
Liu Zey bergegas meninggalkan Kota Huizhu setelah berpamitan pada Liu Ran. Dengan tewasnya Shan Xie, praktis hanya Su Kong yang menjadi teman sekaligus petunjuk arah baginya.
Pengetahuan Su Kong boleh di bilang melebihi batas umur yang ia miliki, kemampuannya yang hanya di tingkat Pertapa Ahli menengah tertutup oleh pengetahuan yang ia miliki.
"Apa kita tidak terlalu awal?! Kupikir ini terlalu terburu-buru." ucap Su Kong mencoba mempertanyakan.
Laju kecepatan Liu Zey dalam menerobos perbatasan kota dengan hutan memang cukup tinggi, nasib baik Su Kong masih bisa menyamai walaupun sedikit kepayahan.
"Dari pengalaman, tidak baik menunda rencana atau kita akan gagal. Perhatikan pijakanmu? Jika jatuh, akan aku tinggal." kata Liu Zey singkat namun tegas.
Su Kong hanya tersenyum sinis tanpa berniat membalas ucapan Liu Zey. Keduanya melesat dengan kecepatan tinggi, bahkan ketika melewati sekumpulan orang, mereka tak menyadari keduanya.
•••
Sudah lebih dari 10 hari Tan Hao berlatih namun tak menunjukkan perkembangan apa-apa hingga akhirnya ia memutuskan untuk meminta pendapat Leluhur Lan.
Memang kekuatan fisiknya menunjukkan peningkatan yang bagus namun untuk kemampuannya tak memiliki peningkatan sama sekali.
Dalam kepayahannya memahami apa yang terjadi pada dirinya, Tan Hao sempat terfikir dirinya kini telah menjadi orang yang gagal namun itu dibantah berulang kali oleh Lan Lihua.
"Setidaknya, kakek Lan punya jawaban atas masalah ini atau aku benar-benar menjadi orang tak berguna,-!!" batin Tan Hao yang tengah menuju rumah.
Tak butuh waktu lama bagi Tan Hao untuk sampai di rumah yang selama ini menjadi tempatnya pulang.
"Kakek Lan?! Apakah anda di dalam." seru Tan Hao sembari mencoba membuka pintu.
"Aku hampir menjadi lumut hanya untuk menunggumu pulang,-!!" balas Leluhur Lan yang tengah duduk sembari membaca sebuah buku menggunakan kacamata yang hanya sebelah.
"Ahh, maafkan aku kakek,-!!"
__ADS_1
Tanpa membalas ucapan Tan Hao, Leluhur Lan meminta Tan Hao untuk duduk di sampingnya dengan gerakan tangannya. Ia masih terfokus membaca sebuah buku dengan sampul biru tua yang terlihat lusuh.
Tan Hao bertanya-tanya dalam hatinya namun tak berkeinginan untuk mengatakannya ketika melihat keseriusan Leluhur Lan dalam membaca.
"Apakah selama ini kau masih belum bisa berkultivasi,-!!" ucap Leluhur Lan setelah beberapa waktu ia mendiamkan Tan Hao.
Tan Hao dibuat terkejut dengan pertanyaan Leluhur Lan. Ia tak menyangka bahkan sebelum dirinya bercerita, Leluhur Lan malah lebih dulu menanyakannya.
"Benar kakek?! Alasanku kembali kerumah untuk menanyakan masalah ini pada kakek." ucap Tan Hao yang masih menatap tak percaya.
Leluhur Lan meletakkan kacamata sebelahnya yang diiringi dengan helaan nafas panjang.
"Boleh kau menunjukkannya padaku sesuatu yang kau dapatkan saat tak sadarkan diri,-!!"
Tan Hao tercekat dari tatapannya, ia terdiam cukup lama hingga tepukan pelan menyadarkannya.
"Tak perlu cemas, aku bukanlah orang dari alam bawah ini. Jadi sudah wajar jika aku mengetahuinya, bukan,-!!"
Ia tak menyangka bahwa orang yang dijuluki Kera Biru berasal dari alam atas.Tan hao meyakini bukan hanya Kera Biru saja tetapi ketujuh kera suci lainnya juga pasti berasal dari alam atas.
Merasa tidak ada lagi yang harus ia tutupi, Tan Hao memutuskan untuk menjelaskan serta meminta pendapat dari kesulitan yang ia alami.
"Dewi LianHua memberikanku benda ini?! Dia mengatakan bahwa ini hanyalah benda biasa saja yang suatu saat nanti bisa berguna ketika aku membutuhkan." kata Tan Hao sembari menunjukkan Biji Teratai yang berwarna hijau keunguan.
Leluhur Lan membuka lebar kedua matanya, ia seolah mengenal betul benda yang ada ditelapak tangan Tan Hao.
"Bocah busuk?!! Kau cukup beruntung rupanya,-!! Di dunia para Saint, biji ini disebut juga dengan Tunas Kehidupan dan hanya di hasilkan oleh Saint pemilik Roh Teratai Suci. Dewi LianHua yang kau maksud pastilah salah satu dari 7 Saint pemilik Roh Teratai Suci."
Tan Hao menghela nafas panjang mendengar ucapan Leluhur Lan, seperti beban pikirannya sedikit terangkat.
__ADS_1
"Lalu? Apa gunanya biji ini terhadapku,-!! Sergap Tan Hao sebelum Leluhur Lan melanjutkan perkataannya.
"Kau bocah pintar tapi bodoh,-!! Tentu ini berguna untukmu. Kau akan tau setelah memakannya. Kupikir tak perlu penjelasan lagi." kata Leluhur Lan sembari senyum lebar.
Leluhur Lan kemudian mengajak Tan Hao untuk pergi ke belakang gunung.
Tempat yang selama ini tidak pernah dimasuki oleh siapapun termasuk Feng Zhenzu maupun Lan Lihua. Bukan hanya tempat terlarang namun juga terpasang sebuah pelindung tak kasat mata.
Tan Hao terkesima melihat hamparan luas padang rumput setelah memasuki sebuah pelindung tak kasat mata dengan bantuan Leluhur Lan.
Tan Hao bisa mengenali dengan jelas seluruh tanaman yang ada di hadapannya.
"Kakek Lan? Apakah ini semua kakek yang membudidayakannya? Sungguh sumber daya yang langka terdapat banyak disini,-!! Lalu kenapa kita kesini."
Leluhur Lan menggeleng ringan sembari menunduk.
"Ini semua bisa membantumu dengan cepat mengembalikan kemampuanmu. Tapi, dari semua tanaman langka yang ada disini jika dibandingkan dengan benda yang kau pegang. Tidak bisa menyamainya bahkan jika digabung pun tidak ada apa-apanya."
Tan Hao terkejut bukan main, ia memandangi biji teratai di telapak tangannya merasa tak percaya.
Ia begitu takjub mengetahui khasiat dari benda yang ia pegang.
"Sesuai namanya, Tunas Kehidupan bukan hanya sebagai nyawa cadangan saat sekarat. Namun bisa meningkatkan kemampuan melebihi tingkatan sebelumnya, meskipun orang itu cacat ataupun kehilangan seluruh kemampuannya." kata Leluhur Lan sembari berjalan kearah gubuk kecil dibawah pohon Mahoni Putih yang sesaat kemudian diikuti Tan Hao.
"Sekarang duduklah bersila dan makanlah biji itu, tempat ini sangat aman dan cocok untuk berlatih."
Tanpa basa basi lagi, Tan Hao dengan sigap melakukan apa yang diminta Leluhur Lan tanpa banyak bertanya.
Leluhur Lan mengamati dengan penuh kewaspadaan. Meskipun dirinya yang menyuruh namun Leluhur Lan tau benar dampak apabila terganggu atau yang lebih buruk gagal.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka ternyata dia cucumu, wanita berisik. Hehh,-!! Apakah mungkin, bocah ini akan mengalami kisah yang sama dengan yang sebelumnya?!" batin Leluhur Lan yang tengah duduk santai menghadap ke Tan Hao yang tengah menyerap khasiat Biji Teratai.
"Aura ini,-!! Benda itu akhirnya muncul juga?! Keberuntunganmu sangat menakjubkan bocah."