
" Ketua Zhang, dua orang tetua sekte Tujuh Tombak Emas ingin bertemu.." ucap seorang pria berbadan kekar serta sebuah pedang terselip di pinggangnya memberi hormat serta kabar kepada seorang wanita yang sudah berumur 50 tahunan namun mempunyai wajah muda yang sedang duduk menikmati segelas teh di ruangannya.
" hmm, baiklah. Sebentar lagi aku akan menemuinya di ruang pertemuan. Pastikan mereka dijamu dengan baik.." kata Wanita itu yang merupakan Ketua Sekte Anggrek Suci, Zhang Weili.
" Baik Matriark " ucap Pria tersebut yang langsung meninggalkan dan melakukan sesuai perintah Ketua Sekte.
Memang setelah peristiwa yang terjadi, dengan kesepakatan bersama yang akan bertugas ke Sekte Anggrek Suci adalah Tetua Feiying dan Tetua Shuxan. Bukan tanpa alasan mereka yang dipilih, sebab Tetua Shuxan lah yang paling dekat dengan Anggrek Suci karena dia merupakan keturunan dari Patriark pertama yang juga keponakan dari Matriark Zhang Weili.
Shuxan kecil dikirim ke Sekte Tujuh Tombak Emas oleh ayah dari Zhang Weili yang juga merupakan paman dari Shuxan sebab Anggrek Suci waktu itu dalam kondisi sulit bahkan Zhang Weili muda menikmati hari-harinya lewat pertempuran.
Singkat cerita, ketika Shuxan telah dewasa, ayah Zhang Weili memintanya kembali ke sekte Anggrek Suci untuk menggantikanya pemimpin tetapi Shuxan menolaknya dan lebih memilih tetap di Tujuh Tombak Emas karena merasa meninggalkan rumah sendiri.
Shuxan meminta pamannya untuk mengangkat Zhang Weili sebagai pemimpin selanjutnya dan akan membantu kapanpun dibutuhkan, karena waktu itu tidak ada seorang pun yang ilmu serta pengalaman bertempurnya sebanyak Zhang weili.
Dan tanpa di duga, bersamaan dengan diangkatnya Zhang Weili sebagai Matriark Anggrek Suci diumur 30 tahun, Shuxan juga diangkat sebagai Tetua Tombak ke 9 diumurnya yang ke 20 tahun. Bahkan lebih muda dari Tiandou saat diangkat sebagai Tetua Tombak ke 10.
Karena kedekatan itu pula lah yang menjadikan Ketua Sun sian memutuskan mengirim Putrinya untuk belajar dari Zhang Weili yang juga kala itu diantarkan langsung oleh Shuxan.
Beberapa saat kemudian setelah menyantap beberapa hidangan sebagai jamuan, Tetua Shuxan serta Tetua Feiying diarahkan untuk langsung menuju Ruang pertemuan.
" Ahh, sudah lama aku tidak merasakan suasana ruangan ini, setelah sekian lama ternyata masih sama, hihi.." gumam Tetua Shuxan.
Tetua Feiying tidak menanggapi perkataan Tetua Shuxan dan hanya duduk dengan tenang.
Sementara itu dari arah belakang muncul seorang wanita muda dengan penampilan elegan setelan putih bermotif Bunga Anggrek dengan rambut tergelung rapi yang ditusuk mendatar.
" Heh, dasar bocah busuk. Masih ingat pulang.."
"Ohh, Salam untuk Bibi, eh maksudku.. Salam Matriak Zhang.." ucap Tetua Shuxan dengan canggung.
" Sudahlah, apa yang membuatmu datang kemari? Coba ceritakan. Oh ya bagaimana keadaan Mei'er, bocah itu sudah 2 tahun kembali namun tak pernah mengabariku sama sekali. Hoh.." Zhang Weili berbicara sambil mendekat setelah itu duduk didepan tempat duduk Tetua Feiying yang terpaut jarak oleh sebuah meja panjang.
Mendengar perkataan Matriark Zhang weili, membuat Tetua Feiying dan Tetua Shuxan mengernyitkan dahi serta saling berpandangan.
" Sejujurnya, kedatangan kami berkenaan tentang masalah salah satu Anggota Sekte Anggrek Suci, apakah Si Wu merupakan Murid senior atau kah guru murid luar?." Tetua Feiying langsung berbicara pokok inti permasalahan dengan wajah tegas.
" Oh Si Wu, dia hanyalah guru pembimbing murid luar sekte, apakah ada masalah?? sergap Matriark Zhang Weili dingin.
" Ahh itu... begini bibi, dia bersama dengan salah satu orang Lembah Hijau ingin melakukan upaya pembunuhan Patriark Sun Sian, namun berhasil digagalkan dan dia terbunuh.." Tetua Shuxan sedikit ragu namun dengan lancar menjelaskan.
" A-apa?? Jadi dia berkhianat? dasar tikus busuk..
" Bukan hanya itu saja, dia ke sekte beberapa hari yang lalu bersama dengan nona Liqin Mei yang ternyata merupakan salah satu Tetua Lembah Hijau yang sedang menyamar.." sergap Tetua Feiying tegas.
" Tunggu dulu, bukankah Mei'er sudah kembali 2 tahun yang lalu? lalu kenapa bisa seperti itu??" dengan wajah dinginya namun kebingungan jelas terlihat dari rona wajah Matriark Zhang ketika berbicara.
__ADS_1
Tetua Shuxan hanya diam saja karena memang belum mengerti kejadian sebenarnya dan hanya menatap Tetua Feiying berharap dia bisa menjelaskannya.
Dengan anggukan singkat Tetua Feiying kembali menatap Matriark zhang.
" Nona Liqin Mei tidak pernah kembali, Lembah hijau telah menyekapnya selama ini. Bahkan Si wu pun tidak tahu mengenai hal ini, meskipun dia berkhianat namun dia hanyalah korban dari situasi ini.
Patriark Sun sian mengutus kami kemari juga berkenaan untuk meminta bantuan. Sekte Tujuh Tombak Emas akan melancarkan serangan langsung ke Lembah Hijau ketika Nona Mei telah dibebaskan.."
" A-apa? apa-apaan semua ini, kenapa selama ini aku tak pernah mendengar berita sepenting ini? Para Tetua Anggrek Suci kurang ajar, pasti mereka menyembunyikan berita ini dariku.." Matriark Zhang Weili berbicara dengan berdiri cepat menatap dingin penuh amarah.
" Bibi, tenangkan dirimu. Masalah ini memang tidak ada yang mengetahui, kami baru mengetahui kemarin.
oh iya bibi aku hampir lupa, Sekte kami telah mendapatkan seorang anak muda dengan bakat luar biasa serta kemampuan tinggi, dia juga yang menggagalkan upaya pembunuhan itu serta menyembuhkan sakit yang di derita Patriark Sun Sian, bukan hanya itu saja. Dia bahkan telah membersihkan Pengkhianat dari Sekte kami, dan baru-baru ini memberitahu kami tentang situasi yang dialami Nona Mei.." sergap Tetua Shuxan sopan dan langsung menjelaskan tentang orang yang telah membantu sekte Tujuh Tombak Emas.
" Hng.. Apakah begitu? lalu siapa pemuda yang kau maksudkan, murid sekte kalian?..ucap Matriark Zhang Weili dengan ketegangannya yang telah mereda serta kembali duduk.
" Dia adalah Tan Hao, seorang pemuda berumur kurang lebih 13 tahun yang juga telah menyelamatkan kami beberapa waktu lalu saat sedang dalam misi melawan anggota Golok Bara Api. Bahkan menurut Tetua Tiandou, Su xiang dan Su jie dibuat tak berdaya dan tenaga dalamnya dimusnahkan.." tandas Tetua Feiying menegaskan perkataan Tetua Shuxan.
" Su xiang? Su jie? kedua orang itu tak berdaya di hadapan seorang bocah berumur 13 tahun? heh... kalian jangan membual. Itu mustahil.." Matriark Zhang sedikit kaget namun seketika berekpresi sinis tak percaya.
" Oh tidak percaya? Seberapa kuat Kaisar Obat menurutmu??.." ucap Tetua Feiying tenang namun tatapannya tajam.
" Aku yang berada ditingkat Pertapa Langit, tentu saja akan kalah telak dalam 3 jurus.. Hmm apa maksudmu menanyakan itu??.." Matriark Zhang menjawab dengan santai namun seketika berubah serius.
Matriark Zhang weili kaget, secara refleks menatap Tetua Shuxan dengan ekspresi tidak percaya.
Dengan senyum canggung serta ekspresi ragu-ragu Tetua Shuxan hanya mengangguk pelan.
" Oh menarik. Baiklah kalau begitu. Kapan penyerangan akan kalian lakukan, seberapa besar kekuatan yang dibutuhkan untuk itu.." kata Matriark Zhang dengan nafas setengah tertahan.
" Kami hanya membutuhkan beberapa puluh orang Pendekar tingkat Ahli Puncak dan beberapa Pertapa tingkat Ahli Atas..Apakah Matriark bersedia mengirimkannya beberapa hari lagi.." ucap Tetua Feiying tegas dengan senyum tipis.
" Apa kalian bercanda? Lembah Hijau tidak sekecil itu, mereka hanya mengantarkan nyawa jika hanya beberapa puluh orang.." ucap Matriark Zhang Weili dengan tegas disertai sipitan mata tajam.
" Tenanglah, kehadiran mereka hanya jika diperlukan, tidak benar-benar bertempur. Yang akan berada di garis depan adalah aku, senior Jing yun, dan Junior Tiandou. Yang akan bertempur langsung tentu saja Bocah yang anda ragukan kemampuannya barusan beserta keempat pelayannya.." kata Tetua Feiying dengan senyum penuh makna.
Tetua Shuxan hanya diam dan sesekali tersenyum canggung.
" Jika bibi masih juga tidak percaya, aku sarankan bibi ikut untuk menyaksikan. Tapi, aku tidak bisa menemani bibi, aku berjaga di sekte dengan beberapa Tetua Tombak yang lain sesuai arahan Patriark Sun Sian.."
" Hng.. baiklah aku bersedia membantu dan aku sendiri yang akan memimpin. Kalian hanya tinggal memberi kabar lagi ketika waktunya telah tiba, aku pastikan telah menyiapkan mereka semua.." Kata Matriark Zhang Weili dengan ekspresi mengalah dengan mata menutup.
" Baiklah jika begitu, tugas kami sudah selesai disini, sekarang kami akan kembali untuk menyusun rencana kembali.." ucap Tetua Feiying bangkit dari duduknya yang diikuti tetua Shuxan.
Kemudian Tetua Feiying memberi salam hormat singkat lalu menghilang sekejap menggunakan jurus Angin Senyap.
__ADS_1
" Bibi, aku kembali dulu. Aku senang melihat bibi baik-baik saja. Dan oh ya, bibi masih saja begitu cantik, membuatku sedikit canggung, hehe he hehe.." kata Tetua Shuxan dengan malu-malu serta senyum ringan yang sesaat kemudian menghilang mengikuti Tetua Feiying.
" Bocah busuk, masih berani menggoda bibimu.." seru Matriark Zhang Weili dengan ekspresi marah namun diakhiri senyum ramah.
" Dasar anak nakal, sekalinya kembali hanya sesaat saja bahkan tak sempat untuk memelukmu, heh.. tapi bibi bangga padamu, kakak Shui juga pasti bangga melihatmu.." gumam Matriark Zhang weili dengan mata menutup serta senyum menawan kemudian meneteskan airmata ringan.
•••
Didalam hutan tidak jauh dari tempat Sekte Anggrek Suci berada Tetua Feiying Dan Tetua Shuxan terlihat sedang berlari diatas pohon dengan menginjak dahan-dahan pohon dengan cepat serta beiringan.
" Junior, aku tak menyangka bibimu secantik itu, apa kau tahu daritadi aku menahan sesuatu yang rumit dalam kepalaku.. heh.." ucap Tetua Feiying dengan senyum canggung tapi tatapan lurus kedepan.
" Ahh soal itu emmm.. aku pun juga mengalaminya. Sungguh aku tidak menduga, terakhir kali kuingat wajahnya tidak berubah sama sekali, bahkan menurutku lebih muda dari yang kuingat.. ohh emm.." kata Tetua Shuxan dengan ekspresi malu-malu.
" Kau yang bodoh, punya bibi secantik itu tapi tak pernah mau kembali. haihh andaikan aku, sudah pasti tak akan sedetikpun pergi dari sisinya ehehe hehe.." seru Tetua Feiying dengan senyum nakal kemudian berhenti disalah satu dahan pohon besar yang juga diikuti Tetua Shuxan.
" Hmmm, aku tahu apa yang senior Fei pikirkan, buang jauh-jauh pikiran konyol itu atau..
" hahaha, aku beri sesuatu yang menarik..
ucap singkat Tetua Feiying dengan cepat menarik kerah baju bagian leher belakang Tetua Shuxan yang langsung melesat dengan kecepatan tinggi.
Hng.. sreeetttt...
Wuusssshhhhhh
Tetua Feiying berlari dengan kecepatan tertinggi kekuatan energi Spirit yang dimiliki. Dia berfikir untuk mencoba menggunakannya dalam berlari selain untuk mengetahui batasnya juga untuk melatih pengontrolan aliran Energi Spirit.
Meskipun tidak secepat Tan Hao di kecepatan sedangnya ketika melakukan hal yang sama pada Tetua Tiandou tetapi bagi Tetua Feiying itu merupakan kecepatan yang tidak pernah ia miliki selama ini. Dan bagi Tetua Shuxan ini merupakan kali pertama ia merasakan sensasi bagaikan berada di pusaran Angin topan yang besar hingga membuatnya sulit bernafas penglihatan buram serta perut terasa di gulung ratusan cacing.
Beberapa saat kemudian.
" Baiklah, kurasa cukup. Bagaimana menurutmu peningkatan kecepatanku, junior.." ucap Tetua Feiying ketika telah berhenti di atas batu besar di pinggir aliran sungai kemudian melepaskan pegangan tangannya di kerah baju Tetua Shuxan.
" bbrruukkk "
" ehh, junior. junior shuxan. aihh kenapa malah pingsan.." ucap Tetua Feiying dengan menepuk jidatnya pelan.
••••••••
untuk Panggilan ketua sekte, saya ganti dengan sebutan Patriark dan Matriark. Bertujuan untuk membedakan pria dan wanita.
Dan Terimakasih untuk dukungan yang telah diberikan.
Selamat berfantasi.
__ADS_1