Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 139 ~ Ingatan


__ADS_3

Tan Hao nampak sedang bersandar di salah satu tiang bangunan asosiasi yang memiliki dudukan lebar, dengan menaikkan satu kaki bertumpu pada lututnya. Matanya memandang langit-langit bangunan itu yang memiliki corak ukiran naga dan manusia, ia merasa bosan ketika Fen Lian meninggalkannya setelah selesai membicarakan hal yang terjadi.


Sebelumnya, Fen Lian meminta Tan Hao untuk menunggu di teras gedung yang bertempat di depan balai pertemuan asosiasi yang memiliki taman kecil lengkap dengan kolam air jernih berisi sepasang ikan. Meskipun sebenarnya Tan Hao ingin berkeliling namun ia urungkan niatnya beberapa saat setelah kembali dari memastikan sesuatu.


Sambil memandangi dua ikan yang berenang berdampingan, Tan Hao teringat dengan pesan Leluhur Lan sebelum dirinya pergi bersama Lan Lihua. Sorot matanya begitu serius memandang dua ikan yang memiliki warna hitam dan putih itu, seolah mengingatkannya tentang pesan tersebut.


Ia juga teringat dengan janjinya ketika Leluhur Lan menyerahkan Lan Lihua kepadanya, janji pernikahan yang akan ia tepati setelah semuanya kembali, membuatnya sedikit merasa terbebani akan hal itu. Tan Hao menghela napas setelah renungannya berakhir.


"Biar bagaimanapun, janji adalah janji. Dan segala hal yang di pinjam akan selalu dikembalikan. Bukankah ketika alam telah bekerja sesuai jalannya, manusia berjalan bersama karmanya. Itu menjadi sebuah langkah untuk menempa kehidupan," batin Tan Hao tersenyum tipis sembari mengalihkan pandangannya.


"Hal paling membosankan adalah menunggu. Ye Yuan belum kembali, sementara yang lainnya entah kemana. Haih ... Aku jadi rindu masa saat dikelilingi wanita-wanita cantik dulu, ahh ... begitu menyenangkan rasanya," gumam Tan Hao pelan sembari memejamkan kedua matanya, sedangkan bibirnya memainkan batang rumput.


Tan Hao membayangkan saat dimana dulu ia berkumpul bersama Dewi Empat Penjuru, kejadian yang entah kapan akan kembali ia rasakan. Tiba-tiba saja ia mengerutkan dahinya namun matanya tetap terpejam ditengah-tengah mengenang masa lalunya itu.


"Aku penasaran, sebenarnya kapan Nona Sui bisa tertawa? Bukankah bibir mungilnya itu terlihat sia-sia, hihi ... Ahh, benar juga! Selama ini, dia selalu bersikap serius setiap waktu. Wanita yang sungguh menarik, ehh ...!" racau Tan Hao pelan, ekspresi wajahnya berubah-ubah ketika terbayang wajah Sui Jiu.


DUAKK ...


"Aduhh ...! Sakit, sakit ... sakit ...!" erang Tan Hao sembari memegangi kepalanya, setelah sebuah pukulan berteknik tinggi mengenainya.


"Kakak Hao Hao tadi bicara apa? Coba ulangi ...!" kata Lan Lihua tersenyum mengerikan dengan tatapan mata seperti melihat buruan, serta kedua tangannya terlihat bermain satu sama lain.

__ADS_1


Tan Hao terkejut melihat ekspresi Lan Lihua seperti itu, tingkahnya berubah polos sembari memajukan bibirnya seolah tidak tahu apa-apa.


"Aku tadi kan hanya bercanda, kenapa serius begitu sih!!"


Tak banyak alasan lagi, Lan Lihua menghajar Tan Hao dengan ganasnya sembari mengoceh tidak jelas, sedangkan Tan Hao bersikap polos dengan sedikit erangan konyol.


"Ehh!! Kalian ini ... Hentikan main-mainnya ...!" seru Fen Lian dari balik pintu gedung setelah membukanya berniat untuk keluar.


Lan Lihua menghentikan tindakannya sembari membuang muka, setelah pukulan terakhir ia lesakkan.


"Wanita mengerikan! Aduhhh ... Sakit sekali! Lain kali aku harus berhati-hati padanya! Cih ... Istri apaan? Ini seperti Kakek Lan Hou memberiku seorang penyiksa ...."


Beberapa saat kemudian, suasana kembali serius meskipun Lan Lihua masih terlihat kesal. Fen Lian kembali dari pertemuannya dengan seorang pembawa pesan yang dimiliki Asosiasi Menara Emas. Ia menjelaskan secara singkat, jika saat ini kondisi istana kerajaan tengah mengalami gejolak. Fen Lian di minta untuk kembali ke kota kekaisaran untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.


"... Meskipun begitu, Pangeran Li Chen An di akui banyak pihak sebagai dalang dibalik semua itu! Tidak cukup bukti membuat dia sementara ini terlepas dari tuduhan, meskipun saat ini dialah yang memegang kekuasaan tapi rakyat dan sebagian pengurus istana mengakui Pangeran Li Fen An lah yang menjadi penerus tahta. Hmm ... Kepalaku pusing dengan masalah disini, dan sekarang ditambah masalah itu, haihh ...."


Tan Hao memandangi lantai, sorot matanya begitu serius sembari tangan kanannya memegang dagu. Memang tidak banyak yang ia ketahui mengenai kerajaan ataupun kekaisaran, karena selama ini Tan Hao belum sekalipun tahu atau bahkan mengunjunginya.


"Apa mungkin, masalah disini termasuk salah satu dari pengalihan isu? Kekaisaran Wang tidak cukup tahu mengenai permasalahan Kerajaan Shio, sementara pergerakan sekte Aliran Hitam semakin hari semakin mengkhawatirkan. Aku rasa bukan disini saja, tapi di tempat lain juga mengalami masalah yang sama, hanya saja mungkin dengan tujuan yang berbeda. Hmm ...! Lalu bagaimana selanjutnya?"


Tan Hao seolah berbicara pada dirinya sendiri, sedangkan Lan Lihua sudah lebih membaik dengan diam terduduk di samping kanan Tan Hao. Lan Lihua hanya memandangi wajah Tan Hao yang serius, kemudian tersenyum hangat.

__ADS_1


"Kakak, saat kau sedang serius aku selalu menyukainya. Aku hanya tidak ingin semua ini berakhir sia-sia!" batin Lan Lihua.


"Oh ya! Dimana wanita pemarah itu? Aku tak melihatnya sejak tadi?" tanya Fen Lian memecahkan keheningan yang terjadi.


Pertanyaan Fen Lian membuat Tan Hao tersadar dari pemikirannya. Beberapa saat lalu ia memang masih bisa merasakan aura dimensi Sui Jiu terhubung dengan ruang dimensi miliknya, namun tiba-tiba terputus tanpa sebab.


"Aku memintanya mengikuti seseorang yang mencurigakan. Tapi entah kenapa dia tiba-tiba menghilang, mungkin telah terjadi sesuatu," balas Tan Hao sembari memejamkan mata mencoba menghubungkan kembali ruang dimensi miliknya menggunakan inti jiwanya.


Betapa terkejutnya Tan Hao ketika ia melihat seseorang tersenyum manis padanya, seolah orang itu bisa melihatnya. Seorang pemuda yang memiliki kulit putih bersih layaknya kulit seorang wanita, tengah memandang dimana Tan Hao yang menggunakan wujud inti jiwanya dari ruang dimensi milik Sui Jiu.


"Ahh!! Siapa itu barusan?"


Hanya beberapa saat saja Tan Hao berhasil memasuki ruang dimensi Sui Jiu namun tak menemukan siapapun, hanya melihat jejak seseorang yang memiliki senyum diwajahnya.


"Siapa apanya? Apa maksud Tuan Muda?" tanya Fen Lian keheranan melihat perubahan ekspresi Tan Hao.


"Sepertinya Nona Sui sedang dalam masalah! Aku khawatir yang dihadapinya bukanlah seorang yang biasa. Aku merasakan kekuatan orang itu jauh lebih kuat dari Nona Sui! Hmm ... Baru saja seorang wanita membantai penjahat, dan sekarang wanita lainnya mungkin jadi sandera! Benar-benar merepotkan ...!"


Perkataan Tan Hao membuat Lan Lihua memucat wajahnya, ia menelan ludah cukup berat. Napasnya seolah menjadi tidak teratur.


"A-apa maksud Kakak Hao? Sandera apa?" tanya Lan Lihua tersendat, ekspresinya yang menahan senyum seolah membuktikan dirinya sedang gelisah.

__ADS_1


"Tidak perlu berpura-pura lagi! Sudahlah ... Sebaiknya Nona Fen kembali ke kota kekaisaran, masalah disini biar aku yang mengurusnya! Tapi sebelum itu ... Aku ingin melakukan sesuatu pada semua sumber daya itu," kata Tan Hao tersenyum penuh arti.


__ADS_2