Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 48 ~ Mulai Bergerak


__ADS_3

Setelah Patriark Sun selesai memberi arahan dan petunjuk. Semua yang hadir terlihat bersemangat, terdengar dari teriakan yang menggema bersahutan.


Tan Hao masih diam dengan tenang. Tidak menunjukkan ekspresi apapun ditengah sorakan serta teriakan yang bersahutan. Hanya Sui jiu yang menyadarinya yang hanya melirik sesaat kemudian menggeleng kepala ringan seolah mengetahui apa yang sedang dipikirkan Tan Hao.


Tiga bersaudara juga nampak melebur dengan sorakan serta teriakan dari para pendekar maupun Penatua Sekte.


Sementara itu, raut wajah May Lin nampak gusar dengan posisi berdirinya yang terasa tidak nyaman baginya. Pandangannya melirik kesana kemari seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.


Tanpa di duga, Liqin Mei menggeser posisi berdirinya mendekati Tan hao dengan perlahan, kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Tan hao seperti membisikkan sesuatu.


Meskipun Tan Hao mengetahui apa yang di lakukan Liqin Mei, namun tetap saja ekspresi yang ditunjukkan Tan Hao seperti terkejut hingga tersedak angin dan batuk pelan setelah mendengar pernyataan yang di bisikan Liqin Mei.


"Apa kau yakin?" tanya Tan hao dengan ekspresinya yang canggung.


"Untuk apa aku membohongimu, bukankah kau bisa lihat sendiri." balas Liqin Mei dengan gestur melirik.


Tan Hao hanya menghela nafas pelan sebelum akhirnya tersenyum penuh makna, sesaat kemudian fokusnya teralihkan oleh seseorang yang sedang menuju ke tempat mereka berkumpul.


"Ohh, Itu Matriark Zhang dari Anggrek Suci.."


"Iya benar, rumornya dia bukannya sudah tua, tapi kelihatannya dia masih muda."


"Hei Jaga mulutmu atau kau akan rasakan akibatnya."


"Eh, itu kah Matriark dari Anggrek Suci Zhang Weili. Sungguh menawan tapi terlihat kejam."


Kedatangan Matriark Zhang Weili segera menjadi pusat perbincangan para pendekar yang berkumpul. Mereka saling berbisik dan bergumam.


Sementara itu Matriark Zhang Weili berjalan santai namun penuh wibawa tepat di tengah barisan Para Pendekar yang tanpa diperintah langsung membuat jalan dengan menyingkir beberapa langkah ke samping.


Kedatangan Matriark Zhang Weili lebih cepat dari yang di laporkan Tetua Tiandou, sebab Matriark Zhang telah lebih dulu sampai daripada pasukan yang ia bawa.


Matriark Zhang datang dengan beberapa pendekar senior Anggrek Suci dengan tingkatan Pertapa Angin. Meskipun adalah wanita tapi aura yang ditujukannya lebih mengerikan daripada Tetua Feiying yang terkenal kejam dan tegas.


"Zhang Weili dari Anggrek Suci memberi hormat pada Patriark Sun Sian." setelah tiba di depan podium, Matriark Zhang merendahkan badannya dengan menunduk ringan.


"Kami Tujuh Tombak Emas menerima kedatangan Matriark dari Anggrek Suci beserta saudara yang lainnya."


Patriark Sun sian melakukan hal sama dan diakhiri gestur tangan mempersilahkan.


Dengan langkah menawan Matriark Zhang beserta kedua Pendekar disisinya berjalan menuju podium. Terlihat pandangan Matriark Zhang sedang melirik kearah beberapa orang dan lirikannya berhenti ketika Tan hao juga meliriknya dengan tajam.


"Hoo, apakah pemuda itu yang di maksud Shuxan.. hmm menarik." batin Matriark Zhang Weili dengan senyum kecil tersungging di bibirnya.


Dengan telah hadirnya Matriark dari Anggrek Suci, maka lengkap sudah persiapan yang telah di rencanakan. Menurut pengakuan Matriark Zhang, pasukannya telah menunggu di hutan perbatasan.


Tanpa membuang waktu lagi mereka berangkat, dengan dipimpin Patriark Sun Sian di depan bersama Matriark Zhang sedangkan di belakang mereka ada empat Tetua Tombak beserta dua pendekar senior dari Anggrek Suci disusul kemudian seluruh pendekar yang telah hadir.


Karena jarak tempuh cukup jauh, mereka berlari dengan kecepatan sedang untuk menghemat tenaga.


Sedangkan Tan hao masih belum mengikuti pergerakan mereka. Tan hao masih belum mengubah posisi berdirinya dengan memandang satu persatu para pendekar mengikuti pergerakan Patriark Sun hingga tidak ada lagi pendekar yang tersisa.

__ADS_1


Kini yang berada di Sasana Latihan hanya ada Tan hao, Sui Jiu, Liu bersaudara serta Liqin Mei dan May Lin.


Sedangkan Xin Jiu nampak tidak turut serta dan hanya berjaga di sisi yang lain.


Setelah situasi kembali hening, Tan hao menghela nafas panjang kemudian tersenyum canggung.


"Apa pendapat kalian tentang situasi ini."


Liqin Mei dengan cepat menyergap perkataan Tan hao.


"Ehemm, aku rasa kalian juga harus menyusul mereka. Aku jelas akan tinggal di sekte bersama May Lin dan Tetua yang lain untuk berjaga."


Sui Jiu hanya tersenyum tipis dengan melirik tajam Tan hao seakan meminta perintahnya.


"Bukankah seharusnya kita yang akan bertarung di garis depan. Lalu apa yang kita tunggu Tuan Muda.." kata Ran Liu disertai kedua tangan terbuka seakan mempertanyakan.


Wen dan Zey hanya diam tersenyum tipis dengan memejamkan mata mereka.


"Baiklah, ayo kita berangkat. Nona Mei, kuharap anda bisa menjaga harta berharga Kerajaan." ucap datar Tan hao dengan melirik ramah lalu melesat cepat.


Tanpa menunggu perintah, Sui Jiu dan Liu bersaudara juga bergerak mengikuti Tan hao tanpa mengatakan apapun.


Sementara Liqin Mei hanya bisa bicara dalam batin dengan senyuman penuh harap lalu kemudian mengajak May Lin meninggalkan Sasana Latihan yang juga diikuti oleh Xin Jiu.


Alasan Tan hao begitu diam selama pertemuan karena ia merasa seperti pernah mengalami ini sebelumnya. Namun, setelah memikirkan dengan serius dan mencoba mengingat, Tan hao tak menemukan apapun dalam ingatannya.


Setelah berada cukup jauh dari Sekte, Tan Hao berhenti dengan tiba-tiba di sebuah tanah lapang yang hanya terdapat padang rumput. Terlihat jelas jejak kaki para pendekar yang sebelumnya melewati tempat itu.


Mereka melihat jelas ekspresi dan raut wajah Tan hao begitu dingin serta memandang tajam. Seolah olah sedang memandang sesuatu.


Sekejap kemudian ia menghadap ke arah berdirinya keempat gadis yang berdiri dengan wajah kebingungan.


"Aku merasa pernah melakukan ini sebelumnya, tapi sejauh yang aku ingat. Aku tak menemukan apapun tentang ini."


"Tak perlu penjelasan panjang, kalian duduklah dengan bersila, aku akan memberi jurus kedua pada kalian. Tak ada cukup waktu untuk memberi kalian lembaran dan mempelajarinya sendiri. Aku akan langsung menanamkannya pada kalian, jadi persiapkan diri kalian dengan baik. Aku akan mulai dari Nona Sui lebih dulu." dengan ekspresi dinginnya Tan hao memerintahkan mereka yang langsung di lakukan tanpa pertanyaan apapun dengan raut wajah bingung namun juga senang.


Sikap yang ditujukan Tan hao membuat Sui Jiu merasa ini adalah hal terakhir yang akan di lakukan Tan Hao pada mereka. Perasaan Sui jiu mengatakan bahwa mungkin di pertempuran nanti akan ada hal yang tak terduga. Itulah sebabnya sikap Tan Hao begitu dingin seperti bukan dirinya yang biasa.


Sementara Ran Liu dan kedua adiknya tak bisa menilai apapun atas perubahan sikap Tan Hao, mereka hanya bisa bersikap tegas dan penurut.


Tanpa berkata apapun lagi Tan hao menempelkan telapak tangannya di kening Sui Jiu yang telah berada pada posisi duduk bersila. Sementara telapak tangan yang lain menempel pada keningnya sendiri.


Mereka tidak mengetahui jika Tan hao menggunakan Kitab 1000 Kehidupan yang ada pada dirinya untuk menanamkan pemahaman jurus yang akan di berikan pada mereka.


Sudah sejak lama Tan hao menyiapkan Jurus yang tepat dan cocok untuk masing-masing dari mereka menurut senjata serta keahlian mereka.


Dan untuk Sui Jiu, Tan Hao menyiapkan sebuah Jurus dengan tipe Ilusi tingkat kedua dari jurus pertama yang telah di berikan sebelumnya.


Jurus Ilusi yang dinamakan "Dimensi Pengguncang Semesta" merupakan Jurus milik Tan Hao menggunakan Pedang Dewa Hampa yang telah disederhanakan dari Jurus asli bernama "Ilusi Dewa : Pedang Penghancur".


Dengan disederhanakannya jurus tersebut membuat Sui jiu mampu menampung besaran kekuatan yang terkandung di dalamnya.

__ADS_1


Dengan Menggunakan Kitab 1000 Kehidupan, hanya butuh beberapa tarikan nafas saja bagi Tan hao menanamkan jurus tersebut.


Hal itu juga sama dilakukannya pada Ran, Wen dan Zey.


Memang setelah di berikan pemahaman jurus tersebut membuat tubuh Sui bergetar hebat dengan memancarkan aura tenaga dalamnya yang juga telah meningkat. Namun tak membuat dampak buruk apapun pada tubuhnya.


Kemudian untuk Ran Liu, Tan Hao menyiapkan sebuah jurus bernama "Gelombang Penjuru Langit" yang menitik beratkan pada penyatuan aura tenaga dalam dengan pusaka Trisula Dewi Perang yang dimiliki Ran Liu.


Untuk Wen Liu juga hampir sama dengan Ran, hanya perbedaannya terdapat pada pola serta besaran aura tenaga dalam yang dipakai. Jurus yang mengharuskan pemakainya menggunakan dua pusaka identik, bernama "Raungan Bintang Kembar". Yang memang sangat cocok untuk Wen karena ia memiliki Pedang Bintang Kembar.


Sedangkan untuk Zey Liu, Tan Hao khusus menyiapkan jurus yang dimiliki oleh pamannya yang tersimpan rapi dalam susunan buku kuno di rak buku milik pamannya yang sekarang berada di Cincin Dimensi.


Sebuah jurus yang dulu Tan hao pernah melihat pamannya pakai untuk membunuh Siluman buas saat masih di pulau Phoenix bernama "Ombak Busur Penghancur Bumi" yang merupakan jurus dengan tingkat kehancuran tinggi dengan dampak area luas.


Dengan Pusaka Busur Bulan yang dimiliki Zey saat ini, menjadikan jurus ini pilihan yang paling tepat untuknya.


Bagi Tan hao, menanamkan sebuah pemahaman jurus adalah hal pertama baginya namun ia merasa seperti pernah melakukannya. Itulah yang membuat Tan hao sangat yakin dengan keputusannya.


Bahkan Ye yuan pun tak lagi berbicara padanya setelah terakhir kali bicara saat berada di depan bangunan milik Lembah Hijau.


Sebenarnya Tan hao merasa heran, sebab Ye yuan tak biasanya diam terlalu lama. Tan hao berpikiran mungkin Ye yuan sedang mempersiapkan dirinya untuk menyambut pertarungan dengan sosok yang mempunyai energi besar yang dilihat sebelumnya.


Setelah selesai memberikan jurus pada Zey, tiba-tiba tubuh Tan hao memancarkan energi putih keemasan serta kedua matanya memancarkan pancaran cahaya menyilaukan.


Kondisi itu hanya sesaat, tetapi Tan hao merasa ada yang berbeda padanya akibat keluarnya energi kuat tubuhnya.


Sui Jiu yang telah tersadar lebih dulu, terkejut bukan main dengan apa yang ia lihat.


Sesaat setelah energi itu hilang, Sui jiu dapat melihat dengan jelas bahwa bola mata Tan hao yang sebelumnya hitam kecoklatan berubah menjadi biru cerah dengan pola seperti kelopak bunga yang mekar.


Karena rasa penasarannya, ia tak bertanya ataupun bersuara hanya perlahan mendekat untuk melihat lebih jelas perubahan warna bola mata Tan hao.


Tanpa di duganya, setelah melihat lebih dekat. Sui jiu merasa seperti sedang berada di tengah alam semesta, tubuhnya menggigil ketakutan dengan raut wajat pucat pasi seperti kehilangan darah. Tubuhnya berkeringat hebat akibat itu.


Sesaat kemudian Tan hao menyadari itu dan langsung memejamkan kedua matanya selama dua tarikan nafas yang sedikit ditahan beberapa detik.


Kemudian kedua bola matanya kembali seperti semula. Namun, Sui jiu masih pada posisinya tanpa mampu mengedipkan matanya.


"Maafkan aku"


Plakkk..


Ucapan singkat Tan Hao di barengi dengan pukulan di belakang kepala Sui Jiu yang langsung pingsan setelahnya.


Kemudian Tan hao mengeluarkan Jamur Emas Yin Yang dan langsung menyerapkannya pada tubuh Sui Jiu yang masih bergetar walaupun kondisi pingsan.


"Mata Ilusi Dewa sungguh mengerikan, hanya dengan menatapnya saja bisa membuat tubuh seseorang begini menyedihkan. Bagaimana jika di gabungkan dengan jurus ketiga dari ilmu ilusi. Tapi yang aku tidak pahami, kenapa bisa Mata Dewa ku bisa meningkat dengan tiba-tiba begini. ini keberuntungan ataukah ada hal lain.. ahh aku sungguh tidak memahaminya.."


Selagi menyerapkan sumber daya ke tubuh Sui jiu, Dalam batin Tan hao menggerutu dengan ketidakpercayaannya yang juga disertai dengan kebingungan yang hebat.


Bahkan kejadian hebat seperti ini pun Ye yuan tetap tidak bicara seperti tidak ada.

__ADS_1


Ketiga saudara yang lain masih belum tersadar karena gejolak energi tubuhnya belum menghilang. Praktis membuat Tan hao berada dalam sepi.


__ADS_2