
Belum terlalu lama keduanya berkeliling, bukan hanya banyak hewan buas yang Tan Hao dapatkan tetapi juga beberapa tanaman sumberdaya kualitas menengah dan satu tanaman kualitas tinggi. Bagi Tan Hao dalam proses menyerap roh energi hewan buas tak sulit sama sekali, namun dirinya harus menyerap minimal seratus roh energi hewan buas untuk bisa sampai pada tingkat dasar seorang Saint Murni.
Kekuatannya saat ini membuatnya tak bisa lagi menyerap langsung tanaman sumberdaya, melainkan harus dibuat dalam bentuk pil sumberdaya yang telah melewati proses pemurnian. Spirit Energi tak menerima sumber kekuatan dalam bentuk kasar, secara alami tubuh akan menolak sekalipun dipaksakan. Kekuatan murni spirit energi juga mengharuskan seorang saint mengkonsumsi sumberdaya dalam bentuk pil atau eliksir.
Eliksir secara umum diketahui sebagai ramuan setara pil sumberdaya, biasanya terbuat dari bahan tak lazim yang bisa dimurnikan. Leluhur Lan pernah menunjukkannya kepada Tan Hao sewaktu dihalaman belakang kediamannya.
"Kakek Fang! Sepertinya, kita sudah terlalu jauh berjalan di padang rumput ini. Tempat ini seolah tak berujung, sebaiknya setelah ini kita kembali," ucap Tan Hao sambil menyerap roh energi Kera Tanduk Emas yang berbentuk seperti kobaran api sebesar kepalan tangan.
"Yah, kau benar! Semakin jauh kita berjalan, takutnya kita berada di wilayah lain. Tapi sebaiknya, kita cari dulu hewan keseratus untuk penyerapanmu! Kurasa ada beberapa lagi Kera Tanduk Emas disekitar sini," balas Fen Fang sambil mengamati pepohonan sekitar yang tumbuh tidak seperti pepohonan diluar padang rumput.
Kera Tanduk Emas biasa aktif saat matahari telah mulai nampak, cukup banyak Tan Hao mendapatkan hewan buas tingkat dasar tersebut dalam kurun waktu hanya beberapa jam. Tapi tak hanya itu, Tan Hao juga berhasil mendapatkan beberapa hewan buas tingkat menengah. Semakin tinggi tingkatnya, maka roh energi dari hewan tersebut semakin cerah.
"Apa kakek pernah ke kota kerajaan? Seperti apa kota kerajaan itu?" tanya Tan Hao sambil berjalan mengikuti Fen Fang dari samping kiri.
"Kota kerajaan, ya! Tempat penuh kepalsuan dan citra baik dari pemimpin negeri. Para petinggi kerajaan yang pernah aku temui, tak satupun yang tidak memiliki rahasia busuk, mereka berlomba-lomba memperkaya diri dan membentuk area kekuasaan sendiri. Begitu pun dengan keluarga besar yang ada, mereka semua seorang penjilat kekuasaan ... Hmm, kau akan tahu setelah melihatnya sendiri!" terang singkat Fen Fang diselingi lirikan kecil ke arah Tan Hao.
"Tidak heran! Bahkan seorang anak tega menyingkirkan orang tuanya sendiri demi kekuasaan, bahkan saudara sendiri seperti kambing buruan. Sepertinya, seorang raja tidak selalu memiliki kedudukan tinggi untuk memerintah! Hmm ... Aku semakin penasaran,"
BOOM!
DUARR!
Keduanya berhenti sejenak dan saling pandang mendengar ledakan yang cukup keras tak jauh dari tempat mereka berada. Tanpa pikir panjang lagi, keduanya berlari menuju sumber suara tersebut.
__ADS_1
KWAAK!
SWOSH ... KABOOM!!
"Oh! Tidak kuduga, tempat ini ternyata memiliki penguasa!" gumam Fen Fang ketika baru saja menjejakkan kaki di cabang pohon disusul Tan Hao kemudian.
Tan Hao mengerutkan dahinya ketika melihat pertarungan dua siluman buas tersebut. Burung Elang emas melawan Singa Bertanduk, kedua siluman buas itu saling beradu serangan. Ledakan yang terjadi akibat benturan kedua serangan siluman tersebut yang masing-masing memiliki daya hancur tinggi. Itu terbukti dari area yang menjadi pertarungan keduanya luluh lantak, bahkan tak ada yang tersisa selain tanah kering berhamburan.
"Bahkan siluman buas pun berebut wilayah kekuasaan, tak ada dari keduanya yang mau melakukan hal itu. Tetapi, mereka harus melakukannya. Satu wilayah tak mungkin ada dua penguasa...!" gumam Tan Hao pelan sebelum melesat diantara kedua siluman buas tersebut.
"Hei...! Apa yang akan kau lakukan, biarkan saja! Jangan ikut campur, tunggu dan ambil keuntungannya nanti ... Ah bocah ini!" seru Fen Fang mencoba menghentikan Tan Hao namun seperti tak dihiraukan.
Fen Fang hanya menghela napas melihat apa yang akan dilakukan Tan Hao, bukannya menunggu dan mengambil keuntungan jika salah satu dari mereka mati. Tan Hao justru ikut campur pertarungan tersebut.
"Heh! Bocah ini, senang sekali ikut campur," gumam Fen Fang tersenyum kecut ketika melihat Tan Hao berdiri melayang diantara dua siluman buas tersebut.
"Dengan kalian bertarung seperti ini, lihatlah apa yang kalian perbuat di tempat ini...! Apakah seorang pemimpin mengorbankan tempat dan bahkan nyawa dari apa yang kalian perebutkan untuk bisa membuktikan kekuasaan kalian?" kata Tan Hao menggunakan persepsi jiwanya untuk mencoba melerai pertarungan yang terjadi.
KWAAK ... KWAAK!!
GROARR ... GRRR!!
Kedua siluman buas tersebut seolah saling berkomunikasi dengan Tan Hao, keduanya seakan menekankan bahwa mereka adalah penguasa tunggal padang rumput tersebut.
__ADS_1
Tan Hao mengerti bahasa siluman buas dengan mengandalkan kitab seribu kehidupan, tak butuh pemahaman lebih untuk mengerti keluhan mereka satu sama lain yang tengah mereka utarakan.
"CUKUP!!"
Kedua siluman buas tersebut tersentak bersamaan, terlihat jelas mereka ketakutan dengan seruan Tan Hao yang dibarengi hempasan aura spirit energinya. Kontan saja membuat kedua siluman buas berbeda tipe itu langsung terdiam.
*****
Sementara itu, di tempat lain diwaktu yang sama. Lan Lihua tengah berjalan santai di pusat desa yang tak jauh dari penginapan. Perasaan buruk yang ia rasakan membuatnya tak bisa tinggal diam dan menunggu Bing Long kembali.
Ia mencoba melihat sendiri situasi yang ada di pusat desa saat matahari masih muda. Perasaannya mengatakan kalau hari ini akan terjadi sesuatu yang besar, untuk itu ia menyelipkan Pedang Bintang Ungu di pinggangnya untuk berjaga-jaga.
Dan benar saja, apa yang dikhawatirkan Lan Lihua. Belum terlalu lama ia berkeliling, sudah beberapa kali ia melihat sekumpulan orang yang terlihat asing membaur dengan para pedagang maupun pembeli di pusat desa yang lebih mirip seperti pasar.
Mata Lan Lihua melirik kesana kemari mencoba mengingat tanda yang ada di baju mereka, sambil berjalan santai melewati kumpulan orang-orang tersebut.
"Orang-orang ini kelihatan berbeda dari yang kemarin aku lawan! Apakah mungkin, ini kelompok lain atau ...."
KABOOM!!
DUARR ... DDUUAARR!!
"Argh ... Tolong!! Tolong!!"
__ADS_1
Teriakan bersahutan menggema setelah terjadi ledakan yang cukup besar, Lan Lihua tersentak dari konsentrasinya terhadap sekumpulan orang-orang yang tak jauh darinya. Pandangannya langsung tertuju kearah asap hitam yang membumbung tak begitu jauh dari tempatnya berdiri, hanya terhalang oleh beberapa bangunan tinggi.
"Ah sial!! Apakah dimulai sekarang!" gerutu Lan Lihua sebelum berlari kearah asap tersebut menggunakan ilmu meringankan tubuh.