Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 149 ~ Pertarungan Sengit


__ADS_3

"Kau...! Sejak kapan kau memiliki mata itu?"


Fen Fang terbelalak ketika memandang mata di dahi Yan Mu. Bukan tanpa alasan, sebab kala Fen Fang menatapnya secara langsung terdapat aura energi hitam kemerahan di atas kepala Yan Mu berwujud kepala harimau dengan tiga mata yang memandang tajam ke arahnya. Hal itu membuatnya tercekat dari pijakannya untuk beberapa saat, jika kekuatannya tidak tinggi mungkin tubuhnya telah terjatuh beberapa saat yang lalu akibat aura menekan sosok tersebut.


"Ada apa denganmu, Pak Tua? Kenapa terkejut begitu ...?" kata Yan Mu tersenyum penuh makna sembari memainkan bola emas ditangannya.


"Mata itu? Mata iblis Harimau Mata Tiga, kan? Bagaimana bisa anak kurang ajar ini mendapatkannya? Seharusnya aku tak mengampuni nyawanya waktu itu ...!" batin Fen Fang menatap serius.


"Heh! Apa kau begitu bangga dengan itu? Jadi benar ya, kau telah menjadi manusia iblis? Kau mengecewakanku, anak busuk!" geram Fen Fang sembari memegang seruling di pinggangnya untuk bersiap.


Yan Mu menaikkan sebelah alisnya menyadari gerakan tangan Fen Fang yang mencoba meraih seruling iblis di pinggangnya. Helaan napas ringan memudarkan mata yang ada di dahinya.


"Ah ... Baiklah, baiklah...! Bawa saja gadis kecil itu, aku terlalu malas untuk mendengar nyanyian jelekmu itu, anggap saja sebagai hadiah untuk balas budiku selama ini," ujar Yan Mu sembari meredam aura pembunuhnya kemudian berbalik badan sambil melambaikan sebelah tangan.


Fen Fang sempat merasa janggal dengan respon Yan Mu yang berubah arah, namun ia tak memikirkan hal itu terlalu dalam. Ia berpikir ini adalah kesempatan bagus untuk membawa Sui Jiu pergi dari menara itu secepatnya sebelum hal tak terduga terjadi dan menggagalkan rencananya.


"Hng! Baiklah...! Ingatlah pesanku ... Karma Alam akan menghukum tindakan dan kesalahanmu, ku harap saat itu tiba kau mengakui penyimpanganmu ...!"


Fen Fang bertindak cepat menggendong Sui Jiu yang sudah tak sadarkan diri dengan mata sedikit terbuka, kemudian memperingatkan Yan Mu sembari melompat pergi melalui jendela yang sebelumnya ia lewati.


Yan Mu hanya terkekeh pelan mendengar peringatan Fen Fang, senyumannya benar-benar lain dari yang selama ini ia tunjukkan. Kemudian ia melangkah keluar ruangan dengan senyum dan tatapan mengerikan.


Sementara itu, Tan Hao masih membombardir Yan Chui dengan serangan cakram teratai. Ruangan di dalam menara tak cukup lebar untuk pertarungan keduanya, itu menyebabkan beberapa saat lalu keduanya tanpa sadar ke luar menara.


"Kadal Zirah Api ini masih termasuk siluman kelas menengah, tapi yang jadi masalahnya dia memiliki zirah api yang tangguh. Bahkan Kalajengking Sayap Angin kesulitan menembus zirah api ditubuhnya ... Aku harus melakukan sesuatu untuk mencari celah zirah itu!" batin Tan Hao sambil mengontrol cakram teratai.

__ADS_1


Merasa tak ada jalan lain lagi, Tan Hao segera melepaskan kekuatannya secara bertahap sampai ke tingkat tertinggi dari tingkat pertapa. Aliran energi tubuhnya yang melonjak dengan kecepatan tinggi membuat area sekitar terkena dampaknya.


"Pertapa Dewa Langit Tahap Puncak!"


Yan Chui tertekan cukup berat ketika Tan Hao telah mencapai titik tertinggi tingkatan pertapa, bukan hanya aura tubuhnya yang berbeda tetapi juga aura energinya meningkat drastis hingga membuat beberapa hewan di radius beberapa puluh meter dari tempatnya berlari menjauh.


Secara bertahap putaran cakram bertingkat tiga itu juga meningkat dua kali lipat dari sebelumnya, hingga menimbulkan suara gesekan antar tingkat kelopak yang memiliki putaran berkebalikan itu membuat gentar gerakan tubuh Yan Chui.


Disaat Tan Hao telah berhasil menyeimbangkan tingkat kekuatan dengan daya serap ruang jiwanya, ia menyadari sesuatu yang hampir terlupakan.


Sembari mengontrol gerakan cakram yang terus menyerang Yan Chui menggunakan tangan kanannya,Tan Hao mengeluarkan Pedang Dewa Hampa dari cincin dimensi dan kemudian menggenggamnya. Ekspresi wajahnya begitu berbeda dari sesaat yang lalu.


"Bagaimana bisa aku hampir melewatkan kesempatan ini! Bukankah dengan menyerap roh energi dari siluman buas adalah syarat penting untuk meningkatkan Spirit Energi ku! Ah ... Hampir terlupakan, keberuntungan ini,"


Semangat yang menggebu terlihat cukup jelas dari guratan senyum di wajahnya, tanpa menunggu lebih lama lagi dengan segera Tan Hao menarik mundur cakram teratai kemudian merubahnya kembali ke wujud semula.


ILUSI DEWA : PEDANG PENGHANCUR


JURUS ILUSI : PEDANG KEMATIAN


WHONGG ... HONG ... HONG ...


DUAARR ... DUARR ...


WHUNG ... WHUNG ...

__ADS_1


BLARR ... SWOOSH ...


HNG ...


Tanpa pikir panjang lagi, Tan Hao menggunakan jurus pedang dewa hampa tingkat pertama dan tingkat ketiga secara hampir bersamaan. Menyebabkan kubah delusi dengan cakupan area yang luas disertai dengan hempasan aura pedang yang sangat tinggi.


Fen Fang melirik kearah energi kuat yang mendadak ia rasakan ketika melayang di udara belum terlalu jauh dari area menara, cukup kuat sampai membuat tubuhnya terkena hempasan walaupun tak berpengaruh apa-apa baginya.


"Wah gawat...! Aku lupa memberitahunya soal penggunaan pusaka itu? Semoga saja Hao Hao tidak berlebihan dalam menggunakannya, atau tubuhnya akan kehilangan daya tahan untuk waktu yang lama," batin Fen Fang dalam laju terbangnya sembari menggendong Sui Jiu.


Yan Chui hanya diam ditempat tanpa mampu berbuat banyak, pikirannya yang telah diambil alih membuat dirinya yang sekarang layaknya hewan siluman buas tak berakal.


Ledakan halusinasi pedang yang menyebar di sekitar tubuh Yan Chui membuatnya seperti dikungkung oleh ratusan pedang, sementara alam bawah sadarnya telah masuk ke dalam ilusi dewa hampa.


Tubuh fisik seperti dirajam ratusan pedang, sementara alam bawah sadarnya disiksa dengan ribuan pedang tanpa batas, sungguh membuat penampilannya saat ini begitu menyedihkan. Bahkan zirah api yang menyelimuti tubuhnya seperti tak bekerja sama sekali.


Beberapa saat telah berlalu, Tan Hao masih mempertahankan tanda segel tangan kanan sembari memegang pedang dewa hampa di tangan kiri, senyum tipis yang mengembang manis di wajahnya lenyap tatkala ia muntah darah segar cukup banyak.


Matanya membelalak heran dengan kondisinya sendiri, sebab tiba-tiba dadanya merasakan sakit luar biasa. Seolah jantungnya di tusuk ribuan jarum, hal itu membuatnya terengah-engah walaupun masih mempertahankan tanda segel untuk mengontrol jurus ilusinya.


"Apa yang terjadi? Ini ... Sungguh sakit ...!"


Terpaksa Tan Hao melepaskan tanda segelnya sesaat setelah sebelah lututnya terjatuh dan bertumpu dengan pedangnya untuk menyeimbangkan diri. Tan Hao menggenggam dada kirinya cukup kuat, terlihat tatapan matanya masih terheran-heran menatap darah yang tercecer di tanah yang terlihat mulai menghitam dengan cepat.


"Ah ... Maafkan aku, kakak seperguruan! Mengorbankanmu demi mendapatkan kekuatan bocah ini, budi baikmu tidak akan aku sia-siakan ...!" ujar santai Yan Mu sambil berjalan melewati jasad Yan Chui yang sebagian tubuhnya menderita sayatan dan tusukan, sebagian lagi menghitam dengan bercak darah yang menetes ke tanah.

__ADS_1


Yan Mu tersenyum lebar berjalan mendekati Tan Hao yang masih berlutut dengan bertumpu pada pedangnya sambil menahan rasa sakit di dadanya.


"Apa dadamu sakit? Tenang ... Aku akan membantumu menghilangkannya ...!" kata Yan Mu yang telah berdiri tepat dihadapan Tan Hao sembari melemparkan senyum lebar sambil menatap dengan penuh makna.


__ADS_2