Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 61 Samsiah Dan Kesombongannya


__ADS_3

"Kenapa sih itu bapakmu, Lan? Koq telungkup terus di air gak bangun-bangun?"


Mariana baru tersadar kalau tingkah Anta agak aneh.


Lani yang menoleh ke arah Anta yang berjarak sekitar sepuluh meteran.


"Ehh? Iya ya, Bu? Sebentar, titip Cia!"


Lani bergegas naik dari kolam anak ke kolam sebelah yang tidak begitu jauh.


"Pak, Pak! Bapak!"


Ia mulai tersadar ketika Anta tak mengangkat wajah dari dalam air meskipun tubuhnya sudah mengambang.


"Bapak!?!" pekiknya dengan wajah tegang.


Lani melompat ke dalam air. Seketika Ia menyadari kalau tubuh Bapaknya itu telah dingin dan agak kaku.


"Bapaaak!!! Ibuuu, Bapak!!!"


Lani teriak histeris. Bapaknya telah meninggal dunia. Walaupun suasana kolam renang cukup ramai, tetapi ternyata kelalaian penjagaan tetap saja bisa terjadi.


Anta meninggal dunia setelah diperiksa oleh dokter setempat dengan indikasi kram dan serangan jantung.


Hari bahagia itu berganti menjadi hari duka.


Mariana pulang ke rumah dengan membawa jenazah suaminya.


Soleh terkejut mendengar kabar Bapaknya telah tiada. Sementara Ojan juga tidak menyangka kalau temannya itu berpindah alam dengan begitu cepatnya. Samsiah hanya termangu mendengar kabar Anta meninggal dunia kena serangan jantung di kolam renang dari Tito yang sedang memboncengnya dengan sepeda motor menuju kompleks rumah kontrakan miliknya dengan Ojan.


Walaupun kenyataannya, Ia telah tahu sedikit kalau itu bisa jadi adalah tumbal yang suaminya hantarkan karena sejak Ojan sakit, mereka belum mengeluarkan tumbal darah hampir sebulan lebih. Apalagi diketahui Ojan baru saja memberikan Anta dan istrinya sebidang tanah yang mereka garap cuma-cuma tanpa sewa. Sedangkan pemasukan mulai minim dan pengeluaran membengkak setelah Ojan kecelakaan.


Hari berkabung bagi keluarga besar Soleh.

__ADS_1


Hari Sabtu, konon katanya hari itu hari yang kurang baik. Dan kabarnya orang yang meninggal dunia hari Sabtu akan mencari teman dalam waktu dekat. Wallahu.


Soleh sebagai anak tertua mengambil peranan menjadi perwakilan keluarga itu.


Mariana lemas tubuhnya dan beberapa kali pingsan.


Ia tak menyangka niatan berbahagia liburan di taman wisata justru berakhir petaka.


Anta meninggal dunia karena serangan jantung di kolam renang tanpa sepengetahuan dirinya serta Lani.


Andaikan saja Ia tahu akan berakhir tragis seperti ini, Mariana pasti akan menolak jalan-jalan dan liburan memperingati kebahagiaan mereka karena mendapat lahan yang luas sebab sang menantu, Juriah sedang hamil.


Juriah juga turut membantu Sang suami mengurus prosesi pemakaman ayah mertuanya itu.


Ia yang sebenarnya tidak hamil hanya bisa termangu melihat Mariana serta Lani yang menceritakan kronologi kematian Anta yang tiba-tiba.


Ada terselip rasa bersalah. Ini juga ulah suaminya. Mengabarkan kepada Abinya kalau dirinya sedang berbadan dua padahal tidak.


Ia hanya mual muntah masuk angin karena pola tidur yang terganggu sejak Ojan menginap di ruko tempat tinggalnya.


Ojan sering berteriak minta tolong di tengah malam buta. Minta minum, kadang minta ditemani untuk ke kamar mandi karena jalannya yang masih kesulitan.


Itu yang menyebabkan Juriah jadi oleng masuk angin.


Tito juga merenungkan kematian Bapak mertuanya yang tiba-tiba.


Ia juga merasa sangat bersalah. Bahkan hati kecilnya sampai menyalahkan diri sendiri. Merasa kalau ini adalah karma perbuatannya yang harus ditanggung orang-orang terdekat.


Tito bahkan sampai menitikkan air mata padahal Anta bukan Bapak kandungnya.


Lani sendiri sebagai anak kandung Anta tidak sesedih dirinya yang merasa kotor dan amat berdosa.


Namun apa mau dikata, semua terlanjur terjadi.

__ADS_1


Tito hanyalah bisa melirik Samsiah yang sesekali menoleh padanya. Samsiah ingin sekali menggenggam erat jemari tangan Tito dan mengatakan kalau Ia harus kuat.


Kedua putra Anta juga turut serta mengantarkan bapak mereka ketempat peristirahatan terakhir.


Fitra, Jamal datang bersama keluarga kecil mereka dan juga para mertuanya.


Suasana menjadi seperti temu keluarga juga setelah pemakaman. Karena masing-masing memperkenalkan anggota keluarga kepada keluarga besar almarhum Anta.


Contohnya Siti Juriah.


Ia belum mengenal Fitra dan Jamal serta istri-istri mereka karena keduanya tidak turut serta hadir di pernikahan Soleh Juriah tempo hari.


"Bang! Apa Mbak Amelia sudah dikabari?" tanya Aulia istrinya Fitra pada Soleh. Tentu saja suasana yang tadinya adem berubah menjadi panas setelah Samsiah yang tiba-tiba menjawab asal pertanyaan salah satu menantu Mariana itu.


"Untuk apa perempuan itu dikabari? Toh dia bukan lagi anggota keluarga ini! Dia kemungkinan senang sekali melihat mantan Mertuanya meninggal dunia!" jawab Samsiah dengan emosinya.


Tanpa sadar Samsiah merasakan kekesalan hati putrinya yang saat ini seolah tidak dianggap oleh adik ipar Soleh yang terlihat kurang begitu respek pada Juriah.


"Oh, iya juga. Tapi..., biar bagaimanapun... Mbak Amel pernah jadi bagian dari keluarga kami ini, Bu!" jawab Aulia lagi tak mau kalah.


Cih! Perempuan ini! Bisa-bisanya membuat aku kesal! Hm... Anak laki-lakinya masih empat tahun umurnya! Bisa kuambil rohnya untuk tumbalku biar tahu rasa! Hati Samsiah semakin geram dibuatnya.


Anak Fitra dan Aulia bernama Ardi. Umurnya memang baru empat tahun. Dan Samsiah benar-benar kesal pada Aulia hingga bertekad ingin mengambil nyawa putra mereka itu.


Diam-diam Samsiah mendawamkan sesuatu. Menyuruh setan pemakan anak kecil peliharaannya untuk ikut serta pulang bersama keluarga kecil itu dan mengambil buah hati kesayangannya mereka setelah ini.


Dunia Samsiah benar-benar telah tertutup oleh kesombongan dan keangkuhan yang semakin jauh.


Siapa saja orang yang membuat dirinya terluka dan terhina, maka harus siap-siap dengan konsekuensinya. Akan menjadi tumbal makanan setan peliharaannya.


Nauzubillah tsumma naudzubillah.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2