
"Operasi pengangkatan batu ginjal? Kenapa? Mas Arthur terlihat baik-baik saja?!?"
Arthur menghela nafasnya.
Netranya menatap kearah luar rumah sakit yang terang benderang. Kemudian menunduk dengan pancaran meredup.
Namun seketika kembali berubah pijarannya dengan kalimat yang kasar.
"Hei!!! Bukankah kita tidak perlu dekat satu sama lain? Kamu sendiri, sedang apa disini? Magang? Tapi baru semester satu, gak mungkin magang. Atau... kamu juga sedang berobat juga? Sama seperti Aku?"
Seketika Inayah gugup.
Wajahnya memerah dan tergagap menjawab pertanyaan Arthur yang ketus.
"Aku, aku... cuma sedang menjenguk seseorang! Ini, bukan seperti yang Mas Arthur tuduhkan. Aku turut prihatin. Semoga Mas Arthur lekas sembuh! Aku permisi!"
Inayah tergesa-gesa pergi meninggalkan Arthur yang termangu seorang diri.
"Apa ucapanku terdengar sangat menakutkan gadis ingusan itu?" gumamnya setelah Inayah pergi.
Arthur menyesal karena membentak Inayah yang terlihat bersimpati padanya bahkan sampai mendoakan kesembuhannya yang sudah beberapa tahun ini mengalami gangguan di saluran kemihnya.
Ia akhirnya hanya merasakan kembali kesepian dan sendirian. Merasakan jiwanya yang sangat hampa hingga baru tersadar kalau Ia butuh seseorang untuk tempatnya berbagi keluh kesah seperti sekarang ini.
Arthur kembali dengan style wajah muramnya.
Berjalan menuju apotik lalu menyerahkan resep obatnya ke tenaga kesehatan dan duduk menunggu sampai namanya kembali disebut.
Inayah berjalan menuju warung nasi sederhana yang tadi Lukman rekomendasikan.
Ia memesan satu porsi paket lengkap kemudian duduk di area pojok warung.
Segelas teh hangat yang pelayannya antar ke meja Inayah habis setengah gelas diseruput.
Inayah duduk dengan pikiran melayang.
Mengingat kembali raut wajah Arthur yang murung.
Kenapa dia sendirian pergi berobat? Apalagi untuk menentukan waktu operasi pengangkatan batu ginjal. Kemana keluarganya? Orangtuanya? Bukankah kata Bu Fanny Mas Arthur itu anak konglomerat Indonesia? Harusnya di kawal bodyguard bukan?
Inayah sibuk dengan pikirannya.
"Silahkan, Mbak!"
Seorang pelayan mengantarkan sepiring nasi komplit dengan potongan ayam goreng yang masih mengepulkan asap, baru selesai di goreng. Juga ada lalapan daun selada dan beberapa potong mentimun serta sambal yang terlihat segar.
Aroma ayam gorengnya sangat menggugah selera.
Inayah membaca doa makan dalam hati, lalu mulai sibuk dengan menu makan siangnya yang masih panas.
Brukk
Inayah terkejut, tiba-tiba Arthur duduk dihadapannya dengan wajah terlihat seperti bocah yang tergiur dengan makanannya.
"Apa?"
"Enak?" tanyanya pelan.
Inayah mengangguk.
"Mbak, satu porsi yang sama dengan Nona ini ya?"
Entah bagaimana ceritanya, keduanya justru kini duduk berhadap-hadapan di satu meja yang sama.
Sibuk dengan makanan yang terhidang. Sesekali Inayah maupun Arthur mengelap keringatnya yang mengucur karena mereka minta tambahan sambal satu cup kecil lagi.
"Sambalnya hot, tapi mantap!" kata Arthur dijawab Inayah, "Hooh!"
Mereka seperti lupa pada perang dingin yang beberapa hari ini Inayah kobarkan.
Bahkan sesekali Inayah mengambil lalapan milik Arthur yang masih tergeletak tak di sentuh.
"Kamu mirip si Shaun!"
"Hahh? Shaun? Siapa?"
"Shaun the sheep!"
"Ish!..."
__ADS_1
Keduanya terkekeh sambil terus lanjutkan makannya sampai tulang ayamnya benar-benar bersih.
"Mau nambah?" tanya Arthur pada Inayah.
"Enggak ah. Kenyang. Mas mau tambah?"
"Takut ga habis. Mubazir."
"Hilih? Atheis pun tahu mubazir?"
"Membuang-buang makanan itu perbuatan buruk. Masih banyak orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kelaparan, susah makan. Kenapa kita sok sekali membuang-buang makanan. Kecuali kita pesan seporsi lagi tapi makannya berdua. Mau?"
Inayah tertarik juga dengan tawaran Arthur. Senyumnya mengembang, dan akhirnya Inayah mengangguk.
"Mbak, satu porsi lagi ya?" kata Arthur.
Namun tak lama kemudian Arthur terlihat agak pucat.
"Nay..., Aku ke toilet dulu ya?" ujarnya kemudian seraya berdiri dan berjalan dengan tergesa-gesa.
Inayah seketika hanya bisa termangu sambil menatap punggung Arthur yang kian menjauh dan menghilang dari pandangan.
"Mbak, pesanannya!"
"Terima kasih, Mbak!"
"Sama-sama."
Cukup lama Inayah menoleh ke arah luar warung ayam goreng menunggu kedatangan Arthur kembali.
Hatinya mulai sedikit resah. Khawatir terjadi sesuatu dengan Arthur dan Ia berfikir ingin menyusul pria bule itu ke toilet.
Baru saja Inayah berdiri dan ingin menyudahi makannya serta berjalan ke kasir, Arthur tampak terlihat berjalan menuju mejanya.
"Dikira pingsan di toilet!" cetus Inayah membuat Arthur tersenyum tipis.
"Yuk lanjut!?"
"Sakit ya? Mas Arthur sakit saluran kantung kemih?"
Inayah mengingat pernah belajar biologi tentang saluran kemih yang terkena batu ginjal.
"Aih? Beda ya?"
"Bukan beda. Tapi memang kandung kemih. Saluran kemih. Udah ah, jorok deh! Lagi makan bahas begituan!"
"Idihh! Kan Mas duluan yang ngomong."
"Lha? Kan kamu yang ngomongin itu duluan! Ga sekalian periksa kayak dokter urologi!"
"Yeee, bakalan panjang nih urusan!"
Arthur tertawa terbahak-bahak.
Ini kali pertamanya Ia bisa tertawa lepas setelah hampir seminggu bibirnya terasa kecut karena terus mencucut.
"Jangan ketawa! Kamu tambah jelek kalo ketawa!"
Inayah berniat menghibur Arthur.
Ia bisa menduga kalau sakit saluran kemih itu pasti menyiksa. Apalagi harus bolak-balik ke toilet bahkan sampai berurusan dengan dokter spesialis Nephrologist yang memeriksa dengan teliti area vital kita yang biasanya tertutup.
"Mas operasi minggu depan?" tanya Inayah setelah Arthur selesai tertawa.
"Iya. Kenapa?"
"Keluarga Mas gak ikut mengantar?"
"Buat apa? Memangnya Aku sakit parah?!"
Inayah mencebik. Ia mulai kesal dengan tingkah tengil pria dewasa tapi mirip kanak-kanak itu.
"Setidaknya ada yang mendampingi. Biasanya prosedur rumah sakit seperti itu kan?"
Arthur mengangkat bahunya.
"Aku terkecuali."
"Apa memang orang rumah ga ada yang tahu kalau Mas Arthur sedang sakit?"
__ADS_1
"Mereka ada di San Fransisco."
"Ooo. Emang saudara yang lain?"
"Aku anak tunggal. Keluarga Papa ada, tapi kami tidak terlalu dekat layaknya saudara. Karena Papa sepertinya memiliki permasalahan internal dengan keluarganya. I don't care."
"Anak buah Mas kan bisa jadi wali?"
"Aku bukan bapak buah."
"Yassalam, maksud Aku itu rekan kerja atau bawahan mas Arthur yang bisa dimintai tolong. Minimal asisten rumah tangga kalau memang gak punya asisten pribadi. Atau sopir mungkin!"
"Aku tidak punya asisten, tidak punya sopir, tidak percaya dengan pendamping."
"Haish! Terserahlah, capek Aku ngobrol sama Mas!"
"Ya kalo capek istirahat. Gitu aja kok repot!"
"Ish!"
"Aauuuww hahaha... udah berani main fisik. Kubilangin Mak ya, anak kecil ini udah genit cubit-cubit!"
"Dihh! Bukan gitu!"
Inayah malu hati, Arthur terus-terusan membuat wajahnya mem-blush karena digoda terus menerus.
"Inayah..."
"Ya?"
"Kenapa kamu manis sekali hari ini?"
"Hah?!? Jadi kemaren-kemaren Aku sepet gitu? Asem?"
"Sejujurnya Aku masih kecewa dengan pemikiran dan penilaian kalian tempo hari itu. Tapi... melihat kamu sangat manis hari ini dengan menyemangatiku dan berdoa semoga aku lekas sembuh, seketika rasa kecewa itu berangsur hilang."
"Aku bukan tidak percaya pada ucapan Ibu Fanny tentang dirimu dan jeroannya. Tapi, toh Aku dan kamu tidak punya hubungan khusus juga. Urusan kamu soal menggoyang ranjang para wanita dewasa, kurasa bukan urusanku. Jadi, kalau cuma sekedar berteman, mengobrol santai seperti ini, Aku rasa Tuhanku tidak akan marah."
Arthur terkesima.
Ucapan Inayah membuat sisi hatinya yang kosong seketika dipenuhi cairan kehangatan.
Arthur salut dengan kedewasaan Inayah yang jelas-jelas menandakan kalau gadis kecil cantik imut itu berotak cerdas cemerlang.
"Terima kasih."
Arthur tak dapat berkata-kata. Selain tertunduk malu juga sedih, karena sempat berfikir buruk dengan Inayah dan keluarganya.
"Aku sebenarnya sudah tidak lagi tersinggung. Rama menchatku dan mengatakan kalau Ia minta maaf atas nama keluarga karena perlakuan yang kurang menyenangkan setelah mengetahui kabar burung tentang Aku di pergaulan."
"Mas Rama?"
"Iya. Kalian adalah keluarga yang baik. Aku senang bisa mengenal kalian semua. Walaupun aku tidak bisa membela diri karena kelakuan pergaulanku di kalangan terbatas. Tapi,... ya sudahlah. Seperti yang kamu bilang. Kita tidak punya hubungan spesial. Jadi, urusan pribadiku adalah urusanku, urusan pribadi kamu tentu saja urusanmu. Bukankah teman yang baik adalah teman yang mengerti isi hati temannya?"
Inayah hanya tersenyum tipis.
Seketika Ia menepuk keningnya.
"Waduh?!? Mbak Yu' sama Mas Lukman!"
"Kenapa???"
"Mbak Yu' ku dirawat di lantai tiga. Aku harus kembali secepatnya!" tukas Inayah seraya mengambil uang lima puluh ribuan selembar.
"Ini, maaf ya Mas, tolong titip bayar. Aku buru-buru soalnya! Next time kita makan bareng lagi!"
Inayah menaruh uang lima puluh ribunya di atas tangan Arthur yang tertegun tak percaya. Ia berlalu pergi dengan langkah cepat keluar dari warung ayam goreng.
"Aku rasa dia tahu kalau Aku ini anak orang kaya. Tapi??! Dia bahkan memberiku uang untuk bayar makanannya sendiri tanpa minta traktiran apalagi menyindir minta ditraktir. Benar-benar gadis yang unik!"
Arthur tanpa berkedip menatap Inayah sampai hilang dari tatapannya yang fokus.
Perlahan pintu hatinya yang tampak karatan dan sulit dibuka seperti mendapatkan alat bantuan yang membuatnya jadi ingin terus mengenal gadis imut itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1