
Tan Hao terkekeh mendengar pernyataan Yan Mu, kemudian ia berdiri setelah mengambil napas beberapa kali. Meskipun ia masih menahan rasa sakit di dadanya tapi Tan Hao mencoba untuk bersikap biasa, dan hal itu membuat Yan Mu tersenyum semakin lebar.
"Muda, tampan dan berkemampuan tinggi! Dirimu membuatku kagum, tapi mulai hari ini ... Dirimu akan jadi orang tidak berguna...! Karena aku akan mengambil semuanya, hahaha! Kata guruku, itu sangat bagus, sangat bagus," kata Yan Mu sembari mencoba meraih Tan Hao menggunakan sebelah tangannya.
"Oh, gerakanmu masih begitu gesit! Aku suka, aku suka," lanjut Yan Mu sambil menggenggam erat tangannya, ketika Tan Hao melompat kebelakang dengan cepat sebelum tangan Yan Mu sempat menyentuhnya.
Disisi lain, Tan Hao menatap tajam Yan Mu sembari menggenggam erat pedangnya. Pikirannya masih dipenuhi rasa penasaran, sebab ia masih tak bisa membaca kekuatan Yan Mu. Padahal, seharusnya ia bisa membaca kekuatan seseorang sampai di tingkat Alam Dewa Petir.
"Mungkinkah...! Orang ini melebihi tingkatan dari paman Feng dan Leluhur Lan? Jika benar, ini gawat! Kekuatanku yang sekarang tak akan sanggup menghadapinya!" batin Tan Hao sesaat terbelalak menyadari kemungkinan yang ada.
Sementara itu, terjadi gejolak yang tak biasa di dalam ruang jiwa Tan Hao sesaat sebelum ia menyadari. Aura energi yang beberapa waktu lalu ia serap, seperti memberontak pada sesuatu yang berada di luar. Cukup membuat Tan Hao merasa tertekan, walaupun aura energi itu hanya sebagian kecil dari aslinya.
Gumpalan hijau cerah itu seolah tertarik oleh sesuatu yanga berasal dari luar, bukannya Tan Hao tak menyadarinya tetapi saat ini ia tak punya banyak pilihan untuk tidak berwaspada. Apalagi orang di hadapannya itu memiliki kekuatan yang misterius, sama misteriusnya dengan pengemis Fen Fang.
Yan Mu tersentak sesaat kemudian terbahak-bahak tidak jelas, sikapnya itu membuat Tan Hao menjadi heran. Sebab, Yan Mu nampak sekali santai dan terlihat tidak memandang Tan Hao sama sekali, bahkan seolah dia cukup yakin dengan kapasitas kekuatan yang Tan Hao miliki.
"Aku tak menyangka, dalam tubuhmu ada pecahan energi dari Phoenix Petir Ungu, hahaha! Keberuntunganku lengkap sekali, aku harus berterimakasih padamu kali ini...!"
"Apa maksudmu? Bagaimana kau bisa tahu?" sahut Tan Hao setelah sebelumnya kaget dengan apa yang dikatakan Yan Mu. Sebab Tan Hao yakin kalau di dunia ini, tidak ada seorang pun tahu mengenai hewan suci surga apalagi nama mereka.
Yan Mu menghentikan tawanya, menutup wajahnya dengan telapak tangan dan hanya terlihat sebelah mata yang menatap kejam Tan Hao.
"Kau tak perlu tahu soal apa yang kuketahui! Yang perlu kau tahu ... Aku abadi!"
WHOONG!
__ADS_1
WUSH! WUSH!
Tan Hao tertekan cukup berat akibat hawa energi yang dilepaskan Yan Mu secara mendadak. Baru kali ini, tubuhnya serasa kaku dan tak bisa bergerak. Pernapasannya juga perlahan menjadi sesak.
"Sungguh gila kekuatan ini! Bahkan akupun tak seperti ini dengan kekuatan penuh! Pencapaian macam apa ini...!" batin Tan Hao sembari mencoba menyeimbangkan tubuhnya sementara ia harus menahan rasa sakit di dadanya.
"Akh...!!"
Yan Mu mencengkeram leher Tan Hao, kecepatan gerakannya bahkan sama sekali tak dapat dilihat oleh Tan Hao meskipun ia sudah mengaktifkan Mata Dewa. Kontan saja membuat tubuh Tan Hao terbanting ke tanah dengan cukup keras.
"Kau payah! Terima kasih untuk ini...!"
"Aarrgghhh...!"
Tan Hao mengerang hebat merasakan sakit luar biasa tatkala Yan Mu menghisap energi spiritualnya menggunakan tangan kiri yang memiliki semacam tanda hitam berbentuk segitiga menyala di telapak tangannya.
BUKK!!
"Ukh...!"
Tan Hao muntah darah segar ketika ia dilempar Yan Mu hingga membentur batang pohon, cukup keras hingga membuatnya hampir tak sadarkan diri. Sementara Yan Mu terlihat memandangi kedua tangan dan tubuhnya sendiri.
"Kekuatan ini! Energi ini! Hahahaha .... Terimakasih anak muda, energi milikmu ini sangat mengenyangkan, hahaha! Tunggulah sampai ajal menjemputmu atau keberuntungan masih memihakmu untuk tetap hidup, hahaha!"
Yan Mu tertawa puas, entah kenapa ia tak berniat membunuh Tan Hao dan malah membiarkan Tan Hao begitu saja. Padahal, saat ini Tan Hao tak berdaya sama sekali. Jelas terlihat kalau Tan Hao sudah tak memiliki energi kekuatan lagi.
__ADS_1
"Nikmatilah waktu terakhirmu! Hahaha ...!" kata Yan Mu sebelum tubuhnya mendadak berubah seperti asap yang tertiup angin kemudian menghilang.
Tan Hao hanya bisa memandang tempat Yan Mu berada sebelumnya, mata sayu hampir tak sadarkan diri mengikat Tan Hao. Kali ini terlihat begitu menyedihkan, tubuhnya tak bertenaga sama sekali. Bahkan dirinya tak mampu menggerakkan satu jari pun.
"Aku kalah hanya dalam satu gerakan! Begitukah kekuatan yang sebenarnya? Aku tidak menyangka, aku akan begini lagi...!" batin Tan Hao sebelum menutup mata tak sadarkan diri bersandar pada batang pohon.
***
Fen Fang mengobati Sui Jiu di dalam sebuah gubuk tua dengan hanya beratap daun kering, meskipun kedua tangannya tengah menyalurkan energi tenaga dalam ke punggung Sui Jiu, tetapi pikirannya tak lepas dari keadaan Tan Hao.
Dalam benaknya, ia memang tak yakin kalau Tan Hao mampu melawan Yan Mu tetapi hatinya juga percaya kalau Tan Hao memiliki kecerdasan. Untuk itu Fen Fang memutuskan mengobati Sui Jiu terlebih dahulu dan memastikannya baik-baik saja. Baru setelah itu dia berencana untuk kembali ke tempat sebelumnya.
Membutuhkan waktu cukup lama bagi Fen Fang untuk bisa menyeimbangkan energi dalam tubuh Sui Jiu, sebab energinya hampir terkuras habis akibat sebelumnya terserap rantai yang mengikatnya.
"Gadis ini! Apa yang sudah dia konsumsi sampai bisa membuat tubuhnya sekuat ini? Jika terjadi pada gadis lain, mereka akan mati seketika ketika terlepas dari rantai-rantai itu!"
Setelah menghabiskan beberapa jam, akhirnya Sui Jiu mampu membuka mata meskipun tubuhnya masih lemah, muntah darah beberapa kali membuatnya menjadi lebih baik. Fen Fang cukup lega, itu terlihat dari senyum kecil dibibirnya sembari menyeka keringat.
Sui Jiu sendiri tak merasa terkejut atau merasa dalam bahaya, sebab sebelum tak sadarkan diri, ia telah menyaksikan kalau orang berpakaian pengemis itu yang sudah membebaskannya dari rantai besi.
"Terimakasih, Kakek! Kakek bukan hanya menyelamatkan aku dari rantai besi, tetapi juga tidak membiarkan aku mati," hormat Sui Jiu sedikit menoleh, sebab ia masih duduk bersila membelakangi Fen Fang.
Fen Fang tersenyum kecil sambil mengangguk, dalam hati secara tidak sadar ia mengagumi paras Sui Jiu dan juga rasa sopan yang ditunjukkannya. Padahal sebelumnya, menurut Tan Hao kalau Sui Jiu terkesan keras dan acuh terhadap orang asing tetapi nyatanya itu tidak sepenuhnya benar.
"Tidak masalah, tidak masalah! Aku punya seorang teman yang memintaku menyelamatkanmu ...! Teman? Ahh ... Kau istirahat saja dan tunggu disini, aku akan segera kembali...!"
__ADS_1
Fen Fang mendadak teringat dan langsung membuatnya kembali merasa tak tenang. Ia tergesa-gesa memasang pelindung kemudian berpamitan pada Sui Jiu sebelum melesat secepat angin kembali ke menara.