
Tiandou tersenyum penuh makna, baik ekpresi maupun reaksinya telah berubah sesaat setelah menggunakan Pedang Sabit Matahari. Tetapi, ia masih dirinya hanya saja pembawaan dari pusaka tersebut merubah sikap Tiandou.
Dengan begitu mudah ketiga senjata Yong Li dibuat hancur berkeping-keping yang hanya bersentuhan dengan Pedang Sabit Matahari.
"Kurang ajarr?! Kau harus mati."
Teriakan Yong Li melengking penuh amarah sesaat kemudian ia meningkatkan aura pembunuhnya dan langsung menyerang Tiandou menggunakan tinjuan dan tendangan yang terlapisi tenaga dalam.
"Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat, masih ada kemungkinan Tetua Shuxan selamat dari racun mengingat asal usulnya." batin Tiandou dalam gerakan mengelak dan menangkis serangan frontal Yong Li.
Ratusan tinjuan yang disertai tendangan yang dilancarkan Yong Li berhasil Tiandou elak dan tangkis. Amarah Yong Li nyatanya membuat dirinya hilang kendali atas ketenangannya.
Disaat Yong Li menghentikan serangannya dan mengambil jarak aman untuk mengatur nafas, Tiandou menggunakan kesempatan tersebut untuk menyerang mendadak.
JURUS PEDANG : PANCARAN PENGHANGUS
Tiandou langsung mengeluarkan jurus kedua dari Pedang Sabit Matahari sebelum Yong Li menyeimbangkan tubuhnya setelah melakukan gerakan melompat mundur mengambil jarak aman.
Pengalaman bertarung yang ia miliki membuatnya menyadari adanya serangan mendadak. Yong Li memusatkan tenaga dalam ditelapak tangannya sebelum pancaran sinar dari ujung Pedang Sabit Matahari mendekati dirinya.
Yong Li mengeluarkan jurus bertahan terkuat yang ia miliki, terlihat cukup jelas disisi kanan kiri tubuhnya terdapat energi hitam pekat berbentuk telapak tangan yang kemudian melingkupi tubuhnya dari arah depan serangan yang dilancarkan Tiandou.
Seketika terjadi ledakan yang cukup hebat hingga membuat asap tebal menyebar luas hingga membumbung tinggi.
Jurus bertahan dari Pendekar tingkat Alam Dewa Bumi tahap atas melawan serangan dari Pendekar tingkat Pertapa Dewa Langit tahap puncak menyebabkan kerusakan cukup parah dengan area yang cukup luas.
__ADS_1
Dampak ledakan yang terjadi bukan hanya menghanguskan pepohonan namun juga hewan-hewan kecil yang tak sempat melarikan diri.
Terlihat dari atas dampak ledakan tersebut begitu mengerikan meskipun asap tebal masih menyelimuti area sekitar pertarungan.
"Tuan, orang itu masih hidup namun kondisinya cukup buruk, selesaikan sekarang sebelum terjadi hal buruk."
Yue Yin kembali memperingatkan Tiandou didalam pikirannya setelah mengetahui terdapat pergerakan lain yang menuju kearah mereka. Tiandou mengangguk pelan tanda mengerti tanpa mempertanyakan lebih lanjut. Ia menyadari bahwa Yue Yin bisa merasakan sesuatu yang tidak bisa rasakan.
Disisi lain Yong Li menderita luka yang cukup parah, setengah tubuhnya seperti terbakar dengan kulit hampir terkelupas. Bekas luka diwajahnya juga menjadi tak terlihat sebab wajahnya menghitam.
Dengan luka seserius tersebut nyatanya tak membuat ia roboh, Yong Li masih berdiri condong dengam kedua tangan terjuntai, tatapan matanya tertuju kearah Tiandou yang sejatinya tak terlihat akibat asap tebal.
"Seorang Pertapa Dewa Langit bisa menggunakan pusaka itu dan membuatku sampai seperti ini? Dengan kehebatan pusaka itu, jika jatuh ketanganku, bukankah aku akan menjadi tak terkalahkan,"
"Sayangnya tubuh bodi sudah mencapai batasnya, jika tidak! Aku pasti bisa merebut pusaka itu." batin Yong Li sembari membayangkan tubuh aslinya yang tengah duduk bersila diatas batu besar.
Hal lainnya adalah jiwa belahan hanya akan mampu mengeluarkan setengah dari kekuatan tubuh asli, jurus membelah jiwa yang dimiliki Yong Li tak memiliki batas waktu selama jasad yang digunakan sebagai raga dari jiwa belahan utuh.
Tidak cukup itu saja, tubuh asli juga akan terdampak dari luka yang diderita jiwa belahan. Luka dalam yang diterima tubuh bodi akan langsung dirasakan tubuh asli ketika jiwanya terlepas dan kembali menjadi satu bagian.
"Siall?! Apa boleh buat! Aku harus kembali pada tubuhku, suatu saat aku akan merebut pusaka itu dari tangannya." gumam Yong Li yang masih berdiri mematung dan tak mampu lagi menggerakan tubuhnya
Bersamaan dengan isi pikiran Yong Li, Tiandou melangkah pelan namun pasti kearahnya sembari menebar senyum sinis disertai aura pembunuh yang pekat.
Gerakan cepat dan terarah yang dilancarkan Tiandou berhasil menebas kepala Yong Li meskipun jarak keduanya masih terpaut beberapa langkah. Tebasan tersebut bukan hanya mengandung tenaga dalam milik Tiandou tetapi juga energi roh dari jiwa yang tersegel di dalam pusaka tersebut.
__ADS_1
•••
Sementara itu di tempat lain, bersamaan dengan pertarungan yang terjadi antara Tiandou melawan Yong Li, Lan Lihua tengah dibuat terkejut oleh kedatangan Tan Hao.
"Kak Tan?! Oh tidak!! Bagaimana bisa itu terjadi." teriak Lan Lihua dalam hati.
"Oh?! Dewi juga datang bersamanya? Dewi Lihua tak perlu khawatir, dalam beberapa langkah lagi dia akan kembali tersadar." ujar Bing Long seolah mengetahui keterkejutan Lan Lihua.
"Bagaimana kau bisa yakin?! Dia bukan orang sembarangan, bahkan akupun tak bisa dibandingkan dengannya." balas Lan Lihua menatap Bing Long singkat.
"Tentu saja,-!! Karena dia adalah yang ditakdirkan, keturunan dewa dari dunia atas sama seperti Dewi Lihua. Suku Naga langit akan tunduk pada perintahnya jika ia sudah membangkitkan kekuatannya dan menemukan keberadaan Suku Naga Langit,"
"Ramalan Tetua Naga tak mungkin salah, dia memiliki semua ciri-ciri yang dimaksud. Hanya saja, perjalanannya masih sangat panjang." jelas singkat Bing Long sembari mengubah posisinya yang kini berada dibelakang Lan Lihua.
Dan benar saja, sesaat setelah memasuki pintu masuk ruangan tersebut setiap langkah yang ia lakukan secara perlahan memudarkan ledakan energi keemasan serta percikan petir ungu yang menyelimuti tubuhnya. Tanda bunga teratai yang menyebar pada sebagian tubuh dan tangannya juga perlahan menyusut.
Beberapa langkah kemudian tubuh Tan Hao kembali normal dengan kedua matanya kembali menghitam. Lan Lihua memandang Bing Long kala melihat kejadian tersebut yang hanya dibalas kekehan kecil oleh Bing Long. Sementara Tan Hao hilang keseimbangan, ia terjatuh dengan sebelah lututnya serta sebelah tangannya tertumpu pada lantai.
Lan Lihua segera berlari menghampiri Tan hao dengan kekhawatirannya.
"Kak Tan? Apa yang terjadi padamu? Apa kau baik-baik saja." ujar Lan Lihua sesaat memeluk Tan Hao dari samping.
Tan Hao tak menjawab, ia tengah disibukkan untuk mengatur nafas dan kesadarannya. Ia hanya memberi isyarat menggunakan sebelah tangannya.
Bing Long memutuskan untuk kembali ke mulut patung naga, ia merasa tak enak hati melihat hal tersebut. Walaupun ia berwujud energi tanpa raga namun pikiran maupun perasanya masih melekat.
__ADS_1
Tak berapa lama setelah itu Tan Hao mulai mengangkat kepalanya perlahan sembari mengubah posisinya menjadi terduduk.
"Aku baik-baik saja, Hua'er? Hanya saja..?"ujar singkat Tan Hao tanpa menyelesaikan perkataannya.