Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 185 ~ Menuju Tujuh Tombak Emas


__ADS_3

Beberapa saat lalu Tan Hao kembali dengan membawa beberapa ekor Kelinci Merah, meskipun sikap Lan Lihua masih saja membuatnya canggung ketika masih harus menunggu dirinya selesai memasak.


Sebenarnya Tan Hao menyadari ketegangan yang terjadi antara Fen Fang dan Lan Lihua, namun ia enggan untuk mengorek lebih jauh karena jelas terlihat saat mereka menyantap kelinci panggang buatannya tak ada kata yang keluar dan bahkan tempat duduknya berjauhan.


Selesai menyantap hasil buruan tersebut, mereka masih saja diam. Sementara Tan Hao tak mengerti harus bagaimana menyikapi tapi kemudian ia teringat kalau beberapa waktu lalu belum sempat menanyakan keberadaan Bing Long.


Demi mengurangi rasa kesal Lan Lihua, Tan Hao memberinya sebuah gelang giok berwarna hijau sembari tersenyum manis.


"Daritadi aku tak melihat Paman Bing Long? Aku memintanya menjagamu, apa dia sudah pergi saat kau siuman!" Tan Hao bertanya sambil memasangkan gelang tersebut.


Lan Lihua nampak berseri namun terlihat ia sembunyikan, "Paman Bing ada urusan mendadak, dia hanya bilang akan kembali beberapa hari lagi. Aku juga tak tahu kemana perginya, kenapa?"


Tan Hao tersenyum paksa mendengar jawaban ketus Lan Lihua sembari mengangkat kedua tangannya di depan dada, "Ah tidak! Aku lihat kau sudah sehat, sepertinya ini waktu yang tepat untuk kembali ke sekte Tujuh Tombak Emas...!"


'Belum ada sehari penuh tapi kondisinya kenapa bisa membaik secepat ini? Tangannya juga terasa lebih hangat dari sebelumnya. Entah ini berita baik atau tidak, tapi sepertinya Hua'er sudah tidak masalah lagi. Tapi meskipun begitu, aku harus segera mungkin mencaritahu penyebab salah satu bintang itu kehilangan cahaya...!' batin Tan Hao tersenyum sambil memandang Lan Lihua.


"Kenapa kesana? Menemui salah satu wanitamu...? Aku heran, kenapa orang sejelek dan sebodoh dirimu banyak sekali wanita yang tertarik!" ketus Lan Lihua sekali lagi tapi kali ini menatap lekat-lekat wajah Tan Hao.


"Termasuk dirimu, kan!" sindir Tan Hao memandang mata Lan Lihua penuh makna.

__ADS_1


"Apa kau bilang...? Mudah sekali bicaramu seperti itu, cih!" Tan Hao terkekeh ringan sebelum menoleh kearah Fen Fang yang masih duduk diam, seolah tak terganggu dengan pertengkaran kecil tersebut.


Fen Fang bersikap datar sambil membuang tusuk daging yang baru saja ia gunakan, "Sebaiknya kita mempunyai kuda atau semacamnya, tak baik jika terus menerus menggunakan kemampuan untuk melakukan perjalanan. Sebisa mungkin kita tidak terlalu mencolok,"


Apa yang dikatakan Fen Fang memang ada benarnya, sejenak Tan Hao memikirkan hal itu. Memang benar kalau selama ini dirinya selalu menggunakan kemampuan terbang dan ruang dimensi untuk pergi ke tempat lain.


Dan hal lainnya, dengan menggunakan kuda dirinya bisa lebih mengenal tempat-tempat yang ada secara keseluruhan. Perjalanan yang memang akan memakan banyak waktu, tetapi dengan menggunakan kuda. Hal hal yang mungkin penting tak terlewat lagi seperti yang sudah-sudah.


"Ide bagus, Kakek! Tapi dimana kita bisa mendapatkan kuda? Aku tak pernah menemui kuda liar sekalipun...!"


"Kita beli di pasar terdekat! Untuk apa kau memiliki banyak uang jika hanya sebagai barang rongsokan! Menurut perkiraanku, beberapa belas mil dari tepi hutan utara ini ada satu kota. Kita beli kuda disana, itu juga kalau kau mau," Fen Fang berdiri sembari membersihkan debu di pakaiannya.


"Cih, aku berniat membangun gunung emas ketika nanti aku punya istri! Apa tidak sebaiknya mencari kuda liar dan menundukkannya saja ...!" kelakar Tan Hao sembari melirik Lan Lihua seolah ingin melihat reaksinya.


Posisi mereka saat ini yang berada di ujung barat Benua Perak dan hanya berjarak kurang lebih seratus mil dari Benua Naga, membuat perjalanan mereka akan menjadi semakin panjang.


Menurut perkiraan Fen Fang, dengan menggunakan kuda kualitas bagus mereka akan sampai di sekte Tujuh Tombak Emas paling lama satu minggu. Waktu yang cukup untuk menyesuaikan kemampuan serta mendapatkan berbagai informasi selama perjalanan.


Lan Lihua sendiri terlihat senang dengan keputusan Tan Hao yang setuju menggunakan kuda, dirinya juga merasa lelah jika harus terus berlari dan mengandalkan kemampuan.

__ADS_1


Mereka bertiga baru akan sampai di kota terdekat dua hari perjalanan kaki, meskipun begitu. Baik Tan Hao maupun Lan Lihua tidak mempermasalahkannya, sebab mereka juga menyadari jika terburu-buru juga hasilnya tidak akan bagus. Hanya menyelesaikan satu masalah tanpa tahu masalah-masalah yang lain yang mungkin sedang terjadi di setiap sisi Benua Perak ini.


Tan Hao sendiri memutuskan untuk tidak kembali ke Hibei, ia percaya dengan keberadaan pendekar dari asosiasi dan juga beberapa pendekar dari aliansi yang tetap tinggal untuk membantu pembangunan kembali desa.


Tapi hal berbeda justru terlihat dari raut wajah Lan Lihua yang telah mulai bersikap wajar kembali. Alasan sikapnya pada Tan Hao beberapa waktu lalu sebenarnya berkaitan dengan dirinya seperti diacuhkan begitu saja. Hal itu pula yang menjadikannya kini lebih banyak diam daripada ikut pembicaraan tak jelas dari dua orang di depannya itu.


Lan Lihua nampak serius menatap tanah ditengah langkah kakinya, 'Liu Zey...! Aku berharap kau baik-baik saja, maafkan aku yang tak sempat mengunjungimu lagi. Mungkin kita akan segera bertemu kembali...!'


Pada saat yang sama, Xue Mei telah selesai memulihkan Liu Zey dengan bantuan Die Lin. Namun meski begitu, kondisi Liu Zey sendiri belum bisa dikatakan sembuh. Luka dalam yang dialaminya bukan sesuatu yang gampang untuk menyembuhkannya, bahkan juga telah menghabiskan beberapa butir pil kualitas tinggi milik Die Lin.


Selain itu, keberadaan Tetua Shuxan dan Su Kong yang menghilang tanpa jejak juga tak disadari Tan Hao, setelah peperangan berakhir pun keduanya juga tak terlihat diantara penduduk desa yang telah keluar dari persembunyian beberapa waktu lalu bersama kepala desa baru.


Belum ada sehari tapi perang yang terjadi di Hibei segera tersebar ke kota-kota terdekat. Kota-kota tersebut memang tak terdampak apapun selain sebagai tempat singgah para pendekar aliansi.


Ketika malam telah mulai datang, Desa Hibei terlihat gelap gulita dan hanya ada tiga titik pijar api sebagai penerangan. Terlihat juga disisi desa terdapat sebuah lahan kosong, tempat itu merupakan kuburan massal yang dibuat pendekar aliansi sebagai pilihan lain, sebab sebelumnya Tetua Jing Yun tak mengijinkan mayat-mayat itu untuk dibakar.


Dengan memilih melakukan perjalanan menggunakan kuda, Tan Hao tak tahu masalah apa yang harus ia hadapi nantinya. Tapi, ini merupakan awal perjalanan sesungguhnya setelah beberapa tahun dihabiskan hanya untuk mengurusi beberapa permasalahan.


Akan ada banyak masalah menanti di depan, keberadaan Fen Fang disisinya juga merupakan hal di luar dugaan. Awalnya ia hanya ingin berdua menjelajahi dunia bersama Lan Lihua tapi dengan adanya Fen Fang saat ini secara tidak langsung juga mempermudah dirinya mengetahui maupun mengatasi permasalahan.

__ADS_1


Tak dipungkiri lagi, pengetahuan Fen Fang selama puluhan tahun berkelana di alam bumi menjadikannya sosok yang pas sebagai sahabat dan juga teman seperjalanan. Meskipun sebenarnya Tan Hao masih mewaspadai Fen Fang. Tingkah laku serta sifatnya yang tak mudah ditebak menjadi alasan keyakinannya untuk menilai.


Ketiganya berjalan santai menembus rimbunnya Hutan Hibei walaupun malam telah datang. Tak ada satupun diantara mereka yang mengeluh, kecuali saling sindir Tan Hao dengan Fen Fang. Sementara Lan Lihua menjadi lebih pendiam dan hanya bersikap tenang dibelakang keduanya.


__ADS_2