Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 145 Amelia Yang Mendadak Pingsan


__ADS_3

Lukman bingung, Amelia justru menolak untuk ke dokter memeriksakan kesehatannya.


Amelia malah menangis dan ngambek karena Lukman sedikit memaksa demi ingin Amel kembali sehat.


Bertahun-tahun sejak dirinya masih menjadi istri Solehudin, Amelia memang tidak pernah memeriksa kondisi tubuhnya ke dokter apalagi rumah sakit. Ia memang trauma dengan tenaga kesehatan sejak dirinya dimarahi bidan yang memeriksanya ketika Amelia telat datang bulan dua mingguan.


Masih sangat jelas kata-kata ketus bidan angkuh itu.


"Baru telat dua minggu sudah merasa yakin hamil! Memangnya ciri-ciri hamil itu seperti itu?! Terlambat datang bulan bisa jadi karena stres banyak pikiran. Atau mungkin kantung rahim terkena virus, bukan cuma hamil. Kemungkinan ada miom, kista, itu juga mempengaruhi siklus menstruasi! Jangan sok tahu langsung menebak-nebak kalau hamil! Faham ga?"


Amelia bergidik mengingat omongan bidan itu.


Saat itu, usia pernikahannya dengan Soleh sudah memasuki tahun keempat. Terlambat datang bulan dua minggu tentu saja membuat hatinya senang. Lalu Amelia bersama Soleh mendatangi sebuah klinik bidan 24 jam yang tak jauh dari rumah kontrakan mereka pada saat itu.


Tapi ternyata kebahagiaannya yang mengira dirinya hamil, langsung dipatahkan oleh bidan itu. Bahkan setelah minum obat dari Sang bidan, malam harinya Amelia langsung menstruasi banyak sekali.


Sejak itu, Amel lebih suka beli obat di apotik jika sedang merasakan kurang enak badan ketimbang konsultasi dan berobat ke klinik.


Seperti saat ini, Ia sebenarnya sudah merasakan kalau bulan ini Amel belum dapat halangan. Sudah lewat sepuluh hari, tapi Amel belum berani menceritakannya pada Lukman.


Amelia takut sekali kalau nantinya dia hanya memberikan kebahagiaan palsu padahal hanya telat halangan saja.


Makanya Amelia tidak mau ke dokter meskipun Lukman setengah memaksa.


Lukman hanya bisa mengelus dada. Tak berani memaksa istrinya untuk segera berobat.


"Tapi jangan minum sembarang obat ya, Yang? Aku khawatir kalau nanti malah salah minum obat. Ada baiknya berobat. Jadi kita tahu sakitnya apa dan obat yang cocok itu yang mana."


"Ga mau, Mas! Sudah kubilang gak mau ya gak mau! Jangan dipaksa! Hik hiks hiks..."


Lukman semakin bingung. Amel justru terlihat kesal bahkan sampai menangis histeris.


Amelia sampai mendorong Lukman keluar kamar dan mengunci diri di kamar sendirian.

__ADS_1


Membuat Lukman bingung bukan kepalang.


Ia segera menchat Ibu mertuanya. Menanyakan kepada Mia apa yang harus Ia lakukan jika Amel sedang merajuk.


Mia agak bingung juga mendengar Amelia merajuk.


Selama ini putrinya sangat dewasa dan pandai mengontrol emosi. Bahkan tak pernah sekalipun Mia mendengar keluhan apalagi curhatan Soleh tentang Amelia yang merajuk.


"Nak Lukman disuruh keluar kamar dan Amel mengurung diri di kamar?" tanya Mia memastikan setelah merasa lebih baik menelpon daripada chattan via WhatsApp.


...[Iya, Mak. Lukman bingung. Padahal kita gak sedang ribut. Aneh. Beberapa hari ini Amelia juga terlihat pucat dan mual terus setiap pagi. Amelia bahkan ga mau sarapan pagi. Biasanya kan justru Amel selalu sarapan pagi dengan nasi. Tapi sekarang..., setiap Ia buka magic com langsung pusing dan mau muntah katanya]...


Mia terdiam mendengar curhatan menantunya itu.


Ya Allah. Semoga pemikiranku kali ini benar. Semoga. Semoga, ya Allah!


"Belikan Amel buah-buahan, Nak! Yang segar seperti jeruk Mandarin, sirsak, rambutan, belimbing, anggur. Apel merah juga bagus itu buat memulihkan staminanya Amelia. Nak Lukman..."


...[Ya, Mak?]...


...[Mak, kenapa ngomong gitu. Amelia sekarang adalah kewajiban Lukman. Sudah selayaknya Lukman menyayangi Amel begitu juga sebaliknya. Mak,... mohon doanya semoga Amel ga lagi ngambek sama Lukman ya? Masalahnya Lukman benar-benar tersiksa jika Amelia terus-terusan seperti itu. Minta doanya ya, Mak?]...


Amelia yang keluar kamar dan tanpa sengaja mendengarkan ucapan Lukman yang sedang menelpon Mia sontak tersadar. Amelia malu pada tingkahnya yang sedang kurang baik. Bahkan sampai membuat suaminya jadi bingung serba salah, sampai mengadu pada Emaknya tentang kelakuan abstraknya yang dahulu tak pernah ada.


"Mas..."


Lukman tersentak kaget.


Amelia berdiri tepat dibelakangnya.


"Ma_maaf Sayang! Maaf ya kalau Aku jadi suami yang egois!" Lukman merangkul tubuh Amelia.


"Maass, Aku takut..." kata Amelia lirih di telinga Lukman.

__ADS_1


"Jangan takut, Sayang. Ada aku. Ada suamimu yang akan selalu ada menjagamu!" bisik Lukman memeluk erat Amelia yang kini telah kembali baik dan tak ngambek lagi.


"Oiya. Emak bilang, kamu harus banyak makan buah. Yuk kita ke supermarket? Cari buah-buahan segar. Pilih apapun buah yang mau Amel makan."


"Iya? Ya udah, Aku ganti dulu pakaian ya?"


"Iya, Sayang!"


Lukman senang, Amelia kembali ceria. Ia mengambil parfum yang ada di laci lemari kaca di ruang tengah dan menyemprotkan beberapa kali ke bagian ketiak dan tengkuknya.


Tak lama kemudian Amelia keluar kamar dengan dandanan yang eye catchy membuat Lukman kian terpesona.



"Cantiknya!" puji Lukman membuat Amelia tersipu malu.


"Mas juga ganteng dan keren!" Amelia membalas pujian Lukman.



Baru saja beberapa langkah Amelia mendekat namun tiba-tiba...


"Hoek hoekkk! Maaasss, bauuu!!!" pekik Amelia kembali mual dan...


Gubrakk


"Sayang!!! Istriku!!!"


Lukman segera berlari menangkap tubuh Amel yang terkulai lemas dengan kondisi tak sadarkan diri.


Lukman menelpon nomor darurat 118. Ambulans tak lama datang menjemput mereka yang dalam kondisi panik cemas karena Amelia mendadak pingsan.


Lukman mengirim kabar via chat grup Keluarga kalau kini mereka tengah menuju rumah sakit dengan ambulance karena Amelia pingsan.

__ADS_1


Seketika grup chat Keluarga Lukman dan juga Amelia ramai. Mereka langsung meluncur ke rumah sakit yang akan dituju pasangan suami istri baru itu.


BERSAMBUNG


__ADS_2