Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 59 ~ Tujuan Yang Sesungguhnya


__ADS_3

"Dewi, bisakah anda menjelaskannya. Sungguh aku seperti orang bodoh tanpa tau arah pemikiranku,-!! Memohon belas kasih dari Dewi Pencerahan,-!!"


Tertawa kecilnya Dewi LianHua membuat Tan hao merasa konyol dengan sikapnya, akhirnya dengan sedikit nada memelas dan raut wajah manis konyol Tan hao menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada dengan berlutut memohon.


Dewi LianHua menghentikan tawa kecilnya yang kemudian berubah serius tajam.


"Kau yang ada disini adalah jiwamu. Ah tidak lebih tepatnya kau selama ini adalah sebuah jiwa. Jiwa yang berwujud dan melakukan segala sesuatu yang kau pikir adalah kenyataan tapi sebenarnya yang selama ini kau lakukan tak lebih dari sebuah Dimensi dunia di dalam pikiranmu."


Dewi LianHua menghela nafas panjang sementara Tan Hao terkejut bukan main, banyak hal yang saat ini ada di benaknya. Tan hao mengkilas balik semua yang telah ia lakukan dan semua yang telah terjadi.


Namun, tak satupun dari ingatan yang ia temui sebagai penyebab masalah yang ia hadapi saat ini.


"Dewi, Aku masih tidak mengerti,-!! Bagaimana bisa ini terjadi? Lalu apakah semua yang sudah aku lakukan adalah khayalanku?"


Tan hao masih tak bisa memahami apa yang sedang ia alami, tak ada satupun ingatan tentang suatu kejadian yang bisa menjadi penyebab ini terjadi padanya.


"Bukan seperti itu, Aku yang membawa jiwamu kemari. Disini dan di duniamu memiliki waktu yang berbeda. Semua yang kau lakukan adalah kenyataan yang terulang."


Dewi LianHua merasa penjelasan yang akan ia utarakan akan sulit diucapkan, ia terdiam sesaat dengan pandangan menatap jauh kedepan.


Kemudian Dewi LianHua melanjutkan.


"Pertarunganmu dengan Long Wang adalah kenyataan dan sebelum itu juga kenyataan. Aku tepat waktu menyelamatkan tubuhmu ketika hampir menjadi debu dengan pusaran dimensi suci. Konsekuensinya adalah Jiwamu terkunci mati di dalam dimensi suci sedangkan tubuhmu terlempar jauh di tempat yang berbeda tapi masih berada di Alam Bumi. Jiwamu yang tersesat secara pasif memulai ulang sebuah kejadian yang membuatmu merasa ketakutan. Itu sebabnya apa yang kau alami selalu berulang dan baru berhenti ketika aku bisa menemukanmu di dalam dimensi suci. Garis besarnya adalah kau telah melalui sebuah ingatan sebanyak belasan kali tapi tak pernah kau rasakan itu. Dan meninggalkan tubuh fisikmu selama empat hari."


Tan Hao mulai memahami apa yang disampaikan Dewi LianHua, namun ia masih merasa ada hal yang mengganjal di benaknya.

__ADS_1


"Lalu, apakah tujuan anda membawaku kemari hanya untuk menjelaskan tentang Alam. Menurutku, anda masih tidak terlalu jujur dalam penjelasan ini. Bisakah aku mengetahui alasan pastinya."


Tan hao tak segan lagi berkata tegas sebab ia tak tahan lagi dengan semua pikiran yang mengganggunya.


Dewi LianHua tak terkejut mendengar perkataan Tan hao. Ia merasa memang tak membuang banyak waktu lagi untuk bercerita. Kemudian ia mulai menjelaskan tujuan yang sebenarnya.


•••


"Patriark Sun, sepertinya acara penerimaan murid tahun ini cukup menjanjikan. Bahkan Sekte Biara Kehidupan juga mengirimkan perwakilan mereka sebagai tamu undangan yang selama ini tak pernah sekalipun datang jika di beri undangan khusus. Kejadian empat tahun lalu benar-benar membesarkan Nama Sekte anda." kata salah seorang pria yang tengah duduk di samping kiri Patriark Sun Sian.


Patriark Sun tersenyum canggung mendengar pujian yang dilontarkan pria itu. Sekilas Patriark Sun hanya memandang kosong arah barisan peserta murid baru yang berada di Aula Latihan.


"Ini semua berkat dia. Meskipun pertempuran itu telah dimenangkan tanpa korban jiwa namun dengan hilangnya dia, sudah cukup membuatku merasa ini semua tidak seharusnya didapatkan olehku maupun oleh sekteku. Saudara Wu Bing juga pastinya telah mendengar tentang dia dari Feiying bukan,-!!"


Patriark Sun Sian menggeleng pelan, bukan hanya kecewa namun rasa penyesalan jelas terlihat dari wajahnya. Pria yang memberinya pujian yang duduk berdekatan dapat dengan mudah menebak perasaan Patriark Sun.


Kesembilan lainnya tidak pernah pergi dari Menara Es Utara. Mereka tidak mempunyai keinginan untuk berhubungan dengan orang luar dan itu juga di dukung dari wilayah tempat mereka tinggal yang terpisah dari daratan utama.


Kesembilan Pendekar Senior Menara Es Utara tak pernah diketahui. Hanya namanya saja yang tersebar luas sebab Wu Bing lah yang menceritakan tentang mereka ketika dalam acara maupun sebagai tamu undangan.


Wu Bing melirik Patriark Sun sesaat dengan memainkan jenggot putihnya.


"Ah, pemuda itu ya,-!! Seharusnya saat ini dia sudah menjadi seorang pemuda yang gagah dan menjadi orang penting dalam acara ini. Bukankah jika dia masih hidup, usianya sudah 17 tahun ya,-!! emm..siapa yang sangka Jenius berbakat sepertinya meregang nyawa diusia yang masih belia."


"Jika saat itu saudara Wu melihatnya bertarung dengan Jiwei Dan, sudah pasti saudara tidak akan percaya pada usianya." sergap Patriark Sun.

__ADS_1


Pembicaraan keduanya terhenti ketika uji tanding murid baru telah dimulai. Bukan hanya keduanya yang diam dengan tenang menyaksikan, melainkan seluruh tamu undangan yang duduk sejajar dengan mereka di podium utama juga menghentikan pembicaraan mereka.


Sementara itu, di tempat berbeda Tetua Tiandou tengah duduk bersandar di salah satu tiang di teras kediamannya dengan memegang sebuah cincin.


Terlihat ia memejamkan mata dan memainkan cincin itu dengan jarinya. Tetua Tiandou tengah tenggelam dalam ingatannya.


"Sampai kapan kau akan seperti ini,-!! Lihat wajahmu sudah seperti batang lapuk, Sudahi kesedihanmu. Bukannya saat ini ada penerimaan murid baru, kenapa kau tak pergi melihat untuk menghibur diri."


Tetua Feiying datang dari arah belakang Tetua Tiandou dan langsung menyapa dengan gaya khasnya. Kemudian duduk bersandar di tiang lainnya di sisi depan Tetua Tiandou.


Tetua Feiying merasa bersalah sampai saat ini, sebab kedatangannya waktu itu terlambat walau hanya beberapa saat namun itu mengakibatkan lenyapnya Tan Hao bersama Jiwei Dan yang tak diketahui keberadaan mereka sampai saat ini. Meskipun banyak yang menyimpulkan bahwa dengan pertarungan yang mereka lakukan sudah pasti membuat mereka tewas secara bersamaan tanpa menyisakan jasad.


Namun, baik Tetua Tiandou ataupun Tetua Jing Yun tidak menyetujui kesimpulan itu begitu juga dengan Patriark Sun dan Matriark Zhang Weili. Mereka merasa Tan Hao selamat dalam peristiwa itu.


Dan yang paling terpukul adalah Tetua Tiandou, selama empat tahun ini setelah peristiwa itu. Ia tak pernah sama sekali keluar dari kediamannya.


Tetua Tiandou merasa dia yang paling bertanggung jawab, walaupun Yue Yin berulang kali menyakinkannya bahwa itu bukan salahnya dan bukan juga tanggung jawabnya tapi tak pernah sekalipun dapat membuat Tiandou lepas dari rasa penyesalan yang mendalam.


Orang yang paling sering datang menghibur atau sekedar mengajaknya berbicara adalah orang yang sama merasa bersalahnya, Tetua Feiying.


Tiandou hanya tersenyum kecil tanpa makna dengan melirik Tetua Feiying sekilas.


"Sampai aku bisa melihatnya dan menebus kesalahanku. Aku selalu berharap dia akan muncul di hadapanku secara tiba-tiba dengan sikap bodohnya untuk mengambil kembali miliknya."


Tetua Feiying dengan cepat melirik Benda yang sedang dimainkan oleh Tiandou kemudian tertawa ringan.

__ADS_1


"Ha haha. Maksudmu Cincin Dimensi Alam itu,-!! Ah, kau benar. Aku selalu rindu dengan sikapnya yang menjengkelkan. Tanpa kusadari sikap bodohnya itu telah membuatku menganggapnya sebagai anakku sendiri. Entahlah, kita hanya bisa berharap dia baik-baik saja disana."


Mereka berdua akhirnya terdiam membisu dengan pandangan masing-masing yang terlihat menunjukkan kesedihan yang sama.


__ADS_2