
Beberapa saat setelah selesai menyantap sarapan yang disediakan, Fen Lian meminta Tan Hao dan Lan Lihua untuk mengikutinya ke ruang kerjanya. Sedangkan Liu Zey pergi berlatih sesuai arahan Tan Hao, dan untuk Sui Jiu ditugaskan Tan Hao untuk mengikuti beberapa orang yang dicurigai sebelumnya.
Liu Zey sebenarnya ingin Tan Hao sendiri yang mengajarinya seperti waktu dulu namun karena ada sesuatu hal, Tan Hao meminta Liu Zey menemui Tetua Shuxan dan Su Kong untuk menemaninya berlatih.
Di sisi lain desa Hibei tak jauh dari gedung asosiasi, Tetua Shuxan dan Su Kong tengah disibukkan dengan beberapa arak dan wanita. Lebih tepatnya, hanya Su Kong yang menikmatinya sementara Tetua Shuxan bersikap acuh sambil sesekali menghela napas ringan menyaksikan perilaku Su Kong.
"Untuk apa bersedih seperti itu? Selagi kita tidak bersama orang itu, kupikir kita mendapat kenyamanan dan ketenangan seperti ini, he he ...." ujar Su Kong sambil membelai tubuh gadis yang duduk di pangkuannya.
"Hei dengar! Sebagai seorang pendekar, aku lebih baik bertarung hingga sekarat dibanding minum arak dan bermain wanita seperti ini, memalukan ...." sahut Tetua Shuxan menahan kedongkolannya.
Su Kong hanya tertawa sembari masih merayu dua wanita yang duduk di pangkuannya. Keduanya memang hanya ditugaskan mencari beberapa pakaian ganti serta bekal perjalanan, selain itu juga mencari informasi yang bisa mereka dapatkan. Tugas yang cukup mudah diberikan Tan Hao untuk keduanya, namun nyatanya hanya Tetua Shuxan yang bersungguh-sungguh.
Tak jauh dari tempat keduanya berada, dua orang berpenampilan biasa dengan ikat kepala berwarna hitam tengah diam memperhatikan area sekitar. Hal itu sempat tak disadari Tetua Shuxan, namun ia berhasil menyadari ketika merasa bosan menunggui Su Kong yang asik sendiri seperti tak menganggapnya ada.
"Eh ... Sepertinya ada yang tidak beres disini?" gumamnya setelah berjalan beberapa langkah berniat untuk keluar dari rumah bordil tiga lantai yang memiliki kedai minum dilantai pertamanya.
Lantai pertama memang dipenuhi pengunjung yang sebagian besar hanya untuk menikmati arak, meskipun kesemuanya adalah pendekar. Aliran hitam maupun putih tak ada bedanya ditempat ini. Mereka membaur begitu saja, namun Tetua Shuxan cukup mampu mengenalinya.
Ia memutuskan untuk mengelilingi ruangan yang tak terlalu besar tersebut, Tetua Shuxan berpikir mungkin akan ada banyak yang ia ketahui dari ketidakberesan yang ia rasakan.
__ADS_1
Sementara Tetua Shuxan sedang mencaritahu apa yang bisa didapatkan, Tan Hao tengah berdiskusi bersama Fen Lian, beberapa kali juga Fen Lian menjelaskan kegusaran hatinya meskipun pendekar aliansi aliran hitam telah mundur dan menjauh dari desa Hibei. Menurutnya, itu seperti bom waktu yang setiap saat bisa meledak tanpa diketahui dari arah mana ledakan tersebut
Tan Hao cukup mengerti ketakutan yang dialami Fen Lian, wanita yang hanya memiliki tingkat kultivasi Pertapa Ahli tahap menengah itu. Fen Lian juga cukup merasa tenang dengan bergabungnya Dewi Ilusi disisinya. Meskipun bergabung karena adanya Tan Hao. Tapi itu cukup membuat kekuatan Asosiasi Menara Emas cabang Hibei meningkat.
Padahal yang tidak diketahui Fen Lian adalah orang di depannya itu jika dia mau, seluruh pasukan aliansi aliran hitam dapat dibinasakan tanpa sisa. Namun, hal itu tak dilakukannya sebab hanya sia-sia dan hanya akan menciptakan dendam baru. Untuk itu yang bisa ia lakukan hanya meminimalisir terjadinya perang besar yang memberi dampak buruk bagi warga biasa maupun keluarga yang bersangkutan.
"Untuk apa repot-repot memikirkan ini dan itu seperti itu, hng! Bantai saja semuanya sebelum mereka bergerak. Toh ... posisi mereka berada di tengah hutan. Tidak akan ada nyawa tak berdosa yang jadi korban," timpal Lan Lihua disela-sela penjelasan Fen Lian.
Fen Lian tersedak napasnya sendiri mendengar pernyataan Lan Lihua yang terlihat ringan menyepelekan kekuatan aliansi. Disisi lain, Tan Hao hanya berdehem bermaksud menyuruh Lan Lihua untuk diam saja mendengarkan.
"Apa kau tak waras? Bagaimana bisa kau bilang bantai semua? Bahkan jika seluruh kekuatan yang ada di desa hibei ini dikumpulkan pun tak akan sanggup melawannya, apalagi membantai mereka! Dasar gila ...." sergah Fen Lian tajam. Ia tak menyangka perkataan wanita itu membuatnya kehabisan kata-kata.
"Hanya perlu dua orang! Emm ... Atau mungkin satu orang saja cukup untuk membinasakan mereka semua! Untuk apa mempersulit diri jika ada yang mudah. Kau saja yang bodoh, ketakutan untuk hal yang membosankan seperti ini!" tambah Lan Lihua tersulut dengan ucapan Fen Lian.
Lan Lihua terdiam mendengar perkataan Tan Hao yang mengandung keseriusan tinggi. Nada bicaranya menunjukkan ia tak main-main dengan sikapnya, membuat Lan Lihua melunak dan berdiri dari duduknya.
"Baiklah! Lebih baik aku memberi kenyamanan tubuhku yang sudah cukup lama terabaikan. Kak Hao Hao ingat! Saranku lebih mudah dibanding harus main petak umpet seperti ini, sudah ya ... Aku pergi," kata Lan Lihua sembari berjalan meninggalkan Tan Hao dan Fen Lian berdua.
Tan Hao tersenyum tipis setelah Lan Lihua keluar tanpa menutup pintu.
__ADS_1
"Hehe abaikan ucapannya! Dia hanya kelelahan setelah semalam bertarung,"
Belum lama setelah itu, Manager Xinxin datang dan langsung masuk ke ruangan tersebut. Hal itu membuat Tan Hao sedikit heran, namun ia hanya berekspresi datar seolah tak menghiraukan hal itu.
"Nona Fen! Semua persiapan sudah selesai. Hari ini pun kita sudah bisa menutup asosiasi dari perdagangan dan juga barter. Namun, ada sedikit masalah terjadi ... Beberapa pendekar berdatangan dan menetap di kedai makan sampai rumah bordil! Wajah mereka asing, aku menebak mereka orang suruhan dari luar wilayah ini," terang Manager Xinxin setelah memberi salam, raut wajahnya tak menunjukkan kepanikan saat memberi laporan. Hal itu disadari Tan Hao dan hanya membuatnya tersenyum kecil.
"Baiklah! Aku memgerti. Terimakasih Manager Xin, kau boleh kembali ...." ujar Fen Lian sembari memberi isyarat dengan tangannya.
Sebelum beranjak dari tempatnya, Manager Xinxin melirik tajam Tan Hao, lirikan yang mengandung rasa benci. Dan hal tersebut membuat Tan Hao heran tapi juga ia bersikap santai seakan tak menyadari apa yang dilakukan Manager Xinxin.
"Apakah sepertinya ketakutanku menjadi nyata? Sebenarnya apa tujuan mereka?" gumam Fen Lian sambil memijat keningnya.
"Nona Fen! Kurasa sebaiknya mulai sekarang kau berhati-hati dengan wanita yang baru saja kesini. Aku melihat ada yang tak beres dengannya. Seperti dia memiliki sifat lain yang sedang bermain dibelakangnya," kata Tan Hao memberikan peringatan bersamaan dengan ia melepaskan Aura Dewa bermaksud untuk melindungi ruangan tersebut dari curi dengar orang lain.
"Maksud Tuan Muda, Manager Xinxin? Bagaimana bisa?" sahut Fen Lian penasaran.
"Tempat ini bukan hanya tidak aman. Tapi juga banyak terdapat mata-mata kiriman mereka! Aku menebak, tujuan mereka adalah mengeruk semua harta dan sumber daya yang ada di seluruh desa ini. Termasuk juga yang ada di gudang penyimpanan."
"Tidak mungkin! Tidak ada yang tahu letak dan cara masuknya kecuali kita dan Manager Xin,"
__ADS_1
"Tak akan lama lagi kau akan tahu sendiri! Yang pasti, diluar sana ada empat orang yang sedang menguping kita. Dan kesemuanya merupakan orang kepercayaan Nona Fen. Sebaiknya mulai sekarang berhati-hati."
"Manager Xin maksud Tuan Muda Tan Hao? Mana mungkin! Dia sudah hampir 20 tahun mengurus tempat ini, jadi mana mungkin itu dia? Lalu tiga orang lainnya?"