
"Pil tingkat enam?! Pil Pembangkit Jiwa? Oh ... Kucing Tua, bahkan itu lebih baik dari sumber daya milikmu!"
Yong Li menggigit bibirnya, ia menahan kegeraman tinggi melihat apa yang di lakukan oleh Chen Seng. Menurutnya ini bukan hanya mempermalukannya namun juga meremehkannya secara langsung.
"Kurang ajar ...! Darimana kau dapatkan itu, Tikus Busuk! Di benua ini selain Kera Biru, siapa lagi yang dapat membuat pil setingkat itu, hng!"
Chen Seng terkejut dengan khasiat pil yang ia telan beberapa saat lalu, bahkan itu tak butuh tenaga lebih untuk menyerap seluruh esensinya. Bukan hanya tenaga dalamnya yang meningkat, tapi juga seluruh meridian kecil dalam tubuhnya terasa terbuka sepenuhnya.
"Luar biasa?! Tenaga dalam ku bukan hanya meningkat, tapi ini lebih seperti berkembang tiga kali lipat. Oh ... Tuan Muda, aku pengikut setiamu mulai sekarang," batin Chen Seng merasakan tubuhnya begitu penuh dengan energi. Senyum lebar terpancar di wajah bengisnya, Chen Seng menatap Yong Li sembari membuka kedua tangannya.
"Kau tak akan mengerti bahkan jika aku menjelaskan! Ini bahkan lebih baik dari sumber daya yang sama ditingkat yang sama. Fiuhh ... Tapi aku bukan bagian dari kalian lagi, untuk apa aku repot-repot mengoceh seperti ini,"
WHUNGG ...
HONGG ... HONGG ...
WUSHH ... WUSHH ...
"Tikus Busuk! Dasar pengkhianat! Lihat bagaimana aku memberimu kematian ...!" seru Yong Li geram.
DDUAARRR ...
WOSHH ... WOSHH ...
Tekanan udara area sekitar menyempit begitu drastis akibat ledakan energi tenaga dalam yang dikeluarkan dua orang tersebut, membuat beberapa anggota aliansi bertopeng biru mundur dengan cepat sebelum aura kekuatan itu sempat mengenai tubuh mereka. Sementara Mudong Shen tak habis pikir menyaksikan hal tersebut, meskipun fokus utamanya masih tertuju pada wanita yang kini terdiam keheranan.
"Jangan berpikir kau bisa lolos dengan mudah, hanya karena mendapat bantuan. Lawanmu adalah aku, Jalaang Sialann ...!"
SWOOSHH ...
HNG!!
"Aku paling benci dengan orang yang percaya diri pada kesalahannya. Heh ... Setelah ribuan tahun, datang juga waktu dimana aku bebas bermain,"
BOOMM ...
__ADS_1
KRAAKK ...
WOSHH ...
Mudong Shen menyerang wanita yang memakai topeng ungu itu menggunakan kedua kapaknya, ayunan demi ayunan ia lesakkan tepat mengarah ke wanita itu. Hempasan tenaga dalam berbentuk seperti bulan sabit terus menerus keluar setelah Mudong Shen mengayunkan kapaknya dengan penuh tenaga dibarengi dengan sesekali lompatan disela-sela laju larinya.
Wanita topeng ungu itu tak tinggal diam, gerakan tangannya dalam menggunakan pedang begitu dinamis dan sederhana. Setiap ayunannya mampu menghancurkan energi berbentuk bulan sabit tersebut sambil berjalan santai, seolah menikmati pertarungan yang baru akan dimulai itu.
Disisi lain Yong Li dan Chen Seng sudah lebih dulu beradu serangan. Pusaka Pedang Jiwa Guntur melawan pusaka Kapak Naga, kedua pusaka itu merupakan senjata kelas suci tingkat pertama yang memiliki kekuatan besar, ditambah dengan tenaga dalam yang disalurkan membuat setiap pertemuan senjata itu menimbulkan gemuruh ledakan energi yang tinggi. Tak jarang menciptakan hempasan angin yang begitu kuat.
Patriark sekte Pedang Angin itu terkenal memiliki jiwa angin, setiap gerakannya mengandung unsur angin. Memberikan dia kecepatan maksimal di setiap hempasan tubuhnya, berbeda dengan Patriark dari sekte Harimau Emas, yang cenderung mengandalkan kekuatan serta ketangguhan tubuh untuk mendapatkan kecepatan maksimalnya dalam menyerang lawan.
Yong Li tak mengira jika kekuatan Chen Seng meningkat pesat, dampak yang ia rasakan ketika menerima serangan Kapak Naga yang dilepaskan Chen Seng terasa berat ditangannya. Meskipun Pedang Jiwa Guntur adalah lawan seimbang beberapa tahun terakhir, tetapi saat ini terasa satu tingkat diatasnya.
"Sebenarnya siapa pembuat Pil Pembangkit Jiwa itu? Jika aku yang mengkonsumsinya, sudah pasti kekuatanku sekarang berada diatas Mu Yuan, Hng! Kurang ajarrr ... Kupikir Pil Roh Hitam sudah cukup kuat, ahh ... siall ...!"
"Haciuu ...! uhh ...!" seseorang yang berada dibalik awan nampak mengamati jalannya pertarungan dengan serius, namun tiba-tiba bersin manja ketika hidungnya terlewati gumpalan awan tipis.
Yong Li begitu geram merasakan kekuatan Chen Seng saat ini berada jauh diatasnya. Butuh tenaga dalam lebih hanya untuk menangkis serangan kapak yang dilepaskan Chen Seng tanpa jeda.
"Rasakan ini! Rasakan ini! Ha ha ... Jangan sombong hanya karena kau memiliki kekuatan, selalu ada kekuatan yang lebih tinggi. Yang kuatlah yang menang, ha ha ha! Rasakan ini ...!"
Cheng Seng menyerang Yong Li sambil tertawa puas. Setiap jeda ayunan kapak yang tak lebih dari satu detik itu membuat Yong Li kelabakan menangkisnya meskipun ia bisa terbang bebas di udara menggunakan jiwa angin dalam tubuhnya.
Umpatan demi umpatan keluar dari mulutnya sembari mempercepat pergerakannya. Terlihat kedua lengan bajunya sudah tak utuh lagi, di samping sebagian pakaiannya yang juga terdapat banyak sobekan kecil.
Chen Seng masih sempat melirik kearah pertarungan lainnya disela-sela ia memberikan serangan. Perintah pemuda yang memberikannya pil pembangkit jiwa itu terasa begitu melekat di benaknya.
"Sepertinya, aku mengenali gaya wanita itu! Gerakan pedangnya terasa tidak asing, tapi dimana aku pernah bertemu dengannya?" gumam Chen Seng setelah melirik singkat kearah pertarungan Mudong Shen melawan wanita bertopeng ungu tersebut.
Anggota aliansi dibuat terpana dengan dua pertarungan hebat yang mereka saksikan, sampai mereka tak melakukan gerakan sekecil apapun dan tetap berada ditempatnya. Mereka semua merasa level pertarungan ini bukanlah sesuatu yang mereka bisa turut campur.
Chen Seng mempercepat porsi serangan setelah merasa pertarungan ini bisa ia selesaikan dengan cepat, ia juga menambah jumlah tenaga dalam yang ia salurkan ke senjatanya. Tekanan yang dihasilkan membuat Yong Li mengeram hebat, wajahnya begitu pucat seolah sedang menutupi rasa takutnya.
Gerakan Yong Li di udara menjadi semakin tersendat, efek dari pil sumber daya yang ia konsumsi semakin membuat kemampuannya berkurang drastis. Hal itu disadari oleh Chen Seng, dalam pikirnya itu bisa menjadi sebuah kesempatan untuk melenyapkan Patriark sekte paling sombong yang pernah mempermalukannya di masa lalu itu.
__ADS_1
"Hidupmu akan segera berakhir oleh orang yang dulu kau permalukan! Bukankah ini karma yang benar ...!"
KAPAK NAGA : TEBASAN JIWA HARIMAU
SLAASHH ...
KLAARRKKK ...
JDDEERRR ... JDDEERRR ...
WUSHHH ...
"Kurang ajar, sialann ... Kau pikir aku takut ...!"
PEDANG JIWA : GUNTUR MENGHUJAM BUMI
WHONGG ... WHONGG ...
DDUAARR ... DDUAARR ...
Keduanya menyeringai tajam dalam mengeluarkan jurus masing-masing yang menimbulkan pergolakan tekanan udara disertai badai angin berselimut petir.
"Eh! Apa-apaan petir ini? Adu-duhh ...!" keluh seseorang di balik awan tepat dimana petir-petir itu tercipta. Terlihat ia beberapa kali tersengat hingga membuatnya bertingkah konyol.
Jurus dari Kapak Naga yang memiliki bentuk energi kepala harimau lengkap dengan dua tanduk berwarna emas berbenturan dengan jurus dari Pedang Jiwa Guntur yang memiliki bentuk energi sambaran petir dengan ujung petir menyerupai wujud pedang berukuran besar, jumlahnya yang begitu banyak membuat bunyi gemuruh terdengar memekakkan telinga.
DDUUAARRR ...
JDDEERR ... JDDEERR ...
SROSSHH ... WHONGG!!
Ledakan besar terjadi begitu cepat menyebar hingga menyebabkan sebagian pendekar topeng biru terhempas ke segala arah. Kepulan asap yang tercipta dari hempasan permukaan tanah menyebar memenuhi area pertarungan.
"Oh hebat ... Hebat! Pertunjukkan yang memuaskan, eh hehe!" gumam seseorang dari balik awan, penampilannya yang menyedihkan akibat sengatan petir tertutup hamparan awan yang mengambang.
__ADS_1