
Alunan seruling begitu mengalun merdu, terlihat di sekeliling tubuh Fen Fang terdapat aura energi yang terasa menenangkan. Sementara Tan Hao membantu Sui Jiu dalam proses penyerapan serta pembentukan tulang energi. Ketiga aura berlainan jenis dan warna saling terhubung berkesinambungan dan seolah mendukung satu sama lain.
Aura energi milik Tan Hao tak sepekat beberapa waktu yang lalu, sedangkan Sui Jiu nampak tenang dalam bermeditasi. Meskipun sesekali terlihat raut wajahnya berubah saat tubuhnya tersentak oleh dua energi Yang menerobos masuk kedalam tubuhnya.
Tan Hao hanya memastikan bahwa energi Yin yang terserap kedalam tubuh Sui Jiu tak lebih banyak dari energi Yang dari alam. Meskipun itu bisa saja dikontrol dan dikendalikan sendiri oleh Sui Jiu namun mengingat tubuhnya saat ini masih dalam tahap penyembuhan setelah energi tubuhnya hampir terkuras habis.
Beberapa jam telah berlalu, bulan terlihat terang hingga sinarnya tak memiliki penghalang untuk menyinari ketiganya. Terlihat wajah Sui Jiu penuh peluh namun raut mukanya begitu cerah dengan diselingi senyuman tipis. Sementara Tan Hao tersenyum senang.
"Sepertinya memang kau memiliki bakat yang cukup hebat! Tak heran jika kau yang lebih diutamakan Hao Hao daripada yang satunya lagi," kata Fen Fang santai sembari memandang bulan setelah beberapa saat lalu menghentikan permainan serulingnya.
"Uhh! Maksudnya Si Gadis Dingin itu? Eh ... Hehe hehe," ujar Sui Jiu dalam benaknya bersamaan dengan reaksi senang dalam bayangannya.
"Hum ... Tidak ada yang utama siapa! Aku hanya memanfaatkan kelebihan dari kelebihan yang lain. Nona Sui, pondasimu saat ini masih belum stabil meskipun kau sudah berhasil mencapai Pertapa Surga tahap menengah. Berhasil naik satu tingkat dan berkembang dalam dua tahap hanya dalam beberapa jam, tidak ada yang melebihi kecepatan potensimu! Tapi kau harus ingat, jangan memandang tinggi kemampuanmu, karena diatas awan selalu masih ada awan. Apa kau mengerti yang ku katakan, Nona Sui?" terang Tan Hao kemudian menepuk ringan pundak Sui Jiu diselingi senyuman tipis.
"Kalian istirahatlah sejenak! Aku akan segera kembali!" kata Fen Fang sebelum menghilang bagai asap tertiup angin. Tan Hao hanya mengangguk pelan, sementara Sui Jiu memberi salam hormat meskipun Fen Fang telah pergi.
"Tuan Muda! Terimakasih atas kebaikanmu selama ini, tidak ada yang bisa aku berikan selain hidupku! Aku akan selamanya setia dan menjadi pedang dibalik bayangmu," hormat Sui Jiu menunduk sembari mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Kau bukan budakku! Dunia sudah seperti penjara bagi sebagian hati dan jiwa yang terlena, jangan janjikan sesuatu saat kau dalam keadaan senang hati. Itu terkadang hanya ungkapan dari rasa semu ketika puas akan sesuatu. Jangan pernah merasa bangga meski kau sudah berdiri ditempat paling tinggi, tetapi juga jangan sombong hanya karena kau lebih unggul dari yang kau pandang. Semua ini hanyalah siksaan dunia yang dinamakan perasaan," urai Tan Hao yang terdengar cukup menusuk bagi Sui Jiu, sebab reaksi serta raut wajahnya tiba-tiba berubah diselingi getaran kecil di kedua tangannya yang menggenggam erat.
"A-aku mengerti! Terimakasih," kata Sui Jiu bersamaan dengan tetesan airmatanya.
Tan Hao membalikkan badannya kemudian membantu Sui Jiu berdiri, senyumannya begitu ramah. Hal itu membuat Sui Jiu merasa aman dan nyaman.
Tak berapa lama setelah percakapan kecil terjadi diantara keduanya, Tan Hao mengeluarkan kotak kecil berwarna hitam dari cincin dimensi. Kemudian memberikannya pada Sui Jiu.
"Kau lekaslah pulang setelah tubuhmu cukup pulih dan berikan ini untuk Nona Ran ... Aku yakin kau paham harus apa setelahnya! Hmm ... Satu bulan lagi, temui aku di kota kerajaan,"
Sui Jiu menerima kotak itu tanpa bertanya apapun, sebab ia yakin kalau isi kotak itu pasti adalah obat berharga bagi Ran Liu. Keyakinannya bertambah ketika Tan Hao memintanya untuk ke kota kerajaan, oleh karena itu ia merasa tak banyak membuang-buang waktu lagi. Sui Jiu segera menyiapkan diri dan berganti pakaian.
"Aku siap kapanpun! Lagipula, aku juga sudah menyiapkan sesuatu untuk ini," balas Tan Hao sembari mengeluarkan sebutir pil yang menyala terang dari cincin dimensinya.
"Oh hohoho! Kau lumayan cerdas juga bocah tengik! Tidak aku sangka, kau mampu membuat pil tingkat delapan sesempurna ini. Hmm ... Aku jadi teringat teman lama," kelakar Fen Fang sebelum ekspresinya berubah seakan terdapat kesedihan disana.
"Teman lama! Siapa maksud Kakek Fang?" tanya Tan Hao penasaran.
__ADS_1
"Sudahlah! Sekarang lebih baik segera kita mulai," tampik Fen Fang seolah menyembunyikan perasaannya, sembari duduk diatas batu hitam untuk bersiap.
Tan Hao mengikuti arahan Fen Fang setelahnya, mengesampingkan rasa penasaran tentang teman lama yang dimaksud oleh pengemis tua tersebut. Berbeda dari saat membantu Sui Jiu berkultivasi, kini Fen Fang terlihat menggunakan pemahaman dan cara yang lebih tinggi.
Kemampuan serta pengetahuan Fen Fang yang tinggi dan seolah tak berbatas, membuat Tan Hao yakin kalau pengemis tua itu mengetahui apa spirit rohnya dan seberapa besar kemungkinan penyatuan secara keseluruhan tanpa terhalang oleh Tenaga Dalam yang selama ini memang membagi batas kekuatan energi dari dirinya.
Kini, setelah tubuhnya bersih dari energi tenaga dalam. Tubuh Tan Hao seperti kembali ke awal pembentukan, tanpa tergantung lagi dengan kualitas tulang, kualitas lingkaran energi dan juga tanpa memikirkan lagi cara menggunakan besaran energi Tenaga Dalam dengan Spirit Energi.
Bisa dikatakan kalau saat ini Tan Hao telah memiliki dasar kekuatan seorang Saint Murni, namun masih jauh dari kata mencapai. Untuk itulah dirinya membuat kesepakatan dengan Fen Fang sebelum melawan Yan Mu kemarin untuk membangunkan potensinya.
Spirit Energi sebagai jiwa mutlak dan Inti Roh sebagai perwujudannya, Tan Hao memiliki pijakan bagus di percobaan pertamanya dan hal itu tak dibiarkan begitu saja oleh Fen Fang.
"Kau benar-benar anak yang diramalkan Pertapa Tupai! Memiliki darah Klan Naga, dan juga pemilik spirit Gagak Raja Langit, seharusnya kau juga memiliki pusaka pemangsa itu, bukan! Dan sekarang, Tubuh Teratai Dewa telah berhasil kau buka!" batin Fen Fang sedikit terpana oleh besaran energi ungu yang mengambang di atas Tan Hao berwujud dirinya namun seperti sedang duduk bersila diatas bunga teratai mekar.
Tan Hao sendiri merasakan kalau tubuhnya seperti teraliri energi yang sangat kuat memenuhi setiap bagian tubuhnya. Kondisinya saat ini persis ketika Dewi LianHua Nushen menceritakan tentang masa kecil Dewa Yaoshan ketika berlatih pertama kali dibawah bimbingan kakeknya.
Hawa tubuh Tan Hao bahkan sampai membuat siluman buas dalam jarak beberapa mil, merasa ketakutan hingga gemetaran tanpa mampu beranjak dari tempatnya dan hanya memandang ke arah Tan Hao berada.
__ADS_1
Padahal apa yang dilakukan Tan Hao masih pada tahap keseimbangan antara alam roh dan ruang rohnya. Hal itu adalah syarat penting untuk keberhasilan penguasaan mutlak spirit energi. Fen Fang sendiri cukup kagum, sebab tak banyak yang ia sampaikan namun Tan Hao melakukannya dengan cukup baik.