
Inayah melongo, Arthur kembali jadi pria yang Ia kenal. Arogan dan suka mengatur seperti biasanya.
Ada rasa senang, namun sebal juga melihat gaya mbossynya Arthur muncul lagi.
"Mas! Aku belum selesai belanja!" sela Inayah kembali tersadar.
Cetak!
Arthur menjentikkan jemarinya.
"Kenapa gak gunakan aplikasi toko online kepunyaan ibu Fanny?!"
"Hahh?"
"O my Gosh!"
Inayah terlihat kebingungan.
"Kamu tidak tahu kalau bisnis Emak dan Bu Fanny itu mencakup keseluruhan termasuk penjualannya secara online?"
Inayah menggelengkan kepalanya.
Tuk.
Inayah memicingkan matanya. Ia mengusap dahinya yang diketuk Arthur pelan tapi mengena' sampai ke hati.
"Ish!"
"Emak sekarang sudah jadi wanita karier. Meskipun tetap dalam usaha pertanian dan perkebunan. Tapi Bu Fanny benar-benar memanfaatkan teknologi canggih yang memudahkan dan makin membuat usahanya kian menaik pesat."
Inayah melongo.
Arthur segera membetulkan rahang gigi Inayah yang terbuka lebar.
"Kuantar pulang! Motor akan tiba di rumah kurang lebih sekitar sepuluh menit lagi. Belanjaan kamu yang belum selesai, dalam waktu sebentar akan datang diantar pihak Belanja Bulanan Online!"
Inayah benar-benar tertegun seperti anak kecil yang lugu dan polos, tidak tahu apa-apa.
Arthur tertawa terbahak-bahak.
Inayah yang tadinya jengkel, akhirnya ikut terhibur dan senang melihat pria tengil di sampingnya itu terlihat bahagia sampai tertawa lepas begitu.
Mobil Alphard Arthur meluncur memasuki wilayah perumahan Bogor Nirwana Residen.
Ada rasa sedih menyeruak di hati Inayah.
Apalagi setelah Arthur menghentikan laju kendaraannya tepat di depan pintu gerbang rumah besar yang kini Inayah dan keluarganya huni.
"Turunlah!" kata Arthur dengan suara lembut.
Inayah terhenyak. Tangan Arthur mengusap lembut pucuk kepalanya lagi. Seperti yang pernah Ia lakukan tempo hari di rumah sakit.
"Maaf! Aku barusan menjitak keningmu."
Inayah merasa debaran jantungnya berdetak tak karuan.
Ia terkejut, Arthur turun dan membukakan pintu mobil untuknya.
Inayah turun dengan langkah kaki gontai.
Bahkan bibirnya seolah terkunci rapat, lupa ucapkan kata terima kasih kepada Arthur yang langsung pergi meluncur.
Arthur sendiri tak kalah deg-degan dari Inayah.
__ADS_1
Ia memacu mobilnya dengan cepat, tapi berhenti di tikungan untuk menenangkan dahulu perasaannya yang kacau balau.
Agak lama Arthur termangu, bengong sendirian menatap ke arah depan.
Ia tersadar dan mengambil ponselnya yang ada di saku jas seminya.
...Rama, tolong sampaikan pada Mak, aku minta maaf karena melanggar janji barusan. Aku mengantarkan Inayah sampai rumah karena hampir saja dia jadi korban pencopetan di pasar....
Lega hati Arthur. Ia sudah mengabarkan kesalahannya lewat Rama untuk Mia.
Kini Ia kembali menyalakan mesin mobil dan perlahan berjalan pergi.
Rama termangu membaca chattan Arthur di kotak pesan WA nya.
Senyumnya mengembang tipis.
Ada kagum di hati karena pria dewasa itu benar-benar teguh memegang janji.
Seperti biasa, Rama langsung menyampaikan pesan berantai itu kepada Mia, Emaknya.
Tentu saja Mia jadi merasa seperti orang yang jahat pada Arthur. Padahal pria itu tidak pernah membuat salah dengannya maupun anak-anaknya.
Lagipula gosip tentang Arthur yang meresahkan para wanita dewasa itu pun hanya gosip belaka. Bahkan kini kabar miring itu kian menguap entah kemana.
"Mak..."
"Ya?"
"Mas Arthur orang yang cukup baik. Adakah Mak punya pemikiran yang sama denganku?" tanya Rama dengan sangat hati-hati.
Ia tidak terlalu dekat dengan Emaknya sedari kecil. Tidak seperti Kakak dan ketiga adiknya yang sangat dekat dan akrab dengan orang yang melahirkan, Rama justru lebih dekat dengan almarhum Bapaknya semasa beliau masih hidup.
"Kamu..., berfikir untuk... menerima dia jadi anggota keluarga kita? Untuk Inayah?"
"Bukan seperti itu. Setidaknya, dia bisa jadi teman keluarga kita, Mak! Kasihan rasanya karena kita menutup rapat pintu persaudaraan yang sangat Ia inginkan. Siapa tahu, Allah membukanya jalan kebaikan lewat keluarga kita."
Mulutnya bungkam.
Dia juga bukan pribadi yang keras seperti batu.
Melihat Arthur yang dewasa dan punya prinsip hidup yang kuat membuat Mia luluh juga.
Terlebih jika mengingat cerita-cerita Arthur dulu tentang keluarganya. Tentang masa kecilnya yang selalu kesepian karena jadi anak tunggal yang ditinggal pergi orang tuanya dinas keluar kota.
Hidup sendirian itu sangatlah menyakitkan.
Andaikan bisa Mia memilih, Ia lebih memilih hidup tenang di desa dengan Kan'an sampai tua dan sama-sama menutup mata tinggalkan dunia.
Tapi semua itu adalah jalan hidup yang harus Ia hadapi. Semuanya adalah takdir Illahi Robbi. Dirinya hanyalah wayang yang diatur segalanya oleh Dalang.
Mia rindu Kan'an. Sangat rindu sekali.
Hati kecilnya tidak bisa menjalani rutinitas hidup di kota besar yang benar-benar membutuhkan tenaga ekstra dan juga pemikiran logis.
Mia sangat kagum pada Fanny. Usia mereka terpaut hanya dua tahun saja. Mia yang lebih muda. Namun kondisi fisik dan jiwa Fanny jauh lebih kuat dari dirinya yang nyaris tidak pernah berfikir panjang bahkan untuk satu tahun kedepan.
Fanny sangat berbeda dengannya.
Fanny pekerja keras. Wanita hebat yang memiliki kemampuan dan kecerdasan diatas rata-rata. Otaknya selalu berfikir bahkan bagaimana nanti hidupnya tiga tahun mendatang, sudah Ia pikirkan dan rencanakan.
Meskipun begitu, Fanny sangat menghargai Mia. Walau Mia terseok-seok mengikuti langkah Fanny bahkan selalu berfikir ingin berhenti. Melihat perjuangan Fanny yang ingin Mia berubah menjadi wanita mandiri seperti dirinya, apalagi Mia seorang single mother. Masih ada dua orang anak yang harus Ia perjuangkan masa depannya, yakni Inayah dan Gaga.
Mia tidak mungkin menyerahkan tanggung jawabnya pada Amelia yang sudah menikah lagi.
__ADS_1
Amelia juga punya kehidupan sendiri. Punya keluarganya sendiri. Tidak mungkin harus Mia bebani terus menerus soal adik-adiknya. Apalagi kini Amel juga tengah berbadan dua. Dan sedang menikmati masa kebahagiaannya bersama suami tercinta.
Di tempat lain,
Ting tong
Ting tong
Inayah berlari ke luar kamar.
Pintu bel mereka ditekan seseorang.
Inayah mengintip dari balik gorden jendela. Betapa terkejutnya Ia melihat dua ada dua kendaraan berdiam di depan gerbang rumah yang jaraknya sekitar kurang lebih sepuluh meter itu.
"Mobil apaan sih?"
Inayah keluar rumah.
"Dengan Mbak Inayah?"
"Betul, Saya sendiri."
Inayah terkejut. Motor maticnya yang mungil berada di atas bak mobil pick up. Dan satu lagi mobil box parkir di belakangnya.
Motornya diturunkan oleh dua orang pria muda dan menyerahkannya pada Inayah.
Kemudian dari mobil box putih besar, mendatanginya sambil membawa satu kotak box kontainer yang tertutup.
"Ini, belanjaan Nona."
Inayah tertegun.
Dua orang pria yang berbeda menyodorkan sebuah resi tanda barang yang dikirim sudah diterima.
"Ini belanjaan apa?" tanya Inayah agak bingung juga.
"Atas pesanan Tuan Arthur Handoko. Untuk Nona Inayah katanya."
Inayah akhirnya membubuhkan tandatangan di resi penerimaan meskipun demikian decakan kecil.
"Dasar ya, Tuan Dingin itu!" gumamnya sangat pelan tapi masih terdengar mas-mas pengantar dari Belanja Bulanan Online yang tersenyum tipis.
"Terima kasih, Mas!"
"Sama-sama, Non!"
"Sebentar..., sebanyak ini?" tanya Inayah mulai panik karena ternyata bukan satu dua box kontainer plastik yang diturunkan. Tapi, masih ada lagi dan lagi.
Total box ada 14 buah.
"Selesai, Non! Semuanya total empat belas box. Hehehe... Mari, permisi!"
"I_iya. Terima kasih banyak Mas!"
Inayah tertegun.
"Ya ampuuun, Mas Arthur! Ini belanjaan apaan aja sih? Sampai ber-box-box begini?!"
Gaga yang hari ini libur dan stay di rumah, keluar dari kamar mendengar suara ramai di teras rumah.
"Mbak Inay? Mbak belanja dari pasar apa pindahin pasar?"
Inayah menatap Gaga dengan pandangan bingung.
__ADS_1
"Ga ngerti, Mbak juga, Ga! Ini kiriman Tuan Dingin Arthur Handoko!"
BERSAMBUNG