
Jiwei Dan pada akhirnya memutuskan mengambil jarak dan menjauh dari Tan Hao, dengan tatapan tajam.
Nafas Jiwei Dan sedikit banyak telah terpengaruh emosinya, menjadikan dirinya bernafas keras. Sesaat kemudian Jiwei Dan berseru lantang.
"Dewa Iblis, Apakah kau tak lihat aku sedang kepayahan. Mau sampai kapan kau menunggu dan membantuku.."
Teriakan Jiwei Dan sontak membuat Tan hao mengalihkan pandangannya dengan cepat ke sosok Dua Mata besar di bagian sisi yang lain.
Tan Hao begitu terkejut ketika melihatnya menggunakan Mata Dewa yang telah mengalami perubahan tahap ke tingkat dua. Terlihat lebih jelas bahwa Dua mata besar itu juga memiliki telinga dan mulut. Telinga besar memanjang dan mulut lebar dengan gigi besar tajam.
"Ohh, aku tidak percaya di dunia ini ada makhluk mengerikan seperti ini. Kekuatannya sungguh di luar perkiraanku. Aku tak yakin bisa menghadapinya sendirian. Ck.. Ye yuan, kembalilah.. bantu aku." bibir Tan Hao sedikit bergetar dengan raut wajahnya yang tertekan.
Wujud itu lah yang selama ini memberikan kekuatan pada Jiwei Dan dan memanfaatkan tubuhnya untuk menyerap jiwa manusia yang telah mati. Aura yang dimilikinya jauh lebih besar dari milik Jiwei Dan. Tan Hao berkeringat dingin semakin lama memandangnya.
Beberapa kali Tan Hao berteriak dalam hati memanggil Ye yuan namun tak ada jawaban. Membuat pikiran Tan hao begitu rumit. Nafas memburu dengan sesekali tertahan membuat ia terlihat ketakutan, dan Jiwei Dan memperhatikan sikap Tan hao yang begitu terlihat mencolok.
"Apa kau takut sekarang? Ha haaha.. Dewa Iblis bukan sekedar Mata, dialah guruku juga dewaku. Tidak ada yang berakhir hidup jika sudah di hadapannya. Sudah terlambat bagimu menyesalinya, haha haaaha.."
Tan Hao mengumpat keras dalam hati, perkataan Jiwei Dan tidak di buat-buat. Kenyataan nya memang seperti itulah. Sesaat kemudian Tan Hao mulai bisa berfikir.
Terlintas di benaknya jika tak ada bantuan dari Ye yuan masih ada Patriark Sun dan 3 tetua tombak yang memiliki kekuatan yang cukup. Tan Hao berfikir dengan gabungan kekuatan mereka dan kekuatannya masih memiliki kesempatan untuk mengalahkan Dewa Iblis, sedangkan Dewi Empat Penjuru bisa menghadapi Jiwei Dan untuk menyibukkannya beberapa waktu sampai Dewa Iblis bisa dikalahkan.
Hanya sekejap saja Tan Hao berfikir namun ia telah banyak menemukan berbagai cara untuk menghadapi Dewa Iblis, Ia memutuskan untuk mengirimkan Pesan melalui telepati pada Tiandou dengan cepat.
Sementara ia menunggu kedatangan mereka, Tan hao akan mencoba cara pertama yang ia pikirkan sebelumnya. Kepercayaan dan keyakinannya memang tidak goyah namun ia memiliki pilihan yang membingungkan.
__ADS_1
•••
Sementara itu diwaktu yang sama, Tetua Feiying sedang bersama Raja Tempa yang sedang menyelesaikan tempaan senjata terakhir. Tetua Feiying merasa pikirannya tidak bisa tenang setelah menerima pesan singkat dari Tetua Tiandou. Dia bahkan meminta Raja Tempa Lian Ho untuk menyelesaikan secepat mungkin tanpa melihat ekspresi wajah Lian Ho yang menahan kedongkolan.
Jika bukan karena Jing Yun yang memintanya, sudah pasti Lian Ho tak akan sudi untuk terburu-buru dengan hasil yang bagus. Ia tak menganggap Feiying sama sekali, satu-satunya alasan yang membuat dia mau untuk segera menyelesaikannya adalah informasi mengenai Jing Yun yang sedang bertempur bersama Pendekar Aliansi yang saat ini sangat membutuhkan senjata.
Raja Tempa terkenal bukan karena keahliannya semata melainkan sifat keras dan tak suka di suruh. Oleh sebab itu, orang yang bisa membuat Raja Tempa mau membuatkan senjata hanyalah orang yang tau benar segala sifatnya dan mengerti apapun yang membuatnya senang. Dan selama ini sangat sedikit orang yang bisa dekat dengannya. Tetua Jing Yun adalah salah satunya.
Dia merupakan sahabat dekat Lian Ho ketika masih muda, mereka berdua telah banyak menghabiskan waktu bersama cukup lama. Sahabat yang selalu bersama menjelajahi kerasnya pengembaraan sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menetap di tempat tujuan masing-masing.
Meskipun wajahnya saat ini terlihat galak dan tidak bersahabat tetapi hati dan pikirannya sedang merasa cemas mengenai kondisi sahabatnya sekarang.
Berulang kali Tetua Feiying mengingatkannya untuk segera menyelesaikan. Bahkan nada bicaranya seperti mengancam. Lian Ho tidak menganggap semua itu, ia saat ini penuh dengan konsentrasi sebab senjata terakhir yang dibuatnya saat ini merupakan senjata spesial khusus untuk Tetua Jing Yun.
Bukan hanya kekuatannya akan meningkat tapi juga Senjata itu merupakan satu-satunya yang pernah ia buat dengan penambahan sebagian Essense Penempa Hati. Itu merupakan inti kekuatan yang dimiliki seluruh penempa namun yang bisa mencampurkan dengan senjata tempaan hanyalah Raja Tempa Lian Ho.
Kekuatan aslinya akan keluar jika digunakan dalam pertempuran besar yang melibatkan ribuan musuh. Namun, selama ini Lian Ho tak pernah menggunakannya dalam bertarung, selain karena tidak terlalu dibutuhkan juga dampak yang akan timbul sangat mengerikan jika digunakan tanpa siasat yang tepat.
Tetua Feiying sudah tidak bisa menunggu lagi, dengan sikap dan perkataannya yang khas. Ia menghardik Lian Ho.
"Apakah senjata itu akan selesai ketika rekan-rekanku telah tewas? Terserah kau saja, sekarang aku tak bisa menunggumu lagi. Akan ku bawa tiga senjata ini. Jika telah selesai cepat antarkan ke Lembah Hijau, itupun jika mereka masih hidup."
"Bocah bussukk.. Jika kau tak bisa diam, Pergilah-!" Lian Ho berseru singkat dan langsung berkonsentrasi penuh dengan pekerjaannya.
Sementara itu Tetua Feiying hanya tersenyum sinis dan mengumpat dalam hati. Sesaat kemudian ia pergi meninggalkan Lian Ho dengan membawa tiga senjata yang telah selesai.
__ADS_1
Kecemasan yang dirasakannya bukan tanpa alasan, sebab ia merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Dengan kecepatan penuh Tetua Feiying menuju ke tempat pertempuran yang jaraknya cukup jauh. Namun dengan kecepatannya saat ini, hanya memerlukan waktu 2Jam untuk sampai.
Dalam laju larinya yang secepat angin, Tetua Feiying berulang kali bergumam perkataan yang sama. "Saudaraku, Bertahanlah.. Junior Tan Hao bersabarlah sedikit lagi, aku akan segera sampai."
Tetua Feiying tidak menyadari jika Lian Ho telah berhasil menyelesaikan proses penempaan senjata terakhir beberapa waktu setelah ia pergi. Fokus Tetua Feiying tertuju pada situasi pertempuran saat ini, itu menjadikan dirinya tidak terlalu memperhatikan sekitar. Bahkan ketika ia melewati beberapa perampok yang sedang beraksi pun ia tidak menyadarinya.
Situasi pertempuran masih tetap tegang, Sui jiu pun belum mengakhiri permainannya dengan tiga Tetua Anggota Lembah Hijau. Ran Liu dan yang lainnya juga tidak bisa memberitahunya tentang situasi yang terjadi.
Panggilan Tan hao tak bisa sampai ke pikirannya sebab ia sedang menggunakan Ilmu Ilusinya. Ran Liu dan yang lainnya kebingungan disertai kecemasan sebab dengan sifat yang dimiliki Sui Jiu, menjadikan dirinya lupa situasi karena melakukan sesuatu yang membuatnya senang.
•••
Di lain tempat, Feng Zhenzu tengah meracik ramuan sesuai petunjuk Leluhur Lan sebelum pergi untuk di minumkan pada pemuda yang mereka temukan setiap tiga jam sekali. Sudah beberapa tahun ia meracik ramuan untuk pemuda itu yang berarti ia telah ratusan ribu kali meracik.
"Leluhur Lan, kapan anda kembali. Bahan yang anda siapkan akan habis hari ini, haihh. Aku sendiri pun tak cukup mampu untuk mencarinya.." gumam ringan Feng Zhenzu dengan menghela nafas.
Feng Zhenzu mulai sedikit berfikir ketika tengah menumbuk bahan. Leluhur Lan mengatakan jika jiwa pemuda itu tengah berkelana. Yang pada saat itu membuat Feng Zhenzu dan Lan Lihua sempat berfikir bahwa pemuda itu hanya akan bertahan hidup beberapa hari. Namun perkiraannya keliru, sudah lebih dari tiga bulan bahkan hampir empat bulan pemuda itu tak juga mati maupun sadar.
Perkataan Leluhur Lan memang sedikit membuatnya bingung, sebab jiwa yang sedang berkelana itu penyakit yang bagaimana, ia sampai saat ini tak mengetahui adanya penyakit tersebut. Yang pada akhir pemikirannya menyebut penyakit itu sebagai Koma.
Feng Zhenzu menyebutnya koma agar lebih mudah dipahami jika suatu saat ada manusia lain yang mengalami hal sama.
Sementara itu, Feng juga memikirkan tentang sikap Lan Lihua yang semakin hari semakin membaik. Tidak ada lagi gerutuan atau keluhan. Sebagai ayah angkat ia tak begitu mengerti tentang apa yang ada di hati anaknya. Yang ia tau anaknya sering berbicara sendiri dengan ekspresi wajah seperti jatuh cinta ketika ia mengelap pemuda itu dengan kain basah setiap pagi dan sore.
Memang, Pemilik Giok Dewi Bulan seharusnya penuh dengan perasaan empati dan mengasihi. Namun Feng Zhenzu tak melihat itu pada diri Lan Lihua selama ini dan baru melihatnya beberapa waktu terakhir setelah sekian lama merawat Pemuda itu.
__ADS_1
"ahh masa bodoh, urusan anak muda tidak seharusnya aku ikut terbawa arus. Mungkin memang sudah takdir dewa. Dengan kehadiran pemuda sekarat itu menjadikan jati diri Hua'er perlahan timbul. Tapi bagaimana jika pemuda itu tiba-tiba mati. Apa yang terjadi pada Hua'er nantinya! hmm.. ah tidak.tidak.. Leluhur Lan punya cara menyembuhkannya, aku harus percaya itu. Selain itu, yang lebih penting sekarang aku harus meminumkan ramuan ini agar tubuhnya bisa bertahan.." Feng Zhenzu segera menepis keraguannya dan dengan sigap membawa ramuan itu untuk di minumkan pada pemuda yang kini tengah terbaring lemah. Lan Lihua dengan tenang menemaninya dengan duduk di samping tempat tidur.