
"Pelindung macam apa ini? Bagaimana bisa tak tergores sedikit pun! Sekali lagi, sekali lagi harus bisa!" geram Nian Zhen menggenggam erat kedua tangannya sebelum mundur dua langkah.
Aura energi kelabu segera memenuhi tubuhnya, Nian Zhen bersiap menggunakan kekuatan penuhnya setelah belasan kali mencoba dengan cara biasa namun tak ada hasil.
Terlihat jelas perputaran energi yang menyelimuti tubuhnya semakin lama semakin meningkat, sebelum akhirnya ia memasang kuda-kuda sembari memusatkan seluruh energi kedalam kepalan tangannya.
'Apa yang dilakukan orang itu?' Liu Zey mengintip dari celah kayu yang hanya seukuran mata di dekat pintu samping bangunan itu, ia tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Nian Zhen walaupun sebenarnya Liu Zey belum mengetahui siapa orang yang ia intip.
KABOOM!!
Satu tarikan napas dilakukan Nian Zhen sebelum menghantam pelindung hitam tersebut, tetapi nyatanya yang terlihat hanya retakan sehelai rambut.
'Apa-apaan?!'
Tinjuan Nian Zhen yang mengandung energi penuh seorang Pertapa Dewa Langit, bahkan tak berefek apa-apa membuatnya semakin kesal. Hingga terlihat kerutan dikeningnya sementara kedua matanya memerah.
"Kurang ajar! Benar-benar kurang ajar!" teriak Nian Zhen sembari meraih kedua palu di punggungnya.
Merasa habis kesabaran, Panglima Perang Kerajaan Yan itu menggunakan senjatanya yang terkenal, Palu Naga Bumi. Liu Zey bahkan tertekan cukup berat ketika Nian Zhen menyilangkan kedua senjatanya itu ke atas.
PALU NAGA : AMUKAN BUMI
SWOSH!! WOSH!!
BLAARR!!
PRANKK!!
Tak bisa dipungkiri lagi kekuatan yang dimiliki sepasang palu tersebut. Bukan hanya bangunan yang hancur, tetapi juga pelindung hitam itu hancur seperti rontokan kaca yang terjatuh.
__ADS_1
Liu Zey bahkan terpental beberapa meter dari tempatnya ketika Nian Zhen menghantam pelindung tersebut, untung saja ia bisa menghentikan tubuhnya menggunakan busurnya.
'Cih, dasar ceroboh!' Yan Yu mengamati Liu Zey dari kejauhan, ia duduk bersandar di salah satu tiang bekas bangunan lain. Terlihat ia begitu santai dan seakan-akan terlalu malas untuk bertindak.
Sementara itu, setelah ledakan yang menghancurkan pelindung tersebut mereda. Nian Zhen buru-buru meraih kotak kayu berwarna hitam itu yang memiliki ukiran bertuliskan 'Tang' sambil menyunggingkan senyum kemenangan.
"Jika bukan karena isinya yang berharga, sudah aku hancurkan kotak ini berkeping-keping ... Hng! Ada seekor nyamuk pengganggu rupanya," ujar Nian Zhen sebelum menyadari kehadiran Liu Zey.
Tanpa membukanya lebih dulu, ia menyimpan kotak hitam itu kedalam cincin bumi dan kemudian melangkah keluar bangunan yang atapnya telah lenyap akibat terkena dampak ledakan sebelumnya.
"Gadis manis sepertimu harusnya berdiam diri dirumah menikmati hidangan, bukan berkeliaran dan mencampuri urusan orang!" kata Nian Zhen ringan tetapi terdapat tekanan disetiap kata-katanya.
Liu Zey tersentak hingga wajahnya sedikit memucat, dalam pikirnya ia mengumpati diri sendiri yang terlalu ceroboh. Bukannya segera menyembunyikan diri tetapi malah terdiam memandang hal yang terjadi.
"Siapa kau? Apa yang kau ambil barusan?" tanya Liu Zey sembari menunjuk Nian Zhen menggunakan busurnya. Terlihat jelas oleh Nian Zhen kalau keberaniannya itu dipaksakan.
"Hahaha...! Apa pedulimu? Harusnya kau tak melihat, tapi karena kau sudah melihatnya maka sudah seharusnya kau ... Mati!"
Kecepatannya begitu tinggi hingga hanya memerlukan satu kedipan mata saja, bahkan mata Liu Zey tak dapat melihat pergerakannya.
"Uhuoekk!"
Tiba-tiba saja tubuh Liu Zey terpental kebelakang bersamaan dengan muntah darah segar, ia bahkan tak melihat kalau tinjuan yang dilesakkan Nian Zhen tepat ke dadanya.
"Uhukk ... hukk! Sial, kuat sekali orang itu," decak kesal Dewi Busur setelah kembali muntah darah sementara ia menyangga tubuh menggunakan busurnya.
Jika saja Liu Zey masih ditingkatan yang sebelumnya, mungkin saat ini ia sudah kehilangan nyawa. Kekuatan yang terkandung dalam tinju Nian Zhen setara dengan kekuatan Pertapa Dewa Langit, Liu Zey yang hanya seorang Pertapa Cahaya tahap Dasar masih mampu berdiri merupakan sesuatu yang mengejutkan.
"Oh, hoho! Aku tak menyangka, kau masih berdiri setelah terkena pukulanku! Gadis yang hebat, tapi sayangnya keberadaanmu salah tempat ...!"
__ADS_1
Nian Zhen kembali menyerang Liu Zey dengan menggunakan kecepatan yang sama, namun kali ini Dewi Busur itu lebih siap dari sebelumnya.
Meskipun ia telah terkena luka dalam namun pergerakannya masih mampu untuk menghindari tinjuan yang dilesakkan Nian Zhen yang nyaris tanpa jeda.
Kecepatannya begitu tinggi dengan porsi serangan yang bertubi-tubi membuat Liu Zey sibuk menghindar tanpa mampu menggunakan busurnya.
Pendekar seperti Liu Zey merupakan tipe pendekar dengan serangan jarak jauh, ia akan kesulitan menyerang balik jika diserang dalam jarak dekat. Hal itu pula yang membuat Dewi Busur itu sedikit frustasi, ia hanya terus menghindar sembari menahan luka dalam yang di deritanya tanpa mampu mengambil jarak untuk menyerang balik.
"Haha...! Aku tahu kelemahan pengguna senjata panah sepertimu, aku hanya tak mengira kau masih sanggup menghindari pukulanku!" cibir Nian Zhen yang masih terus menerus menghujamkan pukulan demi pukulan kearah wajah dan juga dada tetapi hanya sedikit meleset dari sasaran.
Disisi lain, Yan Yu masih mengamati pertarungan tak sebanding tersebut dengan sikap santainya. Pendekar dari asosiasi dengan tudung emas yang juga bersenjata busur itu hanya menatap saja tanpa berniat membantu.
Beberapa waktu telah berlalu tetapi keduanya tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, Nian Zhen bahkan berkali-kali dibuat geram namun juga merasa takjub. Sebab, selama ini tak ada yang mampu menandingi kecepatan gerakan tinjunya ataupun mampu menghindar berkali-kali tanpa terkena.
'Gadis ini lumayan tangguh! Sayang sekali dia berada di pihak lawan, tapi cukup sudah main-mainnya. Aku harus segera membunuhnya atau rahasia benda ini akan terbongkar,' gumam Nian Zhen sebelum menambah kekuatan tenaga dalam yang ia alirkan kedalam setiap pukulannya.
Hal itu membuat Liu Zey hampir kewalahan, kecepatan yang semakin meningkat dan juga kekuatan yang semakin berat dapat dirasakannya ketika efek setiap tinju yang masih bisa ia hindari itu membuat semacam rasa nyeri pada area tubuh yang menjadi sasaran.
Yan Yu mengubah posisinya ketika melihat gerak tubuh Liu Zey melambat, gerakan tangannya sangat cepat saat meraih panah yang terselip di punggungnya.
'Wanita itu lumayan juga! Aku jadi tak tega membiarkannya seperti itu ... Hmm, baiklah! Saatnya Si Cepat Yan Yu beraksi,' gumamnya sembari mengeluarkan anak panah dari cincin bumi sebelum mengaitkannya ke punggung.
Panah yang dimiliki Yan Yu terlihat berukuran kecil seperti mainan anak-anak, begitu juga dengan anak panahnya. Ukurannya hanya setebal kaitan lima buah lidi dengan panjang tak lebih dari setengah meter.
Yan Yu melompat dan berpijak ke setiap benda yang ia lewati dengan kecepatan tinggi sembari melepaskan anak panah.
CUSH! CUSH! CUSH! CUSH! CUSH!!
WUSHH!!
__ADS_1
Kecepatan tangan Yan Yu saat melepaskan dan mengambil anak panah sangat tak masuk akal jika dilihat dengan mata normal. Hanya satu kedipan mata saja Yan Yu telah melepaskan lima anak panah berkecepatan tinggi mengarah ke dada Nian Zhen.