
Pagi telah tiba namun masih gelap. Patriark Sun kembali memimpin pasukan bergerak menuju Lembah Hijau. Kali ini mereka menggunakan kecepatan tinggi. Karena memang sudah tak ingin menunda waktu terlalu lama.
Terlihat jelas raut wajah dari para pendekar penuh keyakinan dan semangat tinggi. Mereka seolah sedang ingin menemui kekasih hati. Tak ada keraguan dan tak ada ketakutan sama sekali.
Setiap orang penuh dengan ekspresi yakin tapi tidak dengan Tan hao. Dia masih bingung seperti seorang yang linglung tak memiliki tujuan pasti.
Ekspresi yang ditujukannya memang tajam dan dingin namun bagi orang yang mengenal dekat dengannya jelas paham bahwa ekspresi itu penuh dengan kekosongan.
Sikap dan sifat Tan hao yang biasanya selalu usil dan bertingkah, beberapa waktu ini berubah menjadi pendiam.
Empat gadis pendampingnya tak ada yang berani menanyakan langsung meskipun mereka bisa merasakan kegelisahan dalam diri Tan hao.
Dan yang paling mengerti situasi Tan Hao adalah Sui Jiu, namun ia merasa enggan hanya untuk sekedar mengajak Tan hao bicara.
Dalam laju larinya, Sui Jiu hanya sesekali memandang Tan hao dan menggeleng pelan setelahnya.
Mereka berempat tidak tahu, yang membuat Tan Hao begitu gelisah adalah menghilangnya Ye yuan. Terakhir kali ia berada di sampingnya ketika melihat sesosok Dua Mata besar, setelah itu sampai saat ini tak pernah lagi muncul atau hanya sekedar berbicara lewat pikiran.
Meskipun Tan Hao masih merasakan kekuatan dia dalam dirinya tapi tak cukup tahu mengenai apa yang terjadi.
Seperti ada suatu ruang kosong dalam dirinya yang tak bisa ia masuki.
Lamunan Tan hao akhirnya berakhir ketika salah satu dari Tetua Tombak berseru lantang.
Tetua Han Liu berseru memerintahkan para pendekar yang berada di tingkat Ahli Atas dan Ahli Puncak untuk berhenti dan membentuk formasi seperti rencana.
Han Liu memang di tugaskan sebagai pemimpin para Pendekar Ahli Atas dan Puncak yang posisi mereka ada di bagian paling belakang.
Para Pendekar yang berjumlah ratusan itu dengan sigap membentuk formasi setengah lingkaran berlapis tiga sesuai perintah Han Liu.
Tan Hao dan empat gadis pendampingnya yang berada di paling belakang langsung menambah kecepatan mereka untuk sampai di posisi terdepan.
Sedangkan posisi bagian tengah yang terdiri dari puluhan Pertapa Ahli dan Pertapa Bumi dipimpin oleh Dua orang Tetua dari Anggrek Suci yang sebelumnya selalu mengikuti Matriark Zhang.
Dan posisi di depan mereka ada Patriark Sun Sian dan Matriak Zhang Weili. Sedangkan Tetua Jing Yun dan Tetua Tiandou berada tepat di belakang Tan hao dengan Empat gadis pendampingnya.
Susunan formasi tersebut telah dirancang saat pertemuan terbatas yang disetujui bersama. Jarak masing-masing lini sangat lebar dan panjang. Sehingga tampak dari depan seperti busur yang siap melepaskan anak panah.
Ketika telah terlihat Markas Lembah Hijau, Patriark Sun menghentikan pergerakan mereka yang langsung membuat pasukan di belakangnya mengikuti arahannya.
Hanya Tan Hao dan empat gadis pendampingnya yang terus bergerak maju.
"Tuan, Aku tahu sekarang pikiran Tuan sedang gelisah. Tapi, sekarang bukan saatnya untuk terlalu memikirkannya. Kita akan segera memasuki pertempuran. Aku takut kegelisahan Tuan akan berdampak buruk bagi kelangsungan serangan ini." dengan memberanikan diri akhirnya Sui Jiu berbicara pada Tan hao sebelum mereka terlalu jauh melaju.
"O. Apakah aku terlihat begitu gelisah? Ahh..Maafkan aku." dengan mengambil nafas ringan kemudian mengeluarkannya lalu melanjutkan perkataannya.
"Baiklah, sekarang kita akan fokus untuk ini." Tan hao akhirnya tersadar akan sikapnya dan mulai bersikap normal dengan mengatur nafas beberapa kali.
Sesaat setelah itu. Mereka berhenti tepat di depan pintu gerbang Lembah Hijau.
Tan hao menatap penuh keheranan, sebab tak ada satupun penjaga yang terlihat. Meskipun Pintu Gerbang tertutup rapat. Tapi setidaknya akan ada beberapa orang yang berada di atas pintu gerbang.
Keheranan Tan Hao juga dirasakan oleh keempat gadis di belakangnya.
"Tuan, sepertinya rencana kita sedikit tidak berjalan dengan semestinya. Aku tak melihat satupun penjaga. Apakah mereka telah pergi atau sedang bersiap di balik gerbang ini."
__ADS_1
Perkataan Ran Liu langsung ditimpali oleh Zey Liu.
"Apakah aku langsung saja menghujani mereka dengan panah. Bagaimana pendapat Tuan?"
Tan hao diam sejenak dengan menutup matanya. Sesaat kemudian ia membuka mata dengan ekspresi serius.
"Tidak, jangan gegabah. Biarkan aku mengamati dulu."
Dengan cepat Tan hao mengaktifkan Mata Dewa nya. Bola mata Tan hao yang hitam berubah menjadi biru cerah bersih.
Alangkah terkejutnya Tan hao sesaat kemudian. Menyadari Mata Dewa nya tak mampu melihat kedalam Markas Lembah Hijau. Seperti terhalang suatu pelindung tak kasat mata.
Tan hao benar-benar kehabisan kata-kata dengan ekspresi rumit dalam wajahnya.
Sementara itu di dalam Markas Lembah Hijau. Ketua Jiwei Dan sedang tersenyum sumringah disertai tatapan mata tajam menyipit.
Berdiri tegap dengan melipat tangannya ke belakang, di depan Su Ling dan Lima Tetua Anggota Lembah Hijau yang sedang berlutut dengan satu lutut sebagai tumpuan beserta seluruh anggota Lembah Hijau di belakang mereka yang melakukan hal yang sama.
"Hooo.. Kau terlalu percaya diri dengan kemampuanmu, tikus kecil. Datang ke sarang Harimau, em..em..em.. keputusan yang polos. Tapi aku senang dengan keberanianmu." Jiwei Dan bergumam pelan disertai ekspresi wajahnya yang licik meremehkan.
Tetua Anggota yang paling senior di antara mereka, Chang Yi mulai berbicara dengan sedikit ragu raut wajahnya.
"Ketua Yang Terhormat, Apakah kita langsung menyerang mereka atau tetap menunggunya di sini."
Jiwei Dan melirik tajam Chang Yi dengan dengusan keras yang membuat Chang Yi berkeringat dingin dengan kepala tertunduk ketakutan.
"Hng.. Ide bagus. Sambut mereka di luar gerbang. Jangan berhadapan dengan pemuda itu atau kalian akan mati. Biarkan dia masuk dan menghadapiku. Haha ha haha." Jiwei Dan memberi perintah dengan berlalu pergi disertai tawa sombongnya.
Mendengar Perintah tersebut, Kelima Tetua Anggota bersama Su Ling berdiri menatap pintu gerbang kemudian diikuti oleh seluruh anggota Sekte Lembah Hijau.
Sedangkan Jiwei Dan tengah duduk santai bersandar dengan satu kaki berpangku di kaki yang lain di sebuah singgasana emas berukuran sedang di depan sebuah bangunan megah dengan papan nama tergantung diatasnya bertuliskan "Keabadian Iblis Kegelapan bagi Dewa" yang memandang lurus kedepan kearah pasukannya.
Tan Hao dan keempat gadis masih terheran-heran di depan Gerbang sekte. Yang kemudian terpecah setelah mendengar seruan menggema dengan kalimat yang sama secara bersamaan berulang kali.
"Tuan Muda, aku merasa ini buruk. Sekarang bagaimana? Kami menunggu perintahmu." kata Ran Liu cepat setelah mendengar seruan keras berulang kali itu.
"Bagaimana lagi, ketika mereka keluar. Kita akan langsung bertempur. Tapi ingat, untuk selalu menjaga satu sama lain. Jangan sampai kalian terpecah. Mengerti." Tan hao akhirnya bersikap serius dengan fokus tinggi menatap lurus ke Gerbang dan memberi perintahnya. Yang langsung di jawab serempak dengan anggukan tegas.
Sementara itu, Patriark Sun dan Matriark Zhang yang berada jauh di belakang mereka, sayup-sayup mendengar teriakan didalam Sekte Lembah Hijau. Mereka saling berpandangan dengan tatapan penuh pertanyaan namun tak ada satupun yang mulai membuka mulut.
Begitu juga Tetua Jing Yun dan Tetua Tiandou , keduanya merasakan sensasi yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya setelah beberapa saat mendengar teriakan serempak dari dalam Sekte.
Sesaat kemudian, pintu gerbang Lembah Hijau terbuka lebar. Tan Hao yang berada paling dekat dengan gerbang, langsung berekspresi dingin serta tatapan tajam.
Jelas Tan hao melihat seluruh anggota sekte yang dipimpin oleh penatua sekte sedang mengarah ke dirinya.
"Mereka datang. Persiapkan diri kalian." seru Tan hao dengan memalingkan wajahnya mengingatkan empat gadis di belakangnya yang diam terpaku karena melihat begitu banyak anggota sekte yang bergerak bersamaan.
Dengan cepat Tan hao mengeluarkan Pedang Dewa Surgawi dari cincin dimensinya.
Empat gadis di belakang juga bersiap diri dengan memegang senjata masing-masing serta Zey Liu yang melompat beberapa langkah kebelakang dengan memegang Busur Bulan dengan posisi tubuh membungkuk siap melancarkan serangannya.
Empat gadis itu langsung membentuk formasi mereka dengan Tan Hao sebagai ujung tombaknya. Sui Jiu di belakangnya serta Ran dan Wen di samping kanan kirinya.
Tan Hao menamai mereka dengan Formasi Dewi Empat Penjuru.
__ADS_1
Zey Liu sebagai titik vital serangan mereka dengan Busur Bulan nya.
Chang Yi dan tetua yang lain melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah empat gadis itu. Dengan gerakan cepat pula, Tan hao melesat kearah barisan anggota sekte yang berada di belakang Tetua Anggota.
Tanpa menunda waktu lagi Tan Hao segera mengeluarkan jurus ketiga dari pedang Dewa Surgawi nya ketika telah berhadapan dengan ribuan anggota sekte.
..TARIAN PEDANG DEWA SURGAWI..
Jurus yang di keluarkan Tan hao dengan cepat membunuh puluhan anggota Sekte. Yang semuanya dalam kondisi sama, kepala mereka terpisah dari tubuhnya.
Apa yang di lakukan Tan hao nyatanya tak membuat Tetua Lembah Hijau gentar, mereka tetap melaju kearah Sui jiu dan lainnya.
Sedangkan Anggota sekte yang lain, tetap melancarkan serangan mereka seperti tidak menganggap kematian puluhan rekannya sebagai pukulan ketakutan.
Serangan bertubi-tubi menyerang tubuh Tan hao dengan tanpa jeda. Meskipun tak membuatnya kewalahan namun itu cukup untuk membuat fokusnya teralihkan dari Sui Jiu dan lainnya.
"Hehh, kau pikir siapa dirimu berani datang kemari. Ccuiihh, mengantarkan nyawa-"
"Banyak bicara, tunjukkan kemampuanmu." Sui Jiu dengan tatapan ganas menyergap langsung ucapan Chang Yi yang terang saja membuatnya naik darah penuh amarah.
"Kurang ajar, mulut busukk.."
Seruan Chang Yi di barengi dengan ia mengeluarkan senjata Pedang Iblisnya yang berwarna hitam pekat dengan dua sisi bilah tajam langsung menyerang Sui Jiu.
Serangan Pedang Iblis Chang Yi di sambut oleh Trisula Dewi Perang Ran Liu. Yang langsung membuat mereka berdua bertukar serangan.
Keduanya terlihat seimbang, beberapa saat kemudian keduanya mengambil langkah mundur bersamaan. Mereka telah bertukar puluhan serangan, membuat nafas Chang Yi begitu memburu sedangkan Ran Liu masih dengan ketenangannya.
Keduanya sama-sama menunggu siapa yang menyerang lebih dulu.
Disisi Lain, Sui Jiu sedang berhadapan dengan Su Ling. Mereka sama-sama pengguna Pisau juga bertipe Ilusi. Keduanya terlihat saling bertukar serangan namun tanpa mengeluarkan jurus. Dentingan bunyi Pisau terdengar nyaring tanpa henti.
Sedangkan Wen Liu masih menunggu pergerakan Jian Bersaudara. Dirinya sadar jika kekuatannya hanya mampu menghadapi salah satunya saja. Beberapa kali Wen Liu mengatur nafasnya mencari ketenangan diri.
Merasa membuang-buang waktu, akhirnya Wen Liu menyerang lebih dulu. Jian Bersaudara nampak tersenyum senang penuh kelicikan.
Wen Liu langsung menyerang keduanya menggunakan Pedang Bintang Kembar yang langsung di sambut oleh Cakar Racun milik Heng dan Cakar Bintang milik Ying.
Meskipun Wen terlihat memaksakan diri melawan mereka berdua, namun kenyataannya setiap serangan yang di lancarkannya membuat Jian Bersaudara tak punya kesempatan menyerang balik.
Mereka terlihat menatap serius dengan posisi bertahan.
Tan Hao baru menyadari kondisi empat gadis pendampingnya setelah beberapa saat berhasil membunuh setengah dari jumlah anggota sekte Lembah Hijau. Meskipun terlihat ada beberapa luka goresan di lengannya namun ia terlihat baik-baik saja dengan nafas masih stabil.
Senyuman tersungging di bibir Tan hao ketika melihat lawan dari masing-masing Gadis itu.
"Ahh, sepertinya mereka akan baik-baik saja, aku tidak menyangka ternyata mereka memilih lawan yang tepat. Sungguh Cerdik gadis-gadis ini." gumam pelan Tan hao dengan menggeleng kepala ringan.
Hanya Zey Liu yang masih belum bergerak ataupun menyerang. Terlihat jelas Zey Liu sedang mengamati Qixuan yang berada di belakang seperti posisi dirinya dengan memegang senjata Panah Setan.
Alasan Zey Liu belum bergerak karena Qixuan belum menunjukkan tanda-tanda akan menyerang.
Sementara itu, Matriark Zhang Weili terkejut bukan main melihat pertarungan yang terjadi.
Ekspresi wajahnya jelas telihat tanpa ditahan sedikitpun. Keterkejutannya berlanjut ketika Wen Liu berani menyerang lebih dulu Jian bersaudara.
__ADS_1
"Apakah kau masih akan mempertanyakan kemampuan mereka, Matriark Zhang?" Kata Patriark Sun dengan raut wajah tenang disertai senyum tipis.
Perkataan Patriark Sun membuat Matriark Zhang tersenyum getir tanpa mampu menjawabnya.