Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 100 ~ Mata Langit


__ADS_3

Cukup lama Tiandou berada pada posisi tersebut hingga membuat yang lainnya kecuali Tan Hao mengambil jarak darinya.


Tan Hao menggunakan mata dewa untuk melihat apa yang tengah dialami Tiandou, semua begitu jelas terlihat. Pergerakan energi yang terpusat pada dua titik dantian menyebar ke seluruh titik jalur meridian yang berjumlah 3600 titik kecil pada tubuh Tiandou, bahkan ia juga bisa melihat pergerakan perubahan struktur tulang. Semuanya berjalan begitu dinamis.


"Aku tak yakin! Tapi semoga dia berhasil mencapainya," gumam Tan Hao yang masih berdiri tak jauh dari Tiandou.


Sementara itu di dalam ruang roh Tiandou tengah berlatih dibawah bimbingan Yue Yin, setelah dirinya mengetahui semuanya dari penjelasan Yue Yin. Tiandou memutuskan untuk segera berlatih, memanfaatkan ruang roh yang sejatinya memiliki keistimewaan lebih baik dari ruang jiwa.


Yue Yin dengan kesabaran dibarengi ketelitiannya mengarahkan setiap proses yang ada. Mulai dari penyerapan energi yang tak terbatas, memanipulasi alam bawah sadar hingga menggabungkan semua itu ke dalam gerakan tubuh.


"Sekarang bagian inti! Buka seluruh titik meridian tubuh Tuan, alirkan energi spiritual tekan energi tenaga dalam. Jangan sampai ada kebocoran, pusatkan pada dantian besar, perlahan namun pasti gantikan tenaga dalam pada rongga tulang dengan energi spiritual," terang Yue Yin dengan jelas.


Tiandou melakukannya dengan sangat hati-hati setiap arahan yang didengarkannya, pelan namun pasti. Yue Yin tersenyum melihatnya kemudian ia melanjutkan kembali arahannya.


"Nafas hanya sebagai penghubung ruang dan udara, berpacu alami sebagai pengubah jantung dengan nyawa. Gunakan setiap hembusannya untuk mengambil alih kesadaran, alam adalah raga. Mata hanya melihat yang semu, langit mengharapkan samudra. Kuasai hasrat tundukkan ketidakpastian,"


Yue Yin cukup bahagia melihat Tiandou dengan gerakan halus dan tepat, bahkan suara detak jantungnya pun tak terdengar.


"Mata memiliki kuasa namun roh adalah raja." Yue Yin menutup arahannya.


Sementara di luar, tubuh Tiandou memancarkan energi keemasan, energi yang menyerupai energi milik Tan Hao beberapa tahun yang lalu. Semuanya terlihat begitu takjub, bahkan Liu Zey yang awalnya diliputi kesedihan kini mengusap airmata di pipinya, melihat dengan rona wajah lebih baik dari sebelumnya.


"Apakah dia akan baik-baik saja," tanya Liu Zey.


Tetua Shuxan hanya terdiam tanpa mampu menjawabnya, ia sendiri juga diliputi kegelisahan yang sama.


Lan Lihua menghela nafas, kemudian duduk di batang pohon yang roboh di dekatnya.


"Sudah aku bilang, dia akan baik-baik saja. Kakak Haohao ada didekatnya jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan lagipula didalam tubuh dia ada seseorang yang pasti membantunya,"


Liu Zey hanya menoleh Lan Lihua sejenak kemudian mengembalikan pandangannya.

__ADS_1


"Yang kau maksud Merpati Bulu Surga, Yue Yin? Ya ... Aku harap begitu,"


Sebelum semuanya siap, tiba-tiba tubuh Tiandou melepaskan energi yang besar, bahkan cahaya ledakan energi tersebut mencakup beberapa belas meter.


Tetapi hal tersebut tak berdampak pada diri Tan Hao, Zirah Naga Suci dengan sendirinya aktif melindungi tubuh Tan Hao sedangkan yang lainnya merasakan sesak nafas yang begitu berat.


Bing Long dengan cepat keluar dari ruang jiwa Lan Lihua berwujud aura energi kasat mata dan dengan cepat membentuk diri menjadi pelindung berbentuk kubah melingkupi ketiganya.


"Dewi! Serahkan ini padaku," ujar Bing Long yang hanya bisa di dengar Lan Lihua.


Tetua Shuxan dan Liu Zey seperti seorang yang kehilangan akal, mereka linglung akibat tekanan berat tersebut yang dengan tiba-tiba pula hilang seperti tidak pernah ada. Keduanya hanya memandangi tanah di bawah mereka tanpa mampu bersuara dengan tubuh sedikit gemetar.


"Haohao lihatlah! Lihatlah orang itu sudah mencapai tahap Jenderal Roh dan bahkan mungkin memiliki Mata Langit," seru Ye Yuan yang bereaksi berlebihan.


"Ya ... Ya aku tahu itu! Hentikan sikap menyedihkanmu itu," sinis Tan Hao melirik Ye Yuan yang tengah menghentakan kakinya berulang kali seolah berlari ditempat sembari menunjuk Tiandou.


••••


"Jadi bagaimana kau akan mentraktirku arak! Apa kau jadi sombong sekarang setelah berada di tahap yang sama denganku? Apa kau mau menguji mata langit mu itu? Ah tapi ... Sepertinya minum arak dulu lebih bagus," seloroh Tan Hao menghentikan cerita Tiandou pada Liu Zey.


Tiandou terdiam lesu, sikap yang selama ini begitu dingin begitu serius kini lenyap, ia kembali ke dirinya sendiri ketika beberapa tahun yang lalu bersama Tan Hao.


"Bukannya aku menolak tapi aku ... ." Tiandou melihat tubuhnya sendiri dengan wajah kikuk.


Semua orang yang ada bengong bersamaan, mereka baru menyadari jika Tiandou tidak mengenakan pakaian. Hanya sobekan bekas jubah yang menutupi bagian tengah tubuhnya.


Tan Hao memukul ringan dahi nya sebelum menggeleng kepala.


"Bukankah kau menyimpan cincin dimensi bumi milikku? Disana ada banyak jubahku, pakailah. Ya ... Meskipun model lama,"


Tiandou tersadar bahwa ia memiliki cincin dimensi Tan Hao yang selalu ia bawa, namun selama ini ia tak pernah menggunakannya atau mengambil apa yang ada di dalamnya meskipun cincin pemberian Yao Liu tersebut tak memiliki segel pemilik.

__ADS_1


Setelah memakai jubah yang terlihat lusuh tersebut, Tiandou menyarankan untuk meninggalkan lembah sebelum masalah lain datang.


Tiga hari mereka berada di dalam lembah hingga tak bisa melihat matahari maupun bulan, selama itu pula mereka sama sekali tak memakan apapun. Hal itu cukup aneh namun tak mereka sadari, berbeda dengan Tan Hao dan Lan Lihua yang mengetahui penyebab hal itu bisa terjadi.


"Tunggu dulu! Aku merasa ada yang kurang tapi apa ya," seru Tetua Shuxan ketika baru beberapa meter berjalan.


Ketiganya hanya saling pandang. Kemudian berkata hampir bersamaan.


"Su Kong ... ."


Tetua Shuxan menepuk dahinya, kemudian meminta sedikit waktu pergi ke tempat Su Kong berada sebelumnya.


Sembari menunggu kembalinya Tetua Shuxan bersama Su Kong, Tan Hao menyempatkan diri untuk sekali lagi berbicara pada pedangnya yang telah kembali ke sarungnya yang berada di pinggang kanan Tan Hao.


"Aku juga masih penasaran dengan benda itu," ujar Ye Yuan yang sudah kembali ke ruang jiwa Tan Hao beberapa waktu yang lalu.


Tan Hao menyalurkan sedikit energi petir ungu untuk membangunkan kembali pedang dewa surgawi. Sebelum itu dirinya telah mengambil jarak dari rekan-rekannya yang duduk di bawah pohon beringin.


"Ayolah, sebenarnya makhluk apa kau ini,-!! Katakan yang jelas untuk ku," ucap Tan Hao berbicara pada pedang yang masih berada disarungnya.


Bukannya pedang dewa surgawi yang bergetar merespon kekuatan Tan Hao tetapi manik-manik emas berbentuk bunga teratai yang diberikan Dewa Yaoshan beberapa hari yang lalu sebagai hadiah dari Dewi Huanran yang merespon.


Ketujuh manik-manik teratai tersebut berkilauan dan keluar dengan sendirinya dari balik lipatan jubah Tan Hao. Membuatnya cukup terkejut dengan apa yang terjadi. Bahkan Ye Yuan pun sama halnya terkaget.


"Kau ini sepertinya tak ada habis-habisnya memiliki benda-benda aneh seperti itu! Itu benda apalagi yang kau keluarkan," ketus Ye Yuan datar.


Tan Hao menaikkan sebelah alisnya, "Pemberian apalagi ini! Aku merasa seperti Kaisar sungguhan yang memiliki banyak benda ajaib, hmm ... Tch,"


•••••••••


Alhamdulillah, LDS telah mencapai 100 chapter hari ini. Saya ucapkan banyak terima kasih untuk yang mendukung dan yang tidak mendukung tidak terima kasih. Dukungan kalian sangat berarti bagi saya, saya tidak memaksa kalian untuk like komen maupun vote. Itu merupakan hak pribadi pembaca. Jika menyukai silahkan mendukung, jika terdapat kesalahan tanda baca maupun typo sudi kiranya memberi komentar yang baik dan benar. Kebaikan kalian memberikan kritik saran sangat membantu perkembangan saya yang masih pemula ini.

__ADS_1


Selamat Membaca,


__ADS_2