
Amelia tiba di rumah mertuanya.
Kini ia hanya menunggu kepulangan kedua mertua dan adik iparnya yang tinggal satu atap dengan mereka.
Dua adik Soleh tidak datang karena tinggal di kampung yang berbeda. Mereka juga tidak terlalu antusias. Bahkan sedikit bingung pada pernikahan kedua kakak sulung mereka. Harus bahagia atau sedihkah. Terlebih setelah mengetahui kalau Amelia sendiri yang menandatangani saksi pernikahan di dokumen buku nikah Solehuddin.
Sejujurnya Fitra dan juga Jamal merasakan tekanan kedua orang tua mereka begitu besar pada Soleh sebagai kakak pertama.
Soleh memang anak baik yang soleh pada kedua orang tua.
Tidak seperti ketiga saudaranya yang lebih berani mengeluarkan pendapat bahkan tak jarang membangkang ucapan Mariana dan Anta yang mereka anggap nyeleneh tidak sesuai logika mereka.
Soleh cenderung memanjakan Ibu Bapaknya dengan mengiyakan dan menuruti semua permintaan kedua orang tua yang labil jiwanya itu.
Seperti halnya Lani dengan suaminya, Tito. Lani bahkan sampai berdebat dengan Tito karena permasalahan Soleh yang terus jadi obrolan kedua mertuanya yang masih suka aneh-aneh itu.
Lani kesal, suaminya yang belum mampu memberikan kontribusi sebagai menantu andalan justru mencibir tingkah Ibu Bapaknya yang mata duitan dan dinilai tidak punya empati serta perasaan karena jor-joran menjodohkan Soleh yang jelas-jelas punya istri dengan anak juragan angkot di kampung sebelah.
"Mau bagaimana lagi? Kita harus bela Mbak Amel? Sedangkan kita sendiri gak punya daya karena masih menumpang tinggal sama Ibu Bapak!" timpal Lani yang kesal juga karena Tito terus memojokkan kedua orang tuanya yang memang salah.
"Ya setidaknya mereka itu harusnya punya empati. Punya cara lain menyikapi menantunya yang belum bisa kasih keturunan, bukannya malah dijodohkan nikah lagi dengan perempuan lain! Berarti kalo Aku nikah lagi nanti, dan dapatkan istri kaya raya mereka juga akan senang dan bahagia dong asalkan Aku kasih japukan setoran tiap bulan!?"
Plak
Lani menggebuk punggung Tito dengan kekuatan maksimal. Kesal lama-lama karena komenan sang Suami yang bikin dia jantungan.
"Awas aja kalo berani! Nih, nih (Lani mempraktekkan kode memotong-motong dengan jari jemarinya) Ta' sunat terongmu! Mau?"
Tito tertawa. Tapi seketika terdiam karena Mariana dan Anta terlihat baru pulang dari kebun garapannya.
"Hayo, berani ngomong di depan mereka?" ledek Lani sembari membelalakkan matanya.
"Sttt..."
Tito menempelkan telunjuknya ke atas bibir. Ia menyuruh istrinya diam.
Begitulah suasana kehidupan adiknya sebelum Soleh menikah lagi dengan Juriah.
__ADS_1
Kini Tito dan Lani hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga Amelia dan Solehudin selanjutnya setelah ada Siti Juriah, yang jelas-jelas lebih muda dan lebih cantik dari Amelia.
"Mbak, saya kembali lagi ke sana ya? Lani dan Cia masih ada di sana!" pamit Tito pada Amelia yang sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Iya, Tito. Makasih ya, sudah antarkan Mbak sampai sini!"
Tito kembali ke kediaman Juriah.
Sebenarnya Ia merasa tak enak hati, tapi istri dan anaknya masih ada di sana.
Tinggallah Amelia yang duduk seorang diri di rumah Mariana yang kosong dan sepi.
Figura foto-foto masa kecil Soleh dengan ketiga adiknya menjadi hiburan yang bermakna bagi Amelia.
Seketika Ia teringat pada Emak dan Bapaknya yang berada di kampung lainnya di kota yang sama.
Amelia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya.
Mencari nama "Emak Sayang", lalu mencoba melakukan panggilan telepon. Hingga tersambung dan terdengar suara Emaknya yang terdengar serak.
"Hallo? Mak? Assalamualaikum..."
Menetes air mata Amelia jatuh di pipi.
Suara Emaknya membuat hati Amelia merindu ingin menangis di pelukan wanita paruh baya yang melahirkannya tiga puluh tahun yang lalu itu.
"Mak... Jaga kesehatan, Mak! Jangan bekerja terlalu keras. Bapak mana?"
...[Bapakmu masih di jalan, narik becak. Oiya, terima kasih ya. Tolong bilang sama suamimu, adikmu Gaga akhirnya bisa tersenyum melihat sepatu futsal kiriman Soleh. Besok dia tanding kejurnas di kecamatan! Uhuk uhuk uhuk...]...
"Iya. Ibu udah berobat belum? Tia mana?"
...[Udah. Tia ikut bojone kuli ngored di kebun. Katanya lumayan buat nambah uang sangu bekal Ardian sekolah.]...
"Iya. Mak... Mak udah makan? Masak apa, Mak?"
...[Udah, Nduk! Heri tadi pulang siang anterin nasi besek dua bungkus. Alhamdulillah, bisa buat nanti sore Emak makan bareng Bapakmu!]...
__ADS_1
"Hik hik hiks... Mak,... Amel kangen Emak. Hik hiks..."
Akhirnya tangis Amelia pecah juga.
...[Pulanglah kalo kamu kangen. Tapi izin pada suamimu. Kesian kalo kamu tinggalin di Jakarta sendirian tanpa ada yang ngurusin. Bisa-bisa suamimu cari istri lain seperti Mbak Kartinah yang suka bolak-balik pulang kampung tanpa izin suami!]...
Tumpah ruah air mata Amelia.
Ingin sekali Ia bercerita pada Emaknya, kalau Sang Suami justru saat ini sedang berada di panggung pelaminan bersama istri mudanya padahal Ia jarang tinggalkan untuk bolak-balik pulang kampung menengok orang tua serta keempat adik-adiknya.
Amelia tak kuasa menahan kesedihan. Akhirnya Ia memutuskan untuk pamitan menutup sambungan teleponnya dengan Mak kesayangan.
"Mak. Amel pamit dulu ya, mau masak. Takut Bang Soleh pulang cepat."
...[Iya Nduk. Masak yang enak ya? Lelaki itu akan setia kalau perutnya dimanjakan istri. Ga perlu cari rumah makan dan juga selalu pulang kalau istrinya masak enak setiap hari.]...
"Iya. Assalamualaikum..."
...[Waalaikum salam...]...
Klik.
Amelia menangis sesegukan di atas ranjang tidur kamar Soleh ketika masih bujangan.
Ia tak berani menceritakan kesedihan hatinya. Tak kuasa membagikan kesakitan jiwanya yang harus menjadi istri tua.
Pernikahannya dengan Soleh adalah pilihannya sendiri, atas dasar suka sama suka. Meskipun kala itu Emak dan Bapaknya tidak terlalu antusias karena melihat tabiat Soleh yang suka sekali keluyuran, tidur larut malam dan bangun siang.
Mereka mengenal Soleh yang adalah pemuda kampung sebelah yang suka nongkrong di pemancingan tak jauh dari kebun tempat Emak Bapak kuli ngored.
Saat itu, Soleh masih menganggur dan Amelia masih begitu muda.
Soleh 24 tahun dan Amelia umur 19 tahun. Mereka bertemu, mengikat tali pernikahan dan pergi merantau ke Jakarta dengan satu harapan, taklukkan Ibukota dengan tekad bahagia.
Sepuluh tahun merantau. Pulang ke kampung halaman hanya setahun sekali karena ongkosnya yang lumayan besar untuk mereka berdua pulang pergi. Belum lagi uang pegangan untuk memberi adik-adik serta keponakan terdekat sekitar rumah orang tua.
Amelia selalu berusaha mengertikan keadaan ekonominya yang hanya seorang Ibu Rumah Tangga saja. Alias hanya menadahkan tangan menunggu uang gajihan suami disetorkan kepadanya.
__ADS_1
Makanya dia tak mau banyak menuntut. Hanya doa dan harapan yang selalu ia panjatkan supaya Sang Suami mendapatkan rezeki yang jauh lebih baik lagi.
BERSAMBUNG