
Pertarungan keduanya berlangsung cukup cepat, adu ketangguhan disertai kekuatan serangan tak terhindarkan. Benturan kedua senjata menggema cukup nyaring, hingga menimbulkan keretakan tanah dimana-mana.
Energi tenaga dalam yang dimiliki Shan Wa cukup besar, sedangkan Tan Hao tak berniat meningkatkan kekuatannya. Ia masih menggunakan kemampuan setara Pertapa Cahaya, meskipun sebenarnya ia bisa dengan mudah menambah tingkat kekuatannya.
Mengontrol sesuka hati tingkat kekuatan yang di miliki cukup sulit dilakukan oleh pendekar biasa, hanya Tan Hao yang selama ini mampu melakukannya. Disisi lain, secara bebas menggunakan tingkatan kekuatan dibawah dari apa yang dicapai mengharuskan seorang pendekar memiliki konsentrasi yang tinggi, sebab jika kehilangan kontrol energi akan menyebabkan tekanan di titik meridian akan melonjak cepat dan berakhir meledak.
Shan Wa cukup lihai mengimbangi kecepatan Tan Hao sembari menggunakan pedang besarnya yang sebenarnya memiliki beban cukup berat. Hawa tekanan yang dimiliki pedang pemenggal kepala yang memiliki kualitas langit tingkat atas tersebut sebenarnya mampu menekan seorang pendekar setingkat pertapa bumi dan dibawahnya.
Pedang Harimau Putih yang di gunakan Tan Hao memiliki kualitas suci tingkat menengah, satu dari tiga benda yang dibawa Tan Hao ketika mendapatkan Zirah Naga Suci itu mempunyai daya serang dan bertahan sama baiknya meskipun cara kerjanya dengan menyerap kekuatan pengguna, sama seperti Zirah Naga Suci hanya saja memiliki beberapa kekurangan dalam efisiensi penggunaan.
DUAARR ...
SWOOSH ...
"Aku tak mengira, orang ini hebat juga! Mungkin Tuan Mu akan mendapatkan lawan sebanding, tapi bukankah ini kesempatan bagiku untuk menunjukkan kemampuan ...!" batin Shan Wa sembari melompat ke belakang mengambil jarak setelah serangannya tak menghasilkan apa-apa.
Disisi lain, Tan Hao fokusnya teralihkan oleh salah satu dari dua orang yang terlihat tersenyum kearahnya berada di puncak menara, kelihatan jelas jika mereka berdua seperti menonton pertarungan Tan Hao.
Shan Wa kembali menyerang Tan Hao, tetapi kali ini ia tidak menggunakan pedangnya. Melainkan menggunakan kedua tangannya yang nampak memakai senjata seperti cakar dengan tiga bilah pisau di masing-masing lengannya.
"Cih! Siapapun dia, jika telah terkena racunku ... Tamat riwayatnya," batinnya sembari mencakar Tan Hao bergantian.
Cukup lama Tan Hao hanya menghindari serangan Shan Wa, ia bahkan tak menggunakan pedangnya untuk menangkis. Sebab, persepsi jiwanya masih tertuju oleh orang yang berada di atas menara tersebut.
Kesadarannya kembali tertuju pada Shan Wa, ketika pipi kirinya tergores tipis. Tan Hao tidak meremehkan Shan Wa, tetapi tekanan aura orang itu yang membuatnya terus bersikap waspada dan sedikit banyak mengabaikan orang yang tengah menyerangnya itu.
"Oh ...!"
Tan Hao sedikit menyeringai tajam sembari mengusap darah di pipinya menggunakan jari telunjuk, sementara Shan Wa terlihat terkekeh sesaat kemudian kembali menyerang Tan Hao. Kecepatan serangannya semakin meningkat mengetahui kalau Tan Hao telah teralihkan fokusnya.
"Apakah itu orang yang kau maksud? Hmm ... Sepertinya dia boleh juga," gumam Yan Chui sembari masih mengamati pertarungan antara Tan Hao melawan Shan Wa.
"Hehe ... Benar! Dia lumayan mengganggu, tapi tidak akan merepotkan kita. Kata guruku, itu tidak masalah,"
__ADS_1
Yan Chui terlihat menatap dengan serius, hingga ia beberapa kali mengernyitkan keningnya melihat tindakan demi tindakan yang dilakukan Tan Hao.
"Jangan meremehkan orang itu! Kau tak akan tahu sebelum melawannya sendiri. Entah kenapa, aku merasa ada yang aneh dengan orang itu ...!"
Hembusan angin menemani dua orang yang berdiri di atas menara tersebut, sambil menyaksikan pertarungan yang terjadi. Sementara Tan Hao masih belum melakukan perlawanan dan hanya menghindarinya saja. Seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Sampai kapan kau akan menghindar? Apa kau jadi pengecut setelah terluka, heh ...!" seru Shan Wa setelah lebih dari belasan serangan ia lepaskan namun tak juga membuat Tan Hao menyerang balik.
Sesaat Tan Hao menatap langit seperti sedang memastikan sesuatu, kemudian memandang Shan Wa kembali.
SWOOSH ...
Tan Hao mengibaskan tangan kirinya setelah itu, membuat Shan Wa terpental beberapa meter oleh hembusan angin yang tercipta secara tiba-tiba.
"Cuih ...!"
"Waktumu sudah habis! Katakan selamat tinggal dunia sebelum kau kehilangan nyawa,"
WHONG ... WHONG ...
WUSH ... WUSH ...
Shan Wa terkejut melihat dengan mata kepalanya sendiri, betapa besar kekuatan yang dilepaskan Tan Hao. Ia tak mengira jika Tan Hao masih menyimpan kekuatannya selama ini, bahkan ia menjadi sedikit tertekan dengan aura kekuatan ungu gelap tersebut.
Sama halnya dengan Yan Chui, ia juga terkejut sesaat. Tetapi tidak dengan Yan Mu, ia masih bersikap santai sembari tersenyum walaupun sorot matanya terlihat lain.
"Uh! Naik tingkat ya ...!"
Tan Hao mengeluarkan aura dewa bertipe pembeku jiwa hampir bersamaan saat ia melepaskan kekuatannya yang setara Pertapa Alam Semesta tahap dasar. Kekuatan yang naik satu tingkat secara tiba-tiba itu membuat Shan Wa mengira jika Tan Hao tengah naik tingkat, hal itu tidak membuatnya menyadari jika pergerakannya telah terkunci.
JARI PEDANG : TERKAMAN LANGIT
... JDEERRR ... JDERR ...
__ADS_1
GROARR ...
HONG ... HONG ...
"Apa yang terjadi! Tubuhku ...!"
BLAARRR ...
SHING ...
Shan Wa terhantam kilatan petir berbentuk kepala harimau lengkap dengan dua cakar, kejadian itu terjadi sangat cepat hingga membuatnya terlambat menyadari jika tubuhnya telah terkunci mati ditempatnya.
"Fiuhh ...! Jurus yang hebat, tapi ...." cakap Yan Mu singkat bersamaan dengan ia menjentikkan jarinya.
WHUNG ...
Cahaya kemerahan muncul dari dalam tanah, tepat di bawah tubuh dari Shan Wa yang tengah terhantam petir. Cahaya tersebut dengan cepat membumbung ke angkasa, menyebabkan jurus yang di keluarkan Tan Hao seperti tertelan cahaya tersebut.
Tak berselang lama, terjadi gejolak energi yang begitu kuat tepat di tengah lingkaran cahaya tersebut yang merupakan tempat Shan Wa berada.
"Ini ...! Orang itu?!"
Tan Hao menoleh dengan cepat kearah puncak menara, terlihat di sana Yan Mu seperti melambaikan tangan di sebelah pelipisnya seolah memberitahu Tan Hao bahwa itu adalah ulahnya.
"Arrgghhh ...!"
Teriakan keras terdengar begitu kuat sebelum cahaya merah itu meredup dan menghilang. Menyisakan kepulan asap yang menyelimuti tubuh Shan Wa.
Menyadari ada sesuatu yang tidak beres, Tan Hao menggunakan mata dewa untuk bisa melihat apa yang terjadi dengan Shan Wa. Namun, betapa terkejutnya Tan Hao menyaksikan bahwa Shan Wa telah berubah bentuk. Wujudnya dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya, serta berkalung mutiara perak yang cukup besar. Tangan kanannya memegang pedang sementara tangan kirinya memiliki cakar yang terbuat dari besi berwarna keperakan.
"Aku tidak menyangka, ternyata ini wujud dia yang sebenarnya! Pantas penampilan sebelumnya berbeda dari manusia, heh ...!" Tan Hao berdecak pelan sembari menyimpan kembali pedang harimau putih, kemudian menatap tajam kearah menara.
"Baiklah! Aku tahu maksudmu melakukan ini untuk melihat seberapa besar kekuatanku, kan! Heh, sebenarnya aku tak berniat menggunakan pedang itu, tapi kau yang memaksaku, cih ...."
__ADS_1