Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 82 ~ Kemunculan


__ADS_3

Tan Hao yang diliputi kekuatan misterius berjalan dalam ketidaksadarannya. Ledakan energi dalam dirinya bahkan sedikit banyak mampu mendorong balik hawa tekanan yang masih datang menerpanya dari berbagai sisi.


Jauh di dalam ruang rohnya. Jiwa Tan Hao sedang terapung di sebuah cekungan air. Ia di kelilingi oleh tujuh bunga teratai yang kesemuanya mekar sempurna.


Ia terbangun ketika mendengar tetesan air yang menetes dari salah satu kelopak bunga. Tan Hao membuka kedua matanya perlahan yang sejenak kemudian ia tersadar.


"Dimana ini?! Mengapa aku berada disini? Bukankah seharusnya aku sedang bersama Hua'er,-!!"


"Ehh?! Hua'er dalam bahaya, aku harus segera menolongnya."


Tan Hao masih belum menyadari benar tempatnya berada, ia justru teringat dengan keselamatan Lan Lihua.


Dengan gerakan pelan, ia mencoba berdiri.


Hal tak terduga terjadi disaat ia telah berdiri sempurna. Tanda di keningnya bercahaya yang bersamaan dengan itu ketujuh bunga teratai disekelilingnya menyibakkan butiran keemasan yang berkilauan.


Tak berapa setelah itu, tanda yang ada di kening Tan Hao menyebar keseluruh tubuhnya. Terlihat seperti sebuah tato yang menjalar.


"Ada apa ini?! Tubuhku?!"


Tan Hao melihat dengan jelas bayangan dirinya dari genangan air. Ia tidak merasa terkejut tetapi juga tidak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.


Tanda tersebut menyebar keseluruh tubuhnya dengan bercahaya. Ketika tanda tersebut telah berhenti menyebar, tiba-tiba Mata Dewa bangkit dengan sendirinya.


"Ahh,-!! Ada apa ini sebenarnya." kata Tan hao sembari menutup sebelah matanya.


Belum sempat Tan Hao mengendalikan Mata Dewa yang muncul tiba-tiba. Ketujuh bunga Teratai di sekelilingnya memercikkan petir ungu yang sesaat setelah menusuk tubuh Tan Hao dengan cepat.


"Aaarrrggghhh."


Erangan Tan Hao terdengar menggema di tempat yang sunyi dan tak terlalu luas. Hanya ada kegelapan di luar lingkup tujuh Bunga Teratai.


Tubuh Tan Hao yang berada tepat di tengah lingkaran tumbuhnya Tujuh Bunga Teratai tersebut bertubi-tubi di hempas oleh kilatan petir ungu yang tiada jeda.


Cukup lama hal itu mendera Tan Hao hingga membuatnya tak berhenti mengerang.


Secerah sinar terang tiba-tiba menyinari tubuh Tan Hao dari ketinggian. Bersamaan dengan itu, terpaan kilatan petir ungu yang menderanya terhenti.


Tan Hao terjatuh dengan kedua lututnya, tubuhnya basah kuyup oleh keringat dan genangan air yang mengenainya ketika terjatuh.


"Kejadian macam apa ini,-!! Kenapa aku tak bisa mengendalikan tubuhku sendiri?!"


"Ini adalah Ruang Roh mu?!"


Tan Hao terkejut bukan main ketika memandang arah datangnya suara tersebut.

__ADS_1


Seorang lelaki dengan pakaian layaknya bangsawan berjalan dengan santainya kearah Tan Hao dengan memegang sebuah seruling emas bermotif naga.


"Si-siapa kau?!" seru Tan Hao yang terjungkal kebelakang tatkala melihat wajah lelaki tersebut.


"Ba-bagaimana bisa,-!!"


Keterkejutannya tak berhenti disana, lelaki tersebut berhenti tepat dihadapannya dengan memasang wajah riang disertai senyuman hangat.


Tan Hao serasa melihat dirinya sendiri ketika melihat lelaki di hadapannya walaupun dengan pakaian serta penampilan yang berbeda.


"Apakah pengasuhmu tak memberitahumu tentang datangnya hari dimana kau berusia tepat 17 tahun,-!!" kata lelaki tersebut yang masih tersenyum hangat.


Lelaki tersebut mengulurkan tangannya membantu Tqn Hao untuk berdiri.


"Pengasuhku?! Kau mengenalnya,-!! Siapa sebenarnya dirimu?!" kata Tan Hao sejenak setelah ia berdiri.


"Menurutmu siapakah aku?!" kata lelaki tersebut sembari menempelkan ujung seruling ke pipinya.


Tan Hao mengerutkan dahi, ia bukan tak bisa berfikir. Lelaki di depannya sangat mirip dengannya, hingga membuat Tan Hao yakin bahwa lelaki tersebut adalah dirinya yang lain.


"Sudah sudah,-!! Hentikan pemikiranmu yang tak jelas itu." kata Lelaki tersebut sejenak kemudian menjentikkan jarinya.


Tan Hao lagi-lagi di buat terkejut, sebab ia telah berpindah tempat.


Tempat yang hampir sama saat Tan Hao bertemu dengan Dewi LianHua.


Tan Hao hanya memandang tangan yang ada di bahunya tanpa mampu menjawab. Sebagai pemilik kekuatan dewa, dirinya merasa apa yang ia pelajari dan dapatkan tak cukup mampu mengetahui rahasia dunia.


Tatapannya begitu kosong, seolah kitab 1000 kehidupan tak berfungsi sama sekali saat ini.


"Hal baik dari takdir ini adalah bertemu denganku disaat kau menemukan pusaka ketigaku."


Tan Hao masih menatap kosong tanpa mampu menangkap pernyataan lelaki tersebut.


Lelaki tersebut menghela nafas pelan kemudian kembali berkata.


"Siapa nama aslimu."


Tan Hao tersadar dari tatapan kosongnya pada wajah lelaki tersebut ketika tangan dipundaknya mencengkeram ringan.


"Tan Haochun." jawab singkat Tan Hao.


"Haihh,-!! Maksudku nama panjangmu."


Tan Hao mengerutkan dahi sesaat kemudian ia menyadari sesuatu.

__ADS_1


"Tidak mungkin?!" ucap Tan Hao sembari menatap kaget.


"Sejak kapan nama pemberianku berubah menjadi (Tidak Mungkin). Aihh,-!!" dengkus ringan lelaki tersebut sembari memejamkan mata.


Tan Hao menatap tajam. Airmatanya keluar dengan sendirinya dan sesaat kemudian ia memeluk lelaki tersebut dengan erat.


"Ayah?!"


Gumaman kecil Tan Hao membuat Lelaki tersebut kembali tersenyum kemudian membalas pelukan Tan Hao.


"Seharusnya sejak awal kau mengenaliku?! Ahh..ini memang salahku yang tak sempat menemuimu waktu itu." gumam kecil Lelaki tersebut.


Perasaan Tan Hao begitu terpukul. Antara bahagia dan sedih bercampur dengan ketidakpercayaan. Namun semuanya seperti nyata membuat Tan Hao tak bisa mengelak dari perasaannya.


"Kau sudah dewasa sekarang? Untuk apa begitu emosional seperti anak kecil begini?! Putraku,-!!"


Lelaki tersebut nyatanya memanglah Ayah Tan Hao, ia memiliki nama Yaoshan. Sejarah telah mencatatnya sebagai Dewa Yao. Seorang yang mencapai tingkat tertinggi dari kekuatan duniawi hingga mampu abadi.


Tan Hao sangat emosional hingga ia tak mampu menahan airmatanya. Pelukannya begitu erat, seolah terdapat rindu yang mengalir di dalam hembus nafasnya.


"Aku membencimu, ayah?!" gumam Tan Hao pelan yang semakin memeluk erat.


•••


"Aku tak menyangka, benda benda ini ternyata benar adanya di dunia ini." kata Lan Lihua sembari berjalan mendekati tempat ketiga benda itu berada.


"Dewi, akhirnya kau datang setelah ribuan tahun aku menunggumu." seru suara yang menggema di dalam ruangan.


Lan Lihua tersentak kaget, dengan cepat ia menyusuri ruangan tersebut dengan pandangan. Namun ia tak menemukan siapapun sebagai sumber suara yang ia dengar.


"Siapa kau?!" teriak Lan Lihua singkat.


"Apa kau lupa padaku setelah ribuan tahun berlalu?! Kau yang menjadikanku sebagai api yang tak pernah padam? Kau yang menyatukanku dengan tungku itu? Sebagai seorang Panglima Naga Timur, aku selalu mengingat setiap budi yang kau berikan. Aku tak mungkin salah mengenali penolongku."


Lan Lihua memandang kesana kemari untuk menemukan asal suara itu namun tak ia temukan apapun. Pandangannya kemudian tertuju pada patung kepala naga.


"Aku bukanlah orang yang kau maksud? Bisakah kau tunjukkan dirimu?!" seru Lan Lihua dengan memandang yakin patung Kepala Naga di sisi lain tempatnya berdiri.


"Aku tak mungkin salah?! Kau jelas adalah Dewi Kehidupan,-!! Kalung Giok itu sebagai identitasmu dan itu juga yang mengantarkanmu kemari."


"Aku, Bing Long Panglima Naga Timur tak pernah melanggar sumpah setiaku padamu,-!!"


Sosok suara tersebut menampakkan diri berwujud nyala api putih kebiruan berbentuk seekor naga dari sela-sela mulut patung Kepala Naga.


"Api Dingin Naga Timur, memberi hormat pada Dewi."

__ADS_1


Sosok tersebut menundukkan kepalanya tepat di hadapan Lan Lihua.


Bukan hanya terkejut, ia merasa kebingungan dengan apa yang terjadi. Sampai membuat tubuhnya berdiri kaku tanpa mampu beranjak.


__ADS_2