Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 61 ~ Keluarga Terbuang


__ADS_3

Leluhur Lan begitu terkejut dan sempat tak percaya. Pemuda yang dirawat selama empat tahun lamanya tiba-tiba membuka mata, yang membuat ia terkejut adalah karena ramuan yang ia siapkan bahkan belum seluruhnya di berikan.


Serta pengobatan yang ia berikan belum cukup maksimal, namun pemuda di depannya itu tiba-tiba terbangun begitu saja. Meskipun tatapan mata pemuda itu terlihat kosong.


"B-baiklah anak muda, selamat karena kau telah sadar. Alangkah baiknya kau kembali merebahkan badan, biar aku selesaikan dulu pengobatan untukmu."


Leluhur Lan yang hanya sendirian tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya hingga membuat bicaranya tergagap.


Tan Hao hanya memandangi wajah Leluhur Lan sesaat kemudian kembali merebahkan diri tanpa ekspresi maupun kata.


Leluhur Lan beranggapan bahwa Tan hao masih terguncang jiwanya saat ini sebab sudah begitu lama terpisah dari raganya namun pada kenyataannya, Tan hao justru sedang bingung masalah lain. Jiwa dan pikiran Tan hao sangat kuat, ia diam sebab masih tak menyangka bahwa seluruh apa yang disaksikan dan diperdengarkan oleh Dewi LianHua kini begitu merasuk pasti dalam ingatan Tan Hao.


Bukan hanya itu saja, karena kitab 1000 kehidupan yang ada pada dirinya secara otomatis seluruh informasi maupun semua yang Tan hao alami sebelum dan sesudah bertemu Dewi LianHua menjadi begitu dalam pemahaman yang ia terima.


Leluhur Lan hanya bisa mengerutkan dahi ketika ia menyadari ada senyum tipis di wajah Tan hao namun tak berniat bertanya, hanya berfokus pada apa yang dilakukannya.


Feng Zhenzu dan Lan Lihua memang tidak diizinkan masuk oleh Leluhur Lan selama proses pengobatan yang ia lakukan. Hanya boleh masuk ketika tiba waktunya memberi ramuan dan membersihkan badan Tan Hao.


Dengan ketelatenan Lan Lihua dalam merawat Tan Hao selama ini, membuat Tan hao begitu bersih. Bahkan rambut dan jenggot serta kumisnya pun selalu dirapikan setiap sebulan sekali.


Tan Hao mengalami masa beranjak dewasa dalam tidur panjangnya sehingga dia belum menyadari perubahan bentuk tubuhnya.


Rambut panjang dengan setengah tergelung setengah terurai kebelakang serta wajah putih bersihnya sangat cocok dengan postur tubuhnya saat ini. Itu semua berkat Lan Lihua selama ini setiap malam selalu merapikannya yang dibarengi dengan curhatannya.


Setelah beberapa jam berlalu, Leluhur Lan akhirnya menyelesaikan proses pengobatan terakhirnya yang sebenarnya tidak benar-benar terakhir.


"Selesai. Fiuuhhh.,-!! Anak muda, kau cukup beruntung bisa selamat dan kembali. Selamat datang kembali di dunia. Oh ya, panggil saja aku Lan Tua atau Leluhur Lan juga boleh. hehe he,-!!"

__ADS_1


Leluhur Lan menghela nafas panjang sambil mengusap keringat dikeningnya dengan lengan baju yang sebenarnya tak ada keringat.


Pengobatan yang dilakukannya menggunakan metode Huan. Pengertian singkatnya yakni sebuah energi yang mengalir berputar diantara dua tubuh dengan tubuh Leluhur Lan sebagai pusat energinya dan tubuh Tan hao sebagai aliran sirkulasinya. Persis seperti aliran darah pada tubuh didalam nadi. Hanya saja, jika energi yang dimiliki tubuh yang menjadi pusatnya tidak cukup besar maka akan menjadi sebuah masalah. Itu seperti energi kehidupan sebagai gantinya.


Tan Hao tersenyum kecil dengan memberi hormat singkat.


"Salam kenal kakek, Namaku Tan Hao. Terimakasih kakek telah merawatku selama ini. Sungguh aku tidak tau harus membalasnya dengan apa,-?? Oh ya kakek, sekarang aku berada dimana dan apakah ini kediaman Kakek Lan,-!!"


Tan Hao mengamati sekelilingnya sambil berusaha berdiri dari tempat tidurnya. Sementara Leluhur Lan mencoba membantu Tan hao untuk berdiri.


"Tidak masalah, hanya bantuan kecil tak perlu dipikirkan,-!! Masalah tempat ini...Yahh, bisa dibilang ini rumah cucuku. Kalau rumahku,-!! Asalkan masih ada langit dan bumi, dimanapun aku tidur, ya itulah rumahku. Hati-hati langkahmu nak,-!!"


Leluhur Lan mulai menceritakan semua informasi yang ada dengan berjalan keluar kamar bersama Tan hao. Leluhur Lan mengatakan bahwa tempatnya tinggal terletak di pinggiran kota Foshan, berada di Benua Naga.


Kota Foshan sendiri tak termasuk dalam wilayah kerajaan ataupun kekaisaran manapun. Kota ini sebagai batas dan juga wilayah netral penghubung antara dua benua.


"Kau bisa lihat, kami disini sangat terpencil dan jauh dari keramaian. Kita bisa melihat indahnya pernak pernik lampu kota jika malam telah tiba. Aku dan cucuku tinggal di rumah tua ini cukup lama, Haihh,-!!


Leluhur Lan bercerita sambil menunjukkan letak kota yang saat ini tertutup awan pegunungan, letak rumah leluhur Lan memanglah di pegunungan yang tinggi. Pagi dan sore hari selalu akan tertutup awan jika dilihat dari bawah dan juga sebaliknya.


Tan Hao merasa ada yang salah dengan apa yang ia pahami dari cerita singkat yang disampaikan Leluhur Lan. Helaan nafas panjangnya diakhir cerita membuat Tan Hao melirik penuh tanya.


"Tempat ini begitu indah, apa salahnya jika kami tinggal disini,-!! Lagipula, sumber makanan banyak tersedia disini, hanya kebutuhan lain yang susah kami dapatkan. Tapi itu tak jadi masalah, Cucuku bisa menjahit helaian benang sutra yang dipanen dari kebun kecil dibelakang gunung. Hehe.."


Leluhur Lan kembali melanjutkan ceritanya tapi Tan hao jelas memahami makna lain dari cerita yang dia dengar.


"Kakek Lan, lalu dimana cucumu itu sekarang?? bukankah dia yang memberikanku ramuan,-!! Sejak tadi aku hanya melihatmu seorang diri." tanya Tan hao dengan melihat sekeliling sejenak.

__ADS_1


"Ahh, dia dan anak angkatnya sedang pergi mencari sesuatu untuk makan malam nanti. Sebentar lagi mungkin akan segera pulang, kita tunggu saja disini sambil menikmati awan senja-!!"


Tan Hao hanya diam sambil memandang gumpalan awan berbagai macam ukuran yang terkena cahaya matahari. Ia merasa harus bertanya tapi tak tau harus bagaimana memulainya.


•••


Feng Zhenzu sedang berburu kijang rusa di pinggir aliran sungai, sore hari adalah waktu yang sering terdapat kelompok Kijang Rusa pergi minum. Ia memutuskan untuk berburu setelah beberapa jam memancing tak mendapatkan apapun, Feng memang buruk soal memancing tapi handal dalam berburu.


Sedangkan Lan Lihua tengah sibuk mencari buah buahan liar yang biasa tumbuh di pinggir aliran sungai. Dan seperti biasanya, ia selalu menyempatkan diri bermain dengan hewan hewan kecil seperti Kelinci Gunung dan Kucing Hutan.


Sebenarnya kedua jenis hewan tersebut bisa dikonsumsi bahkan terdapat banyak jumlahnya, namun Lan Lihua melarang Ayahnya maupun Leluhur Lan untuk memburu mereka. Lan Lihua begitu menyayangi kedua jenis hewan tersebut karena memang sejak kecil merekalah yang menjadi teman bermainnya.


Senja telah mencapai puncaknya, Feng Zhenzu telah berhasil mendapatkan seekor Kijang Rusa dewasa yang cukup berdaging, sementara Lan Lihua memiliki satu keranjang buah-buahan segar.


Keduanya bertemu di persimpangan jalan di pinggir aliran sungai, jalan yang selalu mereka lewati setiap waktu.


Tanpa menunda waktu lagi dan juga malam akan segera tiba, mereka memutuskan untuk lekas pulang.


Lan Lihua dengan kelembutannya berpamitan pada kedua jenis hewan liar kecil tersebut sembari memberi beberapa makanan. Feng Zhenzu hanya tersenyum kecil, karena memang setiap hari ia selalu melihat kebiasaan yang dilakukan Lan Lihua.


"Hua'er, ayo pulang? Malam akan segera tiba, Leluhur Lan sudah pasti sedang menunggu kita," seru Feng Zhenzu yang tengah memikul seekor Kijang Rusa di pundaknya mengingatkan Lan Lihua.


Lambaian tangan singkat pada kedua teman hewannya sebelum Lan Lihua berlari kecil menyusul Feng Zhenzu yang telah lebih dulu berjalan.


Memang jarak dari rumah tidak jauh, tapi karena di pegunungan jalan harus memutar menjadikan waktu tempuh mereka sedikit lebih panjang.


Mereka berdua belum mengetahui jika pemuda yang mereka rawat telah sadar. Entah apa sikap yang akan mereka tunjukkan nantinya, termasuk Lan Lihua yang telah memiliki perasaan padanya. Apalagi setiap hari ia seperti seorang istri dalam merawat pemuda yang ia temukan.

__ADS_1


__ADS_2