Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 121 Rencana Yang Indah


__ADS_3

"Semalaman kalian mengobrol apa?" tanya Amel pada Lukman setelah selesai sholat Subuh.


Kini mereka duduk di depan meja makan. Menikmati sepiring nasi goreng berduaan.


Sebenarnya belum boleh se-uwu itu, tapi Lukman kata, biar irit sabun dan tenaga. Biar Amel tidak perlu capek-capek cuci dua piring sekaligus.


Lukman bilang, sebenarnya dia tidak terbiasa makan pagi.


Lukman hanya makan setangkup roti dan segelas Energen saja setiap pagi. Baru akan makan nasi di pukul setengah dua belas siang sebelum sholat Dzuhur.


Begitu kata Lukman.


Tapi Amel juga bilang, kalau dia justru kebalikannya. Harus sarapan pagi meskipun hanya beberapa suap nasi.


Hingga akhirnya mereka buat kesepakatan jalan tengahnya.


Sarapan pagi sepiring berdua. Baru Lukman akan mengikuti aturan Amelia nantinya.


Tentu saja Amel tertawa terbahak-bahak.


"Kesepakatan yang aneh!" begitu katanya sembari tersenyum lebar.


Mia dan adik-adik Amelia yang menyaksikan kebucinan Lukman pada Amelia.


Hati kecil mereka merasakan kebahagiaan yang terpancar lewat senyuman serta wajah Amelia yang kian cerah mempesona.


"Semoga Mbak Yu' kalian bahagia bersama Mas Lukman!" gumam Mia diamini semua anaknya selain Amelia.


Hati kecilnya turut berkata,


Pak. Anak kita akan melepaskan status jandanya. Kali ini, Aku seperti melihat dirimu pada calon menantu kita. Aku seperti melihat kloninganmu yang manis memperlakukan Aku. Kuharap Lukman benar-benar akan jadi pendamping yang melindungi Amel lahir batin dunia akhirat.


Mia tersenyum lega.


Setelah cukup lama mengintip, akhirnya Mia mengajak keempat anaknya untuk keluar dan bergabung dengan pasangan yang akan melangsungkan pernikahan di awal bulan.


"Duduk, Mak! Sarapan. Mbak Amel sudah menggoreng nasi yang rasanya spesial!" ujar Lukman melihat sang calon mertua keluar dari kamar diikuti oleh Tia, Rama serta Inayah dan juga Gaga.


"Idih, nasi goreng iris cabe bawang saja ini. Mana ada istimewanya?" timpal Amelia malu hati.


"Tentu saja spesial dan istimewa. Karena dibuat dengan ramuan cinta penuh keikhlasan dan ketulusan."


"Huaaa, gombalan receh! Mau dong Mas, digombalin!" goda Inayah membuat Lukman terkekeh.


"Maaf ya Inayah cantik. Stok rayuan Mas Lukman itu terbatas. Hanya untuk Mbak Amel seorang. Hehehe..."

__ADS_1


"Jiaaah hahaha!"


Pagi hari yang indah.


Keluarga kecil bahagia itu adalah idaman Lukman juga surganya Amelia.


Sarapan pagi yang menyenangkan.


"Andaikan kita bisa seperti ini bersama setiap hari!" kata Lukman seraya menatap Amelia.


"Apa..., kita bisa memboyong Emak tinggal bersama?"


"Se_sebenarnya aku pernah memimpikan hal itu sejak dulu. Tapi,..."


"Kenapa enggak? Gaga bisa pindah sekolah. Inayah akhir bulan ini juga tamat SMA khan?"


Semua saling berpandangan.


"Inayah bisa lanjutkan kuliah di Ibukota. Iya kan?"


Inayah tertegun dengan wajah bersinar penuh pengharapan.


"Boleh, Mas?"


"Mas...?!"


"Kenapa, Mbak!? Inayah bisa bantu-bantu di resto setelah selesai kuliah. Itupun kalau Inayah bersedia."


"Inayah mauuu!!!"


"Aku? Gimana?" tanya Tia bingung.


"Kita bisa bantu Amelia di restoran. Bagaimana?" ucap Lukman lagi.


"Aku dan Arif juga, Mas?"


"Bisa kok. Yakin bisa."


"Mas Lukman?!?" sela Amel tak ingin melihat keluarganya kecewa nanti.


"Mbak..., bisakah kita tinggal bersama di sebuah rumah nantinya?" Lukman kembali bertanya pada Amelia.


"Bagaimana mungkin? Kami, tidak mungkin tinggal satu atap setelah menikah nanti."


"Semua bisa diatur. Semuanya aman terkendali."

__ADS_1


"Maksudnya mas Lukman?"


"Untuk saat ini, apakah Emak dan adik-adik bersedia? Aku butuh jawaban itu saja, Mbak!"


"Apakah bisa?" tanya Mia angkat suara juga akhirnya.


"Tentu bisa, Mak!"


"Kak Lukman!?"


"Iya, Ram?"


"Jangan memaksakan diri jika semua itu sulit sekali. Kami melihat Mbak Yu' hidup bahagia saja rasanya senang sekali. Kami juga pastinya akan selalu mendoakan kebaikan untuk kalian berdua. Selalu sehat dan dalam keberkahan Allah Ta'ala."


"Aamiin, terima kasih doanya, Ram! Tapi Aku juga tidak sedang berbohong saat ini. Sungguh!"


"Baiklah, kami percaya. Dan untuk pernikahan inipun kami masih bingung dan hanya menerka-nerka. Kami berharap pernikahan Kakak dan Mbak Amel berjalan lancar dikediaman keluarga Mas Lukman." Tia ikutan nimbrung juga.


"Jangan cemaskan hal itu, Tia. Percayalah, kedua orang tua saya adalah pasangan yang handal untuk diberikan kepercayaan mengatur segala macam pesta termasuk pernikahan. Apalagi ini adalah pernikahan putranya sendiri. Hehehe..."


Meskipun mendapatkan penjelasan sejelas-jelasnya dari Lukman, mereka semua masih ora mudeng.


Mereka bingung karena orang tua Lukman sama sekali tidak menyebutkan tata cara pembayaran pesta di sebuah gedung serbaguna di ibukota.


Bahkan uang seserahan yang mereka berikan senilai lima puluh juta itu untuk Amelia tanpa diganggu gugat.


Katanya itu bisa disimpan untuk keperluan yang lain. Membuat Mia dan kelima anaknya kebingungan.


Lukman izin pamit pulang setelah selesai makan pagi bersama keluarga Amelia.


Lukman masih memiliki urusan lain. Ia hanya meminta fotokopi KTP Amelia dan past photo ukuran 3x4 cm sebanyak dua lembar. Tentunya untuk mengurus surat-surat ajuan pernikahan di Kantor Urusan Agama.


"Mak, Saya pamit pulang ya?" ucap Lukman izin pada Mia.


"Hati-hati di jalan ya, Nak!"


"Iya. Mohon doanya. Saya dan Mbak Amel permisi dulu."


"Mak, Kami akan kembali menjelang pernikahan." tambah Amelia pada Mia.


Keduanya saling berpelukan dengan senyuman tersungging di bibir.


Berharap semuanya dipermudah Allah Ta'ala. Amel menikah tanpa kendala.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2