
Inayah termangu setelah selesai membaca doa setelah sholat Dzuhur di masjid rumah sakit.
Ia kembali teringat pada sikap Arthur yang berbeda sekali dengan Arthur yang sebelumnya.
Setahu Inayah, pria dewasa itu sangat tegas dan tidak menye-menye orangnya. Apalagi sampai terlihat cemas seperti tadi yang khawatir dirinya kembali dingin padanya.
Inayah justru gugup setelah menerima perlakuan manis Arthur yang tiba-tiba mem-puk-puk-kan ujung kepalanya.
Itu adalah kelemahan Inayah dalam memandang lawan jenis.
Sejak mulai pubertas di masa SMP, Inayah selalu memimpikan punya kekasih hati yang bersikap baik dengan memberinya sentuhan manis di ujung kepalanya.
Entah mengapa, Inayah selalu punya gambaran kalau pria yang suka mem-puk-puk-kan ujung kepala adalah pria penyayang dan romantis luar biasa.
Hari ini, diusianya yang ke-delapan belas tahun dan baru saja menyandang status mahasiswa semester pertama, Inayah akhirnya menemukan pria yang selama ini Ia damba.
"Astaghfirullahal'adziiim..."
Inayah menepuk dahinya beberapa kali.
Ia bahkan berkali-kali meniup lubang genggaman tangannya dan menempelnya di telinga kiri juga kanan. Berharap pikiran gila yang kini bersarang di otaknya segera menghilang.
"Ya Allah gustiii!!! Dia bukan pria baik! Dia juga seorang atheis! Dia tidak percaya Tuhan apalagi beriman kepada Allah. Tidak boleh terus menerus memikirkan orang tua itu!!! Ish, Inayah, sadar Inayah!!!" gumamnya berusaha menyadarkan pikirannya yang kembali melamunkan Arthur Handoko.
Ternyata bukan hanya Inayah saja yang nge-blank seperti itu.
Arthur yang sedang menyetir mobil pun merasakan hal yang sama. Bahkan dirinya sampai salah masuk jalur tol.
"Shiiiit! OMG! Kenapa bisa gue masuk tol Taman Mini?!? Haissshhh!!! Inayaaaah!!! Coba keluar dari fikiran gue, woooi!!! Lo itu cuma bocah yang baru lulus SMA!!! Ga boleh terus menari-nari difikiran ini!!! Gue ga mau dianggap pedofil karena suka sama bocah ingusan!!!" teriak Arthur di tengah jalanan tol yang cukup lancar karena baru pukul dua siang.
Harusnya Ia tidak keluar jalur tol Taman Mini dan terus melaju sampai arah Bogor. Tetapi malah belok jalur kiri dan menikung ke taman Mini Indonesia Indah.
"Hm. Apa gue mesti ajak tuh bocah kapan-kapan ke TMII ya? Secara, dia dari kampung, pasti belum pernah ke Taman Mini. Hm... ide bagus. Biar bocah ingusan itu tambah wawasan. Biar dia gak nyadar kalau kebetulan salah jalan di daerah Jakarta."
Arthur mulai mengkhayal.
__ADS_1
Sesekali bibirnya tersenyum lebar, menyeringai melamunkan dirinya yang sedang berduaan dengan Inayah di taman mini.
Hari ini keduanya seperti orang yang linglung.
Baik Arthur maupun Inayah seperti sedang terjangkit virus jatuh cinta yang kronis parah. Keadaan mereka mengkhawatirkan juga.
Seperti Inayah, yang sesekali telapak tangannya mem-puk-puk-kan kepalanya sendiri ketika teringat tingkah Arthur dalam memperlakukannya tadi siang.
"Kenapa, Nay?" tanya Amelia.
"Pulang gih?! Kamu kelihatan lelah. Mumpung belum adzan Ashar. Daerah Cibinong suka macet kalo lewat jam empat sore. Mendingan pulang sekarang. Takut hujan juga. Soalnya Bogor itu identik dengan hujan menjelang malam. Biar Mbak Amel dijaga Mas Lukman saja! Mas ga akan kemana-mana juga karena udah ambil cuti seminggu."
"Hhh... Ngusir nih? Ngerasa terganggu ya karena ada Aku?"
"Lah? Mulai ngajak ribut lagi!" ledek Lukman pada Inayah.
Namun seketika Inayah tertawa sambil mengangkat dua jari telunjuk dan jari tengah tanda perdamaian.
"Aku pulang deh ya?!"
"Iya. Mbak Yu' keadaannya udah baikan kan?"
"Iya, koq. Besok udah boleh pulang. Tensinya udah mulai normal, Nay!"
"Syukurlah. Inayah pulang ya? Kayaknya Mas Rama sama Mak bakalan kesini jam empat. Andaikan besok Inayah ga ngampus, Inay mau nginep di resto aja."
"Jangan, kamu besok ada kelas kan?".
"Iya, Yu'. Masuk siang."
"Kuliah aja yang bener. Jangan sia-siakan kesempatan yang mas Lukman berikan. Yang rajin belajarnya, biar nilai IPKnya bagus."
"Siap, Pak Boss! Mohon doanya, ya!?! Hehehe..."
Inayah mencium punggung tangan Lukman juga Amelia. Ia memeluk erat tubuh Kakaknya.
__ADS_1
"Jaga kesehatan ya Yu'? Jaga di Dede yang ada dalam perut. Hehehe..., muaacht!"
"Aamiin. Doain ya, Nay! Kamu hati-hati di jalan!"
"Iya, Mbak. Jarak Jakarta Bogor gak terlalu jauh koq. Apalagi jalur dua arah juga lewat Cibinong Raya. Inayah udah faham pakai google map."
"Iya."
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..., hati-hati!"
"Iya."
Inayah pulang kembali ke kota hujan tempatnya tinggal.
Amelia dan Lukman tinggal di kota Jakarta. Resto mereka ada di wilayah Ibukota. Sedangkan Inayah, menempati rumah besar di daerah BNR Bogor bersama Mia, Rama juga Gaga.
Tapi Gaga bersekolah di Ibukota. Sehingga Ia lebih sering di Jakarta dan pulang ke rumah Bogor pukul delapan malam kecuali hari libur.
Inayah sudah biasa mengendarai sepeda motor matic sejak kelas tiga SMA. Tepatnya sejak Ia berumur tujuh belas tahun dan memiliki KTP.
Amelia membelikan Inayah sepeda motor semenjak Ia bercerai dari Soleh dan buka usaha katering di rumah kontrakan.
Inayah juga sudah memiliki SIM sehingga aman berkendara.
Meski terlihat polos dan lugu, Inayah bukanlah gadis yang tidak bisa apa-apa. Kedewasaannya mampu diandalkan. Seperti tadi pagi, Mia bilang Ia tidak bisa menemani Amelia di siang hari karena ada seminar bersama Fanny, Mamanya Lukman. Inayah langsung berinisiatif untuk menjenguk Kakaknya yang dirawat di RS Ibukota.
Itu adalah perjalanan pertama kalinya ke Jakarta dengan sepeda motor.
Teknologi sekarang sudah canggih.
Meskipun tidak tahu jalan, namun arahan google map berhasil membawa Inayah sampai di rumah sakit tempat Amel dirawat.
Dan Ia bertemu kembali dengan Arthur yang sempat membuat dirinya insecure dan agak illfeel dengan pergaulan negatifnya tempo hari.
__ADS_1
BERSAMBUNG