
Hirada terlihat terengah-engah setelah mampu menghalau sebagian serangan mendadak yang dilepaskan Zey Liu. Ia berhasil terhindar meskipun terdapat beberapa luka di lengan dan pipinya.
‘Kurang ajar, hampir saja aku tewas! Untungnya aku memiliki Tulang Naga Muda, tapi ... Siapa mereka? Aku tak mengira akan tersudut seperti ini.’ Hirada berbicara dalam hati sambil menyeka darah di pipinya, tatapannya jelas menunjukkan sesuatu yang lain.
“Tunggu dulu...! Sepertinya aku teringat sesuatu? Trisula itu! Busur itu? Dan terakhir, Pedang Bintang Kembar? Mungkinkah mereka ... Ah tidak mungkin, informasi terakhir menyebutkan kalau Dewi Perang telah lumpuh dan menderita luka dalam, tapi ciri-ciri ini...!”
Totsuki Hirada berusaha mengamati lebih jelas ketiga lawannya itu, ia sempat menduga namun ingatannya berkata lain meskipun firasatnya membenarkan.
Hempasan energi yang terjadi berangsur menghilang, menciptakan suasana hening. Banyak pepohonan yang berdiri tak sesuai posisi awal setelah terkena dampak hempasan energi beberapa saat lalu.
“Apa mereka yang disebut Dewi Empat Penjuru itu? Aku mengira kekuatan mereka biasa saja, tapi sepertinya aku telah salah menilai. Kau cukup jeli juga dalam membimbing orang-orang berbakat, aku pikir kau dulunya hanya pria mesum dengan banyak gadis,” Fen Fang tersenyum mengejek seraya menyandarkan punggungnya di batang pohon.
Tan Hao langsung melirik tipis, terlihat raut wajahnya sinis, “Setidaknya aku memiliki banyak teman wanita yang ku kenal, masa tua nanti aku tak kesepian dan sendirian.”
Fen Fang tersedak napasnya sendiri mendengar ucapan Tan Hao, ia terkekeh sinis setelahnya.
“Lidahmu tajam juga,”
Kembali keduanya mengarahkan pandangan ke tempat pertarungan.
Trisula yang sebelumnya ia genggam, kini melayang di kedua sisi tubuh Ran Liu. Zey Liu menyadari apa yang akan dilakukan kakaknya itu, begitu juga dengan Wen. Keduanya saling pandang sebelum mengangguk bersamaan.
Wen langsung berpindah posisi di samping Ran Liu dengan Pedang Bintang Kembar yang telah terlapisi energi tenaga dalam, sedangkan Zey Liu bersiap dengan Busur Bulan di belakang keduanya.
Totsuki Hirada menaikkan sebelah alisnya melihat hal itu, “Hmm ... Formasi menyerang ya?”
Mantan Panglima Perang Kaisar Shogun itu langsung mengubah posisi tubuhnya seraya menyiapkan diri, ia tahu apa yang akan ketiga wanita itu lakukan selanjutnya.
Ia berpikir untuk tidak terlalu jauh memikirkan siapa mereka, saat ini yang ada di benaknya bagaimana cara mengalahkan ketiga wanita itu dan mengambil senjata mereka.
Pedang Raja Emas Hitam memang hanya pusaka kelas langit, tetapi kekuatannya setara dengan pusaka kelas suci. Terlebih ia sebagai pendekar pedang terbaik Negeri Taiyo yang memiliki pemahaman ilmu pedang membuatnya lebih unggul.
Totsuki Hirada bukan hanya seorang pendekar samurai, tetapi ia juga telah lama mempelajari bagaimana menggunakan tenaga dalam.
__ADS_1
Pencapaian terbaiknya adalah ketika mampu menguasai teknik Kesadaran Pedang, meskipun masih tahap awal dari ilmu pedang tetapi itu adalah pencapaian luar biasa mengingat tak satupun pendekar pedang di Benua Perak yang mampu memahami ilmu pedang.
Rata-rata pendekar pedang Benua Perak hanya mampu menguasai teknik pedang, itupun hanya sebagian diantara mereka yang mampu menguasai sampai tahap tertinggi. Meskipun begitu, sebagian orang-orang itu tak satupun yang berhasil menguasai ilmu pedang meski telah mempelajarinya selama bertahun-tahun.
Tentu saja Tan Hao berada di luar penilaian itu, mengingat kemampuannya sudah berada di tingkat yang berbeda.
Kembali ke pertarungan, Hirada melepaskan energi Tenaga Dalam dalam jumlah yang cukup besar, bahkan energi itu berwujud pedang emas yang berukuran besar diatas tubuhnya.
“Pertarungan ini harus diselesaikan secepat mungkin! Aku tak ingin melewatkan banyak waktu untuk segera bertemu Tuan Muda Hao,” Ran Liu menegaskan.
Hirada yang telah mengetahui maksud ketiga lawannya itu berinisiatif menyerang lebih dulu, ia memanfaatkan energi pedang dari tubuhnya untuk menciptakan serangan jarak jauh.
Tebasan energi pedang emas beterbangan dalam jumlah besar yang melesat dengan kecepatan tinggi.
Jurus itu hampir mirip dengan Formasi Hujan Pencabut Nyawa milik Zey Liu hanya berbeda di penggunaan dan tekniknya.
Menyadari serangan telah datang, Zey Liu yang notabene penguasa pertarungan jarak jauh segera melepaskan teknik pertama dari jurus Busur Bulan.
Hujan anak busur yang berkilauan muncul setelah Zey melepaskan satu anak busur ke langit yang memiliki ukuran jauh lebih besar dibanding terakhir kali ia tunjukkan.
Pertarungan yang melibatkan energi tenaga dalam memang tak pernah berdampak kecil, benturan yang terjadi bukan hanya menyebabkan telinga mendengung akibat suara yang dihasilkan tetapi juga efek hempasan yang terjadi bahkan berdampak sampai beberapa kilometer.
Disaat Wen Liu dan Zey Liu fokus menyerang energi pedang emas tersebut, Ran Liu melesat maju bersamaan dengan kedua Trisula Dewi Perang-nya yang memercikkan kilat biru.
Hirada telah menebak hal itu yang akan terjadi, dirinya kini telah lebih siap daripada sebelumnya. Berbekal pedang besarnya, ia juga melesat maju sambil menambah jumlah energi yang menyelimuti senjatanya.
DUAR!!
Keduanya beradu serangan di udara, gerakan mereka sangat cepat bahkan energi yang dikeluarkan terus bertambah.
Meskipun pedangnya memiliki beban yang berat tetapi pergerakannya sangat lincah. Terbukti dia mampu menangkis kecepatan dua Trisula yang menyerangnya selagi Ran Liu juga menyerang secara fisik.
Menyaksikan hal itu, Tan Hao serasa tak percaya jika Ran Liu pernah mengalami kelumpuhan. Tan Hao bahkan berdecak kagum melihat perkembangan kecepatan serangan Ran Liu.
__ADS_1
Fen Fang sendiri tersenyum getir menyadari beberapa waktu lalu sempat meremehkan kemampuan wanita yang berjuluk Dewi Perang itu.
Adu serangan keduanya bahkan membuat suara yang terdengar hingga ke perkemahan Pangeran Li Fen dan juga terdengar di Kota Shuning.
Banyak warga setempat yang menatap langit, mereka sama tidak tahunya tentang suara yang menggelegar tersebut. Hanya terlihat di langit seperti percikan sambaran petir di kejauhan.
Dua Tetua Sekte Tujuh Tombak Emas yang ditugaskan di luar juga menyaksikan langit, mereka adalah Tetua Han Liu dan Tetua Ling Ling.
Keduanya sama sekali tak bersuara, hanya saling pandang sejenak kemudian menatap langit di arah pertarungan yang terjadi.
Hirada dan Ran Liu telah beradu lebih dari puluhan serangan, tetapi kecepatan mereka sama sekali tak berkurang.
Sampai saat dimana Ran Liu menemukan celah untuk menyerang Hirada. Kesempatan itu sebenarnya telah ada beberapa kali tetapi karena fokus Ran Liu terbagi untuk mengontrol kedua Trisula-nya, ia baru memiliki kesempatan itu saat Hirada bergerak ke sisi kanan.
Tak membuang kesempatan itu, dalam sekali gerakan jarinya, salah satu Trisula yang berada di sisi kiri tubuhnya menghujam rusuk kiri Hirada ketika lengannya terangkat untuk mengayun pedang.
Serangan itu membuat Hirada terjatuh membentur tanah cukup keras. Mulutnya terbuka namun tak bersuara, tubuhnya melenting. Tanah tempat ia terjatuh menghambur dan retak seperti tertimpa bongkahan batu besar.
Hirada muntah darah segar, tak berselang lama setelah Ran Liu menarik kembali senjatanya, rusuk Hirada mengeluarkan begitu banyak darah.
Energi pedang emas yang dilawan Wen dan Zey Liu lenyap seketika setelah Hirada terkena serangan telak.
“Bagaimana? Jadi siapa yang kalah bertaruh kali ini, hehe...!” cakap Tan Hao santai sambil mengangkat sebelah tangannya.
Fen Fang hanya memasang wajah datar sebelum membuang wajahnya tanpa membalas ucapan Tan Hao.
Ran Liu melompat ke tempat dimana Hirada terkapar, ia menghunuskan salah satu Trisula yang terlapisi energi kilat biru.
“Kau kalah...! Bajingan...!”
SWOSH!!
“Uhh...!” Ran Liu terpelanting ke belakang sebelum sempat menusuk jantung Hirada.
__ADS_1
“Ini tidak bagus, tidak bagus...! Pertarungan ini cukup sampai disini gadis manis, sampai bertemu lagi!”
Seseorang berbaju putih berlengan panjang tiba-tiba muncul dan lalu membawa Hirada yang tak sadarkan diri. Ia datang dan menghilang dengan sangat cepat, membuat Ran Liu tak sempat berbuat sesuatu.