Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 210 ~ Sambutan Tak Ramah


__ADS_3

Setelah beberapa waktu mengikuti prajurit ular itu, keduanya telah sampai di depan sebuah bangunan merah hitam megah yang memiliki ornamen kepala ular. Tak jauh dari tempat mereka berdiri terdapat beberapa penjaga di depan pintu masuk bangunan yang memiliki sekat-sekat.


"Lewat sini...!" ujar prajurit tersebut tanpa menoleh sembari menuju ke salah satu sekat pintu yang berada di paling ujung.


Tan Hao mengikutinya dalam diam, tetapi tubuhnya terlihat mengeluarkan aura tipis. Sementara Fen Fang hanya menatap serius arah pintu itu.


'Tidak salah lagi, aura kekuatan ini pasti milik Jenderal Rui Yun. Pantas saja Hao Hao seperti itu!' batin Fen Fang yang terus berwaspada di belakang Tan Hao.


'Wanita itu tak lebih cantik dariku, aku malas bertemu ular menjijikkan sepertinya. Aku mau tidur, jangan mencariku!' keluh manja Niu Ru didalam ruang jiwa Fen Fang sebelum kemudian beringsut menghilang.


'Kau bilang dirimu naga, tapi sikapmu tak lebih dari ular kecil! Siapa yang butuh bantuanmu, pergi sana ... Dasar pemeras!' ejek Fen Fang disela-sela ia konsentrasi mengamati setiap seluk beluk istana.


Tak dipungkiri lagi memang sejak kedatangan mereka di istana jenderal ular tersebut, hawa kekuatan yang dilihat Tan Hao sebelum memasuki kota benteng barat itu lebih pekat dan menekan.


Tan Hao sendiri sudah memiliki rencana bagus untuk mengurus masalah jika bertemu jenderal ular penguasa benteng barat, tentu saja Fen Fang lah yang menyiapkan semuanya.


Tak berselang lama, prajurit itu berhenti di salah satu anak tangga kemudian menghadap ke arah Tan Hao.


"Kalian naik anak tangga ini, orang yang ingin menemui kalian ada di disana. Aku tak bisa mengantar lebih jauh!" ujarnya sambil menunjuk ke atas dimana anak tangga itu berakhir.


Fen Fang menatap mata Tan Hao seolah sedang ingin memastikan sesuatu. Keduanya melanjutkan langkah setelah Tan Hao tersenyum tipis sambil mengangguk.


KRAAK!


Hanya beberapa jarak prajurit itu meninggalkan keduanya, tiba-tiba kepalanya patah dan tersungkur ke lantai. Ia mati begitu saja tanpa tahu penyebabnya.


"Aku dengar jenderal ini memiliki paras yang menawan. Aku khawatir dengan matamu, mengingat kau mudah sekali tertarik dengan wanita cantik, hehe...!" kelakar Fen Fang saat keduanya telah sampai di tengah anak tangga tersebut.


Tan Hao yang masih terfokus pada hawa kekuatan yang dirasakannya sedikit terganggu dengan pernyataan Fen Fang. Ia melirik sinis pemilik seruling iblis itu tapi terlihat tak ada emosi didalamnya.

__ADS_1


"Oke, oke baiklah! Aku diam, aku baik! Sepertinya aku salah sangka padamu, kau kan memiliki istri yang tangguh, hehe!"


WHONG!


Keduanya terhempas ledakan energi yang cukup kuat saat langkah mereka hanya tinggal lima anak tangga lagi untuk sampai di lantai kedua istana tersebut.


Meskipun kuat dan seperti terus meningkat, namun nyatanya tak membuat keduanya tertekan walaupun sempat terkejut. Langkah yang sempat terhenti sejenak mereka mulai lagi seperti tidak ada apapun yang menghalangi mereka.


Terlihat diseberang yang lain di ruangan lantai dua itu seorang wanita tengah duduk menopang pipi menggunakan tangan di kursi singgasananya sambil menatap tajam.


"Oh, kalian lumayan juga ... Tak terganggu dengan aura pembunuhku!" wanita berbadan manusia pada umumnya itu tersenyum sinis yang masih dalam posisi santainya.


Fen Fang yang paling terkejut daripada Tan Hao, sebab menurut ingatannya kalau wujud jenderal ular itu hampir tak ada beda dengan wujud manusia ular tapi yang kini ia lihat jelas-jelas merupakan manusia seutuhnya bahkan kulit tubuhnya tak ada sisik satupun.


Terakhir kali ia bertemu jenderal ular penguasa benteng timur memiliki wujud setengah ular dan kekuatannya jika dibandingkan dirinya saat ini mungkin hanya tiga tingkat dibawahnya, tapi melihat jenderal ular penguasa benteng barat di depannya itu, Fen Fang merasa telah banyak terjadi perubahan selama dua puluh tahun terakhir.


'Bagaimana bisa selain ratu ular memiliki bentuk manusia seperti itu? Jika peningkatan para jenderal ular sedemikian pesatnya, lalu bagaimana dengan ratu ular, oh gawat ... Ini berita buruk!' batin Fen Fang memandang tak percaya sosok wanita yang kini mulai beranjak dari duduknya.


Tan Hao sangat mudah menebak sampai dimana tingkatan yang dimiliki Jenderal Rui Yun, tetapi dirinya tak tahu sampai dimana batas kekuatan yang dimiliki wanita berpakaian hitam bergaun merah itu.


"Salam Jenderal Rui Yun...! Terimakasih telah mengundangku untuk datang...."


"Cih ... Setelah membunuh beberapa orangku lalu menyelinap masuk dan sekarang berpura-pura santun dihadapanku! Nyalimu besar juga, bocah...!"


DUARR!


Jenderal Rui Yun langsung mengeluarkan aura pembunuh begitu ia berdiri dan lalu menyerang Tan Hao dengan seluruh tekanan aura kuat yang memiliki warna merah kehitaman.


Tan Hao tersenyum kecut ketika perkataannya tak diberikan kesempatan untuk ia selesaikan.

__ADS_1


Aura membunuh yang begitu pekat menghantam tubuh Tan Hao saja, sedangkan Fen Fang seolah diabaikan keberadaannya. Hal itu membuat pemilik pusaka seruling iblis itu merasa kesal karena diremehkan.


Cukup lama Jenderal Rui Yun menekan Tan Hao menggunakan aura membunuhnya, tetapi ia harus tersenyum pahit ketika tak ada reaksi apapun dari Tan Hao.


'Bocah liar ini...! Bagaimana mungkin mampu terhindar dari aura membunuhku? Bahkan seorang pertapa langit akan langsung tersungkur dibuatnya, tapi dia ... Seperti hanya dihempas semilir angin! Kurang ajar?!' kesah Jenderal Rui Yun dalam hati melihat orang yang ia serang hanya tersenyum tipis tanpa berbuat apa-apa dan tak terjadi apa-apa.


Jenderal Benteng Barat dari Istana Dewi Ular itu mengeram hebat sebelum kemudian menghilang dari tempatnya begitu saja, tetapi tekanan aura membunuh sama sekali tak berkurang.


BLARR!!


SWOOSH


Tan Hao melirik Jenderal Rui Yun yang menyerang diam-diam bagian samping perutnya tanpa mencoba menangkisnya.


Fen Fang dibuat takjub dengan pergerakan tak terlihat yang dimiliki Jenderal Rui Yun, tetapi tidak dengan Tan Hao. Lirikan matanya bahkan membuat wanita berdada besar itu sempat bergidik sebelum menarik kembali serangan tapaknya.


'Bocah ini punya sesuatu yang melindunginya? Dan lagi, mata itu! Apa-apaan dengan mata itu! Sulit dipercaya, bahkan serangan mematikanku tak berdampak apapun padanya. Ratu Qin Ling pasti tertarik dengan orang ini,' batin Jenderal Rui Yun sesaat setelah kakinya menapak lantai ditempat ia berada sebelumnya.


"Bagaimana menurutmu? Apakah aku lulus kualifikasi untuk bicara baik-baik denganmu atau kau masih penasaran?" tanya Tan Hao menatap tajam namun sikapnya masih santai dan terlihat tenang.


Sebelumnya, Tan Hao memang sudah tahu rencana diam-diam Jenderal Rui Yun untuk menyerangnya. Ia sudah menyiapkan lebih awal mata dewa tahap dua, itu membuat ia mampu melihat pergerakan maupun arah serangan wanita pemilik mata biru itu.


"Tidak, lupakan soal itu! Katakan padaku, apa tujuanmu kemari?" tanya Jenderal Rui Yun sembari kembali duduk di singgasananya.


Tan Hao tersenyum mendengar ucapan itu, begitu juga Fen Fang. Segera setelah itu ia mengeluarkan kotak hitam berukuran kecil dari cincin dimensi kemudian berjalan mendekat.


"Aku ingin membuat penawaran dengan penguasa istana benteng barat, bagaimana pendapat Jenderal Yun dengan itu?"


Jenderal Rui Yun melotot tajam ketika melihat benda yang dipegang Tan Hao, terlihat ia mengubah posisi duduknya sebelum mengalihkan pandangan ke wajah Tan Hao.

__ADS_1


__ADS_2