Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 198 Bertarung Dengan Perempuan Berbisa


__ADS_3

"Kamu mau antarkan Mbak Juriah ke terminal, Mas? Kamu sendiri?"


Tentu saja Inayah terkejut mendengar Arthur mengutarakan niatnya mengantar Juriah sepagi ini.


"Iya, Sayang. Sekalian jalan. Kebetulan Aku ada kerjaan sebentar di kantor. Jadi daripada pak Tofik yang antarkan dan mengganggu kerjaannya mengantarkan Pupu sekolah dan bi Menul ke pasar, lebih baik aku saja. Sekalian jalan."


Inayah tersenyum lebar.


Suaminya memang dingin dan ketus pada banyak perempuan di luaran sana. Meskipun rekan kerja apalagi yang baru kenal selewat saja. Tetapi hatinya sebenarnya lembut selembut salju.


Inayah sering menanyakan hal itu pada Arthur, soal dinginnya sikap Arthur pada perempuan-perempuan yang tidak ia respek meskipun mereka perempuan baik.


Jawabnya, "Kamu tahu kan? Perempuan itu cepat jatuh cinta dan seringkali salah mengartikan kebaikan laki-laki. Kalau dikasih hati, perempuan biasanya dengan entengnya minta jantung."


"Hahaha... ah Mas ini, berlebihan deh! Terus, kenapa aku bisa dapetin hati kamu? Aku perempuan juga kan!"


"Kamu beda. Keluarga kalian berbeda. Terutama Mak Mia. Kalian... adalah titisan Dewi khayangan."


"Hahaha... ish, Mas! Gombal!"


"Kamu jutek. Mbak Amel juga. Mak Mia juga. Kalian tidak suka memanfaatkan laki-laki untuk mendapatkan apa yang kalian mau. Padahal bisa. Dan sikap serta sifat yang langka seperti itu adalah sikap sifat yang didambakan semua pria. Mas Lukman juga mengiyakan. Sangat sulit menaklukkan Mbak Amel. Sesulit Aku menaklukkan hati kamu dan juga Mak. Hehehe... Itu sebabnya, aku bersyukur sekali bisa mendapatkan istri kamu."


Inayah tersenyum malu-malu membuat Arthur gemas dengan tingkahnya dan...


Cup.


Kecupan manis mendarat di keningnya. Hadiah kecil namun istimewa untuk Inayah dari Arthur.


"Ish, malu Mas. Ini di dapur, bukan di kamar. Dilihat orang lain ga enak!"


"Lha? Ini kan dapur rumah kita, bukan dapur restorannya Mbak Amel apalagi dapur rumahnya orang."


"Hihihi..."


Keduanya tertawa sambil saling berangkulan.


Diam-diam Juriah yang disuruh bi Menul antarkan jus untuk Inayah memperhatikan obrolan mesra keduanya dan kembali berbalik arah, turun ke lantai bawah.


Mereka sangat manis sekali. Saling mencintai satu sama lain. Kata-kata Pak Arthur juga, begitu lembut sangat menghargai istrinya yang masih muda belia. Ck. Beruntungnya gadis muda bau kencur itu. Apa... apa Inayah dan Amelia memiliki susuk pelet ya? Mereka pasang di mana sampai pasangan mereka gelindingan jatuh cinta sama mereka? Hm...


"Kenapa jusnya dibawa balik lagi?" tanya bi Menul yang menyuruh Juriah untuk mengantarkannya ke lantai atas dan menaruhnya di meja makan.


"Malu, Bi. Tuan dan Nyonya sudah duduk di meja makan. Mereka sedang bermesraan."


"Hehehe... Kamu sungkan ya buat menampakkan muka ketika mereka sedang berduaan? Aku juga gitu awal-awal. Tapi makin kesini sudah biasa. Mereka memang pasangan yang nyaris sempurna. Iri kadang ya melihat kemesraan mereka. Hehehe..."


Juriah diam. Dalam hati mengiyakan perkataan spontanitas Menul.


Ia memang iri dan ingin sekali seperti dua perempuan kakak beradik itu dalam hal mendapatkan cinta.

__ADS_1


Juriah termenung. Mengingat dahulu betapa Solehudin juga mencintai Amelia sebegitu besarnya. Namun karena keadaan ekonomi dan juga keinginan Mariana, ibunya yang sangat materialistis itu akhirnya Soleh menikahi dirinya.


Juriah kembali menghela nafas panjang.


Nasib buruk selalu menghantui dirinya, sedari kecil bahkan menurutnya. Seumur hidup, dia tidak pernah merasakan bahagia dan cinta yang nyata.


Juriah merasakan nyaris tidak ada cinta bahkan dari kedua orang tuanya. Almarhum Ojan dan almarhumah Samsiah lebih memanjakan dirinya dengan uang. Bukan dengan kasih sayang.


Padahal Juriah adalah anak semata wayang. Setelah dua saudaranya yakni kakak dan adiknya meninggal dunia. Tapi ia lebih sering ditinggal di rumah dititipkan kepada sanak saudara.


Juriah akhirnya faham kalau kedua orang tuanya itu pergi ke tempat-tempat pesugihan agar kehidupan mereka jaya di masa tua.


Namun... setiap langkah yang dipilih ada konsekuensinya. Akhir hidup yang menyedihkan. Mata dibayar mata, nyawa pun dibayar nyawa.


Harta yang memang bukanlah haknya tetap akan meminta bayaran yang setimpal.


Juriah kembali menghela nafas.


Arthur telah ada di depannya seraya berkata, "Ayo! Kita berangkat sekarang!"


Suster Arini sudah selesai mendandani Pupu yang hendak pergi ke sekolah.


"Papa..."


"Sayang, Papa hanya antar Mbak ini ke terminal. Lalu langsung pergi ke kantor. Pupu berangkat sekolah sama Pak Tofik dan bi Menul ya?"


"Pupu sudah siap. Sudah sarapan juga."


"Oke."


Arthur lega, Pupu akhirnya menerima kesepakatan yang ia ajukan.


Arthur ingin bicara banyak pada Juriah. Ingin memberinya wejangan dan juga peringatan agar tidak mengganggu kehidupan Amelia yang kini sudah bahagia bersama keluarga barunya.


Arthur ingin Juriah tetap kembali pada Soleh dan mengurusnya layaknya suami istri yang saling mencinta. Arthur tahu, Juriah cinta Soleh. Dulu pun begitu. Makanya mau-mau saja dijodohkan dengan pria yang sudah bersuami itu. Pasti karena ada cinta. Begitu keyakinan Arthur.


Hanya karena ujian kehidupan menimpa mereka, bukan berarti kini mereka merasa perlu lagi mengutak-atik kehidupan orang yang justru dahulu pernah mereka dzolimi.


Brukk


Arthur masuk mobilnya.


Juriah sudah duduk manis lebih dulu di jok depan mobil Arthur Handoko.


Inayah yang turun dan mengantarkan Juriah sampai teras rumah melambaikan tangan pada suaminya.


"Bye, Sayang. Aku pergi dulu ya?"


"Have anice day, Beib. Hati-hati di jalan!"

__ADS_1


"Ya. Bye-bye!"


Sungguh interaksi singkat namun sangat manis itu semakin membuat hati Juriah meronta-ronta mengiri pada kehidupan Inayah.


Arthur menjalankan kendaraannya.


"Kamu kenapa bisa ada di kota Bogor ini?" tanyanya tegas dan agak sinis pada Juriah.


"Saya, dibawa atasan saya ke perumahan ini. Tapi, hanya tiga hari setelah itu saya diusir tanpa tahu sebab kesalahan saya. Dia hanya bilang, saya penyakitan."


Arthur menyeringai. Seolah menyindir dan Juriah sangat tidak suka mimik raut wajah Arthur meskipun pria dewasa itu tampan sekali.


"Bukannya sedang mencari tahu tentang keadaan mantan madumu?"


Juriah menoleh menatap Arthur.


"Apakah aku sepintar itu hingga harus datang ke Ibukota untuk mencari tahu keadaan Mbak Amel?"


"Wow wow, keren. Jawaban yang keren." Sindiran pedas keluar dari mulut Arthur pada Juriah.


Ia semakin tidak suka pada perempuannya Solehudin yang kini berstatus janda kembang itu.


"Kau minta cerai dari Soleh setelah keadaannya seperti itu. Kau merantau ke Ibukota untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Begitu bukan?"


"Lalu, apa kini mas bule sedang bersimpati kepadaku? Apa ada kerjaan untukku? Apapun itu, meskipun sebagai tukang sikat kamar mandi, aku rela."


Arthur tertawa terbahak-bahak.


Juriah memang sangat kekanak-kanakan.


Arthur mengerti, usia Juriah memang masih lumayan muda.


"Berapa usiamu?"


"Dua puluh lima tahun. Memang lebih muda Inayah. Tapi aku juga masih terbilang muda, Mas bule!"


"Hahaha... Yassalam. Sekarang kau bandingkan dirimu dengan Istriku? Dengan Mbak Amel saja kamu kalah jauh. Apalagi dengan Inayahku. Huh!"


"Sekarang mas bule muslim? Dulu mas bule tidak punya agama, bukan? Apa Inayah dan keluarganya tahu itu?"


"Hahaha..., kau lagi mdnggencatku dengan kisah masa laluku? Hahaha... ternyata, kamu benar-benar perempuan yang hanya cantik diluar tapi busuk di dalam."


"Astaghfirullah! Teganya mas bule mengataiku seperti itu! Mentang-mentang hidup kalian hebat! Tapi Tuhan tidak akan terus memberikan kebahagiaan itu pada kalian jika kalian terlalu ujub. Dulu kehidupan orang tuaku juga berlimpah harta sama seperti kalian saat ini. Tapi lihat, apa yang Tuhan beri sekarang pada kami. Orangtuaku sudah meninggal dunia dengan membawa tanda hitam di wajah. Dicemooh orang karena berbeda. Dihujat karena minus akhlak. Itu karena mereka ujub. Dan sekarang mas bule sedang ujub mendzolimi Aku."


Arthur mengeraskan rahangnya.


Ia tak mau terlalu jauh melawan perempuan yang berbisa ini. Terlalu bahaya baginya jika salah-salah bicara.


Alhasil, Arthur hanya diam membiarkan Juriah berkoar-koar sendiri.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2