
Tubuh Lan Lihua semakin bergetar, kedua matanya bahkan memancarkan cahaya terang yang menjulang ke atas. Disaat bersamaan tempat itu juga bergetar seperti sebuah gunung yang akan meletus.
Tan Hao tak mengira efeknya akan sedemikian kuat, bahkan ia harus mengambil jarak sebab tubuhnya seakan terhisap ke tubuh Lan Lihua.
“Penyerapan cahaya dimulai! Tidak ada yang dapat menandingi batasan dari rasa iri dan dengki, hanya ada cahaya terang yang menyinari. Akhirnya aku tahu apa yang dimaksud kata-kata itu.”
Namun hal tak terduga terjadi ketika Lan Lihua baru menyerap kurang dari setengah energi lautan magma tersebut.
Insting Tan Hao yang tajam segera mengetahui kejanggalan yang terjadi, tiba-tiba saja lautan magma itu seperti ada yang menghisap ke arah sebaliknya. Itu terlihat seolah menarik ke arah berlawanan.
Terang saja hal itu menyebabkan tubuh Lan Lihua mengerang kuat, energi yang diserap bergejolak hebat.
“Manusia rendahan...! Apa kau pikir bisa berbuat sesuka hati ditempat ini...!”
Tan Hao yang sedari awal telah bersiaga kini menajamkan visi-nya, menggunakan mata dewa tahap pertama memandang lurus ke bagian tengah lautan magma.
Letupan besar terjadi setelah suara itu berhenti menggema, tak berselang lama muncul sesosok kepala hewan berukuran besar.
Tubuhnya tak terlihat sebab berada di bawah permukaan magma tetapi kepalanya sangat jelas berwujud seperti perpaduan antara kepala singa dan kepala naga.
Memiliki dua taring panjang, sepasang tanduk bercabang sementara kedua mata emasnya menatap tajam ke arah Tan Hao. Dua helai bulu di bawah hidungnya bergelombang seperti nyala lilin tertiup angin.
Tan Hao menatap tajam sebelum mendengus berat, “Kylin Air Api...! Salah satu hewan legenda alam bumi! Tak ku sangka akan menemukannya disini?”
Sosok yang di lihat Tan Hao itu tak lain adalah salah satu dari hewan legenda suci Alam Bumi. Kylin Air Api yang memiliki wujud naga singa berkaki empat. Tubuhnya sedikit lebih panjang dari harimau, lebih kecil dari gajah.
__ADS_1
Kemunculannya membuat energi ditempat itu mengalami pergesekan yang sangat besar, Tan Hao segera menyiapkan manik-manik teratai dan juga pedang dewa hampa setelah makhluk itu keluar dari lautan magma.
Selama ini Tan Hao mengira jika makhluk legenda alam dunia sudah lama tiada dan hanya menjadi cerita legenda saja. Kylin Air Api yang memiliki sifat ganas dan pemangsa tertinggi yang tak tertandingi menjadi urutan teratas dari sepuluh makhluk legenda.
Karena itulah Kaisar Chu menggunakan nama dari makhluk ini sebagai julukannya.
Meskipun tingkatnya masih dibawah dari sepuluh hewan suci surga, tetapi kekuatannya hampir sebanding. Untuk itulah Tan Hao tidak terburu-buru untuk langsung menyerang, ia tahu akan sangat sulit jika harus bertarung sekaligus melindungi kultivasi Lan Lihua.
“Manusia kurang ajar...! Beraninya mengusik wilayahku!” pekik makhluk itu yang melayang di atas lautan magma, kemarahannya terlihat jelas dari aura tubuh yang menyibak keluar.
Tan Hao menggunakan mata dewa tahap kedua untuk menangkal aura tubuh makhluk itu, sedangkan salah satu tangannya menyiapkan manik-manik teratai.
“Aku tak berniat mengusikmu, kami membutuhkan tempat ini untuk berlatih! Aku juga tak tahu jika tempat ini ada pemiliknya, bisakah kau memberikan kami tempat untuk berlatih?” Tan Hao mencoba bernegosiasi untuk menghindari pertarungan, ia tak ingin Lan Lihua terganggu jika sampai ada benturan energi lain yang membuyarkan keseimbangan energi tubuh Lan Lihua.
Makhluk itu beberapa kali mendengus sambil menggeliat di udara sebelum mendekatkan kepalanya ke wajah Tan Hao.
Bukannya Tan Hao tak mengetahui adanya makhluk itu, mata dewa miliknya bahkan sudah melihatnya ketika pertama kali menemukan tempat ini.
Sikap tenangnya membuat makhluk itu menahan tindakannya, hal itu dapat terlihat dari caranya mengajak bicara dibanding langsung menyerang membabi buta.
Tan Hao sendiri tak berkedip menatap mata makhluk itu, “Tidak ada! Aku hanya menemukan tempat yang cocok untuk istriku berlatih. Aku tidak melakukan kesalahan apapun, tapi jika kau berani mengusiknya. Itu hal lain yang harus kau tanggung, Tuan Kylin...!”
“Hahaha ... Kau bicara seolah kau yang berkuasa disini! Keberanian yang lumayan. Hmm ... Tapi aku tak selembut itu pada manusia! Aku mungkin bisa membiarkan kalian, tapi keuntungan apa yang bisa aku dapatkan!”
Dalam hatinya, Tan Hao merasa aneh. Sebab makhluk yang ada di depannya ini tak seperti yang di ceritakan. Jika hewan ini pemangsa ganas, bukankah sudah sejak lalu ia dan Lan Lihua menjadi sasaran amukannya tapi itu tidak terjadi.
__ADS_1
Sejenak kemudian ia baru menyadari kalau hewan itu telah kehilangan ekornya. Menurut Tan Hao, ekornya yang hilang mungkin menjadi penyebab hewan legenda itu tak seagresif yang diberitakan.
“Aku bisa memberikan yang kau butuhkan jika aku memilikinya! Tidak ada dendam apapun diantara kita, jadi sebaiknya ini bukan suatu masalah...!” Tan Hao menahan tindakannya dan bersikap setenang mungkin sementara tatapannya tak teralihkan sedikitpun.
Tan Hao tak menduga jika hewan legenda itu berangsur menurunkan aura pembunuhnya, tetapi itu tidak membuatnya lengah.
“Kau manusia pertama yang berani berbicara padaku, aku tak menyangka akan menemukan orang yang tak punya rasa takut sepertimu!” ucap hewan legenda itu sambil menarik kembali kepalanya.
Hewan legenda itu kemudian mulai bercerita tanpa Tan Hao minta, meskipun ia merasa aneh tetapi Tan Hao bernapas lega. Dengan begitu ia menjadi tenang sebab Lan Lihua dapat melanjutkan pelatihannya tanpa gangguan.
Tan Hao tak bisa menebak motif hewan legenda itu kenapa dengan mudahnya bersikap baik. Meskipun cerita yang disampaikan padanya sudah ia ketahui.
Tak berapa lama kemudian, hewan legenda itu merubah bentuk menjadi lebih kecil setelah menjelaskan tentang pagoda tao suci.
“... Dan karena itulah mungkin aku merupakan eksistensi makhluk legenda terakhir yang tersisa, sudah berapa ratus tahun berlalu dan saat ini aku sedang berbicara dengan manusia ... Hahaha, konyol sekali,” ungkapnya sambil tertawa.
Wujudnya yang kecil seukuran kucing hutan membuat tampilannya begitu lucu dengan perpaduan warna bulunya yang nampak warna-warni. Sementara kakinya tak menjejak ke tanah tetapi melayang dengan api biru bak awan di empat kakinya.
Tan Hao menyimpan kembali pedangnya, ia tak menduga jika kenyataan sangat berbeda dari apa yang diberitakan. Hewan di depannya ini bukan saja kelihatan lucu tetapi juga sama sekali tak terlihat ganas.
“Lalu? Apa yang kau inginkan?” tanya Tan Hao bersikap normal setelah menutup mata dewa-nya.
“Emas! Aku hanya membutuhkan emas! Bisakah kau memberiku emas, ya ... Itu bisa dibilang untuk biaya istrimu tidur disana? Bukankah itu hal yang wajar sebagai pemilik penginapan ini hahaha....!”
Wajah Tan Hao yang semula serius mendadak menjadi sangat bodoh mendengar pernyataan makhluk yang masih belum mau menyebutkan namanya itu. Ia benar-benar kehabisan nalar untuk mengerti perubahan sikap yang terjadi.
__ADS_1
‘Sudah berapa lama sejak aku menikmati emas, manusia ini mungkin bisa memberiku makanan enak itu dalam jumlah yang banyak, hahaha bukankah kemunculanku tadi terlihat keren,’ batin makhluk itu disertai tawa licik.