya, sungguh luar biasa tak terkira.
Lukman benar-benar menjadikan Amelia sebagai model di setiap kesempatan.
Cekrek sana cekrek sini. Foto lagi, selalu mengambil foto sang isteri untuk memenuhi galeri ponselnya yang semula kosong.
Amelia membuat Lukman gila. Gila mencintainya dan sangat bersyukur karena berhasil mendapatkannya.
Setiap saat Amel terlihat sangat cantik dengan senyum sumringah tanda hatinya yang bahagia.
Bahkan ketika dasteran pun istrinya itu terlihat begitu cute membuat Lukman selalu ingin memotretnya.
"Maasss! Ish, lama-lama Aku beneran akan terus menghantui kamu lho di galeri ponsel itu!" kata Amel malu dan mulai risih juga melihat suaminya yang begitu terobsesi dengan dirinya.
"Aku kesal, Sanny bilang kamu bisa jadi model Internasional. Apalagi bilang kalau bule-bule di Bali itu sangat mengagumi perempuan seperti kamu karena kulit kamu adalah idaman mereka semua. Enak saja! Istriku bukan model Internasional, tapi model di hatiku. Juga model di kamera telepon selulerku!"
"Hihihihiii... Ya ampun, masih bahas itu! Sanny cuma asal bicara. Kenapa dimasukkan ke hati, Mas! Sudah, sini. Sini duduk. Kita nikmati pemandangan alam yang indah. Jangan dibuat hilang rasa syukur kita kepada Allah Ta'ala karena emosi yang meledak-ledak. Sini.".
Bersama Amelia, Lukman bisa menjadi apapun. Jadi bodyguard, jadi suami siaga, suami bucin, pacar setia, bahkan jadi anak kecil yang ingin selalu disayang dan dimanja.
Kadang sampai lupa tempat saking bahagianya. Seperti saat ini, mereka sedang menikmati perjalanan dengan kapal pesiar menuju Raja Ampat.
Hingga tanpa sadar ada seorang pria asing tampan yang terus memperhatikan Amelia sedari tadi.
Lukman tak sadar kalau sedari tadi mereka diikuti oleh pria asing tampan itu sejak naik pesawat terbang arah Bali hingga kini naik kapal pesiar Costa Rica.
Amelia duduk di atas kursi malas dan Lukman berbaring nyaman di atas pangkuan sang istri. Mereka sedang menikmati sunrise matahari pagi yang mulai meninggi karena sudah pukul setengah sembilan.
Kacamata hitam menjadi pelindung
Seorang bartender datang membawakan sebuah nampan berisi dua gelas minuman.
"Excuse me, this drink was a gift from Sir Arthur, Mister! (Permisi, minuman ini hadiah dari tuan Arthur, Pak!)"
"What? Who? (Apa? Siapa?)"
__ADS_1
Pelayan itu menunjukkan ke arah meja pria asing yang sedari tadi memperhatikan Lukman dan Amelia.
Arthur mengangkat gelasnya tinggi-tinggi dengan wajah menyunggingkan senyuman.
"Thank you! (terima kasih!)"
Lukman mengucapkan kalimat terima kasih dengan suara agak keras supaya Arthur dengar.
"Jangan diminum! Pura-pura minum tapi jangan diminum!" kata Lukman pada Amelia.
"Ke_kenapa begitu?" bisik Amel gugup.
"Aku mencium bau-bau aneh dari gelagat bule itu! Mau apa dia baik sama kita? Kenal juga enggak. Ya kan?"
Kini Amelia tertawa melihat kecemburuan Lukman yang jelas-jelas sangat terlihat.
"Iya juga sih. Hehehe..."
Amelia memperhatikan sekeliling. Ada banyak muda-mudi yang jauh lebih keren dibandingkan mereka berdua yang memang lebih memilih tempat santai yang agak memojok untuk privasi. Tapi kenapa hanya mentraktir dia dan Lukman saja, mereka tidak.
"Mungkin kenalannya Papa! Mungkin,"
"Permisi, boleh saya ikut bergabung?"
Lukman dan Amelia langsung menoleh. Terperangah karena si bule itu sudah berdiri di kursi santai mereka.
"Ups, maaf ya? Saya pikir kalian sedang perjalanan bisnis. Karena sedari tadi saya lihat Tuan sibuk memotret Nona ini. Saya sangat tertarik dengan Nona cantik ini. Sungguh tertarik dan ingin mengajak Nona main film Hollywood yang sedang saya produksi bekerja sama dengan production house negara Indonesia."
Arthur mengulurkan tangannya untuk menyalami Amelia.
Namun Lukman langsung duduk tegak dan menarik tangan Arthur sehingga tangannya jadi berjabat dengan tangan Lukman.
"Istri saya bukan model, apalagi artis. Dan bukankah tadi sudah saya jelaskan sejelas-jelasnya kalau kami ini pasangan pengantin baru? Suami istri yang sedang menikmati bulan madu."
Amelia langsung berdiri mencoba meluruskan kesalahpahaman di antara mereka.
"Terima kasih banyak atas traktiran minumannya. Tapi seperti yang suami saya bilang, saya bukan siapa-siapa apalagi artis ataupun model. Suami saya memang suka memotret saya dan kami sedang dalam liburan setelah melangsungkan pernikahan. Mohon maaf, jika kami terkesan kurang respek dengan tawaran Tuan Arthur. Tapi saya tidak ada ketertarikan di dunia yang Tuan tawarkan. Saya bahagia menjadi istri dan Ibu rumah tangga yang mengurus suami. Terima kasih dan kami permisi, Tuan!"
Amelia menarik tangan Lukman yang masih duduk di atas kursi malas balkon kapal pesiar.
Lukman tersenyum puas mendengar manuver cantik yang istrinya lontarkan.
Dua jempolnya langsung mengarah kepada Amelia.
__ADS_1
"Sayangku, keren sekali ucapanmu! Sangat diplomatis dan menawan hati!" pujinya pada Amelia yang tersipu malu.
"Ish, ucapan seorang perempuan yang hanya lulusan SMP."
"Kamu? Beneran tamatan SMP?"
"Masih gak percaya?"
Lukman menggeleng.
"Aku justru merasa kamu seorang D1 minimal!"
Puk.
Amelia menepuk pundak suaminya dengan gemas.
"Ngeledek terus pinggangnya Mas Aku gelitiki. Mau?"
Lukman terkekeh kegelian ketika Amelia langsung menyerang pinggangnya dengan cubitan mesra.
Mereka masuk kamar dan kembali melanjutkan kemesraan tanpa batas karena ada dalam kamar.
Pengantin baru yang sangat bucin satu sama lain.
Di balkon kapal pesiar tadi, Arthur sedang menerima panggilan telepon.
"Aku menemukan pemeran utama yang sangat pas! Feelingku, film kita bakalan jadi film fenomenal dan film festival terbaik tahun depan jika bisa menggaet perempuan ini jadi pemeran utamanya. Tapi sayang, ternyata sangat sulit untuk mengajaknya serta. Ia baru saja menikah dan sedang bulan madu dengan suaminya di atas kapal pesiar yang sama denganku. Suaminya juga protektif sekali. Menyebalkan! Aku harus ekstra keras membujuk agar perempuan cantik ini mau ikut projects kita! Please doakan Aku ya?"
Arthur Handoko. Seorang pria blasteran keturunan San Fransisco yang memiliki darah Indonesia lebih banyak dari Sang Ayah, Joko Handoko, konglomerat nomor lima belas di Indonesia di atas Bimo Aruan yang masuk golongan konglomerat urutan dua puluh lima di Indonesia.
Arthur adalah seorang sineas muda berusia 34 tahun. Ia juga merangkap sebagai sutradara dan produser film-film indie yang lebih sering ikut ajang festival ketimbang masuk box office gedung bioskop. Itu karena dia tidak mencari uang dalam pembuatan film-filmnya yang sukses dikancah Internasional.
Arthur masih bujangan dan tidak tertarik dengan ikatan pernikahan. Ia menyukai kehidupan malam yang liar karena lahir dan besar di Amerika Serikat. Arthur juga lebih memilih menjadi ateis, yaitu tidak percaya adanya Tuhan.
Namun bahasa Indonesianya sangat bagus karena Sang Mama yang seorang guru bahasa Indonesia di San Fransisco menikah dengan Papanya yang asli Indonesia menerapkan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar setiap hari di rumah mereka meskipun tinggal di Amerika. Hal itu menyebabkan Arthur sangat fasih berbahasa Indonesia dan sering bolak-balik Jakarta-Bali-Amerika untuk keperluan syuting.
Saat ini Ia baru saja mendapatkan naskah keren tentang kisah seorang perempuan Bali sederhana yang mampu bertahan hidup sebagai istri tua yang dipoligami oleh suaminya yang seorang pecalang.
Arthur melihat sosok Amelia sangat pas memerankan karakter yang ada dalam naskah.
Mata batin Arthur sangat istimewa dalam melihat sesuatu yang menurutnya bakalan menjadi luar biasa.
Tekadnya sangat kuat untuk mendapatkan Amelia memerankan tokoh utama film yang sedang Ia garap saat ini.
__ADS_1
Harapannya, semoga Amelia bersedia dan Lukman mau memberikan kesempatan kepada istrinya itu sebagai artis baru di film besutan Arthur Handoko.
BERSAMBUNG