
"Umi, Mas Soleh?"
Juriah tergopoh-gopoh keluar dari kamar. Matanya menatap Samsiah dan juga Ojan yang sedang makan.
Kedua orang tuanya hanya diam tak menjawab.
Suara deru mesin motor yang dikendarai Soleh telah menjauh seperempat jam yang lalu.
Juriah sedang mandi sehabis melakukan olahraga untuk kesehatan jantungnya yang kian sehat sejak Soleh jadi coachnya.
Begitulah. Juriah kini mulai mencandu hubungan intimnya bersama sang suami meskipun setiap kali selesai berhubungan area sensitifnya menjadi sangat perih dan jalannya bahkan kadang tertatih-tatih.
Seperti pagi menjelang siang ini, sebelum Soleh pergi membawa istri pertamanya untuk membereskan kontrakan tempat tinggal mereka di Ibukota.
Juriah telah mendapatkan nafkah lahir yang tak pernah puas diterimanya. Ia, selalu terpukau oleh pesona Soleh yang pintar melakukan manuver gaya bercinta yang membuatnya terbaring lemas dan tubuh banjir keringat.
Soleh membuat Juriah tahu nikmatnya bercinta. Hingga ingin lagi, lagi dan lagi.
Kini Juriah hanya berdiri mematung menatap pintu pagar rumahnya yang kokoh.
Ia masuk kembali dengan wajah lesu.
"Sudahlah. Si Soleh pasti bakalan kembali ke kamu. Abi sudah mengikatnya erat-erat. Dan kamu gak perlu khawatir berlebihan. Istrinya juga sudah Abi pinta pada Mbah Surip untuk diam dan kalem saja. Kamu bisa sepenuhnya menguasai Soleh, Nduk! Tak sia-sia Abi Umi pergi ke tempat Mbah Surip untuk pencarian jodohmu dan berusaha menjaga agar tidak sampai lepas lagi."
Juriah tidak merespon ucapan Abinya. Hanya duduk di kursi makan dan mengambil sepotong tempe goreng dengan hati sedikit meremang.
Dulu-dulu, Ia sangat tidak suka dengan kegiatan supranatural yang kedua orang tuanya lakukan.
Ojan dan Samsiah memang adalah sepasang suami istri yang sangat suka melakukan ritual-ritual aneh untuk kesejahteraan hidupnya.
__ADS_1
Meskipun mereka tahu, kegiatannya itu bertentangan dengan akidah dan ajaran agama. Namun ketika mendengar khasiat dan kegunaan ritual-ritual itu mampu membuat hidup mereka lebih sugih dan makin sugih, mereka rela meskipun harus memanjat gunung tinggi atau menyeberang sungai luas demi hidup bahagia di dunia.
"Layani Suamimu terus dengan baik. Pasti si Soleh makin sebal dengan istri tuanya! Dan mereka bisa segera cerai secepatnya hingga si Soleh jadi milikmu seutuhnya! Mbah Surip sudah melakukan sesuatu!" timpal Samsiah membuat Juriah tersenyum sinis.
Mi, Aku kurang pelayanan apa coba!? Siang, malam, bahkan kadang selesai sholat, kami terus-terusan bercinta. Sampai dada ini, seperti mau meledak karena Mas Soleh suka sekali menyusu.
Juriah menunduk tersipu.
Tanpa sadar, Ia meraba dadanya dan...
"Ju kekamar dulu ya, Mi, Abi!"
Dia melesat menuju kamar meninggalkan kedua orang tuanya yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Alhamdulillah. Anak kita sekarang sudah berubah jauh. Aku senang Bi!"
"Ya. Aku juga. Aku takut Juriah gila kalau sampai usia 23 tahun masih belum menikah. Begitu ramalan Mbah Surip setahun lalu. Untungnya, kita segera antisipasi dan mendapatkan juga Jodoh Juriah meskipun ada pandangan buruk sedikit dari orang-orang karena anak kita jadi istri kedua."
Samsiah tersenyum pada Sang Suami yang mengangguk sambil mengacungkan jari jempolnya.
Mereka berdua memang pasangan yang cocok. Saling dukung bahkan sampai hal buruk pun tidak jadi persoalan.
Sedari muda, Ojan memang pekerja keras yang menginginkan hidup kaya dengan banyak aset untuk menunjukkan kepada semua orang kalau dirinya bisa sukses.
Menikah dengan Samsiah yang keluarganya adalah pecinta kegiatan klenik, pesugihan dan ritual mandi kembang serta ziarah kubur ke makam-makam kuno yang dianggap keramat. Membuat dirinya semakin bersemangat untuk terus melakukan hal apapun.
Keduanya perlahan naik strata kehidupannya. Dari yang tinggal di kampung terpencil hingga berhasil membeli rumah dan lahan luas di kampung yang kini mereka tempati. Jadi mereka bukanlah penduduk asli kampung tempatnya tinggal.
Terus dan terus, Allah mengijabah kegiatan ritualnya dalam melakukan kunjungan dari satu dukun ke dukun yang lain.
__ADS_1
Bahkan usaha Ojan beranak-pinak mulai dari perkebunan, persawahan, usaha bengkel dan juga pemilik sepuluh angkot.
Mereka dikenal dengan sebutan Juragan angkot di kampung. Orang kaya raya yang membuat banyak sekali warga ingin menjadi bagian dari hidup mereka.
Para tetangga yang memiliki anak bujang, berlomba-lomba menyodorkan putra mereka agar bisa menjadi menantu Ojan dan Samsiah untuk Juriah. Anak gadis satu-satunya yang cantik jelita dengan kulit kuning langsat karena perawatan kecantikan yang serba dilakukan.
Hingga Allah memberikan mereka teguran.
Putri semata wayangnya menjadi korban pelecehan orang tak dikenal.
Sempat hancur berantakan dan nyaris porak-poranda kehidupan pasangan itu. Mereka bahkan cukup lama sibuk mengurus buah hatinya yang rusak karena perbuatan pria biadab.
Namun setelah Juriah melahirkan dan bayinya meninggal dunia satu hari kemudian, Ojan dan Samsiah justru kembali sibuk dengan kegiatan uka-ukanya bahkan semakin giat lagi demi mengumpulkan pundi-pundi uang serta kekayaannya yang sempat terkuras habis untuk mengurus masalah Juriah.
Kembali kepada Juriah.
Ia membuka seluruh pakaiannya di depan cermin. Juga menanggalkan dalemannya hingga tak ada sehelai benangpun yang menempel di tubuh.
Matanya menatap cermin besar dengan menelisik seluruh bagian.
Tubuh mulusnya dipenuhi oleh tanda merah. Soleh benar-benar beringas setiap kali mereka bercinta. Hingga Juriah tersipu-sipu sendiri mengingat tingkah sang suami yang jadi mirip bocah cilik ketika di atas ranjang.
Juriah yang padahal baru saja ditinggalkan belum sampai satu jam langsung merindukan Soleh.
"Mas... lekas lah pulang! Aku merindukanmu!" gumamnya sambil memegang gunung kembarnya membayangkan Sang Suami yang sangat suka sekali bermain-main dengan itu.
Semoga ucapan Abi Umi benar-benar terjadi. Doa Juriah dalam hati.
Juriah kadung jatuh cinta pada Soleh. Semakin dalam dan kian mendalam.
__ADS_1
"Tubuhku bagus kata Mas Soleh. Sedangkan tubuh Mbak Amel, walaupun Aku melihatnya sempurna, tapi usianya tidak lagi muda. Pastinya lebih kendur dan sudah bergelambir. Pastinya tubuhku jauh lebih menggiurkan dibandingkan tubuh Mbak Amel. Iya kan?!?" Juriah menggumam seorang diri sambil mematut diri dan berlenggak-lenggok memperhatikan tubuhnya sendiri yang tiga tahun lalu sangat Ia benci karena merasa kotor.
BERSAMBUNG