Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 111 ~ Tiandou vs Gao Zhan


__ADS_3

Setelah berhenti dari pertengkaran yang tidak penting dengan Sui Jiu, Fen Lian akhirnya menjelaskan maksud tujuannya membawa Tan Hao masuk ruang penyimpanan. Tak butuh waktu panjang bagi Tan Hao untuk memahaminya, dirinya menyadari benar. Meskipun sumber daya yang terdapat di dalam ruang penyimpanan sangat banyak, tetapi tidak begitu lengkap.


Fen Lian mengatakan jika permintaan akan sumber daya terus meningkat akhir-akhir ini, dan yang di incar adalah sumber daya yang telah berevolusi. Tentu saja karena khasiat serta kegunaannya yang berkali lipat lebih tinggi dan lebih besar dari sumber daya biasa.


Tan Hao menyapu pandang rak-rak yang ada, penglihatan jernihnya dengan cepat dan akurat menangkap sumber daya yang ada. Senyuman tipis tersungging, ekspresi wajahnya tak dapat di tebak oleh Fen Lian.


"Dari sekian ribu sumberdaya ini, hanya beberapa jenis yang belum aku ketahui. Itu pasti yang telah mengalami evolusi, kan? Tapi mungkin ada cara yang bisa kita lakukan untuk mempercepat evolusi sumberdaya lainnya! Sayangnya, dalam beberapa tahun ini, aku sama sekali belum mengetahui tentang itu,"


Tan Hao berhenti berbicara kemudian mengatur nafasnya, membuat Fen Lian menatap penuh penasaran. Dalam benaknya, Fen Lian berharap Tan Hao memiliki solusi dari permasalahan ini. Keyakinannya kian bertambah sebab tahu bahwa Tan Hao merupakan orang yang bertanggung jawab. Itu ia ketahui dari cerita beberapa tahun lalu dan juga baru saja ia lihat sendiri.


"Tentang apa?" tanya Fen Lian penasaran.


"Aku memiliki semuanya, tapi tidak pernah aku kunjungi,"


"Maksudmu? Hmm ... Ada dimana?"


"Di dalam sini,"


Tan Hao memperlihatkan cincin dimensi yang ia kenakan di jari tengahnya. Bersamaan dengan senyuman lebar.


Namun, hal berbeda justru ditangkap oleh Fen Lian. Ia tak mengerti maksud dari Tan Hao. Sorot matanya kosong memandang cincin di jari Tan Hao.


"Heh ... Maksudku didalam sini, aku menyimpan sebuah pulau yang penuh dengan sumberdaya. Bahkan hewan spiritual berbagai jenis dan tingkatan pun ada. Tapi, lebih dari lima tahun aku tak pernah mengunjunginya. Jadi aku tidak tahu seperti apa pulau itu dan seperti apa yang ada didalamnya?"


Fen Lian tersentak sejenak kemudian rona berseri segera muncul di wajahnya.


"Aku tidak menyangka! Apa kau tahu seberapa kaya dirimu? Tuan Muda Tan Hao? Ah ... Itu terlalu lugu, Kaisar? Tidak ... Itu belum cukup. Mungkin Dewa ... ."


"Hentikan ocehanmu, Nona Fen!! Kau membuatku ingin menangis," sahut Tan Hao cepat, reaksinya begitu konyol hingga membuat Lan Lihua menahan tawa.

__ADS_1


Disisi lain, Sui Jiu nampak menahan senyuman. Rona wajahnya menandakan kebahagiaan. Bertemu kembali dengan Tan Hao tanpa ia duga sebelumnya, membuat semangat dan tujuannya untuk hidup memenuhi relung jiwanya.


"Tuan Muda ... Tch ... ." racaunya pelan seorang diri sambil terus memandang wajah elok pemuda yang dulu sempat ia ingin habisi.


"Hentikan apa? Aku sedang memikirkan julukan yang pantas untukmu, hiss ... ." sinis Fen Lian namun sejenak kemudian ia membuang muka sembari tertawa.


Ketegangan yang sebelumnya tercipta tanpa terduga, berubah suasana penuh gurau canda tawa.


•••••


Di tempat lain, Tetua Tiandou tengah melompat untuk mengambil jarak setelah sebelumnya bertukar serangan dengan Gao Zhan. Ambisi untuk membalas dendam atas apa yang terjadi pada Tetua Jing Yun beberapa tahun sebelumnya terus berputar dalam benaknya ketika bertemu Gao Zhan.


Tetua Tiandou menatap sinis Gao Zhan, lenguhan nafasnya yang berat seolah menunjukkan betapa dalam rasa ingin membalas dendam.


Suasana diluar kedai begitu dingin, hening dan menakutkan. Malam dengan sinar bulan yang terang menjadi saksi betapa kuat nafsu membunuh Tetua Tiandou.


"Aku memang tak punya masalah denganmu secara pribadi. Apa kau ingat salah satu Tetua Sekte Tujuh Tombak Emas?"


"Maksudmu? Jing Yun?!" Gao Zhan tercekat, sejenak ia teringat kejadian beberapa tahun lalu. Pertarungan tak sengaja dalam perebutan sumberdaya berharga. Sesaat kemudian ia tersadar lalu melempar sebuah senyuman penuh makna.


"Jadi kau bermaksud membalas dendam, hah?"


"Aku akan mencabik-cabikmu, memberimu penderitaan yang lebih mengerikan sebelum jiwamu aku musnahkan!"


Selesai berkata, Tiandou melompat dengan menghunuskan Tombak Bulu Surga. Serangan yang cukup kuat, itu terlihat dari percikan energi di ujung anak tombak.


"Bodoh!" gumam Gao Zhan pelan sesaat sebelum menyambut serangan Tetua Tiandou.


Suara dentingan senjata yang tengah beradu menyebar memenuhi area sekitar kedai makan. Malam hari yang hening membuat suara pertarungan tersebut mengalun-alun.

__ADS_1


Pedang bermata dua milik Gao Zhan beradu kekuatan dengan tombak bulu surga milik Tetua Tiandou. Tak jarang dampak dari sabetan pedang menumbangkan beberapa pohon dibelakang Tetua Tiandou. Pun begitu, tusukan demi tusukan tombak terus dilesakkan.


Dua senjata andalan masing-masing yang dialiri energi tenaga dalam saling beradu ketangguhan. Percikan energi dari tombak Tetua Tiandou sempat mengenai tubuh Gao Zhan namun anehnya, tak ada luka ataupun goresan. Bahkan pakaiannya masih utuh.


Gerakan keduanya cukup lincah dan cepat hingga hanya terlihat kilatan kilatan samar saat keduanya beradu serangan di udara. Satu tarikan nafas yang mereka lakukan, menghasilkan adu serangan ratusan kali tanpa ada yang mengenai.


Gao Zhan nampak percaya diri, sementara Tetua Tiandou masih diliputi emosi. Itu menyebabkan serangan serangan yang ia lepaskan tak mengenai sasaran.


Kepergian sementara Yue Yin berdampak pada emosional Tetua Tiandou yang tak terkontrol dengan baik. Sebab dalam pertarungan yang terjadi sebelumnya, Yue Yin selalu mengingatkan dan selalu memberi arahan. Meskipun energi spiritnya masih ada dalam tubuh Tiandou, tapi tanpa bentuk jiwa dari Merpati Bulu Surga. Energi tersebut hanya sebuah energi seperti tenaga dalam.


Tiandou melompat mundur ketika menyadari setiap serangannya tak tepat sasaran. Ia berulang kali memaki dirinya sendiri.


"Kenapa mundur? Takut?" tanya Gao Zhan bernada mengejek.


Deru nafas Tetua Tiandou tak beraturan tetapi tidak dengan Gao Zhan, terlihat dia begitu tenang dengan nafas masih normal.


"Kau orang kedua yang menyerangku tiba-tiba tapi tak tahu kemampuanku yang sebenarnya, haha ha haha ... ."


Tetua Tiandou membuang ludah, tatapannya begitu tajam.


"Cuih ... Kau terlalu memandang tinggi dirimu, Brengsekk!"


Tanpa disadarinya, sebuah energi hitam pekat mengalir dari cincin bumi yang berada di jari manisnya secara perlahan. Tiandou merasakan gejolak energi yang kuat menyatu dalam tubuhnya. Sebuah energi yang cukup berat. Hingga sejenak membuat nafasnya seakan berhenti.


"Gawat! Bukankah ini energi terkutuk itu!" pekik Tetua Tiandou terkejut melihat kedua tangannya dialiri energi hitam pekat.


Sementara itu, Gao Zhan yang masih berdiri santai sambil menghunuskan pedang bermata dua miliknya, memandang Tetua Tiandou penuh keheranan.


"Orang ini!! Kekuatan darimana itu? Kuat sekali,"

__ADS_1


__ADS_2