Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 147 Salah Faham


__ADS_3

Inayah memarkirkan sepeda motor maticnya di parkiran rumah sakit.


Cukup terseok-seok pergi ke Ibukota dengan mengendarai motor sendirian yang sama sekali tidak tahu jalan.


Berbekal dengan aplikasi google map, akhirnya Inayah berhasil juga sampai di tujuan. Yaitu rumah sakit tempat Mbak Yu' nya dirawat setelah pingsan di rumah besarnya kemarin siang.


Baru saja ia mencari papan penunjuk arah menuju akses pusat rumah sakit dari basemen, tiba-tiba matanya menangkap sesosok tubuh yang familiar akhir-akhir ini.


"Ya ampuuun... beneran deh tuh orang! Sampai datangin rumah sakit cuma buat kepoin Mbak Yu' Amelia! Hhh..."


Inayah sengaja bersembunyi dari Arthur Handoko yang juga kebetulan baru saja memarkir mobilnya di basemen rumah sakit.


Inayah menatap Arthur dari kejauhan. Lalu pelan-pelan mengikuti pria bule itu karena mengira Arthur juga akan menjenguk Kakaknya.


Tapi ternyata...


"Lha koq? Mas Arthur koq malah ke poliklinik Nephrologist? Kan... Mbak Yu' di rawat inap lantai tiga?" gumam Inayah bingung.


Namun Inayah masih terus memantau keberadaan Arthur yang justru masuk ruang poliklinik khusus ginjal dan hipertensi itu. Bahkan Arthur duduk di kursi tunggu depan ruangan dokter spesialis itu.


Mata Inay memicing menatap fokus pada kartu nomor antrian yang dipegang Arthur.


"Ternyata..., dia bukan mau kepoin Mbak Yu'! Hm... Apa dia juga sakit? Sakit ginjal? Atau darah tinggi? Kalau darah tinggi kemungkinan besar, coz ni bule sudah kepala tiga. Produser sekaligus sutradara juga. Pasti banyak urusan yang harus Ia atur bikin darah tinggi hipertensi."


Inayah berbicara dengan dirinya sendiri.


Ia menepuk keningnya.


"Ya ampun! Aku harusnya mencari kamarnya Mbak Yu' Amel, bukannya stalking-in tuh orang! Ck!"


Inayah berdiri tegak dan membalikkan badannya ke arah tangga yang tak jauh dari tempatnya mengintip.


Setelah sedikit berolahraga menaiki anak tangga yang terdiri dari tiga lantai, akhirnya Inayah bisa juga menemukan ruangan VIP tempat Amelia dirawat.


Tok tok tok


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam!"


Wangi pembersih lantai aroma menyeruak tatkala Inayah membuka pintunya perlahan.


Tampak Lukman sedang menyuapi Amelia makan bubur kacang hijau.


"Hadeuh..., balik lagi ah! Cuma jadi nyamuk, bikin kesyel!" goda Inayah pura-pura mau keluar lagi.


"Huss huss sana!" timpal Lukman seraya tertawa lepas.

__ADS_1


"Jiaaah, jaharaaa..." pekik Inayah membuat Amelia ikutan tertawa.


"Ya Allah, semoga Inayah dapet pasangan yang kayak Mas Lukman. Aamiin..."


"Ehh? Jangan bilang Mas Lukman adalah cowok idaman Inayah juga ya?! Maaf maaf kata, Mas Lukman cuma idaman Mbak Amel seorang."


"Dih, kepedean banget deh jadi kakak ipar. Awas terbang tu lobang hidung ngembang!"


"Hahaha... ya bagus dong, daripada lobang hidung rapet susah nafas nanti!"


"Mas, ish! kamu tuh sama Inay ga pernah bisa akur deh! Hehehe..."


"Biarin! Inay doain anak-anak kalian nanti mirip Inay! Weee... Emang dasar, nih Mas Lukman!"


"Hehehe... imutnya ga apa-apa, tapi juteknya jangan. Ehh, gimana kuliahmu? Lancar? Ada dosen killer juga gak di kampus? Atau jangan-jangan, udah punya dosen incaran? Hehehe..."


"Tuh kan, Mbak?! Mas Lukman ngeledekin terus!"


"Hehehe... Maaasss!"


"Maaf, maaf Sayang! Aku suka aja godain Inayah. Kayak dulu suka godain Diana, Salsabila juga. Adik cewek itu nyebelin tapi ngangenin. Setelah Diana nikah dan Salsabila tunangan, otomatis kedekatan kami merenggang. Ada Inay, membuat Aku jadi kangen ceng-in mereka yang sekarang super sibuk dengan kegiatannya. Sebentar lagi Inayah juga pasti bakalan super sibuk sama kegiatan kampus."


Inayah tersenyum getir.


Ia sebenarnya tahu, Lukman hanya usil tapi sayangnya pada Inayah dan juga Gaga tidaklah main-main. Bahkan Lukman sampai membuatkan adik-adiknya Amelia rekening tabungan masing-masing dan rutin mengisi uang jajan untuk mereka setiap bulannya.


Amelia beruntung sekali, memiliki suami yang begitu baik, sayang dan pengertian selain royal kepada keluarganya juga.


"Ck. Terus aja terus. Mesraan terus. Suap-suapan terus. Anggap Inay ga ada."


"Hehehe..."


"Inay udah makan belum?" tanya Amelia baru menyadari kalau sekarang sudah pukul setengah satu siang.


"Belum, Yu'! Keluar kelas langsung cusss ke sini. Lapar juga nih! Aku turun dulu deh, cari makanan di kantin rumah sakit."


"Uangnya ada? Nih, beli nasi, jangan mie atau bakso!" kata Lukman membuat Inayah terkekeh ketahuan niatnya yang memang ingin cari tukang bakso di sekitar rumah sakit.


"Bakso pake bihun mie juga bikin kenyang, Mas!" selanya membela diri.


"Makan nasi dulu. Itu di sebelah masjid ada warung ayam goreng, enak juga koq sambelnya. Sore baru beli bakso. Kamu pasti di rumah belum makan nasi kan?"


"Iyaaa. Hehehe... Mas Lukman lebih cerewet daripada Mas Rama!"


"Itu karena Mas mu ini sayang dan tak ingin kamu sakit, Nay!" timpal Amelia.


"Terus aja belain yayang-nya. Hehehe... Wis ah, Inay turun dulu ya? Mbak Yu' sama Mas mau titip apa?"

__ADS_1


"Titip pesan aja, jaga mata ya Nay jangan jelalatan cari nakes cowok yang ganteng!" goda Lukman lagi. Sontak Inayah tertawa.


"Ih Mas Lukman koq tahu? Hahaha... hayoo jangan-jangan dulu suka juga jelalatan cari Suster perawat yang good looking!"


"Iya. Jaman jahiliah dulu. Hahaha... Sekarang udah ada mbakmu yang meluruskan jalanku. Ahhayyy hahaha..."


"Dih, bisa-bisanya Mbak Yu' suka cowok model Mas Lukman yang narsis abis. Hahaha..."


Lukman dan Amelia tertawa.


Lukman dan Inayah memang memiliki camistry yang aneh bin ajaib. Lucunya, meskipun terlihat kurang sopan tapi keduanya justru satu server dan sealiran candaan. Baik Lukman maupun Inayah tidak ada yang baperan apalagi ambekan.


Amelia lebih tahu isi hati keduanya dalam menjalin hubungan persaudaraan. Meski di awal Ia juga sempat kaget karena Lukman sedikit keras pada Inayah dan Inayah juga cenderung berani meledek Lukman dalam candaan.


Tapi ternyata itu adalah kesepakatan keduanya sebelum Lukman berhasil membawa Amelia ke pelaminan.


"Aku gak mau Mas Lukman memperlakukanku manis bak putri Raja, sopan santun, lemah lembut, tapi di belakang justru kelakuanmu menyakiti hati Kakakmu dengan perselingkuhan! Aku lebih suka pria yang cuek, sembrono dan kasar pada orang lain termasuk adik iparnya, tapi sangat lembut dan menyayangi istrinya sepenuh hati. Aku trauma dengan pria yang terlihat santun dan sayang keluarga, padahal aslinya... pria jahat! Cukup Mas Soleh yang memperlakukanku dengan sangat baik, tapi membuat Mbak Yu' menderita! Mas Lukman jangan!!!"


Begitulah dahulu ancaman Inayah pada Lukman ketika Lukman meminta izinnya untuk berjuang keras menaklukkan hati Amelia sebelum Amelia menerima cinta Lukman.


Inayah turun dengan menggunakan kotak elevator untuk mempersingkat waktu.


Suasana rumah sakit cenderung sepi karena belum jam besuk. Matanya kembali terpaku pada seseorang yang di awal datang tadi jadi pusat perhatian Inayah.


Arthur, sepertinya baru saja selesai berkonsultasi dengan dokter spesialis ginjal dan hipertensi.


Terlihat Ia baru saja keluar dari ruangan dan berjalan menuju ruang apotik untuk menukarkan resep obat yang Dokter berikan.


Inayah lagi-lagi bersembunyi agar tidak terlihat oleh Arthur yang wajahnya semakin kusam dengan bibir di tekuk masam.


"Apa bule itu sakit parah?" gumam Inayah mulai berempati pada orang yang sempat dekat berteman dengan keluarganya itu selama beberapa kali.


Treeet treeet treeet


Treeet treeet treeet


Inayah melonjak kaget.


Ponselnya berdering kencang. Ia lupa mengecilkan volume deringnya setelah tadi mendengarkan dosen yang melakukan kuliah secara online.


Tentu saja suara nada deringnya menjadi pusat perhatian orang termasuk juga Arthur yang seketika menoleh ke arahnya.


Sontak memerah wajah Inayah.


"Kamu? Ngapain di rumah sakit? Mata-matain Aku ya? Mau kepo kenapa Aku di rumah sakit? Atau udah tahu kalau Aku bakalan operasi pengangkatan batu ginjal minggu depan?"


"Hahh???"

__ADS_1


Sontak Inayah melongo mendengar perkataan Arthur yang bengis padanya.


BERSAMBUNG


__ADS_2