
"Apa yang terjadi padanya? Maafkan aku, diluar dugaan sebelumnya. Aku menemui kendala sehingga tidak bisa membantunya," Fen Fang langsung menanyakan keadaan Lan Lihua, terlihat raut wajah bersalah terlukis begitu jelas.
Tan Hao tak menjawab dan hanya melirik tipis sesuatu yang menggantung di pinggang Fen Fang. Ia terus melaju sembari memikirkan cara terbaik tanpa harus mengorbankan salah satunya.
Permasalahan yang terjadi tidak bisa di anggap enteng, sementara yang berada di atas langit juga sewaktu-waktu menjadi ancaman nyata.
Tan Hao benar-benar tersudutkan oleh pemikirannya sendiri, ia menyadari kalau dirinya terlalu bersantai-santai dalam menanggapi setiap masalah yang ia temui. Meskipun pada akhirnya dapat ia selesaikan, namun waktu yang ia gunakan terlalu panjang dan bertele-tele.
Otaknya benar-benar berfokus pada apa yang dikatakan sosok yang mengambil alih kesadaran Lan Lihua, sampai ia tak terlalu terkejut kalau ternyata Lan Lihua sama dengan dirinya yang merupakan seorang keturunan Petarung Saint Murni dari alam atas.
Pada saat ia telah sampai di perbatasan antara Kota Zhongnan dan Kota Shaoguan yang masih berupa hutan belantara, Tan Hao masih terdiam. Ia menyandarkan Lan Lihua di batang pohon, tatapan matanya masih menunjukkan kalau ia tengah mencari sesuatu.
Sementara Fen Fang terlihat canggung dengan kondisi yang ada, dirinya merasa sikap Tan Hao seperti itu karena keadaan Lan Lihua yang terluka parah akibat kelalaiannya.
"Kau obati dia sementara aku akan mencari beberapa tanaman untuk membalut luka luarnya," Fen Fang melihat keduanya sejenak sebelum berlari ke tengah hutan.
Tan Hao terduduk di samping Lan Lihua sambil memegang kepalanya menggunakan kedua tangan sementara tatapannya terlihat serius menuju ke tanah dibawahnya.
Terlihat jelas kalau beberapa bagian lengan dan dibawah leher Lan Lihua mengalami luka seperti luka bakar. Sementara kondisinya masih tak sadarkan diri.
Tan Hao tak langsung mengobatinya, entah bagaimana bisa ia mengabaikan wanita yang mendampingi hidupnya kini dan nanti itu menahan rasa sakit lebih lama.
Sampai pada akhirnya ia teringat dengan buku-buku yang ia bawa dari Pulau Phoenix yang merupakan milik Yao Liu.
Perhatiannya baru tersadarkan ketika melihat sekilas wajah Lan Lihua, rona wajahnya memucat seperti seorang yang sangat cemas. Reaksi yang benar-benar sangat terlambat dan itu membuatnya semakin merasa marah pada dirinya sendiri.
"Hua'er...! Maafkan aku! Aku lalai menjagamu dan lalai melatihmu sampai kau berulang kali mengalami hal seperti ini ...!"
__ADS_1
Terlihat salah satu mata Tan Hao menitikkan air mata, sembari menyiapkan beberapa pil kualitas tinggi beserta beberapa ramuan yang ia simpan di dalam cincin dimensi.
Sebelum mulai mengobati Lan Lihua, ia menyempatkan diri membelai pipi wanita yang ia nikahi atas paksaan Leluhur Lan itu dengan penuh perasaan yang rumit. Namun meskipun atas dasar keterpaksaan, dirinya sebenarnya juga memiliki perasaan yang mendalam terlebih saat tahu kalau wanita berbibir mungil itu menjaga dan merawatnya siang malam saat jiwanya tersesat di dimensi suci.
"Hua'er! Aku tahu sikapmu berubah karena jiwamu terhubung dengan bintang-bintang itu! Semakin cahayanya meredup, maka dirimu sudah pasti akan bertambah ganas dan susah diatur. Maafkan aku yang belum memiliki pengetahuan tentang apa sebenarnya bintang-bintang itu. Tapi tenang saja, mulai saat ini aku tak akan pernah melepaskan pandanganku darimu seperti saat kau menjagaku,"
Tan Hao mengajak bicara Lan Lihua meskipun ia tahu tak akan ada jawaban untuk itu. Senyuman getir tercipta ketika ia menyadari kalau selama ini setelah keluar dari Foshan, bahkan dirinya tak sekalipun menyentuh Lan Lihua. Bahkan memanjakannya pun tidak pernah sama sekali.
Setelah semua itu, Tan Hao merubah posisi duduk Lan Lihua kemudian membuka kaitan gaun yang menutupi punggungnya. Ia menggunakan teknik berbeda dari sebelumnya dalam mengobati Lan Lihua. Sebab kondisinya yang tak sadarkan diri tidak memungkinkan baginya untuk mengkonsumsi sumber daya tingkat tinggi tersebut secara normal.
Tan Hao tak main-main dalam mengobati Lan Lihua, itu terlihat dari sumber daya yang ia gunakan. Pil Teratai Surga yang ia pegang merupakan pil obat tingkat delapan. Tan Hao hanya memiliki tiga butir, pemberian dari Leluhur Lan sebelum dirinya meninggalkan Foshan yang dititipkan pada Feng Zhenzu.
Meskipun pesan Leluhur Lan mengatakan jika pil obat tersebut hanya di konsumsi saat benar-benar dibutuhkan atau dalam keadaan hidup dan mati. Tetapi Tan Hao mengesampingkan hal itu, sebab Lan Lihua lebih membutuhkannya dibanding dirinya apapun itu.
Tan Hao menggunakan petir ungu yang ia rubah menjadi seperti gumpalan api di atas telapak tangannya untuk meleburkan pil obat tersebut sebelum menyerapkan ke dalam tubuh Lan Lihua.
Biarpun dirinya bukan seorang Peracik Obat tetapi Fen Fang sangat ahli dalam meramu obat herbal untuk luka luar khususnya bagian kulit. Kemandirian dan pengalaman menjelajah beratus tahun yang menjadikannya sangat paham untuk meracik ramuan obat tersebut.
***
"Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Fen Fang sambil mengalihkan pandangan setelah semua proses pengobatan Lan Lihua selesai dilakukan termasuk bagiannya.
"Ya! Dia akan baik-baik saja. Sepertinya kita tak memerlukan kuda, aku merasa aku akan jadi semakin bersantai-santai jika menggunakannya. Kita sesekali akan berjalan biasa untuk beristirahat atau saat memasuki desa dan kota. Waktu kita tak banyak lagi ...!" terang Tan Hao sembari mengganti gaun Lan Lihua yang rusak tanpa melepas kain bagian dalam.
Fen Fang mengangguk ringan, "Baiknya memang begitu, lagipula kalian juga membutuhkan waktu untuk berlatih. Aku akan menjaga kalian,"
Tan Hao telah selesai memakaikan gaun yang memiliki warna yang sama dengan pakaiannya yakni ungu gelap bercorak teratai kemudian ia mengeluarkan jubah untuk menyelimuti tubuh Lan Lihua.
__ADS_1
"Untuk apa semua buku-buku lusuh ini?" tanya Fen Fang saat Tan Hao mengeluarkan semua buku milik Yao Liu.
"Untuk dibaca...! Mungkin aku akan menemukan sesuatu sebagai jawaban," Tan Hao mulai meraih salah satu buku yang semuanya terlihat cukup tebal.
Fen Fang merasa bingung dengan maksud Tan Hao, tapi ia mengurungkan niat untuk bertanya saat melihat ekspresi Tan Hao begitu serius.
"Baiklah! Aku akan beristirahat di lain tempat jika begitu!" Fen Fang berdiri dan beranjak dari tempatnya setelah mengamati Tan Hao beberapa saat.
'Hao Hao sangat serius kali ini! Itu jarang sekali aku lihat, sebaiknya aku tak mengganggunya. Aku akan mengawasi mereka dari sini saja," gumam Fen Fang setelah berjalan tak terlalu jauh, kemudian melompat ke cabang pohon yang memiliki ukuran lebih besar dari lainnya.
Malam telah datang beberapa saat lalu dan Tan Hao masih serius membaca buku milik pamannya itu lembar demi lembar.
Alis Tan Hao turun naik beberapa kali saat membaca buku ke dua puluh delapan, buku yang memiliki sampul berwarna biru tua tersebut lebih tipis dari yang lain. Terlihat tulisan di dalamnya menggunakan tinta merah berbeda dari buku sebelumnya yang menggunakan tinta hitam.
Bulan bersinar cukup terang dan udara malam tak begitu dingin membuat Tan Hao terlupakan untuk membuat api unggun. Dirinya masih tenggelam dalam memahami isi buku, lembar demi lembar.
Mata Tan Hao terbelalak ketika telah sampai dibagian tengah lembar buku tersebut. Terlihat di bagian samping kanan lembaran bertuliskan Bintang Malaikat Suci.
"Ini dia...!"
Tulisan yang tertera di lembar yang Tan Hao baca mengenai Tujuh Bintang Malaikat Suci, disana juga disebutkan nama ketujuh bintang tersebut beserta penjelasannya.
Ketujuh bintang itu antara lain, Bintang Merak, Bintang Angsa, Bintang Gajah Naga, Bintang Kelinci Salju, Bintang Singa Bulan, Bintang Kura-Kura Suci dan Bintang Bangau Gulin. Tan Hao terlihat tersenyum tipis ketika membaca satu persatu penjelasannya.
"Bintang Gajah Naga...! Kebanyakan dari keberanian yang kita kagumi berasal dari ketidaktahuan, biasanya tak ada ketakutan dalam diri sebab tidak tahu apa yang akan dihadapi. Atau mungkin saja karena tidak ada jalan mundur, tidak berdaya dan keterpaksaan. Itu semua bukan merupakan keberanian sesungguhnya. Keberanian sesungguhnya adalah berani menghadapi kesulitan, meskipun tahu itu akan membuat diri mati bahkan hancur. Bersama ketakutan yang tiada batas, tetap memilih melangkah maju walau terhempas."
"Jadi ini alasan perubahan sikap Hua'er beberapa waktu belakangan! Itu seperti menunjukkan kalau bintang itu sebagai perwujudan dari keberanian. Cahaya yang padam berarti bintang itu telah memberikan kekuatan keberanian untuk menyegel dimensi jalan naga. Aku tahu sekarang, apa yang dibutuhkan agar cahayanya pulih kembali!" Tan Hao menutup buku tersebut sebelum kemudian menatap Lan Lihua yang telah mulai membaik rona wajahnya diselingi senyum tipis.
__ADS_1