
Perlahan Arthur seperti menemukan jalannya mencari hari diri.
Satu persatu clue-clue bermunculan. Menjadi penunjuk arah penuntun langkahnya.
Hatinya kian melunak seiring dirinya yang mulai mencari keterangan tentang rumah tangganya bersama Inayah.
Jejak digital adalah jejak yang paling akurat sepanjang masa.
Beruntungnya Ia tidak menghapus semua foto, video dan juga chattan-chattan manisnya bersama Inayah.
Semuanya adalah bukti otentik tentang perjalanan cintanya bersama Inayah.
Selama berhari-hari Arthur menonton semua rekaman videonya termasuk pencapaian kariernya di dunia film. Semua adalah titik tertinggi keberhasilannya yang di dapat berkat dukungan penuh Inayah.
Arthur makin terbuka pintu hatinya.
Inayah, istri yang diduga adalah hanya sebagai tempelan saja menjadi pendamping hidupnya ternyata memiliki peran yang sangat besar dalam perubahan hidupnya tiga tahun belakangan ini.
Mimpi-mimpi yang kian hari kian menjadikan Arthur menyadari kekeliruannya mentalak Inayah.
Terlebih ketika Pupu dengan gamblangnya menceritakan betapa sang ibu sambungnya yang meskipun masih belia tapi sangat dewasa dan menyayangi putranya dari Bianca itu. Arthur semakin sadar akan sikapnya yang terlalu frontal kemarin-kemarin pada Inayah.
Ini adalah hari ke-empat puluh hari mereka berpisah jauh.
Pupu sakit demam panas. Suhu badannya tinggi sekali.
Sudah tiga hari setiap malam bocah yang usianya menjelang lima tahun itu menangis terus sambil memanggil-manggil Inayah.
Frederica panik, begitu juga Joko yang sudah mengambil keputusan pensiun dini dan menetap bersama istri serta cucunya itu.
Tindakan terakhir adalah membawa Pupu ke rumah sakit dan diopname sementara sampai suhu tubuhnya berangsur turun.
Mereka merasa jauh lebih prepare jika menempatkan Pupu di ruang IGD agar bisa dipantau pihak medis daripada dirawat di rumah.
"Bundaaa..., Bundaaa..."
Arthur menggenggam erat tangan Putra Arthur Pangestu. Lalu menciumnya dengan lembut.
"Pupu, Pupu. Wake up, boy! Kamu mimpi tentang Bunda, ya?"
"Papa...! Papa, aku kangen Bunda. Aku... ingin melihat adik bayi yang ada di perut Bunda!"
"Iya, Pupu. Next time kita ke Jakarta. Kita lihat Bunda dan adik bayi."
"Kenapa harus next time? Kenapa tidak besok saja? Ayo, Papa! Ayolah!"
"Kamu sedang sakit, Nak! Istirahatlah. Setelah sembuh dan benar-benar sehat, baru kita akan kembali ke sana."
"Pupu kangen semuanya yang ada di Jakarta. Disini Pupu tidak punya teman. Kalau Papa tidak mau mengantar, Pupu mau koq diantar Mami Papi. Kalau Papa tidak mau, Papa tidak ikut juga tidak apa-apa. Yang penting Pupu kembali ke Jakarta. Sekolah di sana dan tinggal sama Bunda! Hik hiks hiks... huaaaa, Bundaaa! Bundaaa..."
__ADS_1
Begitulah kini tingkah Pupu.
Sakit panas membuat anak lelaki yang imut itu menjadi lebih emosional dan cepat sekali menangis.
Membuat Arthur gemas bingung sendiri menyikapi tingkahnya.
Tapi Arthur juga merasa kasihan.
Bocah itu sepertinya sudah sangat kerasan di Indonesia khususnya kota Jakarta.
Padahal Pupu baru tinggal setahun lebih, tapi dirinya seolah lahir dan lama tinggal di sana dibandingkan di sini, kota kelahirannya.
Tangisannya keras membuat Arthur tak enak hati pada pasien lain yang satu kamar dengan Pupu.
"Sayang, baiklah. Cup cup cup. Kalau Pupu cepat sembuh, kita akan pulang ke Jakarta. Tapi Pupu jangan seperti ini. Nanti lama sembuhnya dan kita juga tidak bisa secepatnya kembali ke sana."
"Papa janji?"
"Tentu."
"Jangan bohong! Kalau Papa bohong, Papa masuk neraka!"
"Off course! Papa tidak akan bohong."
"Janji?"
"Oke. Pupu pegang janji Papa. Kalau Papa bohong, Pupu tidak mau tinggal sama Papa selamanya!"
Berdegup kencang jantung Arthur.
Sumpah serapah yang putranya ucapkan membuatnya bergetar.
Ia pun sebenarnya ingin sekali kembali ke Jakarta.
Sama seperti Pupu, Arthur pun merasakan home sick.
Ia rindu Jakarta. Rindu hiruk-pikuk kemacetannya. Rindu suasana kota Jakarta yang jauh lebih amburadul dibandingkan kota Dan Fransisco tempatnya lahir dan dibesarkan.
Ia juga rindu makanan Indonesia. Nasi uduk, nasi Padang, sayur asem, tempe bacem, sambal terasi dan semuanya.
Rindu Inayah juga, meskipun bibirnya bungkam tak mau mengakui dihadapan sang putra.
Semula ia akan bisa fighting memulai hidup baru di kota San Fransisco ini. Bersama putranya dan kedua orang tuanya yang sudah pensiun.
Hidup bahagia selamanya.
Ternyata, sangatlah tidak mudah.
Terlebih dengan membawa beban rindu dan permasalahan yang belum usai.
__ADS_1
Arthur pun merasakan seperti yang Pupu rasa.
Sakitnya Pupu bisa menjadi jalan untuk Arthur kembali ke Jakarta. Alasan yang sangat tepat jika pada akhirnya keputusan kembali ke Jakarta menjadi pilihan terakhir.
Karena Arthur ingat betul, ucapannya sebelum hengkang dari Jakarta ke San Fransisco. Ia tidak akan pernah kembali ke kota yang identik dengan kemacetan itu.
Ia bilang, Ia ingin tinggal selamanya di tanah kelahiran.
Tapi nyatanya, Ia tidak bisa bertahan juga.
Jakarta selalu memanggil-manggil namanya untuk kembali pulang.
Di sana rumahku
Dalam kabut biru
Hatiku sedih
Di hari minggu
Di sana kasihku
Berdiri menunggu
Di batas waktu
Yang telah tertentu
Reff.
Ke jakarta aku kan kembali
Walaupun apa yang kan terjadi
Arthur termangu mendengar alunan lagu di yutub musiknya.
Lagu lawas milik Koes Plus mengingatkan dirinya pada Inayah.
Tapi Arthur juga masih ingat chattannya yang diluar batas setelah dirinya meninggalkan Jakarta.
Isinya, dia mentalak Inayah dengan kata cerai lewat pesan singkat WhatsApp.
Apakah itu artinya aku sudah bukan lagi suaminya Inayah? Apa artinya kini Aku dan Dia bukan lagi pasangan suami istri? Lalu, bagaimana mungkin aku kembali ke rumah dan tinggal satu atap lagi dengan Inayah yang kini jadi mantan istri? Bagaimana nanti kami jika seperti itu?
Arthur merenunginya.
Tenggelam dalam diam dan penyesalan diakhir.
BERSAMBUNG
__ADS_1