
Fen Fang menatap sinis beberapa penjaga tersebut sementara Tan Hao kembali membopong Lan Lihua kemudian keduanya berjalan mengikuti Ying Yue.
Tata letak kota yang berbeda dari kota lain berhasil menarik perhatian Tan Hao. Jarak antar bangunan cukup lebar sementara besar dan tinggi bangunan nampak sama. Menariknya lagi, di tengah kota itu terdapat aliran sungai yang memiliki lebar sekira dua langkah, airnya terlihat gelap akibat pantulan awan mendung. Sementara di sebelah sisi sungai kecil itu terdapat semacam jembatan yang memanjang mengikuti sungai itu dan memiliki atap.
Manager cabang itu sangat mirip penampilannya dengan Yue Yun manager cabang kota Shuning, hanya berbeda wajah dan pembawaan.
Tan Hao menyempatkan diri mengamati setiap sudut kota sembari mengikuti Ying Yue menyusuri aliran sungai kecil yang seperti memotong kota tersebut.
"Kota ini meskipun di tengah tanah gersang, tapi sangat indah! Hua'er ... Kapan kau bangun, lihatlah bangunan-bangunan itu. Ukirannya, polanya, keindahannya ... Apa kau tak ingin melihatnya?" Tan Hao melirik wajah Lan Lihua yang bersandar di dadanya.
Hal lain terlihat nampak berbeda dari Fen Fang sejak mulai mengikuti Ying Yue, dirinya bersikap sangat waspada sementara perhatiannya tak teralihkan dari area sekitar.
'Hao Hao! Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana tapi aku merasa kota ini terlalu hening dan dingin!' ujar Fen Fang melalui pikirannya.
Tan Hao menatap Fen Fang sejenak sebelum tersenyum tipis, 'Ya! Aku juga tahu apa penyebabnya. Tak lama lagi pagi segera datang, kita akan membicarakannya nanti,'
Fen Fang membalas tatapan mata penuh arti tersebut. Ia tak menduga jika Tan Hao telah lebih dulu menyadarinya, berbeda dari hari sebelumnya yang cenderung abai terhadap sekitar.
Kota Shaoguan memang terletak di padang gurun, meskipun sebenarnya bisa saja kota itu di bangun di dekat perbatasan yang masih berupa wilayah hutan dataran tinggi yang jaraknya tak begitu jauh.
Entah apa yang mendasari pembangunan kota lebih memilih bertempat di tanah berpasir dibanding di wilayah hutan. Kota yang ditinggali penduduk asli dan bisa dihitung dengan jari warga pendatang itu tak memiliki harta kekayaan selain mata air jernih dan beberapa hasil budidaya ginseng air.
Perdagangan di kota ini juga tak berjalan dengan baik, meskipun terdapat pasar besar yang menjual semua kebutuhan termasuk tanaman sumber daya. Satu-satunya penarik minat para pendatang hanyalah sumber mata air yang kerap kali dijadikan tempat berlatih para pendekar.
Tak berselang lama, keduanya telah sampai di depan bangunan kuning tua yang memiliki dua penjaga di pintu masuknya. Ying Yue memberi tanda pada penjaga sebelum mengajak Tan Hao untuk masuk.
__ADS_1
***
"Jadi bagaimana kondisi asosiasi disini?" tanya Tan Hao pada Ying Yue setelah beberapa saat lalu membaringkan Lan Lihua di tempat tidur.
Fen Fang hanya diam berdiri sembari bersandar di sebelah jendela tak jauh dari Lan Lihua sembari memerhatikan Tan Hao dan Ying Yue yang tengah berdiskusi.
Ying Yue menuangkan teh sembari tersenyum, ekspresinya begitu ramah dan terlihat cerah walaupun sebelumnya ia sempat merasa jengkel karena waktu tidurnya terganggu oleh kedatangan penjaga gerbang.
"Silakan tehnya, Tuan! Benar. Beberapa hari belakangan terjadi penyerangan tiba-tiba dari Manusia Ular Gurun. Mereka melakukannya pada saat malam telah mencapai puncaknya. Selain membunuh para wanita, mereka juga menculik anak-anak terutama perempuan. Jika bukan karena pendekar bantuan dari asosiasi, kota ini sudah jadi kota mati sekarang...."
Ying Yue melanjutkan ceritanya mengenai Manusia Ular Gurun, meskipun malam hampir menjelang pagi dirinya kelihatan sangat antusias. Terlebih beberapa kali Fen Fang sempat menangkap Ying Yue curi pandang pada Tan Hao saat dia bercerita.
Tan Hao beberapa kali mengerutkan dahi ketika mendengar cerita yang disampaikan Ying Yue, 'Kenapa selalu saja ada masalah setiap kali aku mengunjungi suatu tempat? Terlebih semuanya memiliki masalah yang berbeda dan beragam. Kalau begini terus, lalu aku harus bagaimana? Sementara yang ada dipikiranku sekarang hanya sekte dan kota kerajaan!'
Keberadaan mereka juga jarang ditemukan, tak ada satu pendekar pun yang mau bertemu dengan mereka. Maka dari itu hampir tak ada yang melewati kota yang dijuluki sebagai jalur jalan tengah itu.
"Kenapa bisa tidak ada bantuan dari kota terdekat? Bukankah seharusnya pemimpin kota mengirim surat permintaan atau sejenisnya!" sahut Tan Hao ketika Ying Yue baru saja menyelesaikan ceritanya.
Ying Yue menggeleng kepala pelan sembari memejamkan mata seolah enggan menceritakan mengenai hal itu.
"Aku juga tidak tahu pasti! Kami hanya melakukan seperti yang diperintahkan Nona Fen Lian beberapa hari lalu melalui surat perintah," jelas Ying Yue sembari menuangkan teh lalu memberikannya pada Fen Fang.
Fen Fang meraih gelas teh tersebut, "Lalu apa hubungannya kota ini dengan penyerangan itu?"
"Menurut mereka, kota ini menyimpan seekor hewan buas tingkat langit. Mereka meyakini itu berada di bawah tanah Kota Shaoguan ini. Entah mereka mendapatkan informasi itu darimana karena selama ini, kabar itu tak benar dan kami tak memiliki adanya bukti dari kebenaran hal itu!"
__ADS_1
Ying Yue mengeluarkan sebuah gulungan merah berhias kepala naga lalu membukanya diatas meja dihadapan Fen Fang dan Tan Hao.
Gulungan merah itu merupakan peta wilayah Kota Shaoguan beserta seluruh detil areanya. Ying Yue kemudian menjelaskan tempat demi tempat yang tertera dalam gulungan tersebut.
Perhatian Tan Hao tertuju pada sebuah bangunan mirip pagoda yang terletak di sisi paling utara kota setelah Ying Yue selesai menjelaskan keseluruhannya.
'Jika benar ada hewan buas tingkat langit, lalu hewan seperti apa yang ada di kedalaman bawah tanah seperti itu? Bukankah semakin dalam semakin panas? Mana ada hewan yang mampu bertahan di dalam panasnya inti bumi?'
Ying Yue menangkap arah pandangan mata Tan Hao yang tak beranjak dari gambar bangunan pagoda itu, "Sepertinya Tuan Muda tertarik dengan ini! Bangunan ini bernama Pagoda Tao Suci yang dulunya digunakan sebagai tempat pemujaan oleh kelompok penganut keagamaan. Tapi sejak lima puluh tahun lalu ditinggalkan begitu saja, orang-orang yang mendiaminya juga menghilang begitu saja tanpa ada jejak yang mereka tinggalkan. Sekarang, tempat itu hanya sebuah bangunan kosong tak berpenghuni ...!"
"Oh...! Ada hal seperti itu disini? Lalu untuk kekuatan pendekar yang dikirim kemari ...!"
"Tuan Muda tenang saja! Asosiasi Menara Emas sudah berkembang sangat pesat sejak enam tahun lalu. Banyak pendekar tanpa sekte yang direkrut dan juga banyak yang menawarkan diri. Jadi saat ini, bukan hanya sebagai penyedia sumber daya dan informasi. Asosiasi juga memiliki kekuatan tempur yang sangat kuat, lebih kuat dari tiga sekte besar jika digabungkan. Hanya saja, pergerakan kami selalu dalam kerahasiaan," terang Ying Yue yang kini kelihatan jelas kalau bukan hanya sekedar curi pandang.
Fen Fang melihat gelagat dan cara bicara manager cabang dari Asosiasi Menara Emas itu terasa aneh dan mencurigakan meskipun yang dia ceritakan bisa dipastikan kebenarannya.
"Sebaiknya kita mengambil istirahat sejenak, aku pikir kau membutuhkan waktu untuk tidur. Kita akan bahas lagi nanti siang! Apa Nona Yue bisa memberi kami waktu untuk itu!"
Ying Yue terlihat tersenyum kecut mendengar permintaan Fen Fang, "Ah baiklah! Kalian memang butuh istirahat, aku akan pergi sekarang. Jika kalian menginginkan sesuatu, tinggal memanggil saja. Aku akan menyiapkan dua pelayan di depan pintu kamar,"
Selesai membereskan meja dan menyimpan kembali gulungan merah itu, Ying Yue pamit lalu keluar. Disaat pamit pun dirinya menyempatkan diri untuk lebih dekat dengan Tan Hao. Fen Fang tersenyum sinis kala mengetahui gelagatnya.
"Heh dasar wanita penggoda! Aku pikir kau memakai jimat, bagaimana bisa setiap kali bertemu wanita kau selalu menarik perhatian mereka!" Fen Fang menggeleng kepala sembari terkekeh ringan.
Tan Hao membuang napas panjang sebelum memandang keluar jendela, "Kakek Fang! Aku pikir, tak lama lagi kau akan mendapatkan sisa kepala yang kau butuhkan!"
__ADS_1