Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 121 ~ Kesempatan Penting


__ADS_3

Kondisi Tetua Tiandou yang masih dalam proses pemulihan bersama dengan Ye Yuan yang dibantu oleh Sheng Long membuat Tan Hao lebih tenang. Meskipun sebelumnya ia sempat khawatir, namun penjelasan Sheng Long dapat diterima oleh Tan Hao mengapa ia menelan serta Tiandou. Sedangkan Ye Yuan sendiri yang melemah hanya bisa menuruti perintah Tan Hao untuk ikut bersama Sheng Long ke Istana Naga Langit.


Awalnya Tan Hao mengira Sheng Long adalah roh dari pedang dewa surgawi namun siapa sangka bahwa Sheng Long adalah pedang dewa surgawi itu sendiri yang berubah wujud. Alasan mengapa selama ini tak pernah memperlihatkan wujud aslinya masih belum di pahami oleh Tan Hao bahkan tak ada jawaban saat ia bertanya.


Dan yang membuat Tan Hao bersikap berbeda yang cenderung kesal bahwa orang pertama yang melihat serta memiliki kesempatan berlatih di Istana Naga Langit bukanlah dirinya, melainkan Tetua Tiandou.


Kekesalan Tan Hao semakin menjadi sebab ia tahu benar dari kitab 1000 kehidupan, jika Istana Naga Langit yang berada di langit ke empat alam dunia merupakan tempat dimana sumber daya tak terbatas serta memiliki energi alam lebih kuat dibanding alam dunia.


Meskipun tak terbatas dan tak ada bandingannya di alam dunia, namun tak pernah ada yang sanggup membawanya turun atau bahkan mempergunakannya. Tan Hao berfikir, jika nanti Tetua Tiandou kembali akan sangat mungkin kekuatan maupun kemampuannya lebih tinggi darinya.


Bukan hanya soal waktu yang berbeda namun juga perputaran dimensi di istana tersebut lebih cepat dari yang ada di alam dunia. Hal itu memungkinkan seorang pertapa tahap ahli dasar dapat naik dua tingkat hingga ke tingkat pertapa tahap angin puncak dalam waktu satu hari alam dunia.


Tak ada yang tahu letak dan keberadaan Istana tersebut kecuali pendekar yang telah mencapai tingkatan tertinggi ilmu beladiri yang ingin naik ke Alam Atas. Di istana itulah penentu seorang pendekar dapat naik atau terjatuh dan gagal. Dan istana itu pula yang menjadi wilayah terjaganya alam dunia dari Saint alam atas untuk turun ke alam dunia.


Dalam perjalanannya untuk kembali menemui Lan Lihua, Tan Hao samar-samar merasakan sebuah energi yang serupa dengan energi dari lawan yang pernah ia hadapi dulu. Dari kejauhan dapat terasa dengan jelas olehnya hingga ia memastikannya menggunakan mata dewa.


Kekesalan Tan Hao bertambah ketika melihat bahwa orang yang memiliki energi tenaga dalam yang mirip dengan yang dimiliki Jiwei Dan itu memperlakukan Lan Lihua dengan buruk bahkan merendahkannya. Tak cukup itu saja, Tan Hao menyadari posisi orang berjubah biru tua tersebut cukup tinggi dalam aliansi sekte aliran hitam.


Meskipun ia tengah kesal namun ketenangan berfikirnya masih terjaga, hingga Tan Hao memiliki rencana yang bagus untuk melemahkan aliansi tanpa harus bertempur melawan seluruh pasukan yang ada. Tan Hao meyakini bahwa orang tersebut setidaknya memiliki kekuasaan dan pengaruh cukup tinggi dalam tubuh aliansi.


"Orang ini memiliki senjata yang bagus tapi nampaknya ia belum menguasainya! Apa boleh buat, dengan terpaksa aku harus bersikap sombong. Sungguh urusan menyebalkan, haishh ...." batin Tan Hao sembari masih mempertahankan Aura Dewa miliknya.

__ADS_1


Disisi lain, Chen Seng terlihat bersusah payah memperoleh kembali pijakan kekuatannya setelah sebelumnya terhempas oleh aura dewa yang di lepaskan Tan Hao.


"Uhh ... Tekanan seperti ini! Aku penasaran, bagaimana dulu dia dan guru bertarung? Sungguh pertarungan yang sulit aku bayangkan, bahkan saat masih bersama Guru Jiwei Dan aku tak berani menatap mata iblisnya, tapi pemuda ini!"


"Sudah, cukup! Aku tak tertarik bermain-main lagi," ucap datar Tan Hao sembari membuang muka, saat itu juga ia menarik kembali aura dewa yang ia lepaskan kurang lebih hanya beberapa tarikan nafas normal.


Lan Lihua hanya menggelengkan kepalanya saat Bing Long menatapnya dengan penuh tanya. Ekspresi polosnya seolah menjadi jawaban jika itu hanyalah rencana konyol dari seorang keturunan dewa yang mencoba melampiaskan kekesalannya.


"Sebenarnya apa maumu? Aku percaya, kau dapat dengan mudah membunuhku lalu untuk apa kau membuang waktu?" tanya Chen Seng dengan nada bergetar selagi masih mengatur pernafasannya yang baru saja tersendat beberapa saat.


"Patriark sekte Harimau Emas yang juga komandan utama aliansi aliran hitam di pasukan terdepan! Apa pendapatmu tentang penghapusan aliran hitam?" balas Tan Hao yang balik bertanya.


Tan Hao terkekeh pelan kemudian mengeluarkan lima koin emas yang sebelumnya menyimpan kembali pusaka dewa iblis tersebut kedalam cincin dimensi.


"Dengan lima koin emas ini, apa kau percaya aku bisa membalikkan bumi dan meruntuhkan langit?" tanya Tan Hao yang kali ini dengan nada cukup santai sembari memainkan lima koin emas di tangannya.


"Hahaha haha ... Apa kau hilang akal dan sekarang jadi gila? Mana mungkin, bahkan membalikkan hutan ini pun tak akan bisa apalagi langit dan bumi, haha haha ...."


Lan Lihua batuk pelan, kemudian berjalan mendekati Tan Hao setelah menyimpan kedua senjatanya dalam kalung giok yang ia kenakan.


"Eh, dasar naif! Lima koin emas itu bermaksud lima tahapan diri. Keyakinan, tekad, kerja keras, hati yang bersih dan pengetahuan. Pendekar yang mampu memiliki lima koin emas di dalam dirinya, bahkan kekuatan sebesar apapun tak akan menjadi penghalang,"

__ADS_1


"Heh! Ternyata tingkat pemahaman seorang komandan pasukan aliansi memprihatinkan, bagaimana bisa itu disebut pemimpin! Mengecewakan ...." sahut Tan Hao menimpali perkataan Lan Lihua.


Chen Seng terdiam tanpa bisa berkata-kata. Dirinya menyadari bahwa itu tak sepenuhnya salah, mau aliran hitam ataupun putih. Lima hal tersebut adalah landasan dasar pendekar untuk mencapai tujuannya.


"Lalu apa maksudmu? Katakan dengan jelas, aku tak suka bertele-tele," tukasnya menahan kesal yang sulit tersalurkan.


Chen Seng tak bisa berbuat apa-apa meskipun ia punya kesempatan untuk melawan sekuat tenaga atau melarikan diri secepatnya. Dalam pikirnya, mau itu melawan atau melarikan diri adalah hal yang sama, sia-sia. Untuk itu, Chen Seng berusaha mengikuti keinginan Tan Hao dengan masih mempertahankan sikap kerasnya, untuk mengurangi rasa yang memalukan seperti itu.


Tan Hao tersenyum lebar kemudian batuk pelan.


"Lebih baik membinasakan aliran hitam atau menyadarkan mereka tentang jalan salah yang mereka lewati? Menurutmu, bukankah lebih masuk akal menyadarkan daripada melihat mayat berserakan suatu hari nanti?"


"Hmm!!"


"Aku sedang memintamu dengan menggunakan posisi yang kau miliki bukan hanya untuk membatalkan tujuan mereka ditempat ini! Tapi juga memberitahu mereka jika era baru akan segera dimulai, kau sebagai pemimpin seharusnya memberi arahan yang bagus. Atau jika tak ada hasil, mungkin sekte Harimau Emas akan jadi debu ketika kau bangun tidur," terang Tan Hao mengakhirnya perkataannya.


Sikapnya yang tenang dan tegas tapi juga terlalu santai, membuat Chen Seng bimbang dengan keputusan yang akan ia ambil. Banyak pihak yang pastinya akan mendukung dan menentangnya, sebab pasti ia memerlukan bantuan orang terdekatnya untuk melakukan rencana tersebut.


"Keinginan pertamamu, sudah aku lakukan beberapa waktu yang lalu, tapi untuk yang kedua ...."


"Tak perlu terburu-buru begitu, sekarang kembalilah ke pasukanmu dan pikirkan dengan benar,"

__ADS_1


__ADS_2