Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 170 ~ Pertempuran Hibei 2


__ADS_3

Tetua Jing Yun terpental belasan meter sebelum dapat menguasai keseimbangan tubuhnya, sementara Fen Fang hanya beberapa meter.


Keduanya memandang tajam kearah kabut akibat ledakan gelombang energi yang menghempaskan tubuh mereka.


"Hao Hao sialan!! Bisa tidak, datang dengan cara biasa!" gerutu Fen Fang setelah menyadari kalau sosok itu adalah Tan Hao.


"Kakek Fang! Jangan terlalu berlebihan seperti itu," sahut Tan Hao bernada datar sembari memutar tubuhnya menghadap Fen Fang sambil memainkan telunjuknya.


Lian Ho bergegas menghampiri Tetua Jing Yun diikuti Yao Yuen, keduanya langsung menanyakan bagaimana keadaan Tetua Jing Yun. Sebab, mereka melihat kalau kekuatan pemuda itu sangat berbeda.


Terutama Yao Yuen, ia terlihat yang paling terkejut sesaat sebelum pemuda itu menghempaskan Tetua Jing Yun dan Fen Fang bersamaan, sebab kedua matanya melihat dengan jelas kalau pemuda itu hanya menggunakan satu jarinya saja untuk membalikkan serangan Tetua Jing Yun.


Sementara Fen Fang dan Tan Hao sedang berdebat kecil, Tetua Jing Yun dan kedua sahabatnya memanfaatkan kesempatan itu untuk berdiskusi.


"Aku baik-baik saja, tapi sepertinya lawan kita bertambah satu. Tadi aku sedikit merasakan kekuatannya mirip dengan kekuatanku, tapi seperti terdapat perbedaan yang besar antara aku dan dia," kata Tetua Jing Yun menjelaskan singkat, sebelum menemukan sebelah telapaknya membiru.


"Benar! Aku juga merasa familiar dengan dia, tapi entah pernah melihatnya dimana," timpal Yao Yuen sembari menatap Tan Hao yang melayang memunggunginya.


"Tidak penting siapa dia, yang terpenting saat ini bagaimana kita menghadapi mereka? Apa kau punya rencana?" sahut Raja Tempa serius, sementara tangannya terus memegangi cincin bumi dijarinya.


Raja Tempa berniat akan menggunakan Palu Langit jika memang benar-benar mendesak, menurutnya kekuatan dua orang itu yang tidak bisa ia baca sangat riskan jika hanya mengandalkan kekuatan tenaga dalam saja.


Tetua Jing Yun tak bisa langsung mengenali Tan Hao, selain karena Tan Hao sudah tumbuh menjadi pemuda dewasa juga karena penampilannya kini lebih mirip seperti bangsawan atau dari kalangan istana. Meskipun sebenarnya corak bunga teratai masih menghiasi punggungnya.


Ia memperhatikan luka di tangannya kemudian menatap Tan Hao beberapa kali, mengabaikan pertanyaan Lian Ho.


'Siapa pemuda ini? Menurut informasi, seharusnya rekan Seruling Tua itu muridnya sendiri, bukan? Tapi pemuda ini tak terlihat seperti seorang murid,' Tetua Jing Yun mengamati Tan Hao dari atas sampai bawah berulang kali untuk mencoba mengenali sesuai informasi yang ia dapatkan namun ia harus kecewa sebab ternyata berbeda.

__ADS_1


"Kau melamun apa! Aku bertanya padamu, kau punya rencana apa untuk melawan mereka?" bentak Raja Tempa merasa dongkol dengan sikap Tetua Jing Yun yang mengacuhkannya.


"Ah tidak! Aku mungkin salah mengenali orang, hmm ... Sayangnya aku tidak punya rencana sama sekali saat ini, ku pikir bisa mengalahkan Seruling Tua itu sebelum rekannya datang tapi ternyata perhitunganku kurang tepat,"


Lian Ho bersungut sebal, ia tak habis pikir dimana pikiran Jing Yun berada. Tindakannya yang semula penuh perhitungan kini tiba-tiba menguap begitu saja. Sedangkan Yao Yuen masih terus memerhatikan Tan Hao sembari mengingat ingatannya.


Sementara disisi lain, Fen Fang dan Tan Hao telah mengakhiri perdebatan kecil mereka yang berakhir dengan kekalahan Fen Fang. Itu terlihat sebab Fen Fang menjadi lebih pendiam, tetapi raut wajahnya seperti seorang yang kalah taruhan.


"Aku mana tahu, kau mengenal mereka! Lagipula, kenapa kau kemari? Bukankah seharusnya kau menikmati pertarunganmu disana, Cih ...!" ujar Fen Fang datar, terlihat raut wajahnya begitu kekanak-kanakan.


Entah bagaimana bisa, semenjak bersama dengan Tan Hao. Ia seperti kehilangan sifat dingin misteriusnya dan terkesan seperti seorang anak beranjak dewasa.


"Ceritanya panjang, kurang lebih enam tahun lalu. Tapi sepertinya Tetua Jing Yun tak mengenaliku, bahkan Senior Tiandou saja bisa langsung mengenaliku,"


Tan Hao mengubah posisi tubuhnya menghadap Tetua Jing Yun dan lainnya, tetapi meskipun begitu nyatanya Tetua Jing Yun masih tak dapat mengenali wajahnya.


Hal itu disadari ketiga orang tersebut yang kemudian bersiaga penuh, mengakhiri pembicaraan mereka.


"Salam Hormat, Tetua Jing Yun! Kaisar Obat, Yao Yuen!"


Ketiganya saling pandang ketika Tan Hao sembari tersenyum ramah memberi salam sekaligus membungkukkan badan.


***


Laju Liu Zey terhenti ketika jejak yang ia ikuti terputus di depan sebuah anak tangga bangunan yang nampak seperti bekas kuil pemujaan.


Setelah mengamati sekitar, ia memutuskan untuk menaiki anak tangga menuju bangunan yang letaknya lebih tinggi dari bangunan lain.

__ADS_1


BLAARRR!!


Ledakan tiba-tiba terjadi begitu saja, membuat Liu Zey tercekat kaget dan secara reflek langsung meraih busurnya bersiap waspada.


'Apa itu tadi? Pertarungan kah? Ditempat ini?' Liu Zey masih tetap berwaspada sembari melanjutkan langkahnya.


Sementara di dalam bangunan, Nian Zhen terlihat sedang menghancurkan penghalang hitam yang menyelimuti sebuah peti kayu berukuran sedang.


"Siapa yang menaruh penghalang sekuat ini ditempat seperti ini? Tapi, kemungkinan Kitab Suci Sembilan Surga itu ada di dalam peti kayu ini! Aku harus cepat menghancurkannya," sungut Nian Zhen setelah beberapa kali mencoba meninju sekuat tenaga yang juga dilapisi tenaga dalam namun tak ada perubahan apapun.


Raja Yan Ho secara khusus memang menugaskan Nian Zhen untuk mendapatkan salah satu kitab alam dewa itu. Tak ada seorang pun yang tahu keberadaannya terdapat di Desa Hibei, bahkan Asosiasi Menara Emas pun tak mengetahuinya.


Satu-satunya yang mengetahui keberadaannya hanyalah kepala desa lama Jun Shan yang juga merupakan budak peliharaan Raja Yan.


Hal menariknya adalah kitab tersebut bukan hanya berisi tentang seluk beluk alam dewa, tetapi juga memuat sebagian besar pengetahuan tentang tata cara berkultivasi hingga menembus tingkatan Suci, disamping itu juga terdapat satu lembar terakhir yang berisi manuskrip kuno mengenai pondasi wilayah serta pembentukan Kekaisaran Tang yang hancur ribuan tahun lalu.


Raja Yan menginginkan manuskrip tersebut untuk kembali menguasai Benua Perak atas nama Kekaisaran Tang dan menggulingkan tahta kekaisaran kakak sepupunya sendiri. Memanfaatkan sekte aliran hitam dan juga Kerajaan Shu yang terkenal rakus harta sumber daya.


Raja Yan juga hanya menugaskan selir keempatnya untuk mengawasi rencana besar yang ia lakukan, demi menghindari keterlibatannya secara langsung oleh Kaisar Wang.


BLAARR!!


DDUARR!!


Ledakan yang terus menerus terjadi, membuat Liu Zey semakin yakin kalau di dalam bangunan tak terpakai tersebut ada aktifitas tidak wajar.


Langkahnya sangat hati-hati mendekati pintu masuk, sementara hawa keberadaannya ia tekan sekecil mungkin.

__ADS_1


Nian Zhen sendiri terlihat seperti kehabisan kesabaran dalam menghancurkan pelindung hitam tersebut. Kelihatan sekali dari raut wajahnya sebuah kemarahan.


__ADS_2