
Kabut senja telah mulai menghilang bersamaan dengan itu pernak pernik lampu kota perlahan terlihat. Tan hao mengerutkan dahi ketika melihat perubahan pemandangan yang terjadi. Hal itu bukan tanpa alasan, ia merasa ada suatu hal yang tidak biasa dalam keluarga Leluhur Lan.
Tan Hao berulang kali melirik Leluhur Lan yang ada disampingnya, terdapat banyak pertanyaan yang ada di kepalanya namun tak mampu ia utarakan.
Beberapa jam telah berlalu sejak pembicaraan terakhir, Tan hao memuktuskan untuk bertanya yang ringan terlebih dahulu. Ia beranggapan untuk lebih mengenal keluarga yang telah merawatnya selama ini adalah suatu keharusan.
"Kakek Lan, seberapa lama aku berada diambang kematian,-!! Aku merasa baru beberapa hari yang lalu sejak terakhir kali aku tersadar..?" tanya Tan hao singkat memecahkan keheningan yang terjadi.
"Hmm.. Kurang lebih empat tahun yang lalu,-!! Itu cukup wajar jika kau merasakan hal itu. Empat tahun lalu aku menemukanmu berada diatas batu sungai dalam kondisi buruk." kata Leluhur Lan dengan memandang lugu.
Belum sempat Tan hao bertanya, Leluhur Lan kembali melanjutkan perkataannya.
"Sejak lama aku ingin tau,-?? Sebenarnya dari mana asalmu dan kejadian seperti apa yang kau alami hingga membuatmu sekarat,-!!"
Tan hao terdiam sejenak berfikir untuk mencari kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Leluhur Lan, Tan hao teringat pesan Dewi LianHua dalam diamnya. Membuatnya merasa harus jujur dengan kenyataan yang dia alami. Hal kecil adalah pijakan kuat untuk sesuatu yang besar dan itu termasuk juga kejujuran.
Setelah beberapa kali mengatur nafas, Tan hao memulainya dengan tersenyum tipis.
"Sebenarnya aku berasal dari pulau phoenix. Pada usia 13 tahun saat itu pertama kalinya aku keluar dari pulau dan bertemu pendekar dari sekte Tujuh Tombak Emas di kedai minum yang sedang terlibat masalah dengan pendekar aliran hitam, singkat cerita dalam waktu kurang lebih setahun aku menjadi bagian dari sekte, selama itu cukup banyak yang aku lakukan, hingga sampailah pada hari dimana aku diharuskan untuk membinasakan sekte aliran hitam, Lembah Hijau. Dan aku saat itu sedang berhadapan dengan pemimpin sekte yang secara kekuatan lebih tinggi satu tingkat dariku. Tapi, ehm...-!!"
Tan hao menggeleng pelan dengan mata tertutup seolah menyesali kesalahan yang ia perbuat. Tan hao merasa bersalah pada orang-orang karena nyatanya ia tak cukup cerdas dalam menilai situasi dan kemampuan lawan.
Leluhur Lan bisa melihat jelas perubahan raut wajah Tan hao hanya sekali lirik, ia memahami bahwa kelanjutan cerita itu pasti lah alasan yang membuat Tan hao berakhir buruk.
"Jika berat, lebih baik tidak usah. Aku tak memaksamu. Hanya saja, jika kita telah melakukan kesalahan sekali dan mengalami kegagalan karenanya, itu berarti kita selangkah lebih maju untuk mencapai tujuan yang benar. Tergantung hati dan pikiranmu kau bawa ke jalan yang mana,-!! Sesuatu yang ada di dunia ini hanyalah semu, percayalah jika aku katakan. Diatas langit kita ini masih ada dunia lain lagi yang berisi orang orang hebat dengan kemampuan yang diluar batas pemahaman kita. Intinya, jangan pernah sombong jika kau lebih baik dari manusia lainnya. Hehh.."
Leluhur Lan menengadahkan kepalanya melihat langit malam yang berbintang. Ia mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak seorang pun tau mengenai hal itu. Tan Hao tak menyangka, kakek kakek yang ada di sampingnya memiliki pengetahuan yang luas. Senyum kecil menghiasi wajah Tan hao.
"Kau benar kakek Lan,-!! Aku mempercayai perkataanmu. Dulu aku membuat kesalahan tapi sekarang aku telah sadar akan hal itu. Dalam ketidaksadaranku, aku menemukan pencerahan dan itu dikuatkan setelah mendengar penjelasanmu. Aku sangat berterima kasih padamu,-!!"
Tan hao melakukan hal yang sama dengan leluhur Lan, mereka berdua terlihat cukup akrab dengan sesekali tertawa kecil tanpa ada alasannya.
Langit malam terlihat sangat indah dipadukan dengan butiran cahaya kecil di arah kota, nampak seperti pantulan bintang di langit. Pandangan dari ketinggian cukup membuat mereka bisa melihat dengan luas. Meskipun angin pegunungan terasa amat dingin di malam hari tapi mereka terlihat tak terganggu dengan itu.
__ADS_1
Leluhur Lan juga menceritakan tentang anak gadis cucunya. Semua ceritanya mengandung unsur membanggakan membuat Tan hao diam mendengarkan dengan rasa penasaran. Sesekali Leluhur Lan tertawa kadang terselingi kesedihan, Tan hao cukup mengerti akan hal itu.
Ia menjadi penasaran, seperti apa anak gadis cucu Leluhur Lan. Tan hao merasa anak gadis itulah yang mempunyai andil besar dalam perawatannya. Meskipun ia tak lagi berhasrat untuk mengumpulkan pendekar wanita sebagai pendampingnya namun ia berfikir akan sangat bagus jika anak gadis itu seperti apa yang dia dengar dari cerita Leluhur Lan.
Sejenak Tan hao teringat dengan Dewi Empat Penjuru yang ia bentuk, dengan masih mendengarkan dengan tenang setiap cerita Leluhur Lan. Tan hao ingin mengetahui bagaimana kabar mereka namun saat ini tempat mereka sangat jauh berseberangan.
"Ran, wen, Zey, Sui.. Ku harap kalian akan baik-baik saja. Maafkan atas kelancanganku memasukkan kalian dalam hidupku. Aku berjanji suatu saat akan menemui kalian. Kuharap saat itu kalian sudah menjadi sangat hebat." batin Tan hao sambil memandangi empat bintang di langit yang memancarkan cahaya terang sejenak.
"Ahh aku sudah kelaparan, mereka ini sebenarnya berburu apa lama sekali." keluh Leluhur Lan sambil memegangi perutnya dengan ekspresi memelas.
Tan hao tersenyum kecut melihatnya, sebab ia teringat akan sikapnya beberapa tahun yang lalu. Kemudian ia beranjak dari duduknya setelah menghela nafas panjang.
"Sebaiknya kita tunggu mereka di dalam saja Kakek, disini terlalu dingin untukku yang belum terbiasa berlama lama di dataran tinggi seperti ini." kata Tan hao singkat.
Sikap Leluhur Lan memang apa adanya seolah telah menganggap Tan hao sebagai anggota keluarganya sendiri. Ia merasa banyak kemiripan saat ia masih muda dulu.
"Ah iya benar, aku ingat punya beberapa arak bagus. Mari kita tunggu sambil menikmati arak buatanku, kau sudah cukup umur untuk mencobanya, ha ha ha.."
"Tapi kakek, aku,-!!
Tan hao sebenarnya ingin mengatakan bahwa ia tak minum arak tapi Leluhur Lan memotong perkataannya sambil menarik pergelangan tangannya.
Setelah beberapa saat, Leluhur Lan datang membawa beberapa botol arak dengan dua gelas kecil. Kemudian ia duduk di didepan Tan hao dan meletakkan botol arak di atas meja kecil. Leluhur Lan menuangkan arak hanya setengah gelas kecil lalu memberikannya pada Tan hao.
"Cobalah, ini arak terbaik yang pernah aku buat, aku beri nama Arak Gunung Abadi, hahaha."
Tan hao hanya diam memandangi dengan menelan ludah. Ia tak menyangka bahwa akan tiba saatnya ia minum arak tanpa mampu menolaknya. Dengan gerakan tangan tersendat ia meraih gelas kecil yang dipegang Leluhur Lan.
"Kakek, apakah bisa diganti dengan susu saja. Aku merasa ini tidak baik untukku, ehh,-"
Tan hao memandang arak ditangannya seolah enggan untuk mengkonsumsinya. Ia mencoba untuk meminta digantikan dengan air susu. Tapi reaksi Leluhur Lan yang menahan tawa membuat Tan hao menjadi canggung.
"Ohh ayolah.. Kau sudah bukan bayi lagi. Apakah kau tau, inilah susu yang bagus untuk pria dewasa. Cobalah, kau akan menyukainya setelah merasakannya."
__ADS_1
Leluhur Lan meneguk gelas pertama sedangkan Tan hao dengan tangan terasa sangat berat mencoba meminumnya tanpa mampu lagi menolak sebab ia di pandangi Leluhur Lan tanpa berkedip seolah memaksanya dengan halus.
Glleekkk..
Dengan sekali teguk setengah gelas arak yang menjadi pertama kalinya ia minum langsung habis begitu saja tanpa berhenti di mulut.
"Bagaimana,-!! Nikmat bukan.. Ha ha ha.." tawa renyah Leluhur Lan terlihat begitu senang melihat Tan hao meneguk arak sampai habis walaupun hanya setengah gelas kecil.
Tan hao terdiam sejenak setelah meneguk arak, tenggorokannya terasa menghangat sesaat kemudian. Reaksi Tan hao terlihat ada penyesalan namun ia tak menampik bahwa arak yang ia minum memang sangat bagus sebab ia merasa rasanya tidak buruk dan cukup terasa nikmat bagi orang yang pertama kali minum sepertinya.
Mereka berdua akhirnya larut dalam menikmati arak dengan sesekali diselingi cerita cerita yang tak masuk akal dari Leluhur Lan, meskipun tak begitu memabukkan tapi jelas Tan hao merasa kepalanya begitu pusing setelah menghabiskan lima gelas arak yang terisi setengah.
"Kakek aku pulang, aku membawa banyak makanan untuk kita."
Terdengar suara teriakan dari luar rumah, Leluhur Lan cukup mengenal suara itu. Tetapi, Tan hao merasa terkejut. Ia merasa saat ini keadaannya begitu buruk untuk sekedar bertemu anak gadis itu. Dengan gerakan berat ia mencoba untuk berdiri.
Lan Lihua membuka pintu rumah sambil membawa keranjang buah.
"Lihatlah kakek buah yang ku....ba..wa,-!!"
Lan Lihua terkejut terpana melihat sosok pemuda tampan dan gagah sedang berdiri disamping kakeknya. Tanpa disadarinya keranjang buah yang ia pegang terjatuh yang menghamburkan buah buahan kesegala arah.
Kedua tangannya menutup mulut dengan tanpa berkedip, tubuhnya bergetar kecil. Lan Lihua seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Huar'er cepatlah masuk. Untuk apa kau berdiri di tengah pintu seperti itu. Ayah jadi tak bisa ma...suk,-!! Ahh kau..pemuda itu.. Bagaimana bisa."
Feng Zhenzu pun bereaksi sama terkejutnya seperti Lan Lihua namun ia dengan cepat bisa mengatur keterkejutannya.
Sementara Tan hao merasa kikuk dan canggung dengan situasinya. Keadaannya yang setengah mabuk membuatnya cukup kesulitan mengatur kata sapaan.
Semuanya terdiam cukup lama bahkan Leluhur Lan pun seperti tak ingin menjelaskan apapun, ia masih menikmati araknya dengan santai.
Sebuah apel menggelinding mengenai sepatu Tan hao, membuatnya menemukan cara untuk sekedar menyapa. Dengan pelan ia mengambil buah apel tersebut kemudian berjalan pelan kearah Lan Lihua.
__ADS_1
"Selamat datang dirumah, Nona manis. Terimakasih atas apelnya."
Sapa Tan hao dengan wajah ramah disertai senyum tipisnya sambil mengangkat apel dan mendekatkan wajahnya pada Lan Lihua.