
Pertemuan rahasia terjadi di dalam bangunan tua disisi lain Desa Hibei, terdapat lima orang yang tengah duduk saling berhadapan mengikuti pola meja kayu yang berbentuk lingkaran. Satu diantaranya adalah Manager Xinxin. Ketua Desa Hibei, Jun Shan juga terlihat dalam pertemuan rahasia tersebut. Sementara ketiga orang lainnya memakai jubah serta topeng setengah wajah.
Setelah cukup lama terdiam, Manager Xinxin memulai pembicaraan dengan menyebutkan adanya orang asing yang berpeluang mengganggu rencana yang telah dipersiapkannya. Sedangkan Jun Shan dari awal masuk terlihat tidak begitu tenang. Raut wajahnya dapat terbaca, namun tak ada yang berani bertanya mengenai alasan tersebut.
"Siapa yang kau maksud sebagai pengganggu rencana kita? Bisakah kau jelaskan?" tanya seorang bertopeng biru. Sorot matanya tajam sementara tangannya menggenggam erat gelas air.
"Benar. Belum lama ini Asosiasi Menara Emas kedatangan seorang pemuda yang memiliki plakat kayu naga emas bintang dua, yang artinya dia merupakan salah satu orang penting dalam tubuh asosiasi," kata Manager Xinxin memulai penjelasannya.
"Bukankah itu bagus? Siapa sangka kita akan mendapatkan dua ikan besar dalam satu gerakan, ha ha ha ... ." sahut seorang bertopeng hitam sambil tertawa, terlihat ia begitu gembira mendengar perkataan Manager Xinxin.
Namun hal berbeda justru terlihat dari reaksi seorang bertopeng emas, dia terdiam sesaat dengan memainkan ujung-ujung jarinya diatas meja.
"Lanjutkan!"
Manager Xinxin mengangguk pelan, kemudian melanjutkan penjelasannya.
"Nona Fen Lian memanggilnya sebagai Tuan Muda, bernama Tan Hao. Itu membuktikan betapa tinggi posisinya didalam asosiasi, aku belum mengetahui tentangnya tapi yang pasti pemuda itu memiliki kemampuan yang lumayan,"
"Hng?! Jadi maksudmu dia seorang pendekar hebat, begitu?" seorang bertopeng biru mengeram, tatapannya begitu tajam.
"Tunggu sebentar! Bisakah kau sedikit memberitahuku ciri-ciri orang itu?" sahut Jun Shan yang nampak kaku.
"Dari jauh aku hanya bisa melihat samar, pemuda itu berpakaian layaknya bangsawan, bermotif teratai ungu kebiruan, rambutnya tidak begitu panjang, dan emm ... tampan,"
"Benar begitu?" sahut cepat Jun Shan memastikan.
"Ya. Dan seorang gadis cantik ... ."
"Seperti seorang putri kerajaan?" Jun Shan kembali memotong perkataan Manager Xinxin, raut wajahnya terlihat memucat.
"Tepat sekali! Kau mengetahui rupanya," Manager Xinxin terkejut sejenak melihat reaksi dari Jun Shan.
__ADS_1
"Ah siall ... Itu mereka! Aku sempat bertemu mereka di kedai arak perbatasan desa. Pemuda itu tak seberapa, yang jadi masalah adalah pengawalnya. Salah satu pengawalnya memiliki kemampuan yang cukup tinggi, dia pengguna ruang dan waktu. Aku bahkan tak dapat melihat pergerakannya sewaktu bertarung dengannya,"
Jun Shan terlihat ketakutan kala menceritakan kembali saat ia berhadapan dengan Ye Yuan, ia mengira Ye Yuan merupakan manusia pengawal dari Tan Hao.
Seorang bertopeng emas mendengus, ia tahu benar akan hal itu.
"Jika aku tak cukup cepat, kau sudah jadi debu." ujarnya.
"Sebaiknya kita berhati-hati mulai sekarang, aku takut dia bukan hanya seorang pangeran. Melihat dari yang kalian jabarkan, hanya ada satu kemungkinan ... ." Seorang bertopeng biru menimpali, cukup terlihat sorot mata penasaran darinya.
"Dia putra mahkota kekaisaran," jawab Jun Shan dan Manager Xinxin serempak.
"Baiklah. Sudahi pembicaraan tentangnya. Bagaimana rencana kita selanjutnya? Bawahanku telah lama menunggu perintah, mau sampai kapan kita akan bergerak?" kata seorang bertopeng hitam sembari berdiri.
Ketiganya terdiam sejenak, tidak tahu harus menjawab apa. Sebab munculnya pendekar masalalu berkemampuan misterius yang telah mengambil sumberdaya langka yakni Bunga Melati Emas membuat rencana mereka sedikit tergoyahkan.
•••••
Sui Jiu tersentak sejenak kemudian senyum tipis muncul dibibir mungilnya.
"Oh, pantas aku tak menemukan keberadaannya. Ternyata dia bersama orang itu ... Haihh ... Kakaknya sedang sekarat, dia malah sibuk urusan cinta,"
Tan Hao terkejut mendengar perkataan tak sengaja Sui Jiu mengenai kondisi Liu Ran. Sui Jiu terkejut sendiri menyadari ia telah salah berucap, kedua matanya menari kesana kemari seolah bingung untuk mencari penjelasan.
Sedangkan Fen Lian hanya menatap kosong tanpa tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
"Kau bilang apa barusan? Sekarat? Nona Ran sekarat?" pekik Tan Hao sembari memegang kedua bahu Sui Jiu.
"Be-benar! Sejak waktu itu, kondisinya makin memburuk. Bisa bertahan sampai saat ini karna kami semua bersusah payah mengumpulkan sumber daya namun semua itu hanya mampu memperlambat bukan mengobati. Selain itu, daya hidupnya yang masih kuat sebab dirimulah yang membuatnya yakin hingga sampai saat ini,"
Tan Hao terdiam lalu menunduk bersamaan melepas cengkraman tangan di kedua pundak Sui Jiu.
__ADS_1
"Ini salahku! Karena kebodohanku waktu itu ... ."
Ia jatuh terduduk, sejenak Tan Hao teringat kenangan masalalunya bersama empat gadis yang ia paksa menjadi pengawal pribadinya. Dan Liu Ran lah yang paling dekat dengannya waktu itu, membuat pikirannya saat ini merasa bersalah sebab memberi luka yang bukan hanya didalam hatinya melainkan juga luka fisik yang kini menderanya.
Sui Jiu bahkan tak berani berbicara hanya untuk menenangkannya, sementara Fen Lian bengong tanpa tahu harus berbuat apa.
"Kakak! Aku mendapat benda bagus disini!" teriak Lan Lihua sambil melambaikan tangan yang kini telah berada di lorong yang sama namun berjarak cukup jauh.
Sui Jiu bereaksi waspada, dirinya melirik tajam Lan Lihua kemudian melangkah dan berdiri tepat di depan Tan Hao mengarah ke Lan Lihua yang berjalan mendekat.
"Siapa kau?" tanya Sui Jiu dingin.
Fen Lian terkejut melihat reaksi dari Sui Jiu, reaksi yang terkesan berlebihan. Namun dengan cepat dia menyadari jika Sui Jiu belum mengenal Lan Lihua. Sebenarnya ia ingin menjelaskan namun ia batalkan sebab masih merasa kesal dengan sikap Sui Jiu padanya beberapa waktu yang lalu.
"Aku? Namaku Lan Lihua! Lalu kau siapa? Mengapa kau berdiri di depan kakak HaoHao?" jawab Lan Lihua setelah cukup dekat.
"Apa hubunganmu dengan Tuan Muda?"
"Aku istrinya!" ketus Lan Lihua menjawab pertanyaan Sui Jiu yang terkesan berlebihan untuk ukuran seorang teman.
"Kau?!"
Tan Hao bangkit dari duduknya perlahan, kekhawatiran jelas terlihat dari raut wajahnya. Namun ia segera menguasai emosi dalam hatinya.
"Nona Sui, tenanglah! Jangan berlebihan seperti itu, dia memang istriku," kata Tan Hao pelan sembari menepuk dari belakang pundak Sui Jiu.
"Tuan Muda! Oh ... Maafkan aku," ucap canggung Sui Jiu kemudian melangkah mundur.
"Aku tidak mengerti masalah kalian. Yang aku ingin katakan, sekarang kita berada di dalam ruang penyimpanan sumberdaya. Maksudku adalah jangan sampai kalian membocorkan lokasi ruang penyimpanan ini atau akan terjadi kekacauan besar,"
Beberapa kali Tan Hao menarik nafas dan membuangnya, mencoba mengatur ketenangannya. Sementara Lan Lihua hanya mengangguk pelan sebagai jawaban mengerti.
__ADS_1
"Informasi apapun selalu ada harga dibaliknya. Termasuk lokasi tempat ini," kata Sui Jiu menatap Licik Fen Lian.