Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 84 ~ Kemarahan Tiandou


__ADS_3

Gerakan gesit Tiandou dalam menghalau laju jarum membuat keduanya terhindar dari serangan mendadak tersebut. Tetua Shuxan berdecak kesal, ia menyelusuri sekitar dengan sikap waspada.


"Kurang ajarr?! Siapa yang menyerang kita diam-diam begini,-!!" gumamnya pelan dengan tatapan mata begitu tajam.


"Hati-hati Tetua Shuxan, musuh kali ini cukup merepotkan. Jangan lengah sedetikpun." ujar Tiandou yang tengah menatap tajam ke satu arah.


Dengan Mata Langit yang ia pinjam dari Yue Yin membuatnya mengetahui arah datangnya serangan tersebut dan juga orang yang melakukannya.


Tiandou berfikir keras tentang bagaimana cara mengatasi ini, ia memang bisa menghadapi lawan tersebut namun jika terdapat dua orang seperti yang telah diperingatkan Yue Yin sebelumnya, bahkan dengan seluruh kekuatan dan kemampuannya Tetua Tiandou tak yakin bisa menang.


Sementara pikirannya masih terbagi dengan adanya Tetua Shuxan yang secara kekuatan beda kelas dengan orang misterius yang menyerang keduanya.


"Tetua Tiandou?! Apa yang harus kita lakukan?" ucap Tetua Shuxan setelah menyadari Tiandou terdiam sesaat setelah memperingatkannya.


"Oh, dua ekor semut sedang mencoba peruntungan rupanya? Kukira siapa,-!!" seru salah seorang dengan wajah aneh.


Belum sempat Tetua Tiandou mengatakan rencananya, dua orang yang dimaksud Yue Yin telah berada di depan mereka tidak begitu jauh, hanya berjarak beberapa cabang pohon.


Sementara salah seorang lagi yang memiliki wajah tak kalah sangar hanya diam dengan menebar ekspresi kejam.


"Kau siapa? Mengapa menyerang kami?" seru Tetua Shuxan setengah berteriak.


Orang yang berperawakan sedang dengan beberapa bekas luka di wajah bertubuh lebih pendek dari rekannya tertawa remeh membalas pertanyaan yang di lontarkan Shuxan.


"Hng!! Beberapa orang memanggilku Yong Ho. Aku menyerang hewan buruan, ha ha ha,"


Orang yang menyebut namanya Yong Ho tertawa begitu nyaring hingga membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa jengkel.


"Sudahi bualanmu. Atau ku sumpal mulutmu?" ujar rekan disampingnya dengan reaksi dingin.


"Apa aku salah,-!! Ah dasar." balas Yong Ho getir.


Tiandou dan Shuxan saling berpandangan, keduanya merasa bingung dengan ulah kedua orang di depan mereka.


"Aku merasa ini tidak akan mudah, berhati-hatilah." gumam Tetua Tiandou yang langsung dibalas anggukan ringan oleh Tetua Shuxan.


"Kalian tidak beruntung bertemu kami, tapi apa boleh buat? Kami harus menyingkirkan kalian untuk mengurangi saingan, hng..?" ujar Yong Ho sebelum kemudian melesat kearah Tetua Shuxan.

__ADS_1


Sedangkan rekannya hanya memandang sinis Tetua Tiandou tanpa melakukan gerakan apapun.


Tetua Shuxan tidak tinggal diam begitu saja, ia segera menggunakan Pedang Tombak untuk menangkis serangan Yong Ho, keduanya bertukar serangan dengan kecepatan tinggi hingga hanya terdengar bunyi benturan dua senjata.


Yong Ho yang bersenjatakan pedang bercabang menyerang Shuxan dengan membabi buta. Disisi lain, Tetua Tiandou bisa melihat jelas pertarungan keduanya menggunakan Mata Langit, namun ia tak bisa terlalu fokus sebab orang di depannya hanya berdiri dengan tangan terlipat kebelakang memandang tajam tanpa melakukan serangan maupun perkataan.


"Apa kau meremehkanku? Atau sedang menunggu rekanmu membunuh rekanku." kata Tetua Tiandou memecahkan keheningan yang terjadi antara keduanya.


Orang dengan tinggi badan hampir sama dengan Tiandou yang juga memiliki tanda bekas luka di sebagian wajahnya tersenyum kecil sesaat kemudian mengeluarkan dua cakram dari balik jubahnya.


Cakram berukuran sedang tersebut berputar melayang di depannya.


"Aku Yong Li adalah tipe orang yang tak suka banyak bicara." ujarnya singkat sesaat kemudian menggerakkan kedua cakram tersebut menggunakan tenaga dalamnya melesat menuju Tiandou.


"Aku pun begitu." balas singkat Tiandou.


Cakram tersebut terhenti dan terpental ketika membentur Tombak Bulu Surga. Kejadian itu berulang beberapa kali hingga membuat orang yang bernama Yong Li itu menjadi geram.


Ia terlalu meremehkan Tiandou, serangannya memang tak terlalu serius namun selama ini ia tak pernah gagal melukai seseorang ketika ia melancarkan serangan pertama.


Disisi lain, Tetua Tiandou sedang terbagi fokusnya oleh pertarungan Tetua Shuxan dengan Yong Ho. Meskipun ia telah berhasil menangkis dua cakram milik Yong Li, itu tidak serta merta membuatnya senang.


"Jangan memikirkan hal lain ketika berhadapan denganku atau kau akan mati tanpa berdarah." ujar Yong Li merasa geram telah di sepelekan oleh Tiandou yang memandang kearah lain.


Kini bukan hanya cakramnya yang menyerang, namun ia juga ikut melesat ke arah Tiandou. Praktis hal tersebut membuat Tiandou tak punya pilihan lain, ia tak akan cukup waktu mengkhawatirkan hal lain sementara dirinya sendiri belum tentu aman.


Keduanya bertukar serangan serta tangkisan puluhan kali hanya dalam beberapa detik. Tak ada waktu sedetikpun keduanya lewatkan untuk mencoba membalikkan keadaan.


Pertarungan keduanya cukup berimbang, meskipun sebenarnya Tetua Tiandou hanya menggunakan tenaga dalamnya saja.


Hawa pertarungan keduanya cukup mencekam hingga membuat puluhan hewan kecil seperti burung, terbang menjauh melarikan diri dari area pertarungan mereka.


Sementara itu disisi lain, Tetua Shuxan sedang terpojok oleh serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Yong Ho.


Tetua Shuxan bukanlah tandingan dari Yong Ho, itu terlihat dari arah serangan serta penggunaan tenaga dalamnya. Tetua Shuxan memang adalah Tetua Tombak termuda dalam sejarah, dirinya adalah yang paling lemah diantara Tetua Tombak lainnya.


Itulah sebabnya ia selalu ditugaskan bersama Tetua Tiandou, selain karena usia keduanya tak terpaut jauh juga karena Tetua Tiandou merupakan orang terkuat saat ini diantara Tetua Tombak.

__ADS_1


"Ah sial," batin singkat Tetua Shuxan setelah beberapa kali terkena serangan cukup telak di bagian perut dan dadanya.


Yong Ho tertawa lantang dengan semua serangan tiba-tiba yang ia lancarkan tepat sasaran.


"Sebelum kau mati, alangkah baiknya aku memberitahumu tentang siapa aku sebenarnya agar kau tak mati penasaran hahaha,"


Tetua Shuxan berdecak kesal, berulang kali ia mengumpat dalam hati dengan ketidakmampuannya keluar dari situasinya saat ini.


"Aku salah satu dari Panglima Darah, Yong Ho. Dikenal sebagai Pedang Mata Racun. Aku beritahu kau, sebenarnya aku adalah yang terlemah diantara Panglima Darah, dan orang yang sedang dihadapi rekanmu itu bernama Yong Li, Panglima Darah terkuat kelima. Ia dikenal sebagai Raja Cakram Neraka."


Tetua Shuxan terkejut bukan main ketika mendengar pernyataan Yong Ho.


"Panglima Darah? Organisasi Iblis Darah? Ah sial di tempat terpencil seperti ini mengapa harus bertemu dengan mereka,"


"Organisasi Iblis Darah bahkan ditakuti oleh seluruh sekte aliran putih maupun hitam, bahkan empat kerajaan tak ada yang berani berhadapan langsung dengan mereka,"


"Setelah belasan tahun tak terdengar kabar tentang organisasi ini, kenapa tiba-tiba mereka muncul? Ada apa ini sebenarnya."


Tetua Shuxan berdecak kesal dalam batin setelah ia berbicara pada diri sendiri. Ia sungguh tak menyangka akan bertemu salah satu Panglima dari Organisasi Iblis Darah.


Sebelum ia tersadar dari lamunan pikirannya, dua buah jarum tepat mengenai dadanya. Tetua Shuxan dengan amarahnya menatap Yong Ho yang bereaksi acuh menebar senyum penuh kemenangan. Disisi lain, Yong Ho menggunakan kesempatan lengahnya Tetua Shuxan setelah mendengar pernyataannya untuk melepaskan jarum beracun dari gagang pedang miliknya.


"Hahaha, bukankah itu salahmu sendiri? Tapi tenang saja, kematianmu tak akan menyakitkan. Haha haha." Yong Ho tertawa panjang penuh kemenangan.


"Apakah aku akan mati disin,-!!"


Tetua Shuxan tak sadarkan diri sebelum sempat melakukan sesuatu, tubuhnya terjatuh dari cabang pohon dan membentur tanah dengan keras.


Diwaktu yang sama, Tetua Tiandou masih bertukar serangan dengan Yong Li. Diantara keduanya tak ada yang menguasai jalannya pertarungan.


Hingga kedatangan Yong Ho membuat keduanya berhenti bertarung.


"Kau,-!! Artinya ... ?" seru Tiandou singkat.


"Haha..!! Benar. Rekanmu sudah kukirim ke neraka. Haha haha." ujar ringan Yong Ho dengan tawa nyaringnya.


Tetua Tiandou menatap kosong tak berkedip kala mendengar itu, kedua tangannya gemetar kecil memegang Tombaknya.

__ADS_1


Yong Ho masih tertawa bersamaan ia berjalan santai kearah Yong Li yang tengah berdiri acuh ketika menyadari kedatangannya.


"Apa aku terlalu cepat? Atau kau yang terlalu lambat, Hng..?!" ujar Yong Ho ringan pada Yong Li, yang hanya dibalas dengusan kasar.


__ADS_2