
Nian Zhen melesat kearah sebuah bangunan yang terletak di tengah desa sendirian. Beberapa waktu lalu, ia memerintahkan pasukan topeng emas yang mengikutinya untuk bergabung dengan pasukan yang lain, sementara dirinya tidak menjelaskan tujuannya.
Bangunan tua yang memiliki tiga atap bertumpuk itu berada di depan markas Asosiasi Menara Emas cabang Hibei.
Dilihat dari jauh seperti bangunan yang tak pernah dihuni, sementara di halaman depan nampak berjejer patung manusia yang tak lagi berbentuk utuh.
'Sebenarnya seberapa penting benda itu, sampai membuat Maharaja Yan mengutusku! Lagipula, desa ini sama sekali tak memiliki pendekar yang mumpuni sebagai pelindung, Hng!' Nian Zhen mengamati setiap bangunan desa dari atas atap gedung asosiasi yang paling tinggi.
Situasi desa sangat sepi dan hampir tak ada orang sama sekali, Nian Zhen hanya melihat seorang wanita dengan busur di punggungnya tengah berjalan santai cukup dekat dan hanya berjarak beberapa bangunan dari lokasi bangunan tua itu berada.
'Cih...! Seorang gadis masih berani berkeliaran, percaya diri sekali! Tapi dia tidak penting, aku harus segera mencari keberadaan benda itu sebelum aliran putih mengacaukannya,' batin Nian Zhen sembari mengamati lebih teliti setiap sudut desa, terlihat rona kedua matanya berubah dengan pupil seperti menyempit.
Sementara itu, Liu Zey tak menyadari kalau dirinya sedang diawasi. Meskipun ia menyembunyikan hawa keberadaannya, tetapi itu tak berlaku bagi pemilik penglihatan yang lebih baik dari mata normal.
Beberapa saat yang lalu, setelah meninggalkan Xue Mei untuk merawat rekan-rekannya yang terluka. Liu Zey sempat mengecek beberapa tempat sembari mencari keberadaan Tetua Shuxan dan juga Su Kong.
Namun, selama dua jam tak ia temukan satu manusia pun. Kemudian Liu Zey memutuskan untuk mendatangi setiap penginapan yang ada untuk memastikan tak ada warga desa yang tertinggal.
"Dua orang bodoh itu kemana perginya, sih? Sama sekali tidak bisa diandalkan, heh! Tapi sepertinya semua warga sudah di ungsikan ke tempat yang aman," cakap Liu Zey sambil terus menoleh kesana kemari sembari tetap berjalan, tanpa ia sadari jalan yang ia lalui mengarah ke gedung Asosiasi Menara Emas yang disana Nian Zhen berada.
Liu Zey mematung sejenak ketika Nian Zhen melesat melewatinya dengan kecepatan tinggi. Saking tingginya, bahkan Liu Zey tak bisa melihat apa yang baru saja melewatinya.
'Apa itu tadi? Angin kah? Mana mungkin angin seperti itu?' pekik Liu Zey dalam hati.
Meskipun tak dapat melihat pergerakan Nian Zhen tetapi Liu Zey bisa melihat jejak yang ditinggalkan. Ia berpikir sejenak sebelum memutuskan mengikuti jejak yang masih tersisa di udara.
__ADS_1
Di bagian lain, terdapat lima orang bertudung emas yang telah tiba bersamaan dengan Nian Zhen. Mereka cukup lihai dalam menyembunyikan diri, bahkan Panglima Perang Kerajaan Yan itu tak menyadari kehadiran mereka.
Lima orang itu cukup lama mengawasi gerak-gerik Nian Zhen sebelum perhatian mereka tertuju pada Liu Zey.
"Apa kita akan bergerak sekarang, Senior Die Lin! Wanita itu tak akan sanggup bila menghadapi Nian Zhen sendirian," tanya salah seorang dari mereka.
Pendekar yang dipanggil Senior Die Lin itu terdiam sejenak, seperti sedang menimbang sesuatu. Sebelum akhirnya mendapatkan apa yang ia pikirkan.
"Wanita dengan busur di punggungnya, mungkin dia salah satu dari orang yang dimaksud Nona Fen Lian! Berarti kita tinggal mencari yang empat lagi, hmm ... Yan Yu! Apa kau sanggup membantunya melawan Nian Zhen?"
"Yah, mau bagaimana lagi kalau Senior Lin sudah bilang seperti itu! Aku pergi ....!" ujar malas pendekar bertudung emas yang dipanggil Yan Yu sebelum menghilang tanpa bekas.
"Fen Linwei ke utara, Qiu Yue ke timur, Wei Zhe ke barat sedangkan aku sendiri yang akan ke selatan ... Ingat! kita memang bagian aliansi tapi tujuan utama kita seperti yang diperintahkan Nona Fen Lian. Apa kalian mengerti?" perintah pendekar bertudung emas yang dipanggil Die Lin, dia merupakan pemimpin kelompok dari Asosiasi Menara Emas yang dikirimkan untuk bergabung dalam aliansi aliran putih-netral.
Ketiganya mengangguk serempak sebelum satu persatu menghilang. Menyisakan Die Lin yang masih tinggal ditempat.
Diwaktu yang sama, Fen Fang masih terus disibukkan oleh jiwa roh singa ungu yang terus mengikutinya, sementara Tetua Jing Yun terlihat telah selesai memberikan sebagian tenaga dalamnya ke dalam Tombak Emas Singa Ungu yang merupakan hasil tempaan Raja Tempa, Lian Ho beberapa tahun yang lalu.
Merasa apa yang dilakukannya tak membuahkan hasil, Fen Fang menyudahi permainan serulingnya.
Tetua Jing Yun menarik kembali jiwa roh singa ungu, sebelum akhirnya langsung menyerang Fen Fang tanpa banyak bicara.
Menggunakan tombak yang telah ia beri tenaga dalam, Tetua Jing Yun menyerang Fen Fang dengan kekuatan penuh. Fen Fang sendiri hanya menggunakan tangan kosong dalam menangkis maupun menyerang balik Tetua Jing Yun.
Pertukaran serangan terjadi begitu cepat sampai menimbulkan bunyi benturan yang cukup keras, dilain sisi Raja Tempa dan Kaisar Obat merasa kehadiran mereka hanya sebagai penonton, tak bisa membantu dan juga tak bisa pergi.
__ADS_1
Keduanya tak bisa mengabaikan peringatan Tetua Jing Yun sebelumnya, meskipun begitu mereka telah bersiaga sejak awal Tetua Jing Yun mulai menyerang Fen Fang.
"Tombak kecil! Seharusnya kau sadar, aku bukan diriku yang dulu...! Jika aku mau, kau sudah mati ratusan kali sejak tadi," seru Fen Fang yang masih menangkis serangan tombak yang dilancarkan Tetua Jing Yun bertenaga penuh.
Gelombang kejut yang dihasilkan dari serangan itu bahkan mampu memutar balik angin yang berhembus hingga membuat kumpulan awan bersih dari langit diatas area pertarungan keduanya.
Tetua Jing Yun seolah tak mendengarkan perkataan Fen Fang, ia terus menerus menyerang tanpa mengendurkan serangan dan malah menambah porsi kekuatannya.
Fen Fang menyesalkan sikap Jing Yun yang tak mau mendengarkan penjelasan. Dalam hati ia merasa bingung harus bagaimana menyadarkan sahabat masa kecilnya itu tanpa melukainya, dilain sisi ia juga menyadari kalau kekuatan Jing Yun sudah meningkat pesat diluar dari perkiraannya.
'Maafkan aku, Tombak Kecil! Aku harus membuatmu tenang dulu sebelum menjelaskan semuanya,' Fen Fang menjauh sejenak sembari melepaskan kekuatan yang sebenarnya.
WHONG!! HONG ... HONG!!
SWOOSH!
Tubuh Fen Fang terselimuti hawa energi yang cukup kuat hingga terlihat percikan kecil di sekitarnya. Disisi lain, Tetua Jing Yun tak tinggal diam begitu saja. Ia melepaskan kekuatan spirit energinya yang telah mencapai tingkat Jenderal Roh tahap Dasar.
Meningkat tiga tahap selama kurang lebih lima tahun cukup membuktikan bahwa ia seorang yang jenius terlepas dari usianya.
Fen Fang dan Jing Yung bergerak bersamaan sembari bersiap mengeluarkan serangan terkuat yang mereka miliki.
DDUAAR!!
WUSH ... WUSH!!
__ADS_1
Sebelum dua serangan itu beradu, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan datangnya seorang dari ruang hampa tepat ditengah-tengah mereka sebelum kemudian membalikkan serangan mereka masing-masing menggunakan kedua telapak tangannya.