
Juriah menghela nafas lega ketika Arini mengatakan kalau Ia boleh numpang tidur di kamar pribadi Arini oleh Tuan rumah, Nyonya majikannya.
Padahal tadi Juriah ketar-ketir khawatir diusir pergi karena Tuan Besar pemilik rumah ini terlihat asem ketus dan jutek tingkat tinggi.
Tuan Arthur tampan meskipun sudah terlihat dewasa. Berbeda dengan Nyonya Inayah yang terlihat masih muda belia namun terlihat elegan berwibawa.
"Mbak Juriah, untuk malam ini Mbak boleh tidur di kamar Suster Arini. Besok pagi, Mbak akan Pak Tofik antar ke terminal bus Kampung Rambutan untuk lanjutkan perjalanan pulang kampungnya."
"Terima kasih banyak, Nyonya. Terima kasih sebesar-besarnya karena sudah percaya sama saya. Saya akan selalu ingat kebaikan Nyonya seumur hidup saya."
"Jangan panggil saya Nyonya, Mbak. Saya merasa seperti orang besar kalau dipanggil Nyonya. Hehehe... Mbak juga boleh kok."
"Aduhh, gak berani saya Bu!"
"Ya udah. Sus, malam ini berbagi tempat tidur sama Mbak Juriah, ya?"
"Iya, Bu. Siap. Hehehe..."
"Saya pamit ke kamar ya?"
"Iya. Selamat istirahat, Bu Inayah!"
"Terima kasih."
Inayah berlalu dari kamar Suster Arini setelah memberikan pengarahan.
Ia merasakan agak pening kepalanya dan ingin segera rebahan di kasur empuknya.
"Sudah?" tanya Arthur melihat istrinya masuk kamar dan duduk di bibir ranjang.
Inayah mengangguk sambil tersenyum.
Arthur mendekat, lalu mengecup kening istrinya itu.
"Istirahatlah! Wajahmu terlihat sangat pucat. Atau,... kamu mau makan apa? Biar aku belikan mumpung aku masih ada waktu luang. Hehehe..."
Arthur mengelus lembut perut istrinya yang masih rata. Belum membuncit layaknya ibu hamil. Ia sangat ingin memanjakan Inayah yang sedang hamil muda.
Inayah menggeleng.
"Ga mau apa-apa, Mas! Maunya tidur. Capek banget rasanya tubuh ini. Penat, pingin dipijat."
"Ga boleh di pijat, Yang. Tapi kuusap-usap aja ya?"
"Ish, Mas ini kalo ngusap-ngusap pasti ujung-ujungnya begituan."
"Hahaha... ya ampun, Sayangku ini. Apa aku ini semesum itu ya? Hahaha..."
"Dokter Derry bilang, kita harus kuat menahan sampai Dede bayi struggle usia empat-lima bulan, Mas!"
"Iya, iya. Iya, Sayang. Aku akan kuat koq menahan libidoku. Percaya deh!"
"Mas mendingan tidur sama Pupu dulu. Suster Arini soalnya tidur di kamarnya sama Mbak Inayah."
"Pupu ga suka tidur ditemani Aku. Katanya Papa ngoroknya seperti gorila. Hadeuh, anak itu!"
"Hihihi..., makanya Mas kurangi ngoroknya. Anak sendiri komplein kan jadinya."
"Kamu gak pernah komplein!?"
"Ya karena aku menjaga perasaan kamu, Mas. Hehehe... Setiap tidur, aku pasang ini di telinga buat sumpalan."
Inayah memperlihatkan seplastik kapas wajah membuat Arthur ternganga dengan wajah memerah malu.
"Yassalam..."
Inayah mengusap raut wajah Arthur yang membuatnya jadi malu hati karena membeberkan kekurangan sang suami yang tidurnya selalu mendengkur.
__ADS_1
"Hehehe..., ga koq, ngoroknya ga kayak gorila. Cuma mirip suara kucing anggora," ralat Inayah disambut kecupan hangat Arthur yang langsung membaringkannya di atas ranjang.
Arthur menarik selimut menutupi separuh tubuh Inayah.
"Istirahatlah. Nanti Isya aku bangunkan."
Inayah mengerjap. Senyumnya mengembang manis membuat Arthur kembali mengecup. Kali ini tepat di bibir. Gercep melu+++.
"Ish dasar, hehehe..."
Arthur tertawa, lalu pergi keluar.
Tujuannya kini adalah kamar putranya.
Tapi seketika ia teringat Juriah.
"Damn! Yap. Aku baru ingat perempuan itu!" serunya dengan suara tegas.
Tok tok tok
Arthur mengetuk pintu kamar Suster Arini.
Krieeet...
"Pak Arthur, iya?"
"Mbak Juriah! Bisakah keluar dulu? Ada yang ingin saya bicarakan!"
"Ba_baik, Pak!"
Arthur berjalan ke ruang tamu. Juriah mengikutinya dengan perasaan was-was.
"Duduk!" perintah Arthur setelah melihat Juriah dengan wajah tertunduk takut berdiri beberapa meter di belakangnya.
Juriah duduk di lantai.
"Tidak apa-apa. Saya di sini saja."
Hati Juriah ketar-ketir. Sebenarnya Ia telah mengenali Arthur sejak selesai sholat Maghrib tadi.
Arthur Handoko, bule gila yang pernah menyambangi rumah toko bengkelnya dua setengah tahun yang lalu.
Bahkan Ia dan Solehudin, suaminya kala itu sempat mengusir bule gila itu karena seperti sedang memprovokasi menjelekkan agamanya kala itu.
Tapi kini,
Juriah tidak menyangka kalau bule tampan itu justru kini menikah dengan seorang muslimah muda yang cantik jelita dan taat beribadah.
Arthur Handoko ternyata telah masuk Islam.
Allah telah memberinya hidayah, rupanya. Begitu pemikiran Juriah.
Juriah tidak tahu, kalau Arthur kini adalah suaminya adik dari istri pertama mantan suami Juriah.
Berbeda dengan Juriah, Arthur justru mengetahui kalau Juriah adalah istri muda Solehudin, mantan suami pertama Kakak iparnya yaitu Amelia.
Hatinya agak sakit juga bila mengingat itu.
Apalagi setelah melihat dengan mata kepala sendiri Solehudin yang mengemis meminta-minta di persimpangan lampu merah karena cacat dan berkaki satu.
Sungguh perempuan yang kejam, begitu batin Arthur memandang Juriah.
Entah mengapa, perempuan itu kini terdampar di Ibukota. Sendirian pula, tanpa suami yang dulu Ia rebut dari Amelia.
"Apa kamu sudah ingat saya?" tanya Arthur memastikan Juriah mengenali dirinya.
Jantung Juriah berdegup kencang.
__ADS_1
Ia cemas, Arthur masih marah karena Ia dan Soleh usir tempo hari dari rumahnya. Juriah takut Arthur akan melakukan hal yang sama. Sedangkan ini sudah beranjak malam dan Juriah tidak kenal siapapun di daerah ini.
"Ma_maaf. Saya, minta maaf atas kelakuan saya dan... mantan suami saya waktu itu pada Bapak," ujarnya dengan suara terbata-bata.
"Mantan suami?" sela Arthur kaget.
Juriah menunduk semakin dalam.
"Kalian..., sudah bercerai? Sejak kapan?"
Kini Juriah agak berani menatap wajah Arthur walau sesekali masih melempar pandangan ke lantai bawah.
"Sejak kapan?"
"Sudah tujuh bulan ini." Jawab Juriah dengan suara bergetar.
"Mbak ke Jakarta sama siapa? Dengan Mas nya? Biar gampang cari cuan dengan meminta-minta, begitu?"
Lagi-lagi Juriah dibuat terkejut mendengar ujaran Arthur yang memendam bara kebencian.
Ia memang sempat memanfaatkan Solehudin yang cacat karena kecelakaan lalu lintas.
Harta kekayaan orangtuanya habis untuk biaya rumah sakit mereka berdua. Benar-benar habis tak bersisa sampai rumah toko dan bengkel harus Ia jual untuk biaya hidup sehari-hari mereka.
Soleh menganggur tak punya kerjaan. Sedangkan hidup terus berjalan. Dan mereka butuh makan serta bayar kontrakan.
Melihat kondisi sang suami pada saat itu seorang yang berkekurangan fisik, Juriah meminta Soleh untuk legowo duduk di bawah lampu merah dengan membawa sebuah kaleng bekas biskuit.
Ternyata, hasilnya lebih besar dari yang Ia bayangkan.
Soleh pulang bisa membawa uang lebih dari seratus ribu rupiah.
Ternyata banyak orang iba melihat dirinya yang hanya punya satu kaki dan tubuh kurus serta pakaian compang-camping. Itu semua adalah ide Juriah.
Hari demi hari, kehidupan mereka menjadi lebih baik. Bisa beli beras sepuluh liter sehari dan masak daging ayam untuk makan tiga kali sehari. Sungguh membuat lega hati Juriah.
Tapi ternyata tidak dengan Soleh.
Soleh justru semakin membawa beban batin yang kian hari kian berat hingga akhirnya ungkapkan keinginan untuk berhenti mengemis dan lebih nyaman bekerja daripada meminta-minta.
Juriah marah. Ia kesal karena Soleh bertingkah. Padahal kemampuan tak ada, modal tak punya. Juriah meminta cerai karena sudah tak kuat hidup seperti ini terus-menerus bersama Soleh.
Ternyata Soleh menerima keinginan Juriah bercerai. Juriah pun terkejut karena Soleh menyanggupi dan mereka akhirnya resmi bercerai tanpa guru hara apalagi drama.
Juriah meneteskan air mata.
Teringat dosa-dosa dimasa lalu.
Teringat betapa Ia selama ini bukanlah pribadi yang baik karena banyak menyakiti hati orang lain.
"Mbak? Mbak Juriah?"
Juriah tersadar dari lamunan. Arthur menegurnya beberapa kali.
Arthur tersenyum sinis, mencebik Juriah mengingat Soleh yang pernah Ia lihat sampai dibantu Mak Mia almarhumah tanpa sepengetahuannya kala itu.
"Ma_maaf, Pak. Saya ke Jakarta sendirian. Mas Soleh... masih di kampung. Ia ingin berdagang katanya. Entahlah..."
Juriah menjawab dengan jujur. Dengan lelehan air mata penuh penyesalan.
Bercerai dari Soleh, tidak membuat hidupnya menjadi jauh lebih baik. Justru semakin susah hingga dilecehkan oleh atasannya sendiri karena pekerjaannya yang tidak becus Juriah bahkan sampai dihina dan ditipu mentah-mentah hanya untuk hubungan satu malam.
"Kasihannya hidupmu, Mbak. Dulu kamu dengan sangat percaya dirinya mengambil suami orang lain. Tapi kini, kamu sendiri mencampakkan suamimu itu padahal sudah dengan hebatnya memilih dirimu dan mencampakkan istri pertamanya. Tuhan Maha Adil."
Tangisan Juriah semakin membesar. Ucapan Arthur tepat mengenai sasaran. Hatinya terenyuh, sedih sekali. Sakit, tapi tak berdarah. Namun semua itu benar.
Dunia ini diatur oleh Sang Maha Kuasa. Hukum tabur tuai, benar-benar telah ia rasakan.
__ADS_1
BERSAMBUNG