Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 56 Tito Dengan Kesedihannya


__ADS_3

"Kamu mau pinjam uang lagi?"


Samsiah menatap bola mata Tito yang tampak gelagapan ketika tanpa sadar Ia mengatakan kondisi rumah mereka yang masih gantung, belum selesai dibangun.


Mereka telah melakukan perbuatan yang terlarang.


Hujan deras serta angin yang bertiup kencang tak jadi halangan untuk lakukan kemaksiatan.


Tito telah terperosok tipu daya muslihat Samsiah yang sedang merindu belaian kasih sayang seorang pria.


Wanita paruh baya itu sedang mengalami pubertas kedua dan makin bablas karena pesona Tito yang lugu menggemaskan.


"Kamu kerja sama Aku ya?" bisik Samsiah yang sangat menyukai Tito meskipun baru pertama kali bermain dengan pria yang lebih muda itu.


"Ke_kerja sama Ibu?"


"Iya. Jadi bodyguard ku. Kamu harus selalu ada di sisiku. Menjadi ajudan meskipun suamiku sudah pulang dari rumah sakit nanti. Mau ya?"


"Lalu, saya... jam kerjanya bagaimana?"


"Setiap hari. Dari jam sembilan pagi sampai jam sembilan malam. Kalau lewat dari segitu, aku akan tambahkan bonus."


"Saya, ikuti Ibu? Kemana?"


"Ya kemana saja. Jadi sopir pribadiku juga!"


"Saya tidak bisa menyetir mobil, Bu!"


"Aku akan membiayai kamu kursus nyetir mobil. Dalam hitungan bulan, kamu akan bisa mengemudi dan langsung buat SIM."


Netra Tito membulat. Bibirnya mengerucut membuat Samsiah gemas dan langsung menciumnya.


Tito sebenarnya sangat malu pada kelakuannya ini. Tapi demi untuk bisa terbebas dari lilitan hutang yang banyak yang Ia yakini belum tentu terbayarkan, Tito pasrah menerima ajakan Samsiah.

__ADS_1


Samsiah kurang lebih seumuran Ibunya, lebih muda beberapa tahun saja. Namun gaya Ibu mertuanya Soleh itu sudah seperti ibu-ibu pejabat yang suka sekali perawatan hingga bodinya masih terlihat mulus menggiurkan.


Tito, terjerembab masuk kubangan dosa.


Hatinya senang, pulang dari rumah Ojan dengan mengantongi sejumlah uang.


Pembangunan rumahnya yang tinggal finishing bisa segera dilanjutkan.


Lani terkejut sekali ketika Tito pulang dengan membawa uang dua puluh juta ditangan. Wajahnya terlihat riang. Rencana pindahan segera dari rumah keluarga Tito akan terlaksana dalam waktu dekat.


Tentu saja Ia bertanya pada sang suami, dari mana uang itu sedangkan tadi niatnya untuk mencoba bernegosiasi dengan Bu Samsiah.


"Kamu tahu, Lan? Bu Samsiah awalnya marah-marah. Tapi aku mencoba menceritakan semuanya kalau duit seratus juta yang diberi pinjam Juriah itu tidak cukup buat pembangunan rumah kita sampai selesai."


"Lalu?"


"Aku mohon-mohon dengan sangat. Dan karena hujan deras dan rumahnya bocor, saat itu Aku bantuin dia ganti genteng yang bocor. Terus...dia malah nanya, apakah Aku mau kerja sama dia."


"Bukan."


"Terus?"


"Makanya kalo aku lagi cerita jangan dipotong! Dengar dulu baik-baik!"


"Hehehe... Iya."


"Pak Ojan masih dirawat di rumah sakit. Sedangkan Bu Samsiah butuh seseorang yang menjadi pendampingnya. Istilahnya itu adalah asisten. Keliling seperti ambil tagihan kontrakan, bulanan sawah atau kebunnya, usaha lainnya juga masih banyak. Cuma kendalanya aku gak bisa nyetir mobil. Tapi Bu Sam bilang, Aku akan dia kursuskan nyetir mobil. Hebat kan Aku?"


"Apa? Yang benar, Bang?"


"Nih, surat kontrak kerjanya yang Aku tandatangani tadi di rumah Bu Samsiah. Dia juga kasih Aku baju ganti milik Pak Ojan katanya kasihan takut aku sakit sedangkan saat ini suaminya masih dirawat di rumah sakit."


Lani menatap wajah Tito dengan senyuman yang lebar.

__ADS_1


Tentu saja Ia senang bukan kepalang.


Sayangnya, otak sucinya telah ternoda oleh hasrat duniawi yang begitu besar hingga Lani tidak bisa membaca firasat yang terjadi barusan sebelum Tito pulang ke rumah orangtuanya.


Gelas yang Lani pakai untuk minum tiba-tiba saja jatuh pecah dari genggamannya. Padahal saat itu Ia dalam kondisi sadar dan tidak sedang lalai. Namun, Lani sama sekali tidak menyadari kalau itu adalah tanda-tanda yang Tuhan berikan karena Sang Suami perlahan lepas pula dari genggamannya.


Kini Lani justru tertawa bahagia. Menari-nari sembari memeluk erat dua gepokan uang untuk pembangunan rumahnya yang sempat terbengkalai.


"Sayang! Sini Sayang! Ayahmu sekarang sudah bekerja di tempat yang bagus, Cia! Kita akan punya uang banyak, Nak! Minggu depan kita bisa cepat pindah dari rumah jelek ini. La Lala Lala..."


Lani bersenandung riang mengajak menari putri kecilnya yang baru berusia dua tahun kurang itu.


Cia ikut tergelak. Tertawa melihat kehebohan Ibunya itu.


Sementara Tito, Ia tersenyum lebar tetapi hatinya meringis pedih.


Hidupnya kini tak lagi seperti dulu. Tito merasa tubuhnya telah ternoda hingga ingin mandi walaupun tadi sudah mandi di rumah Samsiah setelah mereka bercinta di dalam kamar mandi.


Tito menangis dalam hati. Guyuran air dari gayung butut rumah orangtuanya tak mampu menghapus dosa-dosa jinah yang Ia lakukan barusan dengan istri orang.


Tito tahu langkahnya sangat salah.


Tetapi demi membahagiakan istri tercinta dan putrinya tersayang, akhirnya Ia terima ajakan Samsiah untuk menjadi ajudan dalam kurung gig+Lo kacung piaraan Samsiah.


Samar-samar Tito mendengar suara nasehat bapaknya dahulu selalu, tatkala Ia masih kecil bahkan hingga remaja.


"To, jadi orang itu tidak boleh serakah. Tidak boleh berbuat hal-hal yang dilarang agama. Jangan sampai Tuhan melaknat kita dan kita jadi orang yang merugi. Dengar, Nak! Tidak mengapa kita hidup seadanya di dunia. Asalkan di akhirat nanti kita akan jadi orang yang paling berbahagia karena berhasil melewati jalan terjal di dunia!"


Air mata Tito seketika jatuh seiring dengan guyuran air bak yang Ia ciduk dengan gayung butut serta telah pudar warnanya.


"Bapak... Ibu, maafkan Aku! Maafkan anakmu ini karena tidak bisa menjaga amanahmu! Dan Aku memilih jadi orang yang merugi demi kebahagiaan Lani serta Cia. Mereka adalah istri dan anakku. Sudah kewajibanku membahagiakan mereka berdua, Pak, Bu! Maaf... Maaf...Hik hik hiks..."


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2